Oke...oke. saya berasa punya utang selama tulisan tentang escape ke Bali ini belum saya tuntaskan. Maka baiklah, kita tiba di bagian penghujung cerita tentang petualangan saya selama solo traveling ke Bali. Mari kita tuntaskan. Hehehe.
Hari ke-3 itu jujur aja saya sebenarnya udah agak bingung mau ke mana lagi. Target wajib saya hari itu cuma mau ke Bali Shell Museum dan Cartoon Museum yang jaraknya berdekatan. Dan yaah..semoga aja hari ini langit cerah sehingga saya bisa menangkap moment matahari terbenam di pantai Kuta. Udah sih itu aja. Oh iya, hari itu juga sebetulnya bertepatan dengan Hari Raya Galungan. Ini termasuk Hari Raya yang besar bagi umat Hindu Bali. Jadi katanya toko-toko, tempat makan, tempat hiburan, terutama yang dimiliki orang Bali pasti akan tutup karena mereka mudik ke desanya masing-masing. Hmm... okelah, saya toh juga gak akan belanja-belanja hari ini. Cukuplah seandainya bisa menangkap moment perayaan Galungan di pura terdekat dari tempat saya menginap, itu pun rasanya akan menyenangkan.
Kata penduduk lokal, biasanya orang akan sembahyang di pura pagi-pagi sekali, lalu dilanjutkan dengan saling mengunjungi rumah kerabat di desa asal masing-masing. Tapi toh pura tidak akan sepi hari itu, akan ada saja orang yang datang dan bersembahyang. Maka saya memutuskan akan bangun pagi dan mencari spot perayaan Galungan. Paginya saya? Tetep aja jam 10. hehehe.. Tapi ini WITA loohh.. *kekeuh*
Berjalan 300m dari penginapan saya, persis di mulut Gg. Poppies II menuju ke arah Jl. Legian ada monumen Bali Bombing yang berdiri tegak. Hoo...di sini toh ground zeronya, gumam saya. Tengok kanan, tengok kiri, liat seberang, liat belakang memang semua di sana adalah jejeran club dan bar yang dipenuhi oleh bule-bule semua. Siang aja rame gitu apalagi malem. Dengan berbagai tema party, wanita berbikini dan minuman beralkohol di mana-mana. Saya jadi mikir, (duh, maap ini mah ya) pantes aja tempat ini yang menjadi sasaran ledakan kaum teroris fanatis itu.
Please don't get it wrong, saya bukannya bilang pemboman itu wajar, atau saya sok men-judge bahwa itu adalah tempat maksiat, NO. Saya cuma mencoba melihat hal itu dari kacamata mereka yang meledakkan diri, itu aja.
 |
| Monument of Bali Bombing |
 |
|
Selesai menangkap foto di ground zero, saya berjalan kaki menyusuri Jl. Legian. Banyak toko yang tutup memang. Di sepanjang jalan ini ada beberapa tempat sembahyang yang gak besar-besar amat, tapi sepertinya ramai dikunjungi orang-orang Bali. Saya sebetulnya ingin masuk dan melihat-lihat ke dalam, memotret apa yang kira-kira menarik, tapi rasanya kok sungkan ya.. Takut mengganggu kekhusyu'an orang beribadah gitu. Saya sih mikirnya gini, kalo saya lagi Sholat 'Id di masjid trus ada umat agama lain datang dan moto-moto saya yang lagi ruku' dan sujud, pasti saya akan risi. Bukannya melarang mereka masuk masjid sih, tapi pasti janggal aja rasanya. Nah saya lagi-lagi berusaha untuk menempatkan diri di posisi orang lain. Mereka yang sedang beribadah di dalam pura itu tentunya akan merasa terganggu melihat saya (yang notabene berjilbab ini) masuk dan celingak-celinguk di dalam, berlagak sok turis dan moto-moto sesuka hati. Hmm... pikiran ini akhirnya mengurungkan niat saya untuk melangkah ke dalam. Foto-foto dari luar saja cukuplah rasanya. Penting untung menhargai orang lain yang sedang beribadah.
 |
| Di pintu masuk salah satu pura kecil di Jl. Legian |
 |
| Kemeriahan Galungan |
Lalu saya lanjut lagi berjalan, kali ini saya sampai di Sunset Road, yang mana itu lumayan juga jaraknya dari Kuta-Legian. (*lap keringet) Di Sunset Road inilah ada Museum Kerang dan Museum Kartun. Selama berjalan kaki itu saya juga sempat singgah di pusat oleh-oleh grosiran, ah sayangnya saya lupa nama tokonya. Tapi belanja di sini lebih murah dibandingkan tempat-tempat lain. Recommended deh!
Dari toko suvenir, 500 meter berjalan kaki dan nyeberang ke ruas jalan sebelah kanan, di sana ada bilboard besar bertuliskan Bali Shell Museum. Aha, ini dia! Masuklah saya dengan semangat ke dalamnya. Bangunan itu berlantai 2 (eh atau 3 ya? Lupa :D ) Tapi yang lantai dasar itu adalah toko dan galeri kerajinan tangan dari kerang dan sejenisnya. Di lantai atasnya itulah ada Museum Kerang. Sepertinya sih tempatnya kecil ya. Cuma kaya ruko 2 unit dijadikan satu gitu. Tapi tiket masuk ke museumnya Rp 50.000. Damn, mahal! (menurut saya loh...biasanya kan masuk museum itu bayarnya gak sampe 5000an per orang). Pas saya tanya, kok mahal ya? Kata mas-mas yang jaganya, "ini satu-satunya museum kerang di dunia mbak, ada kerang-kerang yang langka juga" Hmm...saya berfikir ulang.. ah, kayanya gak worth-it deh. Sudahlah, akhirnya saya cuma liat-liat di galerinya sebentar, cari sesuatu yang menarik untuk dibeli, tapi ternyata mahal-mahal semua barangnya. Hahaha...ya sudah, belok kanan maju jalan deh!
 |
| Bali Shell Museum tampak dari seberang jalan |
Lanjut, menurut peta, cuma beberapa jengkal dari situ akan ada Museum Kartun di ruas jalan sebelah kiri. Sambil jalan saya perhatikan pelan-pelan setiap plang nama yang ada. Kok Museumnya gak ketemu ya? Oke, saya ulangi lagi dari tempat tadi, lewatin supermarket, lewatin pom bensin, dan menurut peta posisinya persis di seberang Rip Curl. Celingak-celinguk....lho kok gak ada ya? Bertanya lah saya pada pak satpam yang berjaga di depan Rip Curl sambil menyodorkan peta. Dan you know what? Dia sendiri gak pernah tau atau dengar ada musium kartun di sekitar situ! Nah lho. Tanya lagi sama satpam yang lain, jawabannya sama. Ini petanya yang salah atau bangunannya yang emang belum jadi ya? Hahaha.. gagal maning deh mau masuk museum. Yasudahlah..
Trus saya bingung mau ke mana lagi. Kaki sebetulnya masih sakit sisa berjalan kemarinnya, dan saya juga gak tau mau ke mana lagi. Dan tiba-tiba...byurrr...hujan turun deras gak pake acara bilang-bilang. Yasudah, saya menyetop taksi dan kembali ke penginapan. Ngapain? Tidur siang. Hahahahhaa... Suka-suka banget, mumpung liburan sendirian :P
Jam 4 sore saya kebangun dan sadar kalo saya belum makan seharian. Pantesan laper banget. Maka saya beringsut bangun dan kembali menengok warung padang tercinta itu. Sambil mengunyah makanan, saya mikir apa yang akan saya lakukan di 1 setengah hari yang masih tersisa ini. Kayanya kok baru hari ke 3 aja udah mati gaya gini. Sambil makan, saya melihat di depan warung itu ada beberapa travel agent yang menawarkan paket-paket wisata dengan shuttle bus ke kawasan-kawasan Bali lainnya seperti Ubud, Seminyak, Tanjung Benoa, dll. Beres makan saya sempat mampir ke salah satu kios dan tanya-tanya paket ke Ubud, shuttle bus nya aja 50.000, tapi itu exclude paket wisata, sewa sepeda, tiket masuk galeri dan pertunjukan lainnya. Hmm...pikir-pikir dulu deh.
Beres makan, saya nangkring di Pantai Kuta. Sendirian memandangi horizon dan berharap akan muncul warna jingga di ujung sore hari ini. Sambil melumat es krim sundae stroberi, telinga saya dimanjakan dengan lagu-lagu Michael Buble, Norah Jones dan Andien. Hhmm..cozy-cozy romantic gimanaaa gitu ya. Dan pikiran saya melayang...memikirkan....... BESOK MAU NGAPAIN?!! Hahaha..
Untunglah langit mencegah saya dari kegalauan berlebihan. Sore itu kembali gerimis dan matahari juga hilang tanpa pake acara romantic sunset dulu. Maka saya beringsut dan kembali menyusuri jejeran travel agent. Setelah lihat-lihat brosur, tawar menawar harga, merayu-rayu MBAK-mbak penjaga kiosnya, maka saya pulang ke penginapan dengan memegang tiket Rafting di Telaga Waja untuk besok pagi. Yeay!
Paket yang saya ambil sudah termasuk antar jemput PP dari dan ke hotel dengan mobil jenis APV, perlengkapan rafting, makan siang dan asuransi keselamatan diri. Saya akan dijemput di penginapan jam 8 pagi, perjalanan Kuta- Telaga Waja memakan waktu 1 jam, mampir di perkebunan kopi luwak dulu, lalu lanjut rafting di Telaga Waja selama 2 jam dan ditutup dengan makan siang, lalu di antar sampai penginapan lagi jam 3 sore. BERAPA?? Totalnya hanya 200 ribu saja sodara-sodara! Murah yaa... Kuncinya adalah bandingkan harga dulu antara satu kios dengan yang lain, berani menawar, dan jangan lupa, yakinkan ke penjaganya bahwa wisatawan lokal berhak untuk harga murah! Iya dooong.. Tau gak kalo wisawatawan asing dipatok harganya berapa? US$75. Jauh kaaan bedanya? Ingat, jangan takut nawar!
Ah, malam itu saya kembali penginapan dengan riang gembira gak sabar untuk petualangan berikutnya. Pagi harinya saya cek out dari hotel jam 8, sarapan sebentar, menitipkan backpack ke resepsionis lalu meluncur ke Telaga Waja. Perjalalan yang dilalui lumayan menyejukkan mata, rerimbunan pohon, udara pegunungan, dan hiasan janur di mana-mana tanda kemeriahan Galungan di desa-desa.
Seperti yang saya bilang, paket ini juga termasuk menyinggahi perkebunan kopi di desa Nongan. Menyesap kopi Bali di antara rerimbunan pohon dan udara gunung pagi hari itu enak banget. Dan suguhannya pun gak cuma kopi, tapi ada juga coklat, jahe, teh dan minuman hangat lain yang boleh dicoba secara gratis. Di sini juga kita bisa lihat beberapa jenis tanaman seperti kayumanis, lihat luwaknya langsung, dan belanja kopi giling dan rempah-rempah lainnya.
 |
| Free drinks to try |
 |
| Kopi Luwak |
Lanjut, jam 10an saya sudah tiba di lokasi rafting. Paket wisata yang saya pilih sepertinya cukup keren, jadi basecampnya lebih besar dan meyakinkan dibandingkan beberapa basecamp yang ditawarkan agent lain. Sebelum mulai, ada sedikit pelatihan dari team leadernya. Gimana posisi ketika perahu membentur tebing, gimana ketika melewati kolong jembatan, apa saja instruksi yang diberikan, kapan harus mendayung ke depan, kapan harus ke belakang, dan sebagainya. Oh iya, di bagian registrasi juga ditawarkan pake CD berisi foto-foto kita nanti, tapi harganya mahal beculll... moso sampe 250rb per keping. Wew! Ogah ah saya mah. Gak papa deh gak ada foto pas raftingnya. Hehehe.. *kere
Saya deg-degan juga awalnya. Ini pertama kalinya saya rafting. Telaga Waja sendiri termasuk dalam jeram grade 3. Beberapa hari belakangan memang selalu hujan, saya agak khawatir juga sih. Tapi menurut guidenya, ketinggian air sungai masih berada di garis normal. Jadi gak perlu khawatir. Mereka sendiri gak akan berani jalan kalo kondisi mengkhawatirkan, katanya. Okelah..Bismillaah aja.
Dan ternyata, raftingnya SERU BANGETTT!!! Pemandangannya keren, melewati sekitar 14 air terjun baik besar maupun kecil, dan yang paling menegangkan adalah ketika perahu akan menuruni bendungan yang ketinggiannya sekitar 5 meter dengan level kemiringan 90 derajat. Whoaa!! Sayang sih saya gak ada fotonya, tapi ya sudalah ya, bayangin aja kira-kira begitu. Or you should try it someday! Asik lhoo..
 |
| Sempet singgah dan foto di salah satu air terjun yang besar |
 |
| Kelokan Telaga Waja |
Beres rafting perahu merapat di tepian telaga dan saya harus mendaki ke atas bukit lagi (sumpah deh kaki rasanya lemes banget) untuk makan siang. And Thank God, it was all you can eat! hahaha..Setelah ganti pakaian dan makan siang, saya sudah ditunggu sama driver untuk kembali di antar ke penginapan. Waw..finishing yang bener-bener asik buat hari ini.
Saya sampai di penginapan jam 3 sore, dan ambil backpack yang tadi dititipkan di resepsionis. Setelah ganti baju lagi saya melanjutkan perjalanan, menuju airport. Yes, I'm going home.. Penerbangan dengan pesawat singa jam 6.30 akan membawa saya kembali ke Jakarta.
So this is the end of my 4 days escape story in Bali. Sounds fun, eh? IT WAS.
Perjalanan kali ini memang bener-bener recharge buat saya. Bener-bener pelarian dari kepenatan kantor dan kesesakan ibukota. Ah..kayanya saya harus sering-sering liburan nih biar gak mudah jenuh sama kerjaan. Hehehe...Apa kabar dompeeett??? :P
Kita lihat saja, apakah akan ada trip berikutnya lagi? Hmm... semoga!
Thank you for reading patiently, yaa.. terutama buat yang sudah menanti-nanti cerita ini dari part I sampe yang sekarang. Hope you enjoy it.
Cheers!