Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

Tuesday, March 05, 2013

Kembali

Akhirnya saya kembali menulis. Setelah beberapa bulan blog ini  ditutup dan menganggur tanpa tulisan. Iya, saya nggak pernah jeda menulis se-lama ini sebelumnya. Kalau lihat tanggal terakhir post sebelumnya, berarti sekitar 3 bulan ya. Tapi sebenarnya saya dalam kondisi hiatus itu sekitar 6 bulan. Ada apakah?
Entah, selama 6 bulan terakhir ini saya seperti mati pikiran. Saya seperti jalan dengan jiwa yang mengambang. Saya nggak bisa benar-benar menangkap secara utuh apa yang saya alami selama 6 bulan terakhir. Rasanya seperti ada di area sub-consciousness terus menerus. Ini mimpi bukan sih? Mimpi bukan sih? Begitu aja terus.

Tapi sekarang saya duduk di depan laptop, meletakkan tangan saya di atas keyboardnya, dan mencoba fight back dengan kembali menulis. Fight for what? Fight for myself.
Nggak bagus ya ada di kondisi seperti itu terus menerus. Kondisi yang hanya terus-terusan menggerus hati dan pikiran dari dalam. Nggak sehat. Seriously.

Sebetulnya dari kemarin-kemarin itu saya kepingin menulis lagi. Tapi nggak bisa aja. Nggak tau, nggak bisa. Yaa..yaa.. you may say saya berhenti di titik sekali coba trus bilang gak bisa. Atau itu dianggap sugesti, sekalinya bilang gak bisa ke diri sendiri ya jadinya gak bisa. Whatever.

Tapi efek yang bagus banget dari fase gak bisa menulis ini adalah, saya jadi mencari medium lain yang memungkinkan saya 'buang energi'. Yes I had huge amount of energy, yang sayangnya itu adalah energi negatif, dan saya harus mencari cara untuk membuang energi negatif itu. Daripada saya sumpah serapah, daripada saya bikin drama di media sosial, daripada saya mukulin orang, daripada saya kebut-kebutan di jalan kan? mendingan saya bikin sesuatu yang bisa mengalihkan waktu dan pikiran saya. Jadi saya bikin film aja. Hihihi.. Film fiksi, pendek, dengan genre drama. Ntar deh, kapan-kapan kalau memungkinkan saya akan share.

Actually, this is a good thing for me, karena sebetulnya bikin film itu adalah satu hal yang saya impikan dari dulu. Saya percaya ya segala sesuatu hal terjadi pasti karena ada alasannya. Allah gak mungkin membuat suatu perkara terjadi di semesta ini dengan alasan iseng doang atau "ya biar seru aja gitu..". Gak mungkin.
Dan sampe akhirnya saya bisa bikin film itu, setelah dipikir-pikir, mungkin adalah salah satu dari sekian alasan atas apa yang terjadi sama saya belakangan ini. Biar saya punya karya. Biar saya bisa menengok kembali pada apa yang benar-benar ingin saya wujudkan. Yaa yaaa... kita ambil hikmahnya saja :)
Menjadi kuat bukan berarti kamu tahu segalanya. Bukan berarti kamu tidak bisa hancur. Kekuatanmu ada pada kemampuan bangkit lagi setelah berkali-kali jatuh. (Dee, Partikel)

Saturday, June 12, 2010

Racun dunia

Tadi malam saya abis dateng ke acara nonton bareng dari sebuah klub film  yang saya ikutin, klubfilm curipandang namanya. Klub film ini selalu bikin acara nonton bareng yang seru. Mulai dari mendatangkan sutradara ternama untuk ngobrol-ngobrol santai, sampe membahas topik-topik yang ringan tapi asik. Nah, tadi malam temanya adalah traveling, since ini udah masuk bulan Juni yang katanya adalah masa-masa liburan (sayangnya ini cuma untuk anak-anak sekolahan, saya mah tetep jadi kuli tiap hari. Huhuhu.. )

Oke, film yang diputer tadi malam judulnya A Map for Saturday. Kenapa saturday? Karena... liburan berarti leisure time, berarti jalan-jalan atau traveling. Nah, tiap kita lagi traveling, selalu berasa kalo itu tuh lagi hari Sabtu trus nggak sih..? It feels like, when you wake up in the morning, you realize that you don't have to do something because it's Saturday. It's weekend! Then you walking around, playing around all day long til you drop. Then you feel so tired at night and then you sleep. And when you wake up on the next morning, you'll think that, heey... it's still Saturday!

Yup on a trip around the world, every day feels like Saturday.
Hahahhaa...menyenangkan bukan?



A Map for Saturday adalah film dokumenter yang menceritakan seorang cowok amrik bernama Brook yang memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan ngabisin tabungannya setahun terakhir untuk traveling selama setahun. Singkat kata singkat cerita, dia telah menjalani 50 minggu dengan mengunjungi 26 negara (fhew..!), dengan menghabiskan biaya sekitar US$20.000 (ini tahun 2005 ya).Dan gak cuma tentang dia aja, di sini juga ada beberapa backpacker yang ikutan berbagi cerita tentang perjalanan mereka. Kenapa kebanyakan backpacker Amrik ngakunya dari Kanada? Gimana cara mereka cuci baju dan tidur berjamaah di hostel murah? Fall in love di saat travelling? hmmm... ;)

Sumpaaah...nonton filmnya bikin saya iri sampe ngeces-ngeces! Dan satu kata, film ini bener-bener RACUN buat saya!

Gak cuma filmnya aja, Brook juga mencatatkan perjalanan plus foto-foto semuanya di blog pribadinya. Monggo dicek di sini. Dia juga dengan sangat baik ngasih beberapa tips untuk traveling dan berbagi cerita tentang beberapa negara yang pernah dia kunjungi.

Nah, untuk kamu yang hobi piknik dan punya cita-cita mulia untuk keliling dunia, film ini recommended banget deh. Walaupun agak susah nyari filmnya, tapi layak tonton dan layak koleksi kok. Walaupun sekarang banyak juga tayangan di tv yang nyeritain tentang jalan-jalan atau backpacking, tapi percayalah, banyak hal yang bisa kita liat dari pengalamannya si Brook yang gak akan kita temui di film/acara tv yang lain.

Dan dua kata dari saya, selamat keracunan!
hehehe...

Thursday, April 08, 2010

I Trust You To Kill Me

Anda kenal siapa Kiefer Sutherland?  Saya nggak.
Anda pernah denger Rocco DeLuca and The Burden? Saya (sebelumnya) juga nggak.
Baru di film inilah saya kenalan dengan mereka. Lho, ini film toh?  Iya, film.

Ini adalah sebuah film dokumenter tentang rock band bernama Rocco DeLuca and The Burden. So they call it as rockumentary. Judul film ini diambil dari judul lagu yang dinyanyikan mereka. Tapi tenang aja, dokumenter yang satu ini tidak akan membosankan karena mata dan telinga kita akan disuguhkan oleh musik dan aksi panggung yang keren.

Film ini menceritakan tentang Kiefer Sutherland yang membawa Rocco DeLuca and The Burden (asal California) untuk tour keliling Eropa. Siapa yang kenal band satu ini di sana? Belum banyak. Nah, perjuangan mereka untuk manggung dari satu tempat ke tempat lain, dari satu negara ke negara lain itulah yang dipaparkan di film ini. Ada beberapa kejadian lucu, hal-hal yang tidak menyenangkan, dan tentu saja, ada point penting yang bisa kita ambil dari para personel dan si Keifer itu sendiri. Nggak cuma itu, nonton film ini serasa ikutan jalan-jalan keliling Eropa lho. Bisa ngerasain pagi buta di Ireland, meriahnya malam di London, bekunya Berlin di penghujung Desember, dan juga tempat-tempat lain yang jarang diekspos di film lain.

Tapi, emangnya ini band keren banget ya, sampe tour mereka dibikinin dokumenternya segala? Ketika si Keifer yang ditanyakan mengenai hal ini, dia sempat terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab; "This band is worth seeing...". Dan saya mengamini.

Kalo menurut saya, Rocco DeLuca, sang vokalis sekaligus gitaris, punya deep sense of pain yang jarang sekali saya temukan dari seorang musisi. Denger dia nyanyi dan mencabik gitar rasanya pengen nangis! Serius, ini nggak melampau. Sepanjang sejarah, baru ada beberapa lagu (mungkin hanya 3 atau 4) yang sukses bikin saya hati saya teriris-iris ketika dengernya. Dan ini salah satunya.

The Burden sendiri, sebagai band di belakang DeLuca, kehadirannya nggak bisa diremehkan. Walaupun dalam film ini mereka gak banyak diceritakan tapi kehadiran mereka membuat musik dan film ini semakin utuh. Dan ada hal penting yang bisa saya pelajari dari para personelnya ini, bahwa penting sekali untuk mencintai apa yang kita lakukan. Pengen kenalan lebih jauh sama mereka? Monggo di cek di mari.

Kesimpulan saya, film ini beneran keren! nggak salah kalo disebutnya Rockumentary. Dan tanya kenapa si Keifer sampe membuat tatoo di tangannya bertuliskan judul yang sama: I Trust You To Kill Me.

PS: Jangan bunuh diri dulu sebelum nonton film ini yah!


tulisan ini juga dipublish di sini

Friday, June 19, 2009

nick and norah's infinite playlist


baru aja selesai nonton film ini
dan,
...
...
aah... speechless!
bagus banget,
awesome!
I should re-arrange my top five best movies now

Sunday, June 07, 2009

watch and hear

Belakangan ini saya lagi menggila nonton film. Dalam dua bulan terakhir ini aja, entah udah berapa puluh film yang saya lahap. Normalnya sih sehari bisa nonton 1-3 film. Mulai dari nonton yang pake tiket di bioskop, hasil copy punya temen-temen, pinjem DVD sana-sini, sampai mengunggahnya sendiri. Semua genre saya nikmati, film komersil atau film festival, film anak kecil sampe film orang besar, bahkan sampai film yang pemain dan sutradaranya pun saya gak kenal, tetap aja saya nikmati.

Nah semalam, saya nonton lagi. Sebuah film drama musikal berjudul High Fidelity (2000). Entah ada kekuatan magis apa dari film ini yang bisa bikin saya langsung menekan mouse untuk mendownloadnya tanpa tau ini film tentang apa. Tapi nyatanya, saya begitu tabah menunggu progressnya hingga komplit, meskipun memakan waktu hingga berhari-hari. Dan sekarang, setelah nonton filmnya seperti apa, saya bisa bilang bahwa penantian berhari-hari itu terbayar lunas. Penasaran? Hmm....

Saya ulangi sekali lagi, ini adalah film drama musikal. Tapi catat, bukan film semacam Accross the Universe atau Mama Mia! yang setiap 5 menit ada adegan nyanyi-nyanyi, bukan sama sekali! Film ini bercerita tentang Rob (dimainkan dengan apik oleh John Cusack) yang mempunyai toko musik yang menjual album rekaman dengan koleksinya yang bukan main. Pada setiap keping rekaman itu dia menyimpan cerita dan meletakkan nyawa nya sendiri untuk menjaga.

Sudah nonton film Garasi? Nah, kalau bisa mengingat dengan baik, di film itu ada Arie Dagienkz dan Desta Club Eighties yang membuka toko musik semacam ini dengan label D’Lawas. Toko musik yang bisa sombong menolak pembelinya dengan alasan pengetahuan musiknya masih ‘cetek’ atau seleranya payah! Hahaha.... And that’s the way it is in this movie. Sungguh, penikmat musik yang idealis.

Musik di film ini enak banget untuk dinikmati. Yaah, walaupun referensi musik saya masih jauh dari keren, tapi paling tidak saya masih nyambung ketika dia menyebut nama Eagle Eye Cherry, Nirvana atau Green Day, atau ketika kuping saya menangkap nada-nada milik The Prodigy atau The Queen. Hehehe.. Selebihnya, saya hanya menempatkan diri sebagai pendengar yang setia..

Tapi tenang saja, cerita di film ini gak melulu tentang musik kok. Di sini si tokoh utamanya, Rob, juga menceritakan tentang pengalaman kisah cintanya dengan membuat list the top five breakups. Cerita tentang kenapa selama ini dia sial banget sampai ditinggal berkali-kali oleh pacarnya. Termasuk pacarnya yang terakhir yang bisa bikin hatinya jadi retak seribu.

Menurut saya, di sini Rob menjadi narator yang asik untuk kisahnya sendiri. Kita bisa merasakan seolah-olah dia sedang curhat sama kita langsung, dengan pikiran-pikiran yang seperti tiba-tiba aja muncul di benaknya dan gak sabar untuk langsung diceritain saat itu juga, hingga membuat kita berfikir dan menyetujui hal yang sama.


Di film ini, bagusnya Rob nggak mencitrakan diri sebagai seorang pria dengan kesetiaan yang teguh, atau kekasih yang sempurna. Dia tak lain hanya seorang cowok biasa yang punya ego, yang gak mau kalah dibandingin cowok lain, yang masih bisa tergoda perempuan lain selain pacarnya, tapi juga berusaha mati-matian mendapatkan gadis yang benar-benar dia inginkan. Ada satu petikan yang saya suka banget di film ini. Bunyinya begini: “...some people, as far as your sense are concerned, just feel like home.”

Hmm.. sweet, isn’t it?

Nah, yang paling saya suka dari film ini adalah, dia (dan music director untuk film ini, tentu saja) selalu bisa mendapatkan soundtrack yang pas untuk setiap kisah yang dia ceritakan. Setiap scene ada musik latarnya. Awalnya saya sempat agak bingung, mau fokus ngikutin kisah cintanya, atau ngikutin kisah dibalik pilihan-pilihan musiknya ya? Karna dua-duanya sama-sama punya kekuatan tersendiri untuk dinikmati. Tetapi yang saya dapat, inti dari semuanya adalah, bahwa musik adalah hidupnya. Dan apapun yang dialaminya, termasuk kisah cinta dan segala peristiwa yang setiap hari yang dijalani, selalu berputar dengan musik sebagai porosnya. Musik adalah jiwanya. Musik adalah nafasnya. Keren kan?!

Dan sebagai pelengkap yang manis, di bagian terakhir Sonic Death Monkey menutup film ini dengan musik yang ciamik! Benar-benar diluar dugaan..

Nah, kalau Anda penyuka musik, rasanya perlu deh menguji pengetahuan musik Anda dengan film ini. Tonton filmnya dan nikmati musiknya.. :)

Saturday, May 16, 2009

2 Days in Paris

Hmm.. ini bukan cerita perjalanan saya selama di Paris. Nggak kok. Saya belum nyasar sejauh itu. Doakan saja ya saya bisa sampe ke sana. hehehe.. ini postingan tentang film yang baru aja tadi siang saya tonton (setelah kemarin-kemaring mendownload-nya dengan kesabaran ekstra) Judulnya: 2 Days in Paris (2007).

Ceritanya tentang sepasang kekasih yang sedang menikmati perjalanan keliling Eropa, lalu -dengan sedikit terpaksa- mereka menyempatkan diri singgah 2 hari ke kota Paris dan berjumpa dengan keluarga pihak cewek. Si cewek aslinya adalah orang Perancis, sedangkan si cowok adalah tipikal American guy. Maka film ini bukan hanya bercerita tentang hubungan personal mereka, tapi secara nggak langsung juga ngebahas masalah budaya dan hal-hal yang disadari atau tidak, sebenarnya juga ada di sekeliling kita. Oh iya, film ini bilingual, English and France.

Buat yang suka film Before Sunset dan Before Sunrise, pasti suka sama film ini. Pemeran utama ceweknya adalah Julie Delpy, yang juga main di kedua film itu. Mbak Delpy bahasa Perancisnya cas cis cus sekali.. hohoho. (belakang saya tau dari mbah Google, ternyata dia aslinya emang orang Perancis. Pantesan..) Tapi dibandingin Before Sunset dan Before Sunrise, bagi saya rasanya film ini lebih personal. Mungkin karna ditulis, disutradarai, diperankan, dan diedit oleh mbak Delpy itu sendiri ya. Mungkin..

Nah, untuk bisa menikmati film ini sampai selesai, ada satu syarat yang harus dipenuhi: penonton harus rela jadi pendengar yang setia. Karena, nggak jauh beda sama dua film itu juga, 2 Days in Paris adalah film ngobrol. Ngobrol dalam arti sebenarnya. Penuh dengan dialog, dialog, cerita, monolog, cerita dan dialog lagi. Tapi obrolannya tampak sangat cerdas dan mengalir. Ritmenya cepat, kadang diselingi dengan topik-topik yang agak berisi dan berloncat-loncatan. Dari ngebahas eksibisi seni, lalu pindah ke blow job, pindah lagi ngebahas terorisme, flu burung, kondom, demokrasi, kucing gendut, hak-hak perempuan, sampe ke masalah perselingkuhan.Tapi semuanya tetap enak untuk disimak.

Saya sendiri merasa begitu terlibat dalam film ini. Ketika ada adegan di meja makan pada sebuah ruang keluarga, misalnya, saya merasa seolah-olah juga sedang duduk disitu bersama mereka. Menikmati makanan, menyimak setiap percakapan,dan ikut tertawa bersama mereka. Dan yang saya suka, semua pemain di film itu tampaknya sedang tidak berakting! Bahkan juga para figurannya. Mereka begitu luwes, santai dan mengalir. Seolah-olah tidak ada kamera yang sedang merekam setiap detil kejadian. Padahal hampir dalam semua scene para pemain ditampilkan secara close-up, bahkan beberapa diantaranya extreme close-up. Inilah yang menurut saya justru menjadikan tidak ada jarak antara penonton dengan pemainnya. Setiap adegan terasa begitu detil dan akrab.

Oh iya, film ini bersetting kota Paris. Tapi jangan harap akan ada adegan menye-menye di bawah menara Eiffel atau dinner di cafe Paris nan romantis ya. Nggak ada. Yang ada adalah detil-detil peristiwa, kedekatan yang santai, dan keeratan hubungan personal yang bahkan hampir nggak ada hubungannya dengan sex.

Setelah nonton film ini saya jadi berfikir kembali tentang konsep mempertahankan sebuah hubungan. Tentang bagaimana bertoleransi dan memahami orang lain. Serta tentang bagaimana kita menerima pasangan kita sebagai sosok yang tak lain adalah manusia yang sama seperti diri kita juga -tidak sempurna. Hmm..Pesan yang bagus, bukan?

Ah..saya suka film ini. Tonton sendiri deh. Tapi maaf ya, ini nggak direkomendasikan buat penyuka film horor atau action yang penuh darah dan baku tembak. Hehehe..

Wednesday, April 29, 2009

The Matrix dan kesadaran

Beberapa hari yang lalu, saya baru aja selesai nonton trilogi The Matrix. hahaha.. hari gini baru nonton Matrix? iya.

Dulu saya gak suka The Matrix. Bukan karna gak suka filmnya, tapi gak suka karena Matrix waktu itu lagi ngetop abisss.. semua hal, semua orang, kapan saja dimana saja ngebahas Matrix. Iklan, fashion, semuanya Matrix or Neo wannabe. Dan saya gak suka aja jadinya. Beberapa orang teman mungkin sudah tau, saya gak suka hal-hal populer. Hal yang disukai, digandrungi banyak orang, saya malah gak suka. . Selain Matrix, saya juga gak baca Harry Potter, gak nonton LOTR, gak punya Friendster. Ya karna alasan itu tadi. Sebenernya sih lebih karna gak mau ikut-ikutan kebawa arus. Saya maunya, kalaupun saya menyukai hal itu, bukan karna ikut-ikutan orang rame. Bukan karna khawatir saya akan dicap cupu abis atau gak gaul atau apalah namanya, hanya karna gak ikutan. Saya pengen nonton ya disaat saya pengen nonton aja.

Nah, keinginan nonton The Matrix ini baru muncul beberapa hari yang lalu. Telat banget? nggak juga, menurut saya. (menurut Anda?)

Menurut saya film ini bagus banget, terutama yg bagian pertama. Dalam hal tekhnik, ide cerita, karakterisasi, visual effect, soundtrack, nyaris sempurna. Tapi yang paling kena ke saya adalah tentang filosofinya. Benar-benar menggugah kesadaran saya tentang apa yang ada di sekeliling saya. Tentang keberadaan, kesadaran, konstruktivisme, eksistensi manusia, dunia dan segala isinya. Yaa..mungkin buat yang udah pernah nonton ini, sudah lebih dulu merasakan 'sentuhan' yang sama, pasti ngerti maksud saya apa.

Kesadaran seperti ini jarang sekali saya alami. Pengalaman pertama saya adalah beberapa tahun yg lalu, ketika saya baca novel Dunia Sophie. Kesadaran itu sedikit-demi sedikit mulai muncul, tapi nggak bertahan lama. Sampai pada setahun yang lalu, ketika saya kuliah Media, Budaya dan Masyarakat, saya sempat mendapatkan pencerahan yang luar biasa dari Sang Guru. Kali itu, serta-merta fikiran saya terbuka tentang segala sesuatunya. Bagaimana manusia mengkonstruk makna, bagaimana media membentuk pemahaman kita, bagaimana manusia, bagaimana Tuhan, bagaimana kehidupan, bla..bla..bla.. Maka sejak saat itu, pandangan saya mulai berubah. Cara melihat, menilai, memaknai juga ikut berubah. Saya bahkan mere-konstruksi pemahaman yang telah ada di otak saya selama ini. Dan pelan-pelan belajar melihat lagi semuanya dengan mata bayi yang baru lahir.

Tapi sayangnya, kesadaran yang saya miliki itu selalu saja timbul tenggelam. Malah sejak lulus mata kuliah itu, lebih banyak waktu tenggelamnya. Nah, kemarin ini, The Matrix berhasil membuka kembali kesadaran saya itu. Membuat saya berfiikir dan berfikir ulang. Ah.. saya jadi suka, semakin suka sama film ini. Apalagi saya nonton trilogi ini secara marathon. Dapet banget deh 'feel'nya.

oh iya, satu hal lagi. Tokoh The Oracle-nya mirip dosen pembimbing (penyelia tesis) saya disini. She's very kind, wise, and genius. Terutama cara ngomongnya itu lho.. miriipp banget! Lembut, pelan, tapi tegas dan berisi. Keibuan sekali, tapi disaat yang sama juga tampak begitu tangguh. Nah, sekarang saya tau, kalau misalnya nanti setelah lulus S2 dan pulang ke Indonesia tiba-tiba saya merasa kangen dengan beliau, yang perlu saya lakukan hanya nonton The Matrix lagi.hehehe..



Saturday, February 23, 2008

Bioskop Klasik dan Film Melayu

Hari ini saya nonton film di bioskop. Bukan sekedar nonton film biasa yang agendanya seneng-seneng, bukan juga di bioskop biasa yang adanya di mall-mall. Kali ini saya nonton barengan sama satu jurusan Komunikasi, nonton film berjudul Hati Malaya 1957, dan nontonnya di sebuah bioskop klasik bernama Coliseum yang dibangun sejak tahun 1920. Hmm.. unik! Mo tau ceritanya? Oke, kita bahas satu-satu.

Mulai dari bioskopnya dulu. Ketika pertama ngeliat gedungnya.. Ya ampun, ini bioskop ya?? Hehehe.. bangunan tua sih. Cuma 2 tingkat. Kayak ruko biasa gitu.Tapi ketika itu saya belum ngeliat angka 1920 tertulis di atas gedung ini. Setelah saya masuk ke dalemnya, hohoho... klasik banget! Berhubung kami adalah undangan, maka duduknya di tribun. Bayangin -TRIBUN!-- Yak, kalo kamu pernah nonton film yang ada adegan pementasan opera klasik didalemnya, kebayang kan bentuk ruangannya, ada balkon-balkon, ada tribun segala. And that's the way it is.. Unik yah.. Masih asli bangunannya. Tangganya, dan screen-nya ada di atas panggung! Hahaha.. Sayangnya karna hari ini adalah hari menonton gratis- alias para penontonnya adalah undangan dari beberapa kampus dan sekolah- jadi rame buanget!! Berisik, bahkan ada anak anak SD yang sibuk rebutan kursi dan cekakak-cekikik. Belum lagi, panitianya jeprat-jepret sana sini dengan pake blitz! Duuuh..sebel! Jadi gak khusyu’ nontonnya.

Nah, sekarang bahas filmnya. Hati Malaya 1957 adalah film semi dokumenter yang bercerita tentang perjuangan rakyat Malaysia mendapatkan kemerdekaan dari British. Ini film propaganda banget –perlu diingat, propaganda tidak selalu negatif loh ya..!—dan dibuat dalam rangka kemerdekaan Malaysia ke 50 yang jatuh pada tahun 2007 kemaren. Kalo mau dianalisis –hehe..anak komunikasi banget—sayangnya film ini masih berantakan, KALO MENURUT SAYA YAA... Editingnya masih kasar banget, tekhnik superimpose-nya gak rapih, setting jaman dulunya gak detil, alurnya terasa banget loncat-loncat, tekhnik multiple screen-nya malah terasa membingungkan, dan perpindahan waktunya terasa gak enak. Juga penyisipan video-video dokumenternya itu loh, aduh aduh.. kaya’ bikin klipping doang. Belum lagi ada beberapa adegan yang gak continu. Well, padahal saya pikir untuk film nasional gini semuanya akan lebih baik, dibuat lebih detil, apalagi yang buatnya adalah lembaga Film Nasional (FINAS) Malaysia. Ternyata saya kecewa... tapi ada juga beberapa hal yang bagus menurut saya, ada adegan-adegan yang terasa menyentuh and it looks so natural. Soundtracknya juga lumayan kena, yang nyanyi KD. Trus pemeran utama ceweknya cantik! Suka deh ngeliatnya.. Tapi ada suatu yang mengganjal –dan ini cukup fatal buat saya- di film itu dia, dan juga beberapa pemeran cewek lainnya, pake lipstik warna merah mawar menyala!! Oowh..c’mon! Itu kan settingnya tahun 40-50’an, dimana perempuan-perempuannya masih melayu banget, masih belum berpendidikan, boro-boro mau tau tentang fashion dan make up. Wardrobe-nya sih pas, tapi make up nya itu loh... ck..ck..ck. Dan itu mengganggu pemandangan saya banget! Hahaha.. You may say I’m perfectionist. Yes I am! Hehehe...

Oke lah, walopun filmnya hari ini agak mengecewakan, tapi lumayan ada pengalaman untuk melihat sedikit banyak –seperti apa film Malaysia. Ini adalah film Melayu pertama yang saya tonton semenjak disini. Kapok?? Mm..entahlah. Dan yang paling penting, hari ini saya bisa dapet pengalaman ngerasain nonton di bioskop klasik, gratis pula. Hehehe..gak tiap hari dapet kesempatan begini. Ya kan??

Friday, January 26, 2007

His My Role Model !

Gue baru sekali-kalinya ini baca majalah POPULAR. Hehehe... Gadis lugu kan gue??? Iseng aja, sambil nunggu pesenan Nasi goreng yang lama banget datengnya, eh ada majalah itu. Ya udah gue ambil aja. Baca-baca... sambil memperhatikan foto-foto ceweknya yang mukanya ngantuk itu (baca: muka ngajak tidur. Hehehe)
Di halaman tengah tu majalah (tepatnya adalah POPULAR edisi November 2006) ada artikel yang isinya wawancara dengan Deddy Mizwar. Gue baca deh. Dengan judulnya : 26 CUT TO CUT DEDDY MIZWAR, gila! Ternyata isinya keren banget!!!6 halaman yang memuat 26 pertanyaan dengan jawaban yang berbobot, mendidik, tapi gak belagu dan gak menggurui. Coba baca petikan wawancaranya yang gue kutip langsung ini:

Dalam seinetron Anda seperti dalam ‘Lorong Waktu’ tidak ada tokoh antagonis. Kenapa?

Nggak ada tokoh jahat. Tokoh yang keliru, ada. Memperbaiki citranya di masyarakat sulit, lebih baik ngomong sama Allah saja, nggak ditabokin. Hehehe... itu contoh, kan? Lu ditipu sama orang, lu ngomong sama temen lu, dibodoh-bodohin lu. Tapi ngomong sama Allah, dibelai kita. Mintalah kepada-Ku, jangan meminta kepada selain Aku.

Banyak yang mengatakan, dibanding rekan-rekan satu angkatan, tak banyak yang mencapai prestasi seperti Anda. Apa sebetulnya yang Anda cari di dunila film ini?

Industri film di televisi, khususnya, belakangan ini hampir semua orang didalamnya menjadi instan. Kadang-kadang tidak mengerti apa yang mesti dimainkan dan dibuat. Karena harus segera mengisi acara televisi. Aku gak mau masuk dalam arus itu. Makanya aku buat perusahaan sendiri. Aku rancang dengan teman-teman. Karena ini adalah ekspresi yang harus dipertanggungjawabkan secara moral, baik dalam kehidupan berbangsa, maupun dalam kehidupan kita di alam akhirat nanti. Setiap apa yang kita kerjakan harus ada pertanggungjawaban. Insya Allah pengetahuan yang Allah berikan aku ingin juga amalkan menjadi ibadah.

Cara mengucap syukur kita begitu kan? Aku kan bodoh, Allah kasih pengetahuan. Pengetahuan itu untuk apa? Ibadah. Syukur-syukur dapat duit juga. Nggak ada ruginya. Jadi kalau berpikir begitu tidak ada ruginya. Pasti ada ruginya. Umur gue dah tua, bentar lagi mati. Kalau gue lagi main film peluk-pelukan gue mati, mampus dah gue. Kemudian membuat film, kita ikut main dengan orang lain tapi tidak jelas impact-nya yang kita harapkan bagi penonton, bisa kacau kita nanti. Lihat tontonan kita, anak muda 20-an tahun, kaya raya. Dari mana kekayaannya nggak pernah dijelaskan dapat dari mana. Pacaran saja hidupnya kan? Jalannya kayak gimana?

Yang gue bikin, kayak ‘Kiamat Sudah Dekat’, bagaimana daya tahan, daya hidup berbagai manusaia yang begitu tertekan dalam kesulitan ekonomi tapi survival. Kita mengajarkan daya tahan jangan sampai kayak beberapa anak SD atau SMP yang gantung diri. Aki nggak habis pikir itu. Aku lihat ada sebuah histeria massa disana. Kita tidak pernah mengalamidulu. Gue juga susah dulu, tapi tidak pernah kayak gitu gara-gara nggak bisa ikut piknik. Kan gila, itu. Dan itu di desa, lho. Dari mana muncul ide gantung diri sebagai bentuk ekspresi putus asa? Kenapa? Nah, secara tak langsung (dalam Kiamat Sudah Dekat) ada tokoh seperti Saprol dan kifli, bagaimana daya hidup anak-anak bangsa dalam melihat keadaan dan kenyataan. Selalu mencari solusi dan tidak merugikan orang lain.

Tontonan spiritual yang Anda bikin berbeda dari tontonan televisi yang telah ada sekarang ini...

Saya percaya bahwa sebetulnya bukan salah satu tolak ukur masyarakat suka pada yang hantu hantuan atau daya hidup yang tidak jelas. Seperti film remaja kita, kan kita tidak tahu anak SMA mana? Tapi mereka menyukai. Pemirsa, apa yang disodorkan, dilahap saja. Karena nggak ada alternatif tontonan. Jangan salahkan masyarakat. Pelakunya yang harus dipertanyakan, baik si pembuat maupun si pengelola. Dimana pelakunya mungkin tidak mau berpikir, yang penting memenuhi target tanyang. Yang nulis juga demikian.

Pengelolanya juga demikian, yang penting laku. Kenapa? Karena memang tidak ada alternatif. Semuanya sama. Kalau bicara religi, semuanya hantu, siksaan. Hidayah kan siksaan. Habis menyiksa orang dapat hidayah, sudah. Jadi, kalu mau dapat hidayah, berbuat zalim –lah sebanya banyaknya. Seolah-olah kan stereotype. Pindah channel sama. Ya nonton saja yang terbaik diantara itu. Itu sebabnya saya bilang saya tidak pernah kehilagan rasa optimis. Saya kira mereka juga membutuhkan suatu tontonan yang baik. Cuma nggak ada. Kan susah.

Dan itu tidak bisa dilarang juga, kan?

Kita tidak bisa larang. Sudah bukan zamannya lagi melarang-larang. Tapi memberikan contoh. Dan belum tentu dicontoh. Tugas kita cuma menyeru dan mengajak. Sebagai Moslem tugas saya menyeru dan mengajak pada kebaikan. Selesai. Lu mau ikut atau kagak, itu bukan urusan gue, he..he..he.. Orang Cuma diwajibkan itu saja. Simpel sebenarnya. Jadi tetap bersemangat kerja. Kali ini tekor secara ekonomi, Alhamdulillah. Kali ini ada lebih, bonus, Alhamdulillah. Asyik, tuh.


Well, segitu aja deh petikannya. Ntar kalo dimasukin semua, jatohnya malah ngebajak. Mendingan lu cari deh majalahnya di loakan. Kalo masih ada ya.
Nah, Bapak satu ini memang TOB abis dah. Pemikiran-pemikirannya yang realistis tapi mengandung makna yang dalam. Santai tapi berbobot. Dan gue pikir, setiap kata yang dia keluarin, bagus untuk dijadikan bahan renungan. Abis baca artikel ini gue serasa dapet pencerahan gitu. Dapet arahan juga tentang bagaimana menyikapi hal-hal yang selama ini gue hujat-hujat (Ya, itulah..acara acara TV yang suka nggak genah-genah itu). Tapi jangan hanya bisa menghujat dong. Usaha, do something yang bisa memperbaiki, setidaknya sedikit. Lu lakukan apa yang lu bisa, kalo emang niatnya baik, dilakukan dengan benar, well, you’ll see the diffrence. Hmmm.. pemikiran yang baik.

Tapi sayangnya... di halaman berikutnya, ada foto cewek yang sangat potensial untuk merusak konsentrasi kaum laki-laki. Hahaha... sayang sekali. Yeah, namanya juga majalah POPUAR. Ya gak- jauh-jauh dari itu lah.Oiya, banyak yang bilang juga Deddy Mizwar ini mirip sama bokap gue, eh atau bokap gue yang mirip Deddy Mizway ya?? hehehehe...tau ah!

Saturday, January 20, 2007

The Last Kiss

Ini pertanyaan yang sering gue ajukan buat orang orang yang mau nikah: "how can you be so sure that she/he is the right one for you?" Dan buat orang-orang yang bisa mejawab pertanyaan itu dengan lugas, well..gue ucapin selamat! Karena kadang kita gak pernah tau siapa orang yang paling tepat buat kita. Dan kadang kalaupun kita sudah merasa yakin, biasanya adaaa aja godaan yang mengganggu. Entah itu orang ke tiga, faktor keluarga, atau hal-hal prinsipil laennya. Dan umumnya juga, sampe menjelang ijab qabul pun kita masih suka bertanya-tanya: "bener gak sih gue nikah sama orang ini??" Waduh waduh...pusing ye!


Nah, kemaren gue nonton film yang judulnya Last Kiss. Gue sih iseng beli film ini. Karena gue suka aja ngeliat tampang lucunya Zach Braff, yang pernah maen di serial Scrubs sebagai dokter muda yang culun nan berhati mulia, dan juga Film Secret Garden.Hehehe, walopun dia perannya serius, gue tetep aja senyam-senyum ngeliat mukanya. Okay, back to the story!

Di situ ada beberapa konflik. Tentang menemukan orang mana yang tepat untuk membuat kita bahagia, tentang bagaimana mempertahankan hubungan yang ada, atau bahkan memilih untuk meninggalkan, karena udah gak ada jalan lain yang lebih baik?? Hmm.. common problem ya..?
we all know that life is sucks, and maybe marriage is sucker. Kadang hal itu juga yang bikin orang takut menghadapi pernikahan (hehe..jujur, itu gue!), atau malah bikin stress (untuk orang-orang yang udah nikah). tapi ni film pembelajarannya bagus banget!

Okelah hidup gak mungkin lepas dari masalah. Gitu juga pernikahan. Or hubungan secara umum deh. Tapi intinya adalah, bagaimana kita menghadapi masalah-masalah itu. Dan cara apa yang kita pakai untuk menyelesaikan masalah itu? Diem-dieman kah? Saling berpegangan kah? Atau saling tunjuk idung kah??

Dan juga, jalan mana yang kita pilih untuk endingnya. Pilihan mana yang kita ambil, dan beranikah kita menghadapi resiko atas pilihan-pilihan itu? Yak, silahkan anda jawab sendiri..
Filim ini recomended banget buat orang-orang yang terlibat permasalahan di atas tadi. Nice romantic movie. Ceweknya juga cantik! hehehe... Nonton deh.

The point is, how to commit your heart with somebody that you are dying to love..
oiya satu lagi, sekali-sekali tataplah orang yang lu cintai dengan pandangan takjub sambil bilang: "Thank God I found her". And you'll see the diffrence