Wednesday, December 23, 2009
janji saya
Tapi apa iya pada kenyataannya selalu begitu?
Hmmm....Malam ini, saya melihat kenyataannya. Wujud dari perasaan cinta yang KONON nya sampai usia senja.
Kejadiannya begini.
Saya tengah menikmati makan malam di sebuah restoran siap saji. Saya sendiri, duduk di tepi jendela. Di seberang saya terdengar riuh rendah sebuah keluarga besar yang sedang menikmati makan malamnya juga. Ada bapak, ibu, kakek, nenek, dan tiga orang anak perempuannya yang menginjak usia remaja. Semua tertawa, semua ceria, entah sedang merayakan apa.
Si nenek masih cukup gagah dan dandannya masih cukup trendy. Sementara si kakek, menggeser kursinya sendiripun sudah tak mampu. Bicaranya hanya sepatah-dua patah kata. Tubuhnya renta dimakan usia.
Lalu semua orang menikmati makanannya. Sambil mengunyah, sambil bercanda. Si kakek juga ikut mengunyah, hanya saja ia tak cukup kuat mengangkat tangannya sendiri.
Ia disuapi.
oleh pembantu.
....
Hampir menangis saya melihatnya.
Di sana ada istrinya, ada anaknya, menantunya, bahkan cucu-cucunya semua sudah besar. Duduk satu meja, berhadapan dengannya. Tapi kenapa ia disuapi oleh pembantu? Kenapa bukan istrinya yang menyuapi? atau anaknya, atau cucunya?
Duh..Miris melihatnya...
Cukup lama saya terdiam, hingga akhirnya saya mengirimkan SMS untuk seseorang yang jauh di mata hanya untuk bilang:
"..kalau misalnya suatu hari nanti kamu lg sakit dan aku lg ada di dekat kamu, aku janji aku yang akan suapin kamu makan yah.. :) "
Iya, saya janji.
Saya janji bukan hanya ke dia, tapi juga ke diri saya sendiri.
Karna saya nggak akan pernah lupa dengan apa yang saya lihat malam ini
Semua orang di meja itu masih terus sibuk dengan menu masing-masing. Masih tertawa, masih ceria. Sesekali tampak melupakan keberadaan sosok tua di sudut meja. Dan si kakek hanya diam sambil terus mengunyah.
Saturday, December 19, 2009
1,3,5,7....
kalau yang satu melangkah seperti deret hitung
sedangkan yang satunya seperti deret ukur
sepertinya akan susah
dan yang pasti,
akan sangat melelahkan untuk terus berkejaran
Friday, December 18, 2009
hot guy in the plane
Seperti kemarin ketika saya dalam perjalanan menuju ibukota. Ketika sedang antri di kaunter check-in, saya berdiri di belakang pria yang sekilas-duh-mirip-fauzi-baadillah. Ganteng! Memang sih, matanya sih gak setajam dan secadas mas fauzi. Tapi okelaaah.... ^^ Siapa coba yang nolak 'pemandangan indah' begini? hihihi...
Ketika berjalan masuk ke pesawat, si cowok ini jauh ketinggalan di belakang saya. Dia sepertinya satu rombongan dengan 2 orang ibu-ibu yang tentengannya lumayan banyak. Tapi saya sih gak sampe segitunya celingukan nyariin dia di mana. Saya fokus mencari tempat duduk saya aja. Sayangnya, saya duduk di tengah-tengah 3 jejeran kursi. Uuh, saya gak suka posisi ini. Kalau boleh memilih, saya akan lebih suka duduk di samping jendela atau di pinggir lorong sekalian. Posisi di tengah itu aneh, seperti terjepit rasanya.
Kursi di sebelah kanan saya sementara belum terisi. Di sebelah kiri saya ada seorang anak muda (tsaaah...sok tua banget gw!) laki-laki yang sepertinya baru sekali ini naik pesawat. Nggak tau gimana cara pasang seatbelt dan belum apa-apa sudah kepingin membuka meja di hadapannya. Lalu nggak lama masuklah si -mas-mas-yang-mirip-fauzi-baadillah- tadi, beserta 2 orang ibu nya. Sementara dua ibunya duduk di kursi di depan saya, sedangkan si mas....eng-ing-eng... duduk di samping kanan saya! Horeeeee... ^^
Dan sudah bisa diduga, saya jadi grogi abis. Hahaha... Nggak berani nengok ke jendela, which is yang ada di sebelah kanan saya. Gak berani juga menyandarkan tangan di sebelah kanan karna takut kesenggol tangannya si mas. Hihihi...Dan malangnya, saya gak punya pengalihan untuk menghilangkan situasi awkward ini. Di kantung kursi depan hanya ada kartu petunjuk keselamatan dan katalog barang jualang (yang ngapain juga dibaca sebegitu seriusnya), situasi juga sedang gak memungkinkan untuk mengaktifkan hp dan mendengarkan lagu lewat earphone, dan saya juga gak bawa novel atau koran yang bisa dibaca. Ah..mati gaya deh! Mau ngajak dia ngobrol juga gak berani. Grogi...hihi... ^^
Seandainya si mas-mas ini orang yang pandai membaca gesture, dia pasti tau kalo saya salah tingkah. Goyang-goyang kaki, garuk-garuk hidung -yang-sebenarnya-gak-gatal, sampai celingukan ngeliatin mbak-mbak pramugari yang mondar mandir (tetep...saya gak berani melihat pemandangan melalui jendela). Untungnya perjalanan ini gak lama, hanya sekitar 45 menit saja. Terima kasih Tuhan, jadi saya gak perlu mati gaya lebih lama lagi.
Gak lama kemudian pesawat ini mendarat. Daaan.... eng-ing-eng... Ada kejadian yang bikin saya langsung il-feel sama mas-mas ganteng ini. Baru beberapa detik pesawat menempelkan rodanya di landasan, dia langsung membuka sabuk pengamannya. Okelah, ini masih bisa dimaklumi. Tapi kemudian... DIA MENGAKTIFKAN HANDPHONENYA!!!!
Hallooo mas ganteeenggg...tau gak sih kalo ini bisa mengganggu sistem navigasi pesawat yang pada efeknya akan mengancam keselamatan seluruh penumpang?? Nggak bisa ya ditahan dulu barang 5 menit doang atau paling nggak sampai pesawat bener-bener berhenti di 'parkirannya'? (Tenang, saya hanya mengucapkan ini dalam hati kok. Gak mungkin juga tiba-tiba saya langsung ngomel-ngomel ke dia kan?)
Huh..Ini nih, salah satu kebiasaan buruk (mayoritas) orang Indonesia kalo lagi naik pesawat. Suka nggak taat peraturan! Padahal udah jelas-jelas diingatkan sama pramugari. Sibuk-sih-sibuk..tapi menunggu 5 menit doang emang nggak bisa lagi ya?
Aah...maaf ya mas-yang-mirip-fauzi-baadillah, nilai anda langsung minus di mata saya!
Nggak jadi deh saya naksir Anda. hehehehe....
Sunday, December 13, 2009
bingung #1
"tali", jika dijamak akan menjadi "tali-temali"
tapi mengapa kata "tulang" bentuk jamaknya tidak menjadi "tulang-temulang"?
Kenapa jadinya malah "tulang-belulang"?
Aneh kan?
Mari kita pikirkan hal ini bersama-sama....
Thursday, December 10, 2009
new year new face
Is it too early to say Happy New Year, since it's still mid-December?? Hope not.
Haha...ini sih alasan saya aja, ganti tampilan blog dalam rangka menyambut tahun baru. Padahal rasanya saya sudah berpuluh-puluh kali ganti tampilan blog, dan tidak merasa perlu membuat suatu alasan untuk itu. Yaah, kali ini gak papa lah beralasan sedikit.
Fhewww... sudah mau tahun baru lagi ya?
And you know what? Ini juga berarti sudah hampir 5 TAHUN saya ngeblog disini, di halaman ini! Wow..ini umur yang fantastis untuk ukuran orang yang nggak suka curhat dan malas menulis diary seperti saya. haha..Dan saya masih agak nggak percaya banyak orang yang sering mampir dan baca tulisan saya yang remehtemeh begini. Meskipun kebanyakan diantaranya adalah silent reader (mungkin termasuk kamu). Daannn...ada follower, pula! aah... apa-apaan ini semua. haha...
Saya juga tau, there is also a stalker here. (yeah..even I'm not that famous). Tapi terserahlah, nikmati aja apa yang ada disini. Saya sudah menganggap ini public space kok. Dengan menulis disini, berarti saya sudah berani membuka jendela saya sedikit lebih lebar untuk orang luar agar bisa melihat apa yg saya pikirkan dan saya rasakan. Hope you get something positive from here.
Hmm...pengennya sih dengan tampilan baru ini, saya bisa menulis lebih rajin lagi disini. Penting atau nggak penting, panjang atau pendek, apapun. Paling nggak saya harus mencoba untuk lebih rajin berfikir dan menuliskannya. Dimulai tahun depan, mungkin? Kita lihat saja.
So... enjoy this new face. Hope you all like it.
Tampak lebih segar ya? Iya nggak sih??
Wednesday, November 25, 2009
25
Masih seperti tahun-tahun kemarin, saya gak punya birthday wishes atau daftar panjang dosa hasil introspeksi setahun ini.Yang biasanya saya lakukan hanyalah mengamini semua do'a yang terucap buat saya, dan mensyukuri apapun yang telah Tuhan berikan ke saya selama ini. Mulai dari setiap molekul udara yang terhisap, setiap bulir darah yang mengalir, segala pencapaian yang sudah bisa saya raih, segala yang saya miliki dan orang-orang yang mencintai, segalanya..
Dan saya tidak punya alasan untuk tidak bersyukur pada-Mu, Ya Rabb..
Hmm..sebetulnya, buat saya tanggal 25 november nggak terlalu berbeda dengan 3 januari, 18 mei, 5 september, 27 desember, atau tanggal-tanggal lainnya. Tapi usia 25, buat saya itu jelas beda dengan usia 17, 20, atau bahkan 24 yang baru saya lewatkan kemarin sore. Kenapa? Karena... entah bagaimana awalnya, dulu saya pernah bercita-cita nikah di umur ini (haha..damn it!). Nggak ada alasan khusus sih kenapa harus di umur 25. Cuma pertimbangan saya dulu, kayanya kalo nikah umur 20 itu kemudaan, tapi kalo udah 30 udah ketuaan. Jadi ya tengah-tengahnya aja. hehee..
Sekarang, ketika angka 25 itu sudah distempel di jidat saya, cita-cita itu sepertinya masih belum akan terwujud. hehehe...ya saya sih tenang-tenang aja. Saya percaya, segala sesuatu akan terjadi pada saat yang tepat. Ya tho?? Tetap optimis dan berbahagia aja. hehee...
(Pesan moral untuk anak-anak ABG: jangan pernah punya cita-cita seperti ini ya!)
Nah, pertanyaannya sekarang adalah: Apakah wanita di usia 25 sudah harus mulai memakai cream anti-aging??
Thursday, November 05, 2009
oh.. that question, again!
Menyebalkan. Dan yaah..itu tadi, bikin panas kuping. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, belakangan ini saya sedang dibombardir dengan pertanyaan kedua.Uuurrgh...
Untungnya sih bukan sama orang tua, tapi sama orang-orang sekitar yang kadang jauh lebih rese' dan gak memikirkan intonasi serta mimik wajah saat bertanya. Orang tua saya sih termasuk moderat dan anteng-anteng aja sama urusan beginian. Walopun saya yakin, dalam hati mereka juga pasti pertanyaan-pertanyaan itu sudah berkali-kali di rewind.

Jujur, bukan saya gak kepengen. Bukan juga karna saya gak laku (jiaah..sombong! haha). Tapi saya takut. Iya, takut. Takut sama sesuatu bernama komitmen. Ika Natassa --penulis buku A Verry Yuppy Wedding dan Divortiare (saya pengen banget beli dua buku ini. Ada yg mau beliin? hehe..) menulis begini di bukunya: "Commitment is a funny thing, you know? It's almost like getting a tattoo. You think and you think and you think and you think before you get one. And once you get one, it sticks to you hard and deep."
Dan saya pikir, she's damn so right! Gak semudah itu buat saya mengikatkan diri pada sebuah komitmen (let say, marriage). Ada banyak hal yang pelu dipikirkan, dipertimbangkan masak-masak, bukan hanya hal-hal prinsipil, tapi juga hingga ke hal-hal kecil.
Mungkin memang sayanya aja yang paranoid. Tapi saya gak akan mau masuk ke suatu keadaan yang saya gak yakin bisa saya jalani dengan baik. Iya sih, kata orang itu adalah proses yang hanya perlu dijalani. Tapi toh kita kan juga perlu persiapan, dan yang paling penting, KEYAKINAN. Nah, yang terakhir ini yang belum saya miliki. Memilih dan mendapatkan orang yang tepat aja gak mudah. Belum lagi untuk menjalaninya. Juga pertanyaan-pertanyaan yang terus saja menghantui pikiran saya. Yakin pasangan bakal setia? Yakin bisa menghidupi keluarga? Yakin bisa jadi istri yang baik? Yakin bisa menerima segala perbedaan? Yakin bisa berkompromi? aaah....things like that.
Saya dulu juga pernah baca di sebuah majalah wanita, katanya 9 dari 10 wanita menerima saat pertama kali dilamar. Dan biasanya ini disebabkan oleh bayangan romantisme pernikahan. Walopun gak yakin-yakin amat sama lelaki yang berkata 'will you?' di depannya, tetapi bayangan punya keluarga mungil, rumah asri berumput hijau, anak-anak yang lucu, bangun pagi dan membuatkan sarapan, bisa membuat wanita memutuskan untuk menerimanya. Nah, begitu menghadapi realita pernikahan yang ternyata tidak seindah bayangannya, baru deh nyesel, kecewa, depresi.
Naah..Saya gak mau impulsif begitu. Saya mau memutuskan untuk menikah karena saya yakin memang inilah saatnya dan inilah orangnya. Yakin saya bisa bertahan menghadapinya. Jadi, buat apa saya memaksakan diri, buru-buru menikah hanya karena dipusingkan dengan pertanyaan yang terus-terusan berdengung di telinga saya. Betul gak?
Jadi, santai aja lah... :)
Dan buat para single ladies diluar sana yang menghadapi pertanyaan serupa, tenang aja...
You are not alone :)
Tuesday, October 13, 2009
dilemma
Merasa terhimpit dalam dua pilihan yang sulit? Pernah?
Saya sedang.
Dan himpitan ini membuat saya sesak seperti kekurangan oksigen. Nggak enak banget rasanya. Apalagi ini menyangkut hal penting, yang efeknya bukan hanya untuk sekarang, tapi masa depan.
Ini bukan lagi selevel dilemma hari ini mau pakai baju apa, mau jalan-jalan ke mana, atau pilih makan siang menu apa.
Ini perkara penting yang, aargh...apa ya bilangnya? Mungkin selevel dengan pilihan kerjaan, pilihan jodoh, pilihan investasi dimana, dan sejenisnya. Kan bukan hal yang mudah untuk memutuskan hal yang dua-duanya baik. Misalnya, ada tawaran kerja di Deplu dan Depkeu. Dua-duanya oke. Dua-duanya menjanjikan. Tapi kan harus pilih salah satu.
Atau bingung memilih antara si Joni yang tampan dan pintar atau si Mamat yang kaya dan baik hati. Nah, ini juga bukan perkara main-main. Apalagi kalo untuk hubungan yang serius. Nggak bisa juga kalau mau ambil dua-duanya. Ntar dibilang “Kok ya jadi manusia serakah amat.”
Ummm....Awalnya memang enak sih berada di antara dua pilihan yang menyenangkan begini. Nggak bisa dipungkiri, perasaan jumawa pasti ada walopun dikit. GR..Berasa naik level. Atau berasa ngetop. Hehehee... Tapi untuk memutuskan dan memilih salah satu itu juga proses yang luar biasa peliknya!
Dan ini, saya sedang terjepit diantaranya.
Belakangan ini saya jadi terus-terusan berpikir keras. Menimbang-nimbang. Mengira-ngira segala kemungkinan. Berganti-ganti antara logika dan insting.
Aargh...ini semua terasa begitu menyesakkan.
Dan sesaknya lebih dari rasa sesak akibat pakai korset.
I hate this.
Tuesday, October 06, 2009
the gravity
kamu itu seperti gravitasi
setinggi apapun aku loncat
sejauh apapun aku terbang
aku hanya akan kembali jatuh ke kamu
and I just can't resist
...
Monday, September 28, 2009
phobia
and I start to like it,
simply because Panji nya ganteng. huehehe.... :D
Friday, September 25, 2009
it's in my blood
Saya kok kangen nenek ya..Padahal baru lebaran ke-3 kemarin nenek pindah ke tempat om saya di Tanggerang setelah hampir dua tahun lebih tinggal di rumah. Baru aja 3 hari nggak ada nenek di rumah, rasanya sepi. Nggak ada yang diajak ngobrol, bercanda, masak bareng, atau bahkan sekadar duduk di teras dan ngerumpiin orang-orang yang lewat. hihihi...
Nenek saya itu orangnya cuek. Persis seperti Gus Dur. Kalau ngomong ceplas-ceplos dan segala sesuatunya ditanggapi dengan santai. Hidupnya terasa begitu ringan, tanpa beban, dan begitu ikhlas menghadapi segala masalah.
Saya sempat berfikir, apa jangan-jangan sikap beliau ini mengalir juga di darah saya. Soalnya bisa dibilang, untuk beberapa hal saya mempunyai banyak kesamaan sama nenek saya. Saya jarang sekali menangis. Sama seperti nenek. Saat orang lain sudah nangis sesenggukan seperti nonton film India, beliau hanya komentar "sudaah...buat apa ditangisin". Dan saya pun selalu mengamini.
Nah ini juga kesamaan saya dengan nenek. Kalau sakit lebih memilih diam. Rasakan sendiri, obati sendiri. Kalau nenek sih alasannya tidak mau merepotkan orang lain. Kalau saya, lebih karena percaya ini hanyalah siklus sementara dari tubuh yang sedang rewel. Jarang ada yang tau kalau saya atau nenek sedang sakit. Sakit-sakit ringan gitu yaa, maksudnya. Seperti sakit kepala, flu, sakit gigi, demam, atau sekadar kelelahan. Jadi, kalau sudah bilang ke orang lain, "kaki saya sakit", itu berarti sakitnya sudah cukup serius untuk ditahan.
Makanya saya faham betul ketika nenek menangis karena sakit di kakinya. Itu berarti sakit yang teramat sangat. Menusuk hingga ke tulang sum-sum.
Nenek saya juga sosok yang tegar. Dan saya amat sangat berharap hal ini juga ikut mengalir dalam darah saya. Beliau sudah benar-benar melewati pahit manisnya hidup sejak kecil hingga tuanya ini. Tapi begitu kuatnya ia bertahan. Dan yang paling penting, meski disakiti seperti apapun, nenek selalu punya stock maaf yang tidak ada habis-habisnya.
Lalu, yang juga saya warisi dari nenek adalah sikapnya mandiri. Meskipun beliau sudah berjalan tertatih-tatih, tetap saja tidak mau dipegangi. Kalau masak, tidak mau dibantu. "Malah pusing kalau terlalu banyak orang yang campur tangan", katanya. Di usianya yang sudah 84 tahun, nenek masih mau berjalan ke warung sendiri, malah jengah kalau terlalu dikhawatirkan. Seperti umumnya orang lanjut usia, keras kepalanya bukan main. Nah, watak satu ini juga mungkin saya warisi. hehehe...
Oh iya, nenek saya juga lucu! komentarnya yang suka asal 'nyeletuk' tak jarang bikin orang lain geli mendengarnya. Kosakata pilihannya pun suka aneh-aneh. Dan dia tidak akan mau repot-repot memilih istilah yang lebih halus untuk menggambarkan sesuatu.
Misalnya, daripada menyebut "tetangga sebelah meninggal dunia" dia akan lebih memilih istilah "bapak itu mati. napasnya berenti!" hehehe... kocak deh.
Tapi justru itu yang bikin saya kangen sama nenek. Lucunya, cueknya, kesabarannya...
Dan, oh! tentu saja, masakannya yang selalu enak tiada tara!
Friday, September 11, 2009
sebuah nama dan sederet nomor
Malam-malam sebelumnya saya selalu menyetel alarm pada jam 03.50 dan selalu memperpanjangnya hingga tepat 10 menit. Lalu baru benar-benar beranjak ke kamar mandi tepat pada pukul 04.00. Cuci muka, sikat gigi, turun dan makan sahur.
Tapi tidak malam tadi
Ketika baru membuka mata subuh itu, saya sengaja membuka hp terlebih dahulu lalu menghapus sebuah nama dari phonebook, baru kemudian melanjutkan ritual seperti biasa, beranjak ke kamar madi, cuci muka, sikat gigi, turun dan makan sahur.
Sebuah nama, dengan sederet nomor yang sengaja tidak saya ingat.
Tidak mau saya ingat.
Sengaja saya melakukannya ketika baru membuka mata, ketika kesadaran masih baru menyentuh ujung jari dan otak belum benar-benar berfungsi. Karena saya tidak mau mengingat nomor itu. Tidak mau melakukannya di saat kesadaran sedang terisi penuh, lalu mulai berfikir dan menimbang-nimbang, hapus-tidak-hapus-tidak-hapus tidak, dan pada akhirnya memutuskan menghapus namanya namun terlebih dulu mengingat-ingat sederet nomor yang tertera.
Saya tidak mau seperti itu.
Jadilah, saya menghapusnya saat mata masih separuh terbuka.
Nama siapa? Mengapa dihapus?
Marah? Benci?
Tidak.
Hanya saja, pemilik nama itu berpotensi untuk membuat saya sakit hati. Sangat berpotensi. Selama ini saya sudah menjadi umat paling sabar untuknya, meski tanpa memiliki alasan mengapa saya jadi sedemikian sabar. Saya bahkan heran, dari langit sebelah mana kesabaran seluas itu saya dapatkan?
Ah, kadang saya merasa itu bukan kesabaran. Itu cuma kamuflase yang saya gunakan untuk menenangkan hati sendiri. Seperti betadine dan perban yang saya pakai untuk membalut luka di kaki, sambil berbisik dalam hati, “besok pasti lukanya sembuh”.
Lalu kemarin saya membaca sebuah novel (“Subjek: Re” by Novita Estiti) dan menemukan kata-kata ini:
karena aku tahu
tak mungkin mencegah orang lain
menyakiti hatiku
maka
aku mencegah hatiku
dari merasakan sakit
dan
mencegah
hatiku dari merasakan
apa yang kurasakan saat ini
maka, sesederhana itu saya putuskan.
Menghapus sebuah nama, memilih untuk tidak mengingat nomornya, dan mencegah menyakiti hati sendiri.
Done.
Monday, August 31, 2009
10 things i'm gonna miss from Malaysia
1. All of my friends. Semuanya, yg orang Melayu or Indonesia or Middle East, semuanya. Tetangga kosan, roommate di kolej, tetangga seberang kamar, temen hang out, temen sekelas, temennya temen, adik tingkat, kakak tingkat, abang-abang kantin. aaah...semuanya.. Semua orang punya cerita seru untuk diingat.

2. My own room. Yah, walaupun saya bisa dibilang nomaden, karena 4 kali pindahan dalam 4 semester, tapi setiap kamar punya ceritanya masing-masing. Walopun kecil, walopun berantakan, walopun panas, tapi saya selalu nyaman ketika sudah masuk ke kamar sendiri.
3. My theses supervisor, Dr. Asiah Sarji. Wah, beliau sih bukan hanya sekedar dosen. Tapi udah kaya ibu, sahabat, teman baik. She's very nice. She's my inspiration. Saya gak mungkin bisa lulus sampe begini kalo tanpa bantuan beliau. When I said I'm gonna miss her alot, she said: "no...we are not going to miss each other..why..bukan jauh sangat lampong, jakarta..bangi...kan tempat-tempat kita bermain..."Dan kami janji, this is not a good bye.
4. Perpustakaan kampus. Nah, ini adalah the best spot in my campus. Walopun kata orang perpustakaan itu ngebosenin, tapi nggak bagi saya. Lagipula, disini perpusnya enak banget. Saya bisa betah di dalemnya, bahkan pernah sampe 10 jam di perpus! Di sini juga jadi tempat saya berkubang ngerjain tugas-tugas dan tesis. Aah..ada ditengah-tengah jutaan buku itu rasanya menyenangkan!
5. Oh iya, akses internet disini juga pasti bikin kangen! hahaha... soalnya enak banget, cepet dan unlimited. Baru bangun tidur udah langsung nangkring didepan laptop. Sampe lupa mandi, lupa nyuci. hehee.. Di rumah? aaah..internetnya hanya untuk orang-orang beriman. Benar-benar menguji kesabaran :D
6. Walopun gak banyak makanan disini yang sesuai selera, tapi yang pasti saya bakalan kangen banget dengan tomyam di warung kelantan depan kosan. Haduh..pas upload gambar ini aja saya sampe nelan ludah. hehehe... puasa de, puasa! Selain tomyamnya, saya juga pasti kangen banget dengan kesempatan wisata kuliner disini. Banyak banget makanan aneh (walaupun gak semuanya enak ya) yang bisa saya cobain. Entah dari negara mana, atau khas Malaysia bagian mana. Wisata kuliner disini menyenangkan! Beneran deh.7. Satu hal lagi yang biasa saya lakukan di Malaysia dan akan saya kangenin kalo pulang nanti adalah, being able to walk. Walaupun disini cuacanya panas, dengan jarak tempuh yang lumayan menguras tenaga, dan sedikit gak aman, tapi jalan kaki disini nyaman. Trotoarnya enak, luas, bersih, dan kalau beruntung, di kanan kiri jalannya banyak pohon rindang. Tapi kalau di Indonesia, harus berhadapan dengan aroma got mampet dan saingan dengan pengendara motor yang juga mulai menguasai trotoar. Haduuh!
8. Trus, yang paling kerasa selama saya disini adalah, sebagai anak kos yang jauh dari rumah, saya bisa dengan leluasa jalan-jalan dan bertualang ke banyak tempat. Entah itu di Malaysia, atau bahkan sampe menyebrangi perbatasan.Kalo dirumah, saya gak bisa sebebas ini bertualang. Bapak saya mungkin khawatir ada alien berwarna hijau dateng dari planet lain dan menculik saya. hohho..
9.Lalu, hmm..jelas ini bakal ngangenin: denger orang ngobrol dengan logat melayu tulen. hehehe.. Saya juga sebenernya pulang ke tanah air harus kembali mengatur tata bahasa yang sekarang udah jadi kacau balau. Apalagi kalo untuk bahasa tulis formal. hmm...susah kayanya untuk dibalikin ke posisi normal. Dulu, kalo denger orang Melayu ngobrol, saya pasti senyum-senyum mendengarnya. Ntar-ntar, pasti gak kedengeran lagi deh yang beginian. hehehe
10. Nah, terakhir nih agak susah. Beberapa hal yang tersisa harus diseleksi dulu untuk bisa masuk posisi top ten. Dan yang menutup list hal-hal yang saya kangenin dari Malaysia ini adalah....suasana multi-culturalnya. Kalau di Indonesia, saya biasa ketemu orang Padang, Jawa, madura, Batak, Sunda, dll. Tapi kalau disini, yang saya temui adalah orang Libya, China, Brunei, India, Iran, Mexico, Arab Saudi, Bangladesh, Thailand, dan banyak lagi. And it gave me such a wonderful experience and memories.

So, what ever people said about this country, I can say that this is my second home. And I'm so glad to be here :)
Monday, August 24, 2009
dua tahun
Tapi sudah begitu banyak yang berubah dalam hidup saya selama dua tahun ini
Hal-hal yang dulunya saya khawatirkan, hal-hal yang dulunya tak pernah terpikirkan
Saya melihat banyak hal, mengenal lebih banyak orang.
Mengecap, merasa, membau, menghirup udara yang berbeda.
Membaca, belajar, mencerna, memahami lebih dalam.
Merasakan luka, sepi, tawa, takut, bahagia, indah, penat, kelam, semuanya.
Sekarang saya bersyukur bahwa dua tahun ini bukanlah sekadar esok lusa.
Dua tahun ini telah membuat saya menjadi lebih kaya
Membuat saya mengerti,

Friday, August 07, 2009
rendra dan firasat
Saya sudah punya firasat tentang kematian para artis beberapa hari sebelum mereka bener-bener pergi. Seriously!
Awalnya sih saya nggak terlalu kepikiran hal ini, tapi setelah mendengar berita kematian WS Rendra hari ini, saya jadi tercenung. Ini terjadi lagi untuk kesekian kalinya.
Hal yang sama juga terjadi beberapa hari sebelum kematian Lilis Suryani, Timbul dan, ah..saya lupa siapa lagi. Mereka memang bukan lagi artis ngetop yg tiap hari diliput infotainment. Makanya saya heran kalo tiba-tiba jadi kepikiran tentang mereka.
Nah, gitu juga kejadiannya sama WS Rendra ini. Waktu berita tentang meninggalnya Mbah Surip (kalo yg ini saya nggak dapet firasat), kan ada infotainment yg memberitakan kalo Mbah Surip ingin dimakamkan di tanah kediaman WS.Rendra. Trus saya bertanya-tanya: WS Rendra masih hidup gak sih? Apa maksudnya Mbah Surip pengen dimakamkan di samping MAKAM Rendra? Ah, tapi kayanya saya belum pernah denger berita kematian Rendra deh..Atau jangan-jangan saya yg kelewatan beritanya?
Dua hari saya kepikiran hal ini. Bahkan saya sempat kepingin benget googling berita kematian WS Rendra untuk mencari tau!
Lalu tiba-tiba, tepat dua hari setelah semua pertanyaan itu berputar-putar di kepala saya...benar saja, si Burung Merak itu berpulang.
Saya nggak tau apa maksudnya ini semua. Apakah ini berarti saya punya indra keenam? Atau saya punya bakat untuk jadi cenayang? Atau saya diam-diam dikasih bocoran sama malaikat maut? Ah, saya juga nggak ngerti. Ini semua terlalu aneh buat saya.
Monday, July 13, 2009
Backpacking lagi
Alhasil, dengan ditemani oleh 2 orang teman dan 1 sepupu, kami berempat berangkat dengan motto: BIAR MISKIN ASAL PIKNIK. Hahhaa..Soalnya jujur aja, penghujung bulan Juni kemarin emang banyak banget pengeluaran yg nggak diduga. Mulai dari fotocopy tesis yg amit-amit mahalnya, beli kado buat temen-temen yg ultah, ekstra budget buat oleh-oleh, dll. Intinya, keadaan dompet waktu itu memang mengenaskan. Tapi dengan jiwa para petualang sejati (tssaah..) kami memutuskan berangkaaattt! Kalo saya sih niatnya: Harus! Kalo nggak sekarang, ntar-ntar gak bisa lagi. Yaah, hitung-hitung ini hadiah buat diri saya sendiri yang udah selesai kuliah. Gak ada salahnya toh??
Jadi berangkatlah kami berempat pada hari Jum’at (3-7-09) dengan naik bis jam 12 malam. Nyaris saja kami gak jadi berangkat, karena tiket yg kami pikir adalah tiket resmi, ternyata ILEGAL! Agen tempat kami beli tiket ternyata gak resmi, atau istilahnya calo. Padahal kami beli di counter! Aneh deh...Tapi setelah debat kusir, nego dan tarik urat dikit, jadi juga kami berangkat ke Johor malam itu.
Sampai di Johor jam 5 subuh, lalu kami melanjutkan perjalanan ke Singapura dengan naik bis juga. Jarak Johor-Singapur itu deket lho. Nyebrang naik bis lewat jembatan mungkin hanya 5 menit. Tapi harus melewati pemeriksaan imigrasi dulu yaaa... (Check point nya bagus deh. Katanya sih baru dibangun. Hampir sama kaya airport)
Sabtu pagi (4-7-09) kami udah sampe di Bugis Street, Singapura. Lalu janjian sama temen yang hari itu menjadi tuan rumah sekaligus seksi kerepotan (Thanks a lot for Yuli). Apartemennya Yuli ternyata gak jauh dari Bugis street, atau tepatnya di Waterloo Street. Diapit sama kuil hindu India dan vihara Cina. Di depannya juga ada gedung Stamford Art Center dan ramai sama pejalan kaki, penjual bunga, kios-kios pasar murah dan sekawanan burung dara. Asik ya? Tapi di situ emang sewanya muahaal..Untung kami cuma numpang singgah. Hehe...
Lalu setelah mandi dan gosok gigi, maka petualangan sehari di Singapur dimulai! Target pertama: Sentosa Island. Setelah beberapa kali nauk turun kereta bawah tanah (atau disana namanya MRT) dan bis, akhirnya kami sampe juga di daerah pantai Sentosa. Ada dua pantai yang jadi target utama; Siloso Beach dan Palawan Beach. Pantainya bagus deh.Meskipun siang bolong dan panasnya minta ampun, tapi tetep doong...foto-foto harus berjalan lancar. Hehee..
Setelah puas foto-foto di pantai, kami kembali jalan ke pusat kota yang dipenuhi sama mall-mall dan pemburu sale. Hahaa... Jalan kaki di Orchad Road rasanya seru. Selain emang kotanya bersih dan teratur, yang paling saya suka adalah fasilitas untuk pejalan kakinya. Di sini pejalan kaki emang ramai banget, jadi trotorarnya dibuat lebar, plus bangku-bangku taman dan pohon rindang membuat jalan kaki semakin nyaman.
Next target: foto sama singa! Hahaha... ini penting nih buat saya. Soalnya dari dulu gregetan pengen ke Singapur. Dan satu-satunya bukti yang meyakinkan kalo saya pernah menginjakkan kaki disini adalah foto bareng Merlion, maskot Singapura yang terkenal itu. Hehehe.. Makanya, walaupun kaki udah pegal seharian jalan kaki, pake nyasar dan bingung lewat mana, tetap harus bertahan demi bisa foto sama singa! Yeeah... (hahah..norak deh!)
Udah puas foto-fotonya, sore itu juga, selepas magrib kami udah harus balik lagi ke Malaysia. Jadi intinya, ini Cuma petualangan sehari di Singapura. Gak pake nginap karna besoknya saya udah harus pulang lagi ke Indonesia. (Boong, ini pledoi. Sebenernya sih gak ada uang untuk stay lebih lama. Kan judulnya backpaker gembel. Hihihi..)
Besok paginya, di Minggu subuh (5-7-09) nan dingin dan hujan kami udah sampe lagi di kampung Kajang tercinta (Malaysia). Walaupun badan remuk redam dan kaki rasanya mau copot, tapi seneng loooh... Thanks sooo much ya buat Mbak Denik ‘Mukiyo’, Beby dan Bang Rido, for a nice trip. Akhirnyaa.. Singapura berhasil ku jejaki. Yeay yeaay, akirnya punya foto sama singa....
Next time, kemana lagi ya??
Sunday, July 12, 2009
Secret key to the universe
Lalu seiring perkembangan waktu, semakin kesini saya makin suka sama langit dan semesta. Maka saya mulai sedikit demi sedikit mencoba memahami ada apa di atas sana. Mengapa, bagaimana, sejak kapan, menjadi pertanyaan yang terus berulang-ulang di kepala saya dan mendorong saya mencari jawabannya. Mencoba membaca semesta melalui imaji dan logika.
Pengetahuan saya di bidang ini masih dangkal banget. Makanya saya coba baca buku yang level basic-nya dulu sebagai bahan pemahaman awal. Untungnya sekarang banyak banget buku astronomi untuk anak-anak. Mulai dari yang tipis, buram, item putih, sampe yang hard cover, elegan dan penuh gambar-gambar berwarna. Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Menarik atau membuat ngantuk, pokoknya saya baca. Kadang saya masuk ke toko buku atau berkunjung ke pameran buku, sengaja untuk mencari buku astronomi for kids. Sekali lagi, FOR KIDS ya. Karna otak saya belum nyampe untuk belajar tentang fisika kuantum, teori relativitas atau supermasive black hole secara lebih mendalam. Dikhawatirkan kejang-kejang. Hehehee...
Nah, ini buku yang baru selesai saya baca. ‘George’s secret key to the universe’.
Lalu suatu ketika, babi peliharaan George lari menerobos pagar belakang kebun dan masuk ke halaman rumah tetangganya yang tampak horor dan sudah terbengkalai. Tapi ternyata, di rumah itu tinggal seorang ilmuwan fisika bernama Eric dan anak perempuannya, Annie. Dan oh, Eric punya komputer supercerdas bernama Cosmos! Dan hebatnya lagi, Cosmos bisa membuka jalan rahasia menuju petualangan ke alam semesta. Maka kemudian, George sedikit demi sedikit mulai mendapatkan jawaban dari rasa ingin tahunya. Bukan hanya itu, George juga bisa mengalami sebuah petualangan seru, yang bahkan bisa membahayakan nyawnya sendiri dan nyawa orang lain! Hohoho... seru, bukan???
Buku ini ditulis oleh Stephen & Lucy Hawking. Stephen Hawking sendiri disebut-sebut sebagai fisikawan paling cerdas setelah Newton dan Einstein. Kalau saya bilang, dia supergenius, padahal badannya lumpuh total. (googling aja sendiri kalo mau tau lebih banyak. He’s so amazing!) Sedangkan Lucy, tak lain adalah anaknya Stephen Hawking yang merupakan seorang penulis cerita anak-anak. Maka perpaduan antara bapak dan anak jenius ini, melahirkan buku cerita petualangan yang seru dan benar-bernar cerdas! Banyak banget yang bisa saya pelajari dari buku ini.
Ah, saya jadi kepikiran, buku ini akan saya wariskan untuk anak saya kelak.
Supaya dia bisa lebih mengenal tentang langit dan semesta di atas kepalanya
Supaya dia menyadari betapa besarnya kuasa Sang Maha Pencipta, dan
Supaya dia tau, ibunya dulu pernah memandang takjub dan penuh tanya ke angkasa sana.
Hahaha, mulai deh melankolisnya. :D
Oh iya, buku ini ada web-nya juga lho...
Kalo mau tau lebih banyak, klik dari side bar blog ini yah!
Thursday, July 02, 2009
Master and Mimisan
“Ini nanti akan jadi motivasi buat kamu. Kalo papa bisa S1, kamu harus bisa S2. Kalo papa bisa S2, kamu harus sampe S3”
Dulu dengar kata-kata itu rasanya wuiihh... S2 ?? Sounds impossible for me.
Waktu itu nyelesain kuliah S1 aja susah bener rasanya. Dan ketika lulus S1 trus langsung disuruh S2, saya jawab dengan malas-malasan. “Ntar dulu ah...capek kuliah terus”. Yang ada di bayangan saya waktu itu, sinonim dari S2 adalah belajar-belajar-dan belajar. Mungkin sampe kram otak dan hidung mimisan.
Well, ternyata gak segitunya juga. Ternyata tanpa harus sampe kram otak dan mimisan segala, sekarang saya sudah bisa menyelesaikan S2. Iya, saya sudah S2. Saya sekarang Master of Mass Media and Communication. Hihihi... nggak nyangka euy. Setelah dua tahun berlalu, saya sekarang sudah jadi mbak-mbak bergelar master. Hehehe..
Nggak segitu girangnya juga, sampe loncat-loncat atau teriak membahana “AKU BERHASILLL..!!” Nggak. Yang ada, lebih ke perasaan lega. Lega sudah melewati saat-saat pertama susahnya jadi perantau di negeri orang. Saat pertama masuk kelas master dan merasa jadi umat paling bego sedunia. Saat pertama merasakan demam Rabu malam. Saat-saat stress, kurang tidur dan mata berkantung ngerjain tesis. Saat merasa khawatir apakah yang saya lakukan ini memang penting atau gak lebih dari sekedar sampah (sok) akademis. Huffhfh... lega, akhirnya semua itu bisa juga saya lewati.
Temen saya nanya, apa rasanya setelah lulus S2 ini? Hmm... saya jawab: Penuh. Saya merasa penuh sama pengalaman, bukan hanya pengalaman akademik, tapi juga pengalaman hidup. Penuh sama hal-hal baru. Penuh sama ilmu, sama perspektif baru, dan hal-hal yang membuat saya merasa kaya. Saya suka perasaan ‘penuh’ ini, tapi saya nggak mau terus-terusan merasa seperti ini dan berhenti di titik ini saja. Saya masih ingin menjadi orang yang selalu haus. Yang nggak pernah bosan mencari hal-hal baru.
Lalu teman saya menjawab lagi: Kalau begitu, harus buru-buru dibagi ke orang lain. Jadi bisa kembali kosong dan mencari pemenuhan yang baru lagi.
Hmm...iya ya. Bener. Saya suka jawaban itu.
Anyway, dalam beberapa hari ini saya sedang menunggu proses akhir, jilid tesis dan urusan daftar-daftar wisuda. Nilai tesis saya juga belum keluar, jadi belum ketauan nilai akhir IPK saya berapa. Minggu-minggu genting nih, soalnya bisa dibilang saya sidang pada saat injury time (Selalu begini sejak S1 dulu). Mepet banget dengan batas akhir pendaftaran wisuda untuk tahun ini. (FYI, di kampus saya wisudaan cuma setahun sekali. Kalo urusan wisuda ini meleset beberapa hari aja, saya terancam ikut wisuda yg tahun depan! Males kan?! ) Jadi dua minggu terakhir ini aktivitas saya memang gak terlalu beda sama berang-berang yang membuat bendungan, alias sibuk! Loncat sana loncat sini, bawa tas segede gaban, naik turun tangga, kucel keringetan, gendong buku dan tesis yang lumayan buat nimpuk anjing, aahh...capek banget.
Saya cuma menjanjikan diri saya sendiri: abis ini saya HARUS jalan-jalan! HARUS. Pokoknya liburan dan merestart ulang energi. Yah, di samping alasan lain, tidak puas hati karna rencana jalan-jalan ke Medan hingga titik 0 Sabang gagal total. Hiks. Tapi sudahlah. Kemanapun yang penting jalan-jalan. Melemaskan otot dan menyegarkan otak! Dan yang paling penting, menghapuskan nama TESIS yang sudah setahun ini menjadi nama tengah saya! Hahaha..
So besok, saya mau nyebrang ke Singapore. Jalan-jalan bentar satau atau dua hari. Abis itu, pulang kerumah deh. Ihiiyy... Senangnya bisa pulang dengan senyum mengembang.
Sekarang saya bisa bilang ke bapak saya, ternyata S2 bukan hal yang gak mungkin saya raih.
PS: tunggu cerita dan foto dari Singapura yaa. Next post, maybe.
Friday, June 19, 2009
nick and norah's infinite playlist

Tuesday, June 09, 2009
candu berlumur dosa
Sunday, June 07, 2009
watch and hear
Nah semalam, saya nonton lagi. Sebuah film drama musikal berjudul High Fidelity (2000). Entah ada kekuatan magis apa dari film ini yang bisa bikin saya langsung menekan mouse untuk mendownloadnya tanpa tau ini film tentang apa. Tapi nyatanya, saya begitu tabah menunggu progressnya hingga komplit, meskipun memakan waktu hingga berhari-hari. Dan sekarang, setelah nonton filmnya seperti apa, saya bisa bilang bahwa penantian berhari-hari itu terbayar lunas. Penasaran? Hmm....Saya ulangi sekali lagi, ini adalah film drama musikal. Tapi catat, bukan film semacam Accross the Universe atau Mama Mia! yang setiap 5 menit ada adegan nyanyi-nyanyi, bukan sama sekali! Film ini bercerita tentang Rob (dimainkan dengan apik oleh John Cusack) yang mempunyai toko musik yang menjual album rekaman dengan koleksinya yang bukan main. Pada setiap keping rekaman itu dia menyimpan cerita dan meletakkan nyawa nya sendiri untuk menjaga.
Sudah nonton film Garasi? Nah, kalau bisa mengingat dengan baik, di film itu ada Arie Dagienkz dan Desta Club Eighties yang membuka toko musik semacam ini dengan label D’Lawas. Toko musik yang bisa sombong menolak pembelinya dengan alasan pengetahuan musiknya masih ‘cetek’ atau seleranya payah! Hahaha.... And that’s the way it is in this movie. Sungguh, penikmat musik yang idealis.
Musik di film ini enak banget untuk dinikmati. Yaah, walaupun referensi musik saya masih jauh dari keren, tapi paling tidak saya masih nyambung ketika dia menyebut nama Eagle Eye Cherry, Nirvana atau Green Day, atau ketika kuping saya menangkap nada-nada milik The Prodigy atau The Queen. Hehehe.. Selebihnya, saya hanya menempatkan diri sebagai pendengar yang setia..
Tapi tenang saja, cerita di film ini gak melulu tentang musik kok. Di sini si tokoh utamanya, Rob, juga menceritakan tentang pengalaman kisah cintanya dengan membuat list the top five breakups. Cerita tentang kenapa selama ini dia sial banget sampai ditinggal berkali-kali oleh pacarnya. Termasuk pacarnya yang terakhir yang bisa bikin hatinya jadi retak seribu.
Menurut saya, di sini Rob menjadi narator yang asik untuk kisahnya sendiri. Kita bisa merasakan seolah-olah dia sedang curhat sama kita langsung, dengan pikiran-pikiran yang seperti tiba-tiba aja muncul di benaknya dan gak sabar untuk langsung diceritain saat itu juga, hingga membuat kita berfikir dan menyetujui hal yang sama.
Di film ini, bagusnya Rob nggak mencitrakan diri sebagai seorang pria dengan kesetiaan yang teguh, atau kekasih yang sempurna. Dia tak lain hanya seorang cowok biasa yang punya ego, yang gak mau kalah dibandingin cowok lain, yang masih bisa tergoda perempuan lain selain pacarnya, tapi juga berusaha mati-matian mendapatkan gadis yang benar-benar dia inginkan. Ada satu petikan yang saya suka banget di film ini. Bunyinya begini: “...some people, as far as your sense are concerned, just feel like home.”
Hmm.. sweet, isn’t it?
Nah, yang paling saya suka dari film ini adalah, dia (dan music director untuk film ini, tentu saja) selalu bisa mendapatkan soundtrack yang pas untuk setiap kisah yang dia ceritakan. Setiap scene ada musik latarnya. Awalnya saya sempat agak bingung, mau fokus ngikutin kisah cintanya, atau ngikutin kisah dibalik pilihan-pilihan musiknya ya? Karna dua-duanya sama-sama punya kekuatan tersendiri untuk dinikmati. Tetapi yang saya dapat, inti dari semuanya adalah, bahwa musik adalah hidupnya. Dan apapun yang dialaminya, termasuk kisah cinta dan segala peristiwa yang setiap hari yang dijalani, selalu berputar dengan musik sebagai porosnya. Musik adalah jiwanya. Musik adalah nafasnya. Keren kan?!
Dan sebagai pelengkap yang manis, di bagian terakhir Sonic Death Monkey menutup film ini dengan musik yang ciamik! Benar-benar diluar dugaan..
Nah, kalau Anda penyuka musik, rasanya perlu deh menguji pengetahuan musik Anda dengan film ini. Tonton filmnya dan nikmati musiknya.. :)
Friday, May 22, 2009
I wanted to become the greatest ocean in the world
My mournful story has remain the same as it has before
It’s the mournful story of someone with a tired heart
Oh God, Oh God, I am as lifeless as a dessert…
a dessert…
Tell the clouds to rain… I want to live again
We must remain captives,
we only live in captivity
For us, death is freedom.
I am in love the way a traveler is in love
I am in love with the idea of reaching an end
*taken from "Googosh, Iran Daughter", special feature of "The Cow", a movie by Dariush Mehrjui
copied from Ekky Imanjaya's note
Saturday, May 16, 2009
2 Days in Paris
Hmm.. ini bukan cerita perjalanan saya selama di Paris. Nggak kok. Saya belum nyasar sejauh itu. Doakan saja ya saya bisa sampe ke sana. hehehe.. ini postingan tentang film yang baru aja tadi siang saya tonton (setelah kemarin-kemaring mendownload-nya dengan kesabaran ekstra) Judulnya: 2 Days in Paris (2007).Ceritanya tentang sepasang kekasih yang sedang menikmati perjalanan keliling Eropa, lalu -dengan sedikit terpaksa- mereka menyempatkan diri singgah 2 hari ke kota Paris dan berjumpa dengan keluarga pihak cewek. Si cewek aslinya adalah orang Perancis, sedangkan si cowok adalah tipikal American guy. Maka film ini bukan hanya bercerita tentang hubungan personal mereka, tapi secara nggak langsung juga ngebahas masalah budaya dan hal-hal yang disadari atau tidak, sebenarnya juga ada di sekeliling kita. Oh iya, film ini bilingual, English and France.
Buat yang suka film Before Sunset dan Before Sunrise, pasti suka sama film ini. Pemeran utama ceweknya adalah Julie Delpy, yang juga main di kedua film itu. Mbak Delpy bahasa Perancisnya cas cis cus sekali.. hohoho. (belakang saya tau dari mbah Google, ternyata dia aslinya emang orang Perancis. Pantesan..) Tapi dibandingin Before Sunset dan Before Sunrise, bagi saya rasanya film ini lebih personal. Mungkin karna ditulis, disutradarai, diperankan, dan diedit oleh mbak Delpy itu sendiri ya. Mungkin..
Nah, untuk bisa menikmati film ini sampai selesai, ada satu syarat yang harus dipenuhi: penonton harus rela jadi pendengar yang setia. Karena, nggak jauh beda sama dua film itu juga, 2 Days in Paris adalah film ngobrol. Ngobrol dalam arti sebenarnya. Penuh dengan dialog, dialog, cerita, monolog, cerita dan dialog lagi. Tapi obrolannya tampak sangat cerdas dan mengalir. Ritmenya cepat, kadang diselingi dengan topik-topik yang agak berisi dan berloncat-loncatan. Dari ngebahas eksibisi seni, lalu pindah ke blow job, pindah lagi ngebahas terorisme, flu burung, kondom, demokrasi, kucing gendut, hak-hak perempuan, sampe ke masalah perselingkuhan.Tapi semuanya tetap enak untuk disimak.
Saya sendiri merasa begitu terlibat dalam film ini. Ketika ada adegan di meja makan pada sebuah ruang keluarga, misalnya, saya merasa seolah-olah juga sedang duduk disitu bersama mereka. Menikmati makanan, menyimak setiap percakapan,dan ikut tertawa bersama mereka. Dan yang saya suka, semua pemain di film itu tampaknya sedang tidak berakting! Bahkan juga para figurannya. Mereka begitu luwes, santai dan mengalir. Seolah-olah tidak ada kamera yang sedang merekam setiap detil kejadian. Padahal hampir dalam semua scene para pemain ditampilkan secara close-up, bahkan beberapa diantaranya extreme close-up. Inilah yang menurut saya justru menjadikan tidak ada jarak antara penonton dengan pemainnya. Setiap adegan terasa begitu detil dan akrab.
Oh iya, film ini bersetting kota Paris. Tapi jangan harap akan ada adegan menye-menye di bawah menara Eiffel atau dinner di cafe Paris nan romantis ya. Nggak ada. Yang ada adalah detil-detil peristiwa, kedekatan yang santai, dan keeratan hubungan personal yang bahkan hampir nggak ada hubungannya dengan sex.
Setelah nonton film ini saya jadi berfikir kembali tentang konsep mempertahankan sebuah hubungan. Tentang bagaimana bertoleransi dan memahami orang lain. Serta tentang bagaimana kita menerima pasangan kita sebagai sosok yang tak lain adalah manusia yang sama seperti diri kita juga -tidak sempurna. Hmm..Pesan yang bagus, bukan?
Ah..saya suka film ini. Tonton sendiri deh. Tapi maaf ya, ini nggak direkomendasikan buat penyuka film horor atau action yang penuh darah dan baku tembak. Hehehe..
Wednesday, May 06, 2009
tissue
aku tidak punya obat penawar untuk rasa sakitmu
aku juga tidak punya perban untuk membalut lukamu
apalagi untuk menyembuhkanmu,
bisa apa aku?
yang aku punya hanya selembar tissue
yang boleh kau pakai untuk menghapus air matamu
maka menangislah
menangis dan lepaskan semuanya
tenang saja..
aku masih punya baju, jika selembar tissue saja tidak cukup
tapi janji ya,
setelah semua tangis berlalu
kau harus tertawa lagi
tertawa lagi seperti dulu
Saturday, May 02, 2009
Komunikasi dan galaksi
Ini tentang sesuatu yang agak serius. Tentang teori komunikasi. Tentang langit. Dan tentang galaksi. Saya menyebutnya sebagai Teori Komunikasi Galaksi.

Ehm..Menurut saya, pola komunkasi manusia itu tidak berbeda dengan galaksi.
Begini. Katakanlah seorang manusia (anggaplah ini saya atau anda) adalah bumi. Bumi punya satelit, salah satunya bulan (ini yg alami, yang buatan gak perlu dibahas lebih jauh disini). Satelit adalah benda yang mengorbit benda lain dengan periode revolusi dan rotasi tertentu. Maka bulan dapat disamakan dengan orang terdekat yang ada dalam lingkaran komunikasi antarpersonal kita. Bisa suami, pacar, orang tua, sahabat, atau siapa saja.
Begitu juga orang lain, yang bisa kita anggap sebagai planet lain, juga punya satelitnya masing-masing. Punya orang-orang terdekat dalam lingkaran komunikasi antarpersonalnya.
Lalu bumi dan planet lainnya ini, berada dalam satu orbit dan bersama-sama berputar mengelilingi matahari. Ini sama seperti saya/anda yang bersama dengan teman-teman, berada dalam satu kelompok komunikasi (yang pada level ini sudah agak besar sedikit) berada dalam satu lingkaran yang sama. Entah itu orbit kampus, orbit kantor, orbit kelurahan, kecamatan atau apapun. Maka yang menjadi pusat orbit, sang matahari, bisa saja dosen, bos, lurah, atau siapapun yang menjadi tokoh sentral kelompok komunikasi itu.
Jika kelompok ini diperbesar lagi, maka orbitnya juga akan lebih besar lagi. Kelompok berdasarkan kesamaan bahasa, wilayah, ras, negara atau bahkan benua. Sebutlah ini sebagai galaksi. Galaksi-galaksi inilah yang menyusun semesta. Sama halnya dengan kelompok-kelompok manusia yang saling berkomunikasi. Yang saling berhubungan dan mengorbit bersama-sama dalam populasi yang besar.
Jadi susunan semesta komunikasi, dimulai dari hanya seseorang, yang kemudian membentuk kelompok komunikasi yang kecil, lalu yang besar, lalu yang lebih besar lagi, dan begitu seterusnya, hingga mencakup seluruh populasi manusia yang ada di dunia ini.
Got my idea? Bingung ya..? sama..hehehe..saya juga bingung gimana jelasinnya dengan cara yang mudah. Tapi mudah-mudahan bisa difahami lah...
Nah, tapi ada kelanjutannya nih. (Masih menurut saya) ada perbedaan juga antara semesta komunikasi manusia dengan semesta alam ini. Bedanya ada pada satu hal: The Big Bang.
Kalau di semesta alam raya ini, Big Bang diyakini sebagai awal kejadian. Ledakan besar inilah yang memecah semesta menjadi gugusan-gugusan kecil, hingga ke sistem tata surya yang kita kenali saat ini. Nah, sedangkan pada komunikasi, terjadi kebalikannya. Big Bang bukan sebuah kejadian awal, melainkan sebuah ledakan yang (disadari atau tidak) baru saja terjadi.
Big Bang itu memecah kelompok-kelompok komunikasi yang telah ada. Sebelumnya bisa dikatakan satu kelompok komunikasi di Indonesia, di Jawa, di Yogyakarta di Ngawi, di Klaten, atau di Gresik misalnya, tidak saling bersinggungan dengan kelompok komunikasi di Amerika, di Puerto Rico, di Jerman atau di Namibia. Semua berjalan dalam orbitnya masing-masing tanpa saling bersinggungan. Tapi lihat sekarang, semua itu terpecah dan membentuk pola acak. Manusia hanya menjadi debu-debu kecil dalam satu gumpalan besar populasi di dunia ini yang entah bagaimana caranya bisa saling bersinergi dan berhubungan. Semuanya pecah karena satu ledakan besar. The Big Bang.
Nah, Big Bang itu adalah penemuan internet.
---
yaa.. saya tau, teori ini masih lemah. Ini juga masih pemikiran awal aja. pikiran-pikiran ngaco saya yang lagi nggak bisa tidur. Yah.. lain kali, ini mungkin akan saya sempurnakan lagi. Masih perlu baca dan belajar lebih banyak lagi. Tapi sepertinya beneran, saya mau serius mempelajari hal ini. So please, correct me if I'm wrong. Ditunggu komen dan kritiknya yaaa.. :)
Wednesday, April 29, 2009
The Matrix dan kesadaran
Beberapa hari yang lalu, saya baru aja selesai nonton trilogi The Matrix. hahaha.. hari gini baru nonton Matrix? iya. Dulu saya gak suka The Matrix. Bukan karna gak suka filmnya, tapi gak suka karena Matrix waktu itu lagi ngetop abisss.. semua hal, semua orang, kapan saja dimana saja ngebahas Matrix. Iklan, fashion, semuanya Matrix or Neo wannabe. Dan saya gak suka aja jadinya. Beberapa orang teman mungkin sudah tau, saya gak suka hal-hal populer. Hal yang disukai, digandrungi banyak orang, saya malah gak suka. . Selain Matrix, saya juga gak baca Harry Potter, gak nonton LOTR, gak punya Friendster. Ya karna alasan itu tadi. Sebenernya sih lebih karna gak mau ikut-ikutan kebawa arus. Saya maunya, kalaupun saya menyukai hal itu, bukan karna ikut-ikutan orang rame. Bukan karna khawatir saya akan dicap cupu abis atau gak gaul atau apalah namanya, hanya karna gak ikutan. Saya pengen nonton ya disaat saya pengen nonton aja.
Nah, keinginan nonton The Matrix ini baru muncul beberapa hari yang lalu. Telat banget? nggak juga, menurut saya. (menurut Anda?)
Menurut saya film ini bagus banget, terutama yg bagian pertama. Dalam hal tekhnik, ide cerita, karakterisasi, visual effect, soundtrack, nyaris sempurna. Tapi yang paling kena ke saya adalah tentang filosofinya. Benar-benar menggugah kesadaran saya tentang apa yang ada di sekeliling saya. Tentang keberadaan, kesadaran, konstruktivisme, eksistensi manusia, dunia dan segala isinya. Yaa..mungkin buat yang udah pernah nonton ini, sudah lebih dulu merasakan 'sentuhan' yang sama, pasti ngerti maksud saya apa.
Kesadaran seperti ini jarang sekali saya alami. Pengalaman pertama saya adalah beberapa tahun yg lalu, ketika saya baca novel Dunia Sophie. Kesadaran itu sedikit-demi sedikit mulai muncul, tapi nggak bertahan lama. Sampai pada setahun yang lalu, ketika saya kuliah Media, Budaya dan Masyarakat, saya sempat mendapatkan pencerahan yang luar biasa dari Sang Guru. Kali itu, serta-merta fikiran saya terbuka tentang segala sesuatunya. Bagaimana manusia mengkonstruk makna, bagaimana media membentuk pemahaman kita, bagaimana manusia, bagaimana Tuhan, bagaimana kehidupan, bla..bla..bla.. Maka sejak saat itu, pandangan saya mulai berubah. Cara melihat, menilai, memaknai juga ikut berubah. Saya bahkan mere-konstruksi pemahaman yang telah ada di otak saya selama ini. Dan pelan-pelan belajar melihat lagi semuanya dengan mata bayi yang baru lahir.
Tapi sayangnya, kesadaran yang saya miliki itu selalu saja timbul tenggelam. Malah sejak lulus mata kuliah itu, lebih banyak waktu tenggelamnya. Nah, kemarin ini, The Matrix berhasil membuka kembali kesadaran saya itu. Membuat saya berfiikir dan berfikir ulang. Ah.. saya jadi suka, semakin suka sama film ini. Apalagi saya nonton trilogi ini secara marathon. Dapet banget deh 'feel'nya.
oh iya, satu hal lagi. Tokoh The Oracle-nya mirip dosen pembimbing (penyelia tesis) saya disini. She's very kind, wise, and genius. Terutama cara ngomongnya itu lho.. miriipp banget! Lembut, pelan, tapi tegas dan berisi. Keibuan sekali, tapi disaat yang sama juga tampak begitu tangguh. Nah, sekarang saya tau, kalau misalnya nanti setelah lulus S2 dan pulang ke Indonesia tiba-tiba saya merasa kangen dengan beliau, yang perlu saya lakukan hanya nonton The Matrix lagi.hehehe..
Sunday, April 19, 2009
The new rule
Tuesday, April 14, 2009
Tomat siram kecap
Aku bahkan pernah berdoa kepada Tuhan untuk mengambil saja nyawanya seketika.
Aku juga pernah bersumpah pada diriku, tidak akan menangisi kematiannya. Tidak setitikpun air mataku akan jatuh pada saat ajal itu datang.
Ya, aku mungkin terlalu membencinya.
Aku ingat dia pernah memberiku satu tamparan keras. Lalu dia berkata bahwa aku HARUS memaafkannya. Semudah itu? Tidak, tentu saja.
Lalu dia mengatakan bahwa sedalam apapun aku membencinya, aku tidak akan pernah melupakannya, tidak akan pernah bisa jauh darinya. Dia berkata sambil menepuk dadanya waktu itu. Sombong!
Nyatanya, dia memang tidak pernah benar-benar hilang dari pandanganku. Tapi bagiku, dia hanya seperti benda mati. Tidak lebih. Seperti tai kerbau atau rongsokan besi. Membusuk pun aku tak peduli.
Lalu siang ini, aku mengingatnya lagi.
Pada irisan tomat bersiram kecap aku menemukan wajahnya. Dia yang mengajarkanku makan tomat dengan cara itu.
Aku suka tomat itu. Tapi hatiku mendadak nyeri karna wajah itu hadir kembali.
Maka aku melumat tomat itu, mengunyahnya dan menelannya cepat-cepat.
Aku jamin, besok pagi pasti tomat itu sudah membusuk di lubang WC ku.


