Showing posts with label inside me. Show all posts
Showing posts with label inside me. Show all posts

Monday, September 23, 2013

Perkara Pendidikan Perempuan

Saya hari ini mau bilang: ‘Berbahagialah para perempuan yang bisa sekolah setinggi-tingginya tanpa adanya hambatan dari pasangan ataupun lingkungan.’
Eh bentar, hari gini kok ngomongin hambatan sekolah buat perempuan? Bukannya udah jaman  emansipasi ya?

Nah itu dia. Yakin setiap perempuan udah bebas mengenyam pendidikan setinggi-tingginya? Sebagian besar mungkin iya. Ibu Kartini mungkin bolehlah berbahagia melihat kenyataan bahwa hari gini anak perempuan gak harus mandeg di dapur karena alasan-alasan patriarkis; anak perempuan gak perlu sekolah, anak perumpuan cuma akan berujung di dapur-kasur-sumur, dan cuma anak laki-laki yang berhak untuk pintar. Iya, syukurnya sih kondisi di negara kita sekarang udah gak banyak (saya gak bilang gak ada lho ya!) orang-orang yang masih berpikiran feodal begitu.
Ya walaupun ada hambatan lain seperti faktor ekonomi, sistem pendidikan dan sebagainya, saya di sini juga percaya bahwa di level pendidikan tinggi dan tingkat ekonomi yang cukup baik-pun masih ada aja hambatan bagi perempuan untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Seperti yang saya sebut di atas tadi itu salah duanya;  faktor pasangan dan faktor lingkungan.
Kita bahas satu-satu ya.

Faktor pasangan.
Well, saya nggak jarang lho denger omongan bahwa perempuan itu gak perlu sekolah tinggi-tinggi karena nanti jadi seret jodoh. Kenapa? Karena pada umumnya laki-laki akan minder kalau pasangannya punya tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Gak cuma buat pendidikan sih, karir dan penghasilan juga termasuk di antaranya. Saya nggak ngerti psikologi laki-laki ya, tapi beberapa teman yang saya kenal memang bilang bahwa pasangan yang pendidikannya lebih tinggi akan mengancam ego si laki-laki. Merasa kalah, merasa terintimidasi, bikin minder dan sebagainya.

Gak usah jauh-jauh, di keluarga saya pun begitu. Bapak saya sempat mengenyam pendidikan S-2, bahkan dua kali. Anak-anaknya juga sejak awal sudah diarahkan, kalau beliau bisa S-2 maka kami harus bisa S-3. Tapi ketika ibu saya yang hanya lulusan S-1 bilang ingin melanjutkan ke S-2, bapak saya bilang 
“buat apa, gak perlu lah.. toh kerjaan juga gak menuntut harus jenjang S-2”.
Saya nggak ngerti apakah pertimbangan bapak saya melarang itu karena faktor ego atau pertimbangan-pertimbangan lain, tapi yang jelas ibu saya sebagai istri yang baik, ya manut sama suami, walaupun saya tau beliau juga punya semangat belajar yang tinggi.  Itu tadi yang saya bilang, faktor pasangan.

Masalah ego lelaki ini memang gak bisa dibilang sepele sih ya. Eh saya nggak menyalahkan lelaki juga sih, tapi kok anu…  agak mengherankan ya bahwa perkara ego menjadi hambatan bagi orang lain untuk menjadi lebih baik. Urusan intimidasi-intimidasi itu juga kalau menurut saya, hmm… subjektif.   

Saya dulu pernah membahas ini sama (mantan) pacar. Dia lulusan S-1 dan saya S-2. Saya sih demi Allah gak pernah nyombong atau menganggap diri saya lebih dari dia, nggak! Saya pernah nanya ke dia, apakah memang saya (entah itu sengaja atau gak sengaja) mengintimidasi dirinya? Dan dia jawabnya gini:
“Nggak.. Bukan kamu yang mengintimidasi, tapi aku yang merasa terintimidasi”

Nah kan, jadi ini bukan perkara perempuan sekolah tinggi trus jadi belagu! Kalau memang kebetulan si perempuan punya kesempatan untuk seolah ke jenjang yang lebih tinggi, salah dia? Kalopun perempuannya diem aja tapi laki-lakinya yang memang merasa terancam, gimana? Susah kan…

Dulu  pernah ada kenalan saya, seorang ibu-ibu dosen senior. Si ibu ini pernah cerita ke saya bahwa dia sampai bikin perjanjian pra nikah dengan calon suaminya, HITAM DI ATAS PUTIH,  yang menyebutkan bahwa setelah menikah dia boleh tetep sekolah, kuliah lagi dan bekerja. Coba ya, bayangkan, tahun 70an dia sudah bisa sekolah ngambil S-3 di Amerika. Itu tahun 70an lho! Jangan bayangin perempuan bisa dengan mudahnya punya kesempatan untuk sekolah sampe S3, dengan sistem pendaftaran online dan segala kemudahan belajar di luar negeri seperti yang ada seperti sekarang ini ya.
Berbekal surat perjanjian itu dia berangkat sekolah lagi. Dia bilang ke saya; “hamil ya hamil, punya anak ya memang sudah ditakdirkan, tapi sekolah lagi itu pilihan dan semuanya tetap bisa berjalan beriringan kok!” Beliau ibu bekerja, sebagai PNS di salah satu Kementrian dan juga pengajar di beberapa universitas, usianya sekarang 70 tahun dan bergelar Professor.  Suaminya nggak masalah tuh.

Mencermati hal ini bikin saya jadi inget kalimat Margaret Tatcher di film Iron Lady, yang bilang bahwa “perempuan seperti saya gak bisa hanya tinggal di dapur dan membersihkan cangkir…” .  Nah, begitulah beliau,perempuan yang sadar akan potensi dirinya yang begitu besar.

Tapi balik lagi, kan gak semua  laki-laki bisa menerima keadaan seperti ini. Hari gini pun masih banyak yang bawa-bawa ego dan kalimat terintimidasi itu. Alhasil apa? Perempuan cenderung jadi enggan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi karena khawatir membahayakan ego pasangannya.  Dan ini juga berhubungan dengan faktor berikutnya, menurut saya:

Faktor Lingkungan. 
Selain stigma tentang “apa kata orang kalo suami kalah sama istrinya”, perkara perempuan (terutama yang belum menikah) bersekolah sampai jenjang yang cukup tinggi pun harus berurusan dengan anggapan dari masyarakat soal seret jodoh.  Iya, katanya kalo udah sekolah ketinggian, perempuan cenderung gak laku karena laki-laki jadi takut ngedeketin (seperti yang saya bahas sebelum ini).
Lalu ketika seorang perempuan belum menikah dan (kebetulan) pendidikannya cukup tinggi, maka anak panah kesalahan itu diarahkan di dia. “Pantesan aja gak kawin-kawin..”, begitu kira-kira. Tapi tanya dong sama si perempuannya, apa memang dia maunya gak kawin-kawin? Belum tentu kan..

Ini emang agak curhat colongan sebetulnya, karena sayapun ada di posisi itu sekarang. Dan stigmanya juga muncul gak jauh-jauh, tapi dari keluarga saya sendiri.
Dulu waktu lulus S-2, saya sebetulnya langsung ditawari lanjut S-3 di kampus itu juga, dan karena saya lulus dengan nilai yang Alhamdulillah bagus, pihak kampus bilang mereka  akan upayakan ada beasiswa untuk saya S-3. Tapi ibu saya melarang, katanya:  Nikah dulu deh.. ntar keenakan sekolah jadi gak kepikiran mau nikah. Ntar kalo sekolahnya ketinggian, cowok jadi minder buat ngedeketin”. Ya saya manut apa kata ibu saya.
(see.. faktor pertama dan kedua ini sebetulnya saling berkaitan)

Dan sekarang sudah 4 tahun berlalu dari masa itu, dan saya belum juga menikah. Dan peluang S-3 itu selalu saja seliweran di depan mata saya dan selalu saya lewatkan. Pimpinan di tempat saya bekerja juga  sebetulnya sudah sejak awal menekankan bahwa saya harus lanjut S-3. Beliau malah jadi supporter nomor satu untuk nyuruh saya sekolah lagi. Tapi ya itu tadi, kepentok sama mandat orang tua.

Saya kalo disuruh sekolah lagi mah mau! Mau banget! Sekarang juga kalo memungkinkan ya hayuk. Tapi karena ada term and conditions dari ibu saya itu, ya apa mau di kata, terpaksa menunggu sampai ada laki-laki yang mau melamar saya. Daann.. dengan PR tambahan pula, laki-laki itu tidak akan merasa terintimidasi atau apalah namanya jika sekiranya status saya, entah itu pendidikan atau karir, akan mungkin jadi lebih tinggi dari dia. Ini bukan perkara ambisi lho ya. Bukannya saya yang ngotot pengen sekolah lagi sampe level paling tinggi. Iya, memang saya juga punya kecintaan yang besar sama kegiatan belajar, tapi ini juga lebih karena faktor bidang pekerjaan saya yang memang menuntut untuk sekolah setinggi-tingginya.

Jadi, singkatnya saya kalo mau S-3 harus nunggu kawin dulu.  Kawinnya kapan? Ituman bukan saya yang menentukan. Jodoh Allah yang ngatur, saya nggak tau kapan jodoh saya sampe. Dan sampai nanti saatnya jodoh saya itu dateng, sepertinya saya masih akan berhadapan dengan stigma seret jodoh dan perkara memilih pasangan itu.
Nah itulah dia, peliknya hidup diantara pusaran pendidikan, perempuan dan pasangannya!

Gimana, habis baca tulisan ini masih mau orasi soal emansipasi?

Friday, July 26, 2013

After a long silence...

Yak, saya kembali lagi ke laman ini. Setelah sekian lama saya abaikan, saya tinggalin begitu saja, menulispun seadanya, sekarang InsyaALlah saya kembali.
Kangen rasanya bisa nulis lagi, bisa mengungkapkan apa yang ada di pikiran saya, tanpa peduli orang lain akan berpikir seperti apa, tanpa takut akan dibaca oleh si anu si itu dan lainnya. Kangen merasakan bahwa menulis itu seperti refleksi diri, bahwa menulis itu seperti menemukan sanctuary... Iya kangen.

Setahun ini saya jungkir balik. Hahaha. Pernah denger gak ada mitos yang bilang "kalau kamu sampai di ulang tahun ke 29, bersiaplah karena hidup kamu akan dijungkirbalikkan"? Saya denger ini di film 3 Hari Untuk Selamanya kalo gak salah, si Nicholas Saputra yg main. Iya, jadi katanya kalau di usia 29 itu hidup kamu akan jungkir balik, ibaratnya kamu diangkat dengan posisi kaki diikat di atas, trus dikoclak-koclak sampe isi perut kamu keluar semua. Hahahaha.. Saya gak tau sih itu bener apa nggak. Mungkin mitos aja. Tapi saya belum sampe ke usia 29 aja rasanya sudah sampe ke fase jungkir balik ini deh. Gimana ntar pas umur 29 ya??

Jadi ceritanya setahun kemarin itu hidup saya kacau. Kacau berantakan kalo boleh dibilang. Dan ini dalam semua aspek. Dari urusan kerjaan, keluarga, keuangan, percintaan, pencapaian pribadi, semua lah! Saya balik lagi ke titik nol. Saya pernah nangis 3 hari 3 malem gak berhenti-berhenti. Saya bahkan sambil beberesan rumah, nyuci, ngepel sambil mewek dan mata sembab 7 hari. Saya pernah merasa useless, merasa bahwa saya tidak seharusnya berada di sini, sempat juga merasa bahwa saya gak punya arah dan tujuan hidup, gak tau mau jadi apa, gak menghasilkan apa-apa, dan gak tau mesti ngapain saat itu.

Saya sampai di titik saya pasrah ke manapun takdir membawa saya. Saya cuma bisa bertahan supaya gak tenggelam, bisa berdiri pun Alhamdulillah. Kalau sekarang saya ditanya apa yang terjadi sama saya saat itu, saya gak akan bisa cerita kondisinya  in every detail, sama Allah pun saya ngadu cuma dengan tangis karena gak bisa bilang apa-apa. Tapi saya yakin lah Allah Maha Tau apa yang saya rasa. Dan setahun itu bukan waktu yang sebentar. Ada proses yang luar biasa yang telah terjadi di dalam diri saya selama itu.

But here I am, kembali ke titik normal, InsyaALlah. Dengan kondisi yang mudah-mudahan lebih kuat, lebih bisa membaca situasi, lebih terbuka pikirannya, dan lebih sabar, InsyaALah.
Ada gunanya juga semua yang saya lalui kemarin itu. Ya itu dia yah, kadang kita memang harus tarik diri dulu --entah secara terpakasa atau sengaja, dari segala hiruk pikuk kehidupan. Harus diam dulu sejenak mencari jeda, atau bahkan take a few step behind untuk tau ke depannya mau gimana. 

Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun hidup saya, saya mulai tau apa yang ingin saya lakukan paling tidak sampai 5 tahun ke depan. Hahaha..iya, ini agak hebat, karena sekian lama saya hidup tanpa rencana dan tujuan riil, jangankan jangka panjang, jangka pendek pun belum tentu. Tapi kali ini saya mulai menata target hidup dan menyusun langkah untuk pencapaiannya. Semoga lancar. Aamiin.  

And about this blog, saya nggak perduli ya siapapun mau mampir, mau baca, mau berpikir apa tentang saya. Saya hanya ingin kembali menulis, kembali membuka pikiran, kembali membahas hal-hal gak penting, menemukan kembali tempat pelarian saya. Hahaha.. 8 tahun konsiten ngeblog itu bukan perkara mudah lho. Saya cuma ingin bisa terus merekam sedikit moment dalam hidup saya di sini. 

Dan iya, bagian jeda menulis selama setahun karena menata hidup yang jungkir balik itu juga terekam dengan baik dan sangat jelas di sini. Bagaimanapun, itu bagian dari hidup saya juga kan?


Thank's anyway :)
Semoga hidup saya, hidup kamu, dan hidup semua orang mejadi lebih baik

Tuesday, March 05, 2013

Kembali

Akhirnya saya kembali menulis. Setelah beberapa bulan blog ini  ditutup dan menganggur tanpa tulisan. Iya, saya nggak pernah jeda menulis se-lama ini sebelumnya. Kalau lihat tanggal terakhir post sebelumnya, berarti sekitar 3 bulan ya. Tapi sebenarnya saya dalam kondisi hiatus itu sekitar 6 bulan. Ada apakah?
Entah, selama 6 bulan terakhir ini saya seperti mati pikiran. Saya seperti jalan dengan jiwa yang mengambang. Saya nggak bisa benar-benar menangkap secara utuh apa yang saya alami selama 6 bulan terakhir. Rasanya seperti ada di area sub-consciousness terus menerus. Ini mimpi bukan sih? Mimpi bukan sih? Begitu aja terus.

Tapi sekarang saya duduk di depan laptop, meletakkan tangan saya di atas keyboardnya, dan mencoba fight back dengan kembali menulis. Fight for what? Fight for myself.
Nggak bagus ya ada di kondisi seperti itu terus menerus. Kondisi yang hanya terus-terusan menggerus hati dan pikiran dari dalam. Nggak sehat. Seriously.

Sebetulnya dari kemarin-kemarin itu saya kepingin menulis lagi. Tapi nggak bisa aja. Nggak tau, nggak bisa. Yaa..yaa.. you may say saya berhenti di titik sekali coba trus bilang gak bisa. Atau itu dianggap sugesti, sekalinya bilang gak bisa ke diri sendiri ya jadinya gak bisa. Whatever.

Tapi efek yang bagus banget dari fase gak bisa menulis ini adalah, saya jadi mencari medium lain yang memungkinkan saya 'buang energi'. Yes I had huge amount of energy, yang sayangnya itu adalah energi negatif, dan saya harus mencari cara untuk membuang energi negatif itu. Daripada saya sumpah serapah, daripada saya bikin drama di media sosial, daripada saya mukulin orang, daripada saya kebut-kebutan di jalan kan? mendingan saya bikin sesuatu yang bisa mengalihkan waktu dan pikiran saya. Jadi saya bikin film aja. Hihihi.. Film fiksi, pendek, dengan genre drama. Ntar deh, kapan-kapan kalau memungkinkan saya akan share.

Actually, this is a good thing for me, karena sebetulnya bikin film itu adalah satu hal yang saya impikan dari dulu. Saya percaya ya segala sesuatu hal terjadi pasti karena ada alasannya. Allah gak mungkin membuat suatu perkara terjadi di semesta ini dengan alasan iseng doang atau "ya biar seru aja gitu..". Gak mungkin.
Dan sampe akhirnya saya bisa bikin film itu, setelah dipikir-pikir, mungkin adalah salah satu dari sekian alasan atas apa yang terjadi sama saya belakangan ini. Biar saya punya karya. Biar saya bisa menengok kembali pada apa yang benar-benar ingin saya wujudkan. Yaa yaaa... kita ambil hikmahnya saja :)
Menjadi kuat bukan berarti kamu tahu segalanya. Bukan berarti kamu tidak bisa hancur. Kekuatanmu ada pada kemampuan bangkit lagi setelah berkali-kali jatuh. (Dee, Partikel)

Saturday, December 01, 2012




Be strong, my heart...

Be strong

Do whatever you can to survive



Friday, August 24, 2012

Jumpin over the edge

Eh waw.. sudah sebulan yaa saya gak nulis sesuatu di blog ini. Sejak terakhir upload foto bantal itu agenda saya emang banyakan tidurnya sih. Hahaha.. Apalagi kemarin bulan puasa. 
Baydeweey... Maaf lahir batin yaa buat semua pembaca, rekan rekan dan handai taulan sekalian yang mampir ke sini. Saya pasti banyak salah. Salah omong, salah tulis, salah perbuatan, banyak lah pastinya. Mohon dimaafkan ya..

Terus, ada cerita baru apa setelah saya sebulan lebih menghilang dari dunia per-blog-an ini? Banyak!
Saya punya pacar baru (aheeeyyy..) yang entah gimana ceritanya saya bisa jatuh cinta sama dia. Hihhihi.. Euphoria? I hope not. Tapi yang jelas, saya gak pernah merasa sebegitu disayangnya sama seseorang sebelum ini. Apa yang selama ini saya cari semuanya ada di dia. Selebihnya, saya cari di google aja. Hehehe. Sekarang ini love is in the air lah pokoknya. Hahaaayyy.. ;)
Oke, cerita bagian pacarnya segitu dulu. Ntar kalo dia baca pasti GR-nya sampe kembang kempis deh. Hehehe.

Trus-trus apa lagi?
Hmm.. Buat orang-orang yang sering jadi tempat sampah curhatan saya, pasti tau dari jaman hong saya udah pengen resign dari kerjaan saya sekarang ini. Dan inilah berita terbaiknya sodara-sodara, I finally quit this job! Yeay!

Kenapa? Bosen? Kerjaan dosen kan enak. Mapan. Gampang ngatur waktu. Kok keluar?
Hmm..gimana yaa. Banyak pertimbangannya. Kerjaan ini ada plus minusnya sih. Di satu sisi saya senang mengajar di depan kelas, dekat dengan mahasiswa yang umurnya juga gak beda jauh sama saya. Di sisi lain mahasiswa saya ini kadang jadi cobaan terberat untuk kesabaran. Kalo ketemu mahasiswa yang pinter, yang manut, yang rajin sih enak. Tapi kalo udah ndableg, sok preman, banyak maunya, mending kalo cakep, hadeeuuhh... Saya mah cuma bisa ngelus dada. (dada sendiri lho ya). Tapi ya saya ngerti lah, gak mungkin juga semua mahasiswa di kampus itu pinter, rajin dan manut. Justru di situ lah peran saya sebagai pendidik (bukan cmua pengajar lho yaa) akan terlihat. Ini sebenernya tantangan tersendiri sih buat saya. Meskipun sering bikin emosi, tapi saya sih bawa enjoy aja.

Di samping itu, lingkungan kerja juga jadi salah satu faktor pertimbangan saya. Di sini saya belajar banyak dari dosen-dosen yang rata-rata sudah senior entah untuk urusan akademis, maupun non akademis. Tapi di sisi lain, ritme kerja saya dan mereka sudah jauh berbeda. Mereka rata-rata berusia di atas 40 tahun yang kalau kerja sudah purely money oriented, sudah ajeg dan enggan sama perubahan, kadang apatis sama hal-hal baru, sudah cari posisi nyaman dan gak mau bergeser dari sana til the rest of their life. Lha saya, 180 derajat kebalikannya. Saya masih fresh graduate ketika masuk lingkungan ini, masih (sok) idealis --kalo gak bisa disebut 'sotoy'. Di saat saya masih berlari kencang, mereka sudah jalan melenggang. Ya gak cocok ritmenya.  Belum lagi topik obrolan di waktu senggang yang gap-nya sampe 3 dekade. Jokes yang kadang gak nyambung atau obrolan yang beda genre. Ada kalanya saya merasa dianggap seperti anak bawang yang bisa disepelekan. Ada kalanya saya diremehkan kemampuannya. Banyak lah. Tapi emang dunia kerja gak ada yang berjalan adem ayem aman damai sejahtera kan? Itulah dinamikanya.

Tapi sebetulnya alasan terkuat yang membuat saya berfikir untuk resign adalah kondisi keluarga. Di lampung itu, yang tinggal di rumah cuma bapak, ibu dan nenek saya, tanpa pembantu atau orang yang bisa mengurusi. FYI, nenek saya sudah 87 tahun dan mulai pikun. Ibu saya sudah sejak 2 tahun terakhir kakinya sakit parah. Malah sempat susah untuk sekadar pake sendal apalagi untuk jalan. Alhamdulillah sih sekarang kondisinya sudah membaik, tapi ya masih gak bisa terlalu capek juga. Bapak saya, baru 2 tahun ini pensiun. Dan post power syndrome nya gila-gilaan. Orang salah ngomong dikit bawaannya emosi. Suka rungsing sendiri kalo gak ada kegiatan, alhasil jadi stress, banyak pikiran dan kebawa juga ke kondisi kesehatannya. Rumah juga suka terasa sepi kaya gak ada kehidupan. Kalo bapak ibu saya keluar rumah karena ada urusan misalnya, nenek gak mungkin di bawa. Tapi ditinggal sendiri di rumah juga mengkhawatirkan. 

Mi familia :)

Kakak-kakak saya semua sudah berkeluarga. Yang no.1 cowok, memang sih tinggal di Lampung juga, tapi sudah di rumahnya sendiri. Mungkin hanya sesekali bisa datang dan nengokin. Kakak yg no.2 cewek, baru saja hijrah ke Australia bersama suami untuk lanjut S3. Kalau gak berangkat pun mereka sudah settle tinggal di Bandung bertahun-tahun belakangan ini.

Nah jadi tinggal saya nih ceritanya yang masih memungkinkan untuk mengambil peran untuk jagain orang tua.  Di satu sisi kondisi di rumah begitu, di sisi lain saya di Jakarta struggle sendirian, dengan biaya hidup yang cukup tinggi, sibuk mengejar impian dan menaklukkan kota besar. Dari hasil pikir-pikir yang gak telalu lama, saya akhirnya dengan bulat memutuskan, oke saya pulang aja deh ke Lampung.

Nggak, saya sih demi Allah gak ngerasa ini sebagai beban. Saya juga gak dipaksa oleh siapapun apalagi ibu saya. Saya cuma berpikir, mau sampai kapan sih kondisinya kaya gini? Mengejar karir itu kebutuhan, gak ada habisnya. Sedangkan ngurus orang tua itu kewajiban saya sebagai anak. Apa bisa saya seneng seneng di tempat lain padahal hati dan pikiran saya khawatir mikirin orang tua? Justru inilah kesempatan saya untuk melakukan apa yang saya bisa untuk mereka. Mumpung saya masih bisa, mumpung saya belum menikah dan diboyong suami entah ke mana, mumpung saya masih sanggup cari rezeki, insya Allah ini justru akan jadi ladang pahala buat saya. Aamiin...ya Allah.

Saya sempet cerita-cerita dengan rekan kerja saya, seorang ibu yang dari sejak kuliah sudah meninggalkan rumah orang tuanya di Serang. Lulus kuliah dari Bengkulu dia hijrah ke Jakarta, dan menikah dan punya anak dan sampai sekarang hanya sesekali saat liburan aja dia ke rumah orang tuanya. Dengan mata yang berkaca-kaca dia bilang ke saya, 
"De..pilihan kamu itu indah banget. Saya gak pernah ngerasain ngurus orang tua saya sendiri. Saya gak pernah cuciin baju mereka, atau ngurusuin keperluan-keperluan mereka. Saya nggak bisa dekat secara emosional dengan bapak-ibu saya. Jujur saya iri sama kamu de.."

Ibu yang lain lagi, ayahnya sudah berpulang sejak beberapa tahun yang lalu. Ini lebih mengharu biru lagi ketika cerita sama saya. 
"Mumpung de, bapak-ibu masih ada. Kalo udah nggak ada, kamu mau nangis-nangis, cuma sekadar bilang kangen pun gak bisa.."  dan dia mewek lagi.

Jadi ya gitu deh, semua langkah terasa ringan ketika saya mengambil keputusan untuk pulang ke Lampung. Walopun awalnya justru bapak-ibu saya yang keberatan (mungkin mereka mikirnya saya terpaksa ya pulang ke Lampung ini) tapi buat saya semua itu gak ada bandingannya dengan apa yang akan saya dapatkan di rumah. Saya sendiri ngerasa quality time saya sama keluarga sudah berkurang sejak saya memutuskan sekolah lagi ke luar negeri. Dan inilah waktunya saya menambal kebolongan itu. Saya sadar pastinya akan banyak cobaan yang mungkin datangnya dari orang tua saya sendiri. Menghadapi kondisi mereka seperti itu sudah pasti akan menguji kesabaran saya sebagai anak. Saya mah cuma bisa berdoa semoga dikasih stock kesabaran yang unlimited sama Allah. Kalo saya ikhlas insyaAllah semuanya diringankan. Aamiin.

Trus ntar di Lampung mau kerja apa? Hmm... belum tau. Tapi saya percaya, rezeki mah bisa datang dari mana aja. Rezeki bukan hanya berpusat di ibukota kan? Hehhee..
Nah, pacar gimana? Ini dia nih yang jujur rada berat ninggalinnya.  Hhuhuuhu.. Tapi dari awal kami membangun hubungan ini, keputusan untuk ke Lampung itu memang sudah ada. Kami juga dari awal sudah tau resikonya akan seperti apa, dan yah.. we decided to take the risk.  Kalo disuruh milih stay di Jakarta demi pacar atau balik ke Lampung demi orang tua, well...saya rasa sih itu bukan hal yang layak untuk dibandingkan satu sama lain ya. Jawabannya sudah jelas, family comes first. Saya tau ini juga berat untuk dia. Tapi dengan kesanggupannya mengerti dan mendukung keputusan saya, makes me love him even more. Dia sendiri bilang, sekarang ini komunikasi sudah jauh lebih mudah. Bisa telpon murah, bisa watssap-an, YM, Skype, apapun lah. Insya Allah ada jalan. "Kamu pulang kan bukan berarti kiamat", gitu katanya. :) 

So, there it is. Saya secara resmi meninggalkan kerjaan ini mulai tanggal 31 Agustus nanti. 
Kalo ditanya apa rasanya counting down berapa hari berapa menit lagi yang saya punya sebelum waving good bye dan ninggalin hati saya di sini...? 
Entahlah... 

Mungkin seperti minum baygon pake sedotan kali ya. 
It's killing me slowly.

Saturday, May 12, 2012

Broken

dan hidup saya seminggu ini bener-bener luar biasa
rasanya kaya abis dibanting, diangkat, dibanting lagi, diangkat lagi 
dan dibanting lagi..





there will be an answer, let it be..
-Beatles




   

Monday, April 09, 2012

maap, blognya lagi gak diurusin
mbak yang punyanya lagi ke warung beli lem
untuk nyusun lagi hatinya yang retak seribu
sama pikirannya yang pecah berantakan
don't ask.


belum tau kapan mbaknya balik lagi ke sini
semoga aja gak lama
maap ya
:)


  
  

Saturday, November 26, 2011

Not another 25th November

Dari tahun ke tahun ulang tahun saya selalu bertepatan dengan Hari Guru Nasional. 25 November. Tapi dari tahun ke tahun juga saya nggak pernah merasakan pentingnya memperingati 2 hal itu. Oh, kecuali dulu, jaman SD dan SMP, di mana setiap hari guru selalu diadakan upacara. Trus temen-temen saya bilang, "satu sekolahan jadi ikut ngerayain ulang tahun lo, de." Hehehe..


Tahun ini di tanggal yang sama, saya juga masih belum merasakan sesuatu yang beda dari biasanya. Sampai ketika salah seorang mahasiswa saya yang baru kemarin diwisuda menuliskan pesan di dinding facebook saya. Gini katanya
"guru adl pahlawan yg selalu sabar memberitahu, menjelaskan, dan memberi contoh.guruku, sumber inspirasiku" Selamat Hari Guru ya Bu"


At that moment... saya terharu. Saya nggak pernah dapet ucapan kaya gitu bertahun-tahun sebelum ini. Dan saat itu, sebutan "Bu Guru" terasa berbeda buat saya.
Mulai deh...mellow. 


Sorenya saya ngajar sesuai jadwal. Ada 2 kelas Seminar dan Penulisan Ilmiah dari jam 2 siang sampai jam 5 sore. Kelas ini lumayan berat buat mahasiswa, I know that. Di kelas inilah mahasiswa belajar menulis proposal ilmiah sebelum dijadikan skripsi. That's hard, hard enough for my students yang sama sekali gak ada bayangan gimana skripsi yang bagus itu. Nggak heran banyak mahasiswa yang sharing sama saya soal gimana menulis proposal ilmiah yang baik, entah itu di jam kelas atau bahkan di waktu-waktu senggang saya.


Sore itu sudah hampir jam 5, seharusnya kelas sudah bubar. Saya belum sholat ashar tetapi masih ada beberapa orang  mahasiswa yang menahan saya untuk diskusi mengenai proposal mereka.
Mereka nanya ini itu dan saya tuntun mereka satu persatu. Ada yang binggung bukan main. Ada yang setiap kali pertemuan masih juga salah. Ada yang sampe hampir nangis karena dibantai dengan pernyataan yang membingungkan ketika dia presentasi di depan rekan-rekannya. Dan sore itu saya meladeni mereka satu persatu. Seperti sedang mendengar saya mendongeng -tentang metode penelitian tapi yaa-, mereka melingkar mengelilingi saya. 


Lagi lagi, di saat-saat seperti itu saya merasakan sesuatu yang dalam. Saya mencurahkan apa yang saya tau, apa yang saya bisa demi melihat anak-anak didik saya berhasil di mata kuliah ini. Ada yang diam-diam merembes di hati saya ketika melihat mereka mengangguk sambil berkata "ooo..jadi gitu ya bu. sekarang saya ngerti.."  


Saat itulah saya mulai mengerti apa yang dinamakan dengan dedikasi. Bahwa saya bisa melakukan sesuatu, bisa mencurahkan waktu, pikiran dan hati saya untuk menjadikan anak didik saya lebih baik lagi. Bahwa saya bisa berbagi dengan orang lain, dan apa yang saya lakukan hari ini bisa memberi perubahan untuk mereka
Saat itu, saya merasa berarti. Saya akhirnya merasakan bahwa diri saya yang gak seberapa ini ternyata bisa memberikan sesuatu walaupun itu hal kecil bagi orang lain. 
Dan saya nggak pernah merasa se-berarti itu bagi orang lain. Nggak pernah. 


Saya tau, tugas saya sebagai pendidik itu bukan main-main. Bukan hanya sekadar mengajarkan materi, tetapi juga mendidik. Mendidik. Saya punya tanggung jawab yang besar di sini. Dan moment-moment seperti itu tadi, hanya akan dapat dirasakan jika saya melakukannya pekerjaan ini dengan hati. Dengan hati. 
Ah, semoga saya apa yang saya lakukan ini memang bisa memberikan sesuatu yang lebih baik untuk mahasiswa dan orang-orang di sekitar saya. Aamiin.. Aamiin.


Selamat tanggal 25 November. 
Selamat hari jadi, bu guru...





sumber gambar

Sunday, January 23, 2011

Sad stories, again

"When will you stop telling the same story over and over again?"


Plak! 
Kalimat yang saya dengar waktu nonton acara Oprah Winfrey Show itu kok terasa menampar pipi sekali ya? 
Sadarkah, kita mungkin selama ini mengulang-ngulang kisah hidup yang itu-itu juga ketika bercerita ke orang lain? Kisah yang bukannya membebaskan kita, tetapi justru membuat kita semakin terjerat dengan masa lalu.


Kalimat yang diucapkan oleh Rosie (saya lupa nama lengkapnya, konon seorang broadcaster-wati yang terkenal di Amerika sono) itu, membuat saya tiba-tiba melongok ke dalam diri sendiri. Did I? 


Rosie bilang, selama ini dia menceritakan kisah hidupnya kepada orang lain dengan menggarisbawahi pengalaman pahitnya. Ia ditinggal ibunya ketika dia masih kecil. Dia hanya tinggal dengan ayahnya yang acuh tak acuh, serta neneknya yang sudah tua, yang untuk memasak pun sudah tak bisa. Masa mudanya dihabiskan untuk bertahan hidup. 
Dia, kemudian, selalu menceritakan hal itu ke orang lain, over and over again, padahal semua itu sudah 40 tahun berlalu.


Sayangnya dia luput mengisahkan pencapaiannya selama 40 tahun itu. Padahal dia sudah berhasil dalam karir, mencapai kesuksesan sebagai seorang pembawa berita, bahkan menjadi produser di acaranya sendiri, telah menikah (dengan pasangan lesbiannya) dan mempunyai 4 orang anak yang lucu-lucu. 


Tapi balik lagi, ketika dia ditanyakan orang tentang hidupnya, dia selalu bercerita sebagai anak kecil yang ditinggal mati oleh ibunya. Padahal kini dia adalah ibu dari 4 anak! Dia masih belum bisa beranjak dari masa lalunya, sepertinya. Dan -masih menurutnya, hal ini agak terlambat untuk disadari.


Hmmm..mungkin kita juga pernah -atau bahkan sedang- dalam posisi itu. Sadar atau tidak sadar kita masih suka mengulang-ulang kisah yang itu-itu lagi seperti kaset rusak. Atau seperti dvd bajakan yang sering 'cekit-cekit' karena macet sehingga cerita tak bisa berlanjut ke chapter berikutnya. Banyak. Sepertinya banyak dari kita yang mengalami hal ini. 


Tetangga saya, masih saja menangisi kematian anak lelaki satu-satunya yang mungkin sudah hampir 10 tahun yang lalu. Padahal dia masih punya 3 orang anak perempuan yang sudah menikah dan memberinya cucu-cucu yang manis. Ada juga yang selalu mengisahkan dirinya sebagai anak "broken home", padahal sekarang kemandirian yang dilaluinya sudah membuahkan hasil yang gemilang.


Saya?? 
Yaa..yaa..saya ngaku. Saya masih mengulang-ulang kisah bersama si mantan yang padahal sudah berakhir sejak 4 tahun lebih itu. (hehee...*tutup muka). Kebayang deh, orang lain juga mungkin sudah eneg denger cerita saya yang pemeran utamanya masih dia lagi dia lagi.


Maka tak heran, ketika kalimat itu muncul di tayangan Oprah Winfrey Show, saya seperti "cring!" mendapatkan ilham dan langsung introspeksi dalam-dalam.
Banyak hal yang sesungguhnya sudah saya raih dalam kurun 4 tahun itu. Banyak kisah yang juga semestinya bisa saya bagi dengan aura yang lebih optimis. Tapi kenapa saya masih juga melihat kisah itu sebagai Bab I (Latar belakang) dari setiap hal yang saya jalani? 
Damn, I was trapped in my past!!


Kalo ditanya, kenapa gak move on? well.. I tried. I gave my best. 
Tapi ya gitu deh, mekanisme mengulang-ulang kisah ini sepertinya berasal dari alam bawah sadar kita. (hehe..entahlah, ini pledoi atau apa). 
Tapi mulai sekarang -ehm, mulai awal tahun ini sebetulnya-, saya sudah mencoba sebisa mungkin, dengan segala jurus yang saya punya, dan segala kekuatan bulan yang bisa saya himpun, saya harus beralih! Yap, banyak hal positif yang sudah saya capai selama ini, dan seharusnya itulah yang bisa saya bagi dengan orang-orang di sekitar saya. 


Tapi maksud saya di sini, bukannya kita lantas melupakan pengalaman pahit itu begitu saja, bukan. Kita tetap bisa mengenangnya, mengambil hikmah dan segala pelajaran dari semuanya. But, instead of telling the same sad stories over and over again, why can't we be proud of what he had and share the positive feeling to other people? 


Kalo semua orang begini kan, dunia rasanya lebih syahdu gitu...
Setuju?

Tuesday, December 21, 2010

You had a choice..



Take this sinking boat and point it home
We've still got time
Raise your hopeful voice you had a choice
You've made it now


(Falling Slowly, Glen Hasard and Marketa Irglova, OST Once)


  

Wednesday, May 26, 2010

Cracks

Saya melihat tebaran luka dimana-mana
luka-luka masa lalu
yang diam-diam terkubur
pada senyuman seorang penyanyi kafe
pada parau suara kondektur
pada kerutan kening juru ketik kantor
pada sepatu mengkilap bapak pejabat
pada tawa anak-anak tepi jalan
pada tulisan-tulisan cendikiawan
pada polesan bedak anak perawan

luka yang selalu saja dibalut rapi dengan senyuman
luka yang entah sudah berapa lama membusuk ditelan diam

luka yang setiap kita menyimpannya
ya,
setiap kita

saya
dan tentu juga anda

Monday, May 10, 2010

This is serious!

Saya sedang merasa khawatir dengan diri saya sendiri.
Menimbang beberapa fakta bahwa:

1. Hasil psikotes yang saya ikuti 2 bulan yang lalu menunjukkan hasil yang agak mengkhawatirkan dalam aspek kematangan emosional. Dari range 0  hingga 9, saya berada di titik ekstrim 9. Dan menurut analis nya, ini tidak baik/normal. Saya dinilai terlalu memendam perasaan dan dihawatirkan bisa meledak sewaktu-waktu.

2. Saya membaca artikel di majalah wanita bulan ini yang membahas masalah schizofrenia. Indikator kelainan ini cukup banyak, bukan hanya halusinasi berlebihan atau mulai ngoceh-ngoceh sendiri seperti yang diasumsikan banyak orang sebagai "kegilaan". Salah satu indikator yang disebutkan disitu adalah: kelainan atau gangguan dalam berekspresi. Contohnya: Menceritakan hal sedih tetapi ekspresi wajah terlalu datar. dan ini GUA BANGET!

3. Sebagaimana yang saya tulis di sini dulu, bahwa saya kecanduan rasa sakit (mentally). Dan itu masih saya alami hingga kini. Awalnya saya pikir saya adalah adrenaline freak, tapi sepertinya ini hanya kesimpulan tidak mendasar dari diri saya...

4. Dan ingat ketika saya ikutan kuis (iseng) yang hasilnya menunjukkan bahwa saya mempunyai ciri-ciri sebagai seorang obsessive compulsive disorder? Saya juga sempet menuliskan hal itu di sini. Dan ya, saya masih terobsesi sama sabun pencuci tangan.

5. Dan ah, ini yang agak parah sih sebenarnya. Kuis itu juga bilang bahwa: You are at high risk for being a psychopath. It is very likely that you have no soul. Lihat ulasannya di artikel ini

Saya sempat berkali-kali kepikiran untuk menemui psikiater. Ini serius!

Hmmm....Kira-kira, perlu gak yaa...?
Please, share me your opinion

*gambar diambil dari sini

Monday, April 12, 2010

(Not) A Shoulder to Cry On

Menurut orang-orang yang kenal saya dengan baik, saya ini less emotional. Apa ya istilah bahasa Indonesianya? Hmmm… Kurang peka? Bukan.. Kurang emosian? Ya, hampir begitulah kira-kira. Bukannya gak bisa marah, bukan. Tapi yang lebih mendekati maksudnya, mungkin adalah, saya kurang bisa mengungkapkan emosi saya secara langsung. Emosi apapun itu (kecuali rasa bahagia ya). Apalagi perasaan sedih dan kangen, jangan harap saya bisa mengungkapkannya secara frontal. Berapa kali saya bilang “I Love You” aja mungkin bisa diitung dengan jari.  Hehehehe…Ngomong kangen?? Wuiiih… pake acara mikir 100x sebelumnya.  Hehehee..
 
Dan satu lagi, hal yang kadang saya sesali adalah, I’m not good in comforting. Bukannya gak bisa berempati. Bukannya nggak suka jadi tempat curhat, bukan….Tapi saya nggak cukup bisa menjadi sandaran yang baik. A good shoulder to cry on, gitu..

Kalo ada orang yang datang ke saya sambil curhat dan nangis-nangis, saya sih welcome aja. Dan saya akan mendengarkan setiap kata dan sumpah serapah yang dia muntahkan. Yes, I will. Mau 3 atau 4 jam menjadi tong sampah, I will. Mau itu jam 3 subuh, I will. Tapi tolonglah, jangan berharap saya akan memeluk erat, mengambil tissue, menggenggam tangan, menghapus air mata yang menetes di pipi, sambil berujar “cup..cup..cup…tenang yaa. Semua akan baik-baik saja”.

Maaf. Tapi…..Saya tidak berbakat melakukannya.  


Pernah suatu ketika, seorang sahabat menangis sejadi-jadinya karena hatinya retak seribu. Saya Cuma bisa bilang: “Nangis boleh, tapi jangan ngabisin tissue banyak-banyak ya. Pemerintah aja susah mau reboisasi.”

Atau disaat lain, ketika seorang teman merasa dikecewakan, saya lebih memilih mengajaknya makan eskrim sampe eneg. Lalu tertawa, ngobrol, dan tertawa, dan membicarakan apa saja yang terlintas, bahkan menertawakan kekecewaannya sendiri.

Bukannya saya gak pernah mau berusaha menjadi sandaran yang baik. Pernah. Tapi ketika saya memeluk teman yang sedang nangis sesenggukan, misalnya, saya malah merasa canggung. Ummh…apa ya?? Mungkin karena saya sendiri kalo lagi sedih gak mau diperlakukan seperti itu. Nggak mau dipeluk atau dielus-elus bahunya. Jadi, cara saya memperlakukan orang lain yang lagi sedih juga begitu.

Pilihan kata yang saya gunakan untuk menenangkan juga mungkin agak tidak biasa. Bukan kosakata umum yang bisa dipakai untuk melegakan hati. Tapi kalo mau dicerna dengan baik, ya maksud saya juga pengen dia menjadi lebih tenang, merasa lebih baik. Dan percayalah, saya adalah orang yang paling gak tegaan kalo ngeliat orang lain sedih. Apalagi yang lagi sedih itu teman-teman saya, sahabat-sahabat saya. Mana bisa saya cuek gitu aja.

Tapi sekali lagi, saya mungkin tidak berbakat untuk menjadi sandaran yang menenangkan..

And I’m so sorry for that.

Monday, April 05, 2010

Suara di seberang sana

okay, cerita ini sebenernya udah sebulan yang lalu saya alamin, tapi baru sempet nulisnya sekarang. Dan..hemm, sempet berfikir sih, tulis gak yaaa? tulis gak yaa??? Tapi, ya sudah, ditulis aja deh, berharap bisa sharing sama yang baca.

Cerita ini kalo dirunut-runut dimulai dari tahun 2005, waktu itu saya PKL di salah satu stasiun TV swasta yang kantornya di daerah Kebon Jeruk, Jakarta. Saya sempat PKL disitu selama 2 bulan, dan di minggu terakhir PKL itu saya kenalan sama seseorang yang, at the end of that month, menyisakan kenangan menyenangkan buat saya. Mungkin sekilas saya pernah menceritakan tentang dia di sini. Dan okelah, kali ini saya akan  menceritakan dia dengan lebih jelas, berharap ada yang baca atau kali aja kenal sama dia.

Namanya Purwa. Dulu dia kuliah di UIN- Jakarta. He is a very nice guy. Dan cerdas. Dan saya bisa menertawakan hal yang sama dengan dia sampe cekikikan. Yes, at that time, maybe I had a crush on him. hehehhee... *jadi malu. Saya gak tau apakah dia juga ngerasa hal yang sama atau nggak, tapi waktu itu sih dia sempet ujan-ujanan demi bisa ke kosan saya. (deeeuuuh.... ABG sekali. hahahha...) Tapi ya gitu, setelah masa PKL habis, semuanya juga lewat begitu aja. Dia sempet sih ngasih nomor telponnya ke saya. Tapi nomor telp rumah. Yah, jaman dulu kan belum banyak yang punya hape. Sedangkan saya gak pernah ngasih nomor telp ke dia sama sekali. Setelah di Lampung, seinget saya dulu saya sempet telpon dia sekali, hanya obrolan singkat tapi tetap menyenangkan.

Then time goes bye...

Kami lost contact.
Sayang sekali. 

Saya sempet sih nyari dia di jejaring sosial, tapi nihil. Iya lah, saya kan cuma tau namanya Purwa, gitu aja. Gak tau nama panjangnya apa. Dulu saya sempat nelpon sekali lagi ke nomor rumahnya itu, tapi konon katanya dia sedang di Singapura. Entah sekolah lagi, kerja disana, atau cuma tamasya berkeliling kota, saya gak ngerti. Kadang saya suka tiba-tiba keingetan sama dia sih, sekilas gitu. Seperti yang saya bilang dulu, saya kadang berharap bahwa serendipity gak hanya ada di dalam film.

Lalu sekali lagi, waktu berlalu.. (tsaaaahh..). Saya dimana dan dia juga entah dimana.

Hingga sebulan yang lalu, ketika sedang beres-beres kosan, saya menemukan sebuah buku telpon mungil di dalam laci. Dan.... saya menemukan lagi nomor telpon rumahnya! Sumpah, saya grogi waktu itu...hahaha. Deg-deg-an setengah mati sambil menimbang-nimbang, telpon-nggak-telpon-enggak...

Pengeeen banget rasanya nelpon, tapi kok saya takut ya. Gimana kalo dia udah nggak inget sama saya? Gimana kalo ternyata dia udah gak disitu lagi? Atau, gimana kalo ternyata dia sudah nikah? Trus saya jadi telponan sama suami orang, ketawa-ketawa ngingetin cerita lama sama dia? Haduh...!! Saya makin grogi mikirin segala kemungkinan yang ada.

Tapi lalu ada yang ngetok kepala saya, Hey..anggep aja ini obrolan teman lama yang sudah kehilangan kabar sekian tahun. Gak usah pake ngarep dot kom! hahaha....iya juga yaa.. Ah tapi saya masih ragu. Grogi sih tepatnya. Seminggu lebih saya menimbang-nimbang. tapi buku telpon kecil di laci itu sepertinya gak mau diam.

Akhirnya, baiklah... saya memberanikan diri. Saya buka lagi buku telpon itu, memencet sekian digit nomor yang tertera, tapi lamaaaaa banget sebelum akhirnya berani menekan tombol OK untuk dial. Serius, saya DEG-DEG-AN.

Sampai tiba-tiba terdengar suara perempuan di seberang sana.
Iya, suara perempuan!
Suaranya merdu. Intonasinya datar. Dan tanpa tedeng aling-aling, seenak jidatnya, langsung bilang ke saya bahwa:


"nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi..."



Dan saya hanya bisa menghela nafas, speechless..


Monday, February 08, 2010

and I start to love stiletto

Baiklah bapak ibu sodara sodari sebangsa dan setanah air… akhirnya saya menyentuh lagi laman blog ini. Setelah beberapa waktu.. ummm, nyampe sebulan gak sih? Saya nggak update. ada beberapa berita terakhir tentang saya yang belum sempat dipublish melalui infotainment manapun (CIH! Sok ngetop banget…) Jadi anda adalah orang beruntung yang mengetahuinya langsung dari saya! hahaha..

Okay, pertama. Saya akhirnya bekerja sebagai mbak-mbak dosen di salah satu kampus swasta di sebelah barat ibukota negara. Hehee…senangnya bisa menyebut sesuatu sebagai K.A.N.T.O.R, punya cubicle sendiri, punya jadwal weekdays 9 to 5, dan pake high heels tiap pagi (walopun sebenernya nggak bakat pake high heels, tapi berasa lagi shooting Sex and The City aja. Hihii..)

Iyaaa..iyaa..saya tau ini cuma euphoria sesaat. Mungkin gak lama lagi saya sudah akan menulis disini segala keluh kesah dunia kerja. Beberapa bulan lagi mungkin saya sudah mulai mengeluarkan sumpah serapah sama segala rutinitas. Karena untuk orang-orang yang kenal saya dengan baik, pasti tau kalo saya amat sangat pembosan.

Yaah, gak usah tunggu lama-lama. Pagi ini aja, hari Senin di minggu ke-2 saya bekerja (catat: MINGGU KE-2) saya sudah merasa not in a good mood untuk mulai bekerja. Sebenernya sih bukan masalah rutinitas atau beban kerjanya. Saya sih belum ngapa-ngapain amat. Ngajar juga baru mulai 2 minggu lagi. Tapi mood saya sekarang sedang agak terganggu dengan urusan (ehm..) hati.

Aaaah…menyebalkan rasanya ketika harus berhadapan dengan dunia lain disaat hati kita sedang tidak stabil. Jadinya uring-uringan gini. Nggak sih, hati saya gak sampe luluh lantak dan retak seribu, tapi ada kekecewaan yang cukup dalam di dasar hati saya. Kekecewaan atas sesuatu yang saya pikir bisa dijalankan dengan baik tapi ternyata tidak. Kekecewaan atas seseorang yang saya pikir bisa membuat saya merasa dihargai dan diperlakukan dengan baik, tapi ternyata nggak segitunya.

Dan sedihnya, saya nggak bisa berbuat banyak karena saya berada di posisi yang sangat tidak memungkinkan. Tapi satu hal yang saya sadari betul, adalah bodoh untuk terus mengharapkan sesuatu yang sepertinya hanya akan menggiring ke kekecewaan-kekecewaan berikutnya. Jadi satu-satunya jalan yang bisa saya ambil adalah berusaha berlapang dada. Mengikhlaskan dengan cara yang dewasa. Saya nggak mau nangis-nangis, apalagi ngemis-ngemis. No, it’s totally not me. Jadi saya lebih memilih cara yang elegan untuk menghadapi hal ini.

So, I woke up this morning, humming while took a shower, walked happily with my stiletto and greet everyone….

I am happy!

 

Tuesday, January 05, 2010

Another New Year

Weeww...sudah setahun saya nggak posting. Haha..lebay.
Happy New Yeeaah buat semuanya :)























Anyway, sebetulnya saya nggak terbiasa bikin resolusi tahun baru. Hanya saja, tahun ini banyak bener yang nanyain saya, plan 2010 nya apa? Dan saya -dengan rada terpaksa- mulai berfikir tentang apa yang akan saya raih tahun ini.

Nothing special sih. Saya cuma pengen lebih produktif aja. Dan ini dimulai dengan men-deactive-kan account facebook saya. Ehm, nggak ding... boong. FBnya ditutup bukan karena itu sebenernya. Hehehe....
Ilham untuk men-deactive-kan FB sebenernya datang dengan tiba-tiba. Malam tanggal 1 Januari itu saya mulai merasa jenuh karena sehari-hari kerjaannya begitu-begitu aja. Bangun tidur buka FB. Siang bolong buka FB. Lagi bengong buka FB. Lagi di jalan buka FB. Walau nggak segitu addict-nya juga, tapi kok kesannya kalo sehari gak buka web berwarna biru ini, hari-hari akan terasa kelabu ya. Halaaahhh....

Dan ini nih indikatornya saya udah mulai berlebihan: saya mengaktifkan mobile FB.
Iya, buat saya ini berlebihan. Instead of ngobrol-ngobrol sama orang sekitar, saya lebih memilih buka FB di Hp. Kalo lagi menunggu sesuatu, saya nggak lagi mengeluarkan bacaan dari dalam tas seperti yang dulunya biasa saya lakukan. Sebentar-sebentar penasaran pengen baca komen orang di status saya. IIih... mulai berlebihan deh.

Jadi ya udah, saya memilih untuk men-deactive-kan FB saya. Entah sih..ini akan temporary atau nggak. hehheehe....Lucunya, sebelum saya meng-klik tombol deaktivasi, di laman itu terpampang beberapa foto teman saya dengan tulisan " si A will miss you. Si B will miss you. Si C will miss you". Dan saya berfikir "oh really??"
Sayangnya si A, si B dan si C itu bukanlah temen-temen yang dekat secara personal dengan saya. Rasanya jika saya menghilang dari muka bumi dan dibawa alien ke galaksi lain, mereka juga nggak akan sadar. Lain cerita jika yang disebutkan itu adalah sahabat-sahabat dekat saya. Ah, tapi saya pikir, toh saya juga berhubungan dengan mereka melalui segala media. YM, SMS, telp atau bahkan pertemuan langsung. Nggak akan ada yang hilang rasanya... Dan akhirnya saya malah makin yakin untuk hengkang dari FB :)

Saya sih bukannya synical negative sama FB, tapi sama kebiasaan saya-nya sendiri. Saya cuma pengen melakukan lebih banyak aktivitas. Pengen lebih banyak membaca buku, mengobrol dengan orang-orang sekitar, menyapa teman-teman dengan sentuhan yang lebih personal. Dan saya juga pengen lebih sering menguraikan pikiran-pikiran saya dalam tulisan yang lebih panjang, bukan hanya 1 kalimat yang biasanya mengisi status saya itu.
Intinya, pengen jadi lebih produktif.

Trus kenapa harus di tanggal 1 Januari? Biar memulai kebiasaan baru di tahun baru, gitu? Nggak juga sih... ini murni kebetulan aja.
Tapi kalau memang bisa melakukan hal-hal yang lebih baik di tahun ini, nggak ada salahnya toh? Dimulai dari hal-hal kecil, mudah-mudahan bisa membawa perubahan besar at the end of the year. Amiin...

Lalu, apa resolusi Anda sendiri di tahun ini?


Wednesday, December 23, 2009

janji saya

Pernah dengar ungkapan "cinta sampai mati"? atau janji setia "for the good times and bad times"? Selalu terdengar romantis ya? Selalu bisa bikin hati meleleh dan bibir tersenyum.
Tapi apa iya pada kenyataannya selalu begitu?
Hmmm....Malam ini, saya melihat kenyataannya. Wujud dari perasaan cinta yang KONON nya sampai usia senja.

Kejadiannya begini.
Saya tengah menikmati makan malam di sebuah restoran siap saji. Saya sendiri, duduk di tepi jendela. Di seberang saya terdengar riuh rendah sebuah keluarga besar yang sedang menikmati makan malamnya juga. Ada bapak, ibu, kakek, nenek, dan tiga orang anak perempuannya yang menginjak usia remaja. Semua tertawa, semua ceria, entah sedang merayakan apa.

Si nenek masih cukup gagah dan dandannya masih cukup trendy. Sementara si kakek, menggeser kursinya sendiripun sudah tak mampu. Bicaranya hanya sepatah-dua patah kata. Tubuhnya renta dimakan usia.
Lalu semua orang menikmati makanannya. Sambil mengunyah, sambil bercanda. Si kakek juga ikut mengunyah, hanya saja ia tak cukup kuat mengangkat tangannya sendiri.

Ia disuapi.

oleh pembantu.


....

Hampir menangis saya melihatnya.
Di sana ada istrinya, ada anaknya, menantunya, bahkan cucu-cucunya semua sudah besar. Duduk satu meja, berhadapan dengannya. Tapi kenapa ia disuapi oleh pembantu? Kenapa bukan istrinya yang menyuapi? atau anaknya, atau cucunya?
Duh..Miris melihatnya...


Cukup lama saya terdiam, hingga akhirnya saya mengirimkan SMS untuk seseorang yang jauh di mata hanya untuk bilang:

"..kalau misalnya suatu hari nanti kamu lg sakit dan aku lg ada di dekat kamu, aku janji aku yang akan suapin kamu makan yah.. :) "

Iya, saya janji.
Saya janji bukan hanya ke dia, tapi juga ke diri saya sendiri.

Karna saya nggak akan pernah lupa dengan apa yang saya lihat malam ini

Semua orang di meja itu masih terus sibuk dengan menu masing-masing. Masih tertawa, masih ceria. Sesekali tampak melupakan keberadaan sosok tua di sudut meja. Dan si kakek hanya diam sambil terus mengunyah.