Showing posts with label girls thing. Show all posts
Showing posts with label girls thing. Show all posts

Monday, September 23, 2013

Perkara Pendidikan Perempuan

Saya hari ini mau bilang: ‘Berbahagialah para perempuan yang bisa sekolah setinggi-tingginya tanpa adanya hambatan dari pasangan ataupun lingkungan.’
Eh bentar, hari gini kok ngomongin hambatan sekolah buat perempuan? Bukannya udah jaman  emansipasi ya?

Nah itu dia. Yakin setiap perempuan udah bebas mengenyam pendidikan setinggi-tingginya? Sebagian besar mungkin iya. Ibu Kartini mungkin bolehlah berbahagia melihat kenyataan bahwa hari gini anak perempuan gak harus mandeg di dapur karena alasan-alasan patriarkis; anak perempuan gak perlu sekolah, anak perumpuan cuma akan berujung di dapur-kasur-sumur, dan cuma anak laki-laki yang berhak untuk pintar. Iya, syukurnya sih kondisi di negara kita sekarang udah gak banyak (saya gak bilang gak ada lho ya!) orang-orang yang masih berpikiran feodal begitu.
Ya walaupun ada hambatan lain seperti faktor ekonomi, sistem pendidikan dan sebagainya, saya di sini juga percaya bahwa di level pendidikan tinggi dan tingkat ekonomi yang cukup baik-pun masih ada aja hambatan bagi perempuan untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Seperti yang saya sebut di atas tadi itu salah duanya;  faktor pasangan dan faktor lingkungan.
Kita bahas satu-satu ya.

Faktor pasangan.
Well, saya nggak jarang lho denger omongan bahwa perempuan itu gak perlu sekolah tinggi-tinggi karena nanti jadi seret jodoh. Kenapa? Karena pada umumnya laki-laki akan minder kalau pasangannya punya tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Gak cuma buat pendidikan sih, karir dan penghasilan juga termasuk di antaranya. Saya nggak ngerti psikologi laki-laki ya, tapi beberapa teman yang saya kenal memang bilang bahwa pasangan yang pendidikannya lebih tinggi akan mengancam ego si laki-laki. Merasa kalah, merasa terintimidasi, bikin minder dan sebagainya.

Gak usah jauh-jauh, di keluarga saya pun begitu. Bapak saya sempat mengenyam pendidikan S-2, bahkan dua kali. Anak-anaknya juga sejak awal sudah diarahkan, kalau beliau bisa S-2 maka kami harus bisa S-3. Tapi ketika ibu saya yang hanya lulusan S-1 bilang ingin melanjutkan ke S-2, bapak saya bilang 
“buat apa, gak perlu lah.. toh kerjaan juga gak menuntut harus jenjang S-2”.
Saya nggak ngerti apakah pertimbangan bapak saya melarang itu karena faktor ego atau pertimbangan-pertimbangan lain, tapi yang jelas ibu saya sebagai istri yang baik, ya manut sama suami, walaupun saya tau beliau juga punya semangat belajar yang tinggi.  Itu tadi yang saya bilang, faktor pasangan.

Masalah ego lelaki ini memang gak bisa dibilang sepele sih ya. Eh saya nggak menyalahkan lelaki juga sih, tapi kok anu…  agak mengherankan ya bahwa perkara ego menjadi hambatan bagi orang lain untuk menjadi lebih baik. Urusan intimidasi-intimidasi itu juga kalau menurut saya, hmm… subjektif.   

Saya dulu pernah membahas ini sama (mantan) pacar. Dia lulusan S-1 dan saya S-2. Saya sih demi Allah gak pernah nyombong atau menganggap diri saya lebih dari dia, nggak! Saya pernah nanya ke dia, apakah memang saya (entah itu sengaja atau gak sengaja) mengintimidasi dirinya? Dan dia jawabnya gini:
“Nggak.. Bukan kamu yang mengintimidasi, tapi aku yang merasa terintimidasi”

Nah kan, jadi ini bukan perkara perempuan sekolah tinggi trus jadi belagu! Kalau memang kebetulan si perempuan punya kesempatan untuk seolah ke jenjang yang lebih tinggi, salah dia? Kalopun perempuannya diem aja tapi laki-lakinya yang memang merasa terancam, gimana? Susah kan…

Dulu  pernah ada kenalan saya, seorang ibu-ibu dosen senior. Si ibu ini pernah cerita ke saya bahwa dia sampai bikin perjanjian pra nikah dengan calon suaminya, HITAM DI ATAS PUTIH,  yang menyebutkan bahwa setelah menikah dia boleh tetep sekolah, kuliah lagi dan bekerja. Coba ya, bayangkan, tahun 70an dia sudah bisa sekolah ngambil S-3 di Amerika. Itu tahun 70an lho! Jangan bayangin perempuan bisa dengan mudahnya punya kesempatan untuk sekolah sampe S3, dengan sistem pendaftaran online dan segala kemudahan belajar di luar negeri seperti yang ada seperti sekarang ini ya.
Berbekal surat perjanjian itu dia berangkat sekolah lagi. Dia bilang ke saya; “hamil ya hamil, punya anak ya memang sudah ditakdirkan, tapi sekolah lagi itu pilihan dan semuanya tetap bisa berjalan beriringan kok!” Beliau ibu bekerja, sebagai PNS di salah satu Kementrian dan juga pengajar di beberapa universitas, usianya sekarang 70 tahun dan bergelar Professor.  Suaminya nggak masalah tuh.

Mencermati hal ini bikin saya jadi inget kalimat Margaret Tatcher di film Iron Lady, yang bilang bahwa “perempuan seperti saya gak bisa hanya tinggal di dapur dan membersihkan cangkir…” .  Nah, begitulah beliau,perempuan yang sadar akan potensi dirinya yang begitu besar.

Tapi balik lagi, kan gak semua  laki-laki bisa menerima keadaan seperti ini. Hari gini pun masih banyak yang bawa-bawa ego dan kalimat terintimidasi itu. Alhasil apa? Perempuan cenderung jadi enggan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi karena khawatir membahayakan ego pasangannya.  Dan ini juga berhubungan dengan faktor berikutnya, menurut saya:

Faktor Lingkungan. 
Selain stigma tentang “apa kata orang kalo suami kalah sama istrinya”, perkara perempuan (terutama yang belum menikah) bersekolah sampai jenjang yang cukup tinggi pun harus berurusan dengan anggapan dari masyarakat soal seret jodoh.  Iya, katanya kalo udah sekolah ketinggian, perempuan cenderung gak laku karena laki-laki jadi takut ngedeketin (seperti yang saya bahas sebelum ini).
Lalu ketika seorang perempuan belum menikah dan (kebetulan) pendidikannya cukup tinggi, maka anak panah kesalahan itu diarahkan di dia. “Pantesan aja gak kawin-kawin..”, begitu kira-kira. Tapi tanya dong sama si perempuannya, apa memang dia maunya gak kawin-kawin? Belum tentu kan..

Ini emang agak curhat colongan sebetulnya, karena sayapun ada di posisi itu sekarang. Dan stigmanya juga muncul gak jauh-jauh, tapi dari keluarga saya sendiri.
Dulu waktu lulus S-2, saya sebetulnya langsung ditawari lanjut S-3 di kampus itu juga, dan karena saya lulus dengan nilai yang Alhamdulillah bagus, pihak kampus bilang mereka  akan upayakan ada beasiswa untuk saya S-3. Tapi ibu saya melarang, katanya:  Nikah dulu deh.. ntar keenakan sekolah jadi gak kepikiran mau nikah. Ntar kalo sekolahnya ketinggian, cowok jadi minder buat ngedeketin”. Ya saya manut apa kata ibu saya.
(see.. faktor pertama dan kedua ini sebetulnya saling berkaitan)

Dan sekarang sudah 4 tahun berlalu dari masa itu, dan saya belum juga menikah. Dan peluang S-3 itu selalu saja seliweran di depan mata saya dan selalu saya lewatkan. Pimpinan di tempat saya bekerja juga  sebetulnya sudah sejak awal menekankan bahwa saya harus lanjut S-3. Beliau malah jadi supporter nomor satu untuk nyuruh saya sekolah lagi. Tapi ya itu tadi, kepentok sama mandat orang tua.

Saya kalo disuruh sekolah lagi mah mau! Mau banget! Sekarang juga kalo memungkinkan ya hayuk. Tapi karena ada term and conditions dari ibu saya itu, ya apa mau di kata, terpaksa menunggu sampai ada laki-laki yang mau melamar saya. Daann.. dengan PR tambahan pula, laki-laki itu tidak akan merasa terintimidasi atau apalah namanya jika sekiranya status saya, entah itu pendidikan atau karir, akan mungkin jadi lebih tinggi dari dia. Ini bukan perkara ambisi lho ya. Bukannya saya yang ngotot pengen sekolah lagi sampe level paling tinggi. Iya, memang saya juga punya kecintaan yang besar sama kegiatan belajar, tapi ini juga lebih karena faktor bidang pekerjaan saya yang memang menuntut untuk sekolah setinggi-tingginya.

Jadi, singkatnya saya kalo mau S-3 harus nunggu kawin dulu.  Kawinnya kapan? Ituman bukan saya yang menentukan. Jodoh Allah yang ngatur, saya nggak tau kapan jodoh saya sampe. Dan sampai nanti saatnya jodoh saya itu dateng, sepertinya saya masih akan berhadapan dengan stigma seret jodoh dan perkara memilih pasangan itu.
Nah itulah dia, peliknya hidup diantara pusaran pendidikan, perempuan dan pasangannya!

Gimana, habis baca tulisan ini masih mau orasi soal emansipasi?

Wednesday, January 25, 2012

Riding a rollercoaster named January

Heyyaaa... I'm back! 
First of all saya mau ngucapin selamat tahun baru 2012 buat semuanyaa.... (telat banget gak sih?), Gong Xi Fat Chai buat kamu-kamu yang merayakannya, dan oh! buat temen-temen saya juga yang kemaren baru aja nikah berjamaah (I mean, banyak banget temen saya yg nikahan bulan Januari ini, Gosh!) selamat yaa buat kalian semuaaa...I'm so happy for you *ketjupbasah


Apa kabar kalian?
Saya? oh iya ini blog saya ya, harusnya saya yang cerita ya?
Hmmm... apa ya? Januari ini seperti rollercoaster buat saya. Ada hal-hal yang menyenangkan, ada yang nyebelin, ada yang bikin sedih, ada yang seru. Dan apakah hal-hal itu? Okay, quick update aja ya.
Malam tahun baru kemaren saya lewatkan bersama teman-teman dari Komunitas Dongeng Dakocan. Kami sedang dalam projek membuat sebuah wahana edutainment di sana. Jadi konsepnya adalah penggabungan antara outbond+dongeng+ekowisata di sebuah pulau di selatan Lampung. Jadi? Ya, jadi kami ke pulau itu! Pulau Pahawang namanya. Gratisan. Asik yaa.. :D  (Ehm, dibayarin dari surplus kegiatan sebelumnya sih sebenernya. Tapi ya intinya gak pake bayar lah). Menghabiskan malam tahun baru di sana enak banget. Jauh dari gempita jedar-jedernya kembang api dan petasan, tapi gak juga segitu sunyi dan kontemplatifnya karena saya ke sana bersama sekumpulan orang gila yang kalo ngobrol banyakan ketawanya. Niat awal sebenernya mau menanam beberapa pohon di sekitar cottage-nya sekalian mendongeng ke anak-anak di pulau itu, tapi karena sesuatu dan lain hal kami cuma sempat menanam beberapa pohon lalu dilanjutkan dengan snorkling dan makan-makan.
Terumbu karang di sekitar Pulau Pahawang


Hal yang paling menyenangkan selama di sana adalah, selain snorkling tentunya, saya sempat berjalan menyusuri pulau dengan bertelanjang dada (hush!) kaki, maksud saya. Menyenangkan sekali rasanya kaki saya bisa menapak rerumputan, tanah becek berlumpur, merasakan butiran pasir pantai dan mengayuh kecil di kedalaman air laut dalam satu kesempatan yang sama. Ya, setelah terlalu sering berstiletto atau flatshoes ke mana-mana, walking on a bare foot is such a beautiful moment. Try it and you'll get what I mean.
Oh, baydewey, pulaunya keren banget lho! Dan aksesnya mudah kok.Penasaran sama Pulau Pahawang? Monggo berkunjung ke laman FBnya
Oiya, kalo berkunjung ke pulau ini, kamu juga bisa ikutan menanam mangrove untuk menjaga kelestarian lingkungan dan menjaga pulau ini. Mangrovenya bisa dinamain seperti nama kamu loh!


Next.. hmm, cerita apa lagi ya? 
Oh, soal hati. Nah yang ini rada seru nih. Tapi saya gak mau cerita banyak ah. Intinya saya sempat feeling so happy of a relationship, then I broke up, then I met someone else, had a first date again, then I knew how hard it is to mantain a commitment, then realized that me and this man is not belong to each other, then I pray to God, then I felt a little butterfly again, then I.... Oh God, It all happend along this January!
Kebayang gak sih betapa dramanya kisah percintaan saya? Mungkin bisa lah untuk dibikin 2 atau 3 judul FTV. hahahhaa..


Lalu lalu... gimana dengan kerjaan...? Mmm... it's SUCKS!
I repeat. SUCKS!
enough saying, eh?  :D


Trus saya jadi kepikiran mau resign dan coba-coba bisnis. Bisnis apakah gerangan? Saya tiba-tiba kepengen bikin toko kue yang khusus menjual cupcakes! Hahahaha.. kok bisa??
Ini semua gara-gara saya berkunjung ke rumah tante saya di suatu akhir pekan yang ceria. Berhubung kemarin itu lagi long week-end maka kami 5 perempuan yang kecentilan ini (saya, tante, adiknya tante, anaknya tante yang masih kelas 1 SD dan si mbak asistennya tante) bereksperimen bikin kue-kue cantik bernama cupcakes. Dan sukses loh ternyata! So yummy...! Yaah walopun ada beberapa yang toppingnya agak norak karena si adik kecil itu bisa menumpahkan apapun di atasnya sekaligus, hehehe.. but it was FUN!!  Liat deh fotonya:



Cute, isn't it??


Dan trus dari situ saya jadi kepingin bikin lagi dan lagi dan lagi. Seneng banget rasanya bisa bikin kue yang lucu-lucu gini. Tapi kalo di kosan gini mana mungkiiin.. Oven saja aku tak punya.. Hiks :(
Alhasil saya cuma bisa browsing, liat-liat video tentang cupcakes decoration yang ampuuun lucu lucu banget! Ini ada satu video yang nunjukin kalo bikin kue itu sebetulnya gampang. Tinggal gimana kitanya yang harus kreatif dan fun saat menghias kuenya itu. Aaah.. so tempting!!




Mudah-mudahan yah ntar suatu saat saya bisa beneran bikin toko kue beginian yang jual cupcakes. Coffee 'n Cupcakes maybe. Hmm...What do you think??
Semoga yah. Semoga. 


Well, okay sekian dulu deh yang bisa saya ceritain. Nothing so special tapi saya bersyukur, Alhamdulillah masih bisa merasakan pahit manis indah suram galaunya kehidupan sejauh ini. Tsaahh.. ^_^
Oh iya, satu lagi. Akhir bulan ini insyaallah saya akan backpacking lagi. AKHIRNYA!!! hehe
Kemana? kemana? kemana?
Tunggu aja kabar selanjutnya ya ;) 
Thank you for mampir-ing and catch u later!



Thursday, November 10, 2011

Tatoo

Lagi iseng-iseng ngaskus, trus ketemu thread soal tato. Liat-liat, buka-buka, trus tiba tiba nemu yang ini:



Wuoh... Love it!
Dan seketika mengingatkan saya sama Fitri Wulandari


Thursday, October 27, 2011

You?

You may say out loud you are enjoying your life
Trying hard to look happy
Give yourself a gift
Eat more, big smile


but somehow
the louder you say, the harder you try
the more pathetic you look


And the worst part is
the one who can realize it, 
..
is not yourself




gambar dari sini

Thursday, August 18, 2011

Money talks

Whuii...judulnya berat ya? hehehe.. Nggak kok, saya gak akan ngebahas masalah pengelolaan finansial seperti Safir Senduk atau Ligwina Hananto yang ilmu financial managementnya udah tingkat dewa. Lah saya mah ngerti apa soal beginian? Ini saya mau cerita sedikit soal obrolan bersama teman yang ada hubungannya sama judul di atas.

Ceritanya begini. Saya, biar jelek-jelek begini, punya lah sedikit tabungan di celengan mesin itu. Hasil peras keringat banting orang ini niatnya mau saya alokasikan ke sesuatu yang laen. Tapi saya bingung, mau beli gadget baru, atau dipake buat traveling kesana kesini, atau disimpen aja buat tambahan biaya nikah? (Untuk opsi terakhir ini, kita ASUMSI-kan saja saya udah punya calonnya gitu ya? bisa kan? oke? OKE??... Good!)

Nah, waktu memikirkan opsi ketiga itulah, saya teringat dengan obrolan bersama seorang teman. Cowok, usia 28, single. mantan pacar. *ahem.  Tolong ya, ketika menyimak dialog di bawah ini, camkan baik-baik bahwa ini adalah obrolan dua orang teman baik yang udah lama gak ketemu. Bukan dialog antara dua sejoli yang sedang merencanakan pernikahan. Note that! Hehehe... Jadi obrolannya kira-kira begini:

dia   :  Iya, saya lagi kerja keras nabung nih, antara pengen sekolah lagi dan buat nikah juga
saya : Wah iya, sama. saya juga. Tapi bukan buat sekolah lagi, buat nikah.
dia   : Lah kamu itu kan perempuan, ngapain repot-repot nabung buat biaya nikah?
saya : Loh emang kenapa? emang perempuan gak boleh? 
dia   : Ya itukan urusannya laki-laki. Mana ada perempuan mikirin biaya begituan?
saya : Tapi bukan berarti perempuannya gak boleh nabung kan? Kalo dua duanya bisa patungan kan bukannya lebih enak? bisa lebih meringankan, gitu?

Ya intinya gitu lah dialognya.
Dia, mungkin berangkat dari pemahaman umum dan aturan-aturan tidak tertulis dari masyarakat kita, berpendapat kalo urusan-urusan begituan murni jadi tanggung jawabnya lelaki. Ya  memang sih, gak sepenuhnya salah juga.
Saya, dengan memikirkan keadaan dan berdasarkan apa yang saya tau, berpendapat bahwa yang jadi kewajiban pihak laki-laki itu cuma maharnya aja. Selebihnya, seperti biaya sewa gedung, catering, undangan, souvenir begitu-begitu, bisa lah ditanggung bersama walaupun porsinya gak 50-50.

Tapi ketika hal ini saya coba diskusikan dengan teman yang lain, rata-rata pendapatnya sama. Berdasarkan apa yang menjadi kebiasaan masyarakat kita, biasanya pihak laki-laki yang menyiapkan full budget untuk semua acara, mulai dari lamaran, akad nikah bahkan sampe resepsi. Kalo bikin acara 7 hari 7 malem, ya itu juga harus disiapin biayanya sama pihak laki-laki. Bahkan ada juga beberapa --saya rasa sampe sekarang masih banyak, yang pihak perempuannya langsung menyebutkan angka sekian puluh juta agar disiapkan sama pihak laki-laki. Kalo di daerah-daerah biasanya malah lebih sadis lagi, mahar sekian, biaya pesta sekian puluh juta, ditambah kebo 5 ekor, plus barang-barang buat seserahan dan lain sebagainya.

Fheww...berat ya?? Itu baru buat hari H. Belum mikirin gimana setelah acaranya. Gimana buat nyicil rumah, gimana buat ngasih makan istri, gimana membiasakan diri dengan gaji sekian tapi untuk hidup berdua, gimana kalo si istri ternyata langsung hamil... haduh haduh..
Untung aja cowok-cowok tuh gak pada gantung diri ditodong sebegitu banyak di awal pernikahan.

Nah, saya berkaca dari keadaan itu. Saya pikir, gak ada salahnya kan kalo biaya yang buat acara itu ditanggung bersama-sama antara si cowok dan si cewek? (Calon mempelainya ya maksud saya, bukan orang tua si cowok dan orang tua si cewek). Paling gak kan bisa meringankan beban walaupun sedikit.
Biar kata cuma punya tabungan sejuta-dua juta, tapi kalo itu bisa buat nambahin cost yang lain kan lumayan. Ya kan? Karena menurut saya, prinsipnya ini adalah pernikahan bersama. Bukan situ 'membeli' saya  dari orang tua saya. Kalo di situ ada istilah 'bersama', rasanya gak ada salahnya kalau kedua pihak saling berbagi beban terutama masalah anggaran. Bukan begitu?

Ah, berat ya obrolannya?
Kadang saya mikir ya, terlalu banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk menghadapi sebuah pernikahan. Kadang urusan hati dan kesiapan mental aja belum kelar, udah dipusingin sama hal-hal beginian. Kalo yang beginian gak dipikirin atau disiapin dari jauh-jauh hari, katanya juga bakal bikin kelabakan.  Hadeuuu..Lieur ah..

Anyway, buat kamu-kamu yang lagi menghadapi masa-masa persiapan pernikahan, ini ada artikel keren dari Adhitya Mulya soal persiapan financial menjelang nikah. Must read! Nah, di artikel in juga Kang Adhit (sok akrab bener, manggilnya Akang..) nulis begini:
"...beli rumah itu gak perlu nunggu nikah kok. Dan gak harus cowok yang beli rumah. Khusus untuk laki-laki, beli rumah sendiri berguna jadi mas kawin. Ntar kalo nikah bisa dijual, jadikan DP dan bersama salary istri beli rumah yang lebih besar. Perempuan juga begitu."

See? Hal kaya gini juga bisa kan dibagi bersama antara si cewek dengan si cowok. Dan saya rasa ini bukan hal yang tabu lagi lah hari gene. Cewek juga banyak yang udah bisa mandiri dari gajinya sendiri kan? Dan ini - IMHO, gak ada hubungannya dengan harga diri si laki-laki, selagi apa yang menjadi kewajibannya sudah terpenuhi.


So instead of musingin mau pose macam apa saat foto pre-wed, mendingan mikirin beginian deh menurut saya. Lebih penting! Hehehe..

Happy reading, fellas.. :)


Friday, July 22, 2011

My Polyvore Sets

Temans, ada yang pernah denger Polyvore nggak? 
Nggak? Ya, gak papa.. Saya juga taunya baru kok. 
Apa itu polyvore? Oh ini gak ada hubungannya sama sekali dengan poly vantai (eh, saya bukan orang sunda lho ya!) Ini adalah sebuah web yang memungkinkan pengunjungnya berkreasi di bidang fashion, interior design atau creative things lainnya. Mayoritas sih isinya memang fashion item. Jadi di sini pengunjung webnya bisa pura-puranya jadi fashion designer sebuah majalah gitu, trus bisa menuangkan ide apapun untuk jadi sebuah set. tapi ini bukan game online. Ini..umm.. apa ya. saya bingung juga jelasinnya. Ya intinya main baju-bajuan, dandan-dandanan, design dan temen-temennya deh. Dan di situ juga ada online shop dari berbagai merk fashion terkemuka. Elle, Gucci, Roberto Cavali, Viviane Westwood, Jimmy Choo, LV endesbra endesbre..dari berbagai jenis fashion items seperti dress, tops, skirt, pants, shoes, bags, jackets, parfume, jewelry sampai berbagai jenis make up dan aksesoris. Kalo kalian tajir sampe melintir, bisa lho abis bikin-bikin set di situ trus langsung klik "buy this item". Saya mah...hehehe.. gak sanggup! Mahal! :D


Anyway, saya sebetulnya merasa sama sekali gak berbakat di urusan fashion. Tapi dalam waktu 1 minggu saya udah menghasilkan 18 sets and still going on.. Masalah bagus apa nggaknya sih..hehehe.. saya mah sadar kok. Lha wong sayanya sendiri aja masih suka saltum kalo kemana-mana.
Nih kalo mau liat sebagian set yang udah saya buat:
Sunny Manhattan


When the roses bloom


Brown sugar, sweet me


Is it morning already?


Somewhere over the rainbow..


Red Alert!


Shall we?


Saturday: Part Two!

Hypnotize me

Juicy Crayon


Sunday Bloody Sunday

Kalo ditanya inspirasi bikin ini dari mana, hmm..saya bilang gak tentu. Sebagian sih ada yang dari lagu. Tapi kebanyakan ya saya ngikutin moodnya aja, terserah jadinya mau gimana. Kadang dari awal niatnya pengen bikin model yang begini, eh jadinya malah bisa beda banget. Kalo kerja jadi fashion editor, gitu kali ya? Makanya banyak yang kesana kesini cari inspirasi dan rujukan mode. hmm..


Dari sets yang saya tampilin di atas, saya paling suka yang "Shall we?". Mungkin karena itu yang paling menggambarkan gaya saya ya. (Eh iya gak sih?) Terutama celana abu-abu casual dan sepatu conversenya itu! Dan ranselnya! Wuoh..love it! Style begini enak banget kalo dipake buat jalan atau traveling gitu. 
Kalo kamu, suka yang mana?
Monggo lhoo kalo mau dikomen atau kasih saran dan kritik.
Oh iya, kalo mau liat-liatan sets dan share comment di polyvorenya langsung juga silahken. Here's my profile. Atau kalo mau coba-coba iseng bikin beginian, langsung aja yaa meluncur ke webnya. Seru lho..Must try!

Sunday, June 12, 2011

Yeay, my own tote bag!

Happy weekend, fellas!  Apa yang kalian lakukan di akhir pekan ini? Kencan sama pacar? Piknik sama keluarga? Having me-time somewhere? Atau uji coba resep masakan baru? Atau malah...mati gaya dan menjamur di kasur? Hehehee.... 
Saya nyaris aja menghabiskan akhir minggu ini dengan opsi terakhir tadi. Tapi tiba-tiba saya teringat dengan artikel tentang cara mendaur ulang kaos bekas menjadi tas yang lucu yang saya baca beberapa hari yang lalu, dan tiba-tiba.. tring!! dapet ide untuk bikin tas sendiri juga. Kayanya bakalan asik nih!


Ceritanya kan saya punya kaos hasil beli waktu jalan-jalan ke Phuket dulu. Sejatinya..(tsa'ilah bahasanya!) kaos itu mau dikasih ke seseorang sebagai oleh oleh gitu. Berhubung ni orang badannya gede, jadi saya beli yang ukuran besar. Etapi karena saya gak kunjung ketemu sama orangnya dan kayanya basi banget kalo baru dikasih oleh-oleh setelah setahun berlalu, akhirnya kaos itu saya modif untuk bisa saya pake sendiri. Maunya sih dibikin stylish tee gitu, apadaya gagal total. Heuheu..Sempet beberapa kali dipake sih, tapi gak pede. Dan akhirnya kaos itu cuma diem di pojokan lemari. Mau dibuang, sayang. Belinya jauh dan saya juga suka sablonannya. Akhirnya terpikir, dibikin jadi tas kayanya lucu deh... So, here it goes, mulai deh saya oprek-oprek sana sini.


Dimulai dengan bikin pola, yang ngambil bagian tengah dan pinggiran kaosnya. Dipotong dengan ukuran sesuai selera. Kalo saya sih segini (err..lupa diukur berapa senti) :

ada pola depan, belakang, samping kanan dan kiri, dan bagian bawahnya
Jangan lupa ketika memotong pola, lebihkan 1 cm di masing-masing garis tepi pola. Jadi nggak terlalu mepet ketika dijahit. Lalu, masing-masing bagian itu disatukan. Mulai dengan bagian bawah yang menghubungkan pola depan dan belakang. Kemudian satukan dengan bagian kanan dan kirinya. Bingung gak?? Kira-kira gambarannya begini deh:


Pola ke dua bentuknya jadi seperti ini.
Atas, bawah, kiri dan kanan disambung

Jahitnya dari sisi dalam yaa. Dan usahakan ujung garis (ketika membuat pola) bagian satu ketemu dengan ujung garis bagian yang lain. Jadi bagian pojokan nantinya terlihat rapi. 
TIPS: kalo kamu menggunakan mesin jahit, jangan lupa kaosnya dilapis kertas ya, bisa koran atau apa gitu kek. Soalnya kalo kaos, bahannya kan strechy. Kalo nggak dilapis kertas bisa mengkerut ketika dijahit. 
Nah, setelah itu, siapkan kain lain, bisa diambil dari kaos lainnya yang sudah tidak terpakai juga atau bahan lainnya, untuk digunakan sebagai lapisan dalam tasnya. Kalo saya, kebetulan warnanya sama-sama putih. Lakukan step 1 dan 2 di atas tapi dengan ukuran pola yang lebih kecil sekitar 1-2 cm.

Satukan pola bagian luar dan bagian dalam dengan menjahit di  bagian  pojok-pojok bawah dan sampingnya.
Nah, kalau sudah disatukan, bentuknya akan seperti ini:


Tampak luarnya
Kalau bentuknya sudah seperti ini, jangan lupa bagian atasnya di sum atau istilah lainnya di-kelim. Biar keliatan rapi. Berhubung saya jahitnya gak pake mesin, yaa hasilnya cuma begini, gak terlalu rapi. Hehehe.. Oh iya, setelah semua bagian selesai dijahit,  bila perlu disetrika dulu, biar garis-garis tepinya jadi semakin rapi. Kalo sudah, step berikutnya adalah menyiapkan tali.

pilih tali yang sesuai warnanya, biar mecing! :D
Untuk talinya, saya sengaja memilih bahan yang agak tebal, biar kuat gitu. Saya membeli tali yang biasa digunakan sebagai bahan ikat pinggang denim, dengan warna pink yang lucu. Harganya cuma Rp 4.500/yard (1 yard = 0,91 meter), bisa dibeli di toko pernak-pernik menjahit. Saya beli 2 yard, sekalian jaga-jaga kalo terjadi salah potong. Tapi yang kepake cuma sekitar 1,5 yard kok. Dan untuk menjahit bagian ini saya nggak pake benang jahit biasa, saya pake senar ukuran 0,2 mm. Ini juga biasanya ada di toko sejenis, atau tempat jual manik-manik. Harganya cuma Rp 5.000 udah dapet segulungan yang cukup buat maen layangan :D. Saya pilih menggunakan senar karena pasti lebih kuat. Bagian ini kan sensitif, rawan putus, apalagi kalo tasnya sering diisi muatan berat. Selain itu, senar juga warnanya transparan, jadi gak masalah kalo jahitan di bagian depan ini kurang rapi. 
Pastikan  juga ketika memasang tali, bagian depan dan belakang panjangnya harus sama. Nggak lucu kan kalo yang satu lebih panjang, susah ntar makenya. hehehe.. Jahitnya juga harus berkali-kali ya! Kalo saya, jahit keliling dengan bentuk kotak dan bentuk silang di bagian tengahnya. Dijamin kuat deh!


Kalo bagian ini sudah beres, berarti tasnya sudah jadi deh! Horeee...Punya saya jadinya begini:
Horee..jadi tas!

Biar lebih seru lagi, boleh ditambahin beberapa aksesoris seperti pin atau yang lainnya. For safety reason, bisa juga ditambahin resleting atau kancing, atau strap di bagian atasnya. Yaah..sesuai selera masing-masing aja. Gimana? Not bad kan? Seru lhooo.. modalnya cuma kaos bekas dan uang 15ribu. Yaa..memang sih ada juga tas yang harganya cuma beda dikit dari ini, but the point is, you make it with your own hand, dear.. Rasanya kan lebih gimanaaa gitu. Hehehe..Waktu yang saya habiskan untuk bikin ini kalo diitung keseluruhan gak sampe 24 jam, itupun dengan jahit tangan. Kalo jahit mesin pasti lebih cepet lagi.

Tertarik untuk coba sendiri?? Hayooo..kita bongkar-bongkar lemari lagi! :D  
  

Thursday, January 13, 2011

Empat Ciri Belum Siap Berkomitmen

diambil dari: Y! Newsroom - Kamis, 13 Januari
Hubungan cinta tak berjalan mulus dan selalu kandas di tengah jalan? Bisa jadi ketidaksiapan Anda berkomitmen yang menjadi penyebabnya.
Mungkin sebelumnya Anda tak pernah menyadari masalah ini. Berikut beberapa ciri Anda belum siap untuk menjalankan hubungan yang lebih serius dengan pasangan, seperti dikutip dari Sheknows.
1. Selalu menemukan kekurangan pada pasangan Anda. Kekurangan itu membuat Anda enggan meneruskan hubungan dengannya. Padahal, seringkali hal itu bukanlah sesuatu yang mendasar.
Anda harus menyadari bahwa tak ada orang yang sempurna. Jika memang Anda benar-benar, mencintai pasangan, itu juga berarti mencintai kekurangannya. Jika Anda tak bisa melakukannya, berarti Anda memang belum siap berkomitmen.
2. Pernikahan membuat Anda takut. Anda skeptis dan sinis terhadap segala hal mengenai pernikahan. Anda menganggap pernikahan adalah sebuah penjara yang akan mengekang hidup Anda.
3. Hidup tidak stabil. Anda masih sering bertindak spontan sesuai keinginan hati tanpa berpikir panjang. Gonta-ganti pekerjaan, peer group juga pasangan merupakan kebiasaan. Memang hal tersebut bukan hal yang buruk. Namun tindakan-tindakan di atas bisa menjadi tanda bahwa Anda belum siap berkomitmen terhadap sebuah hubungan cinta yang serius.
4. Susah mengakui perasaan cinta. Anda sudah lama berhubungan dengan pasangan, namun belum juga mau mengungkapkan perasaan yang lebih dalam? Selama ini Anda hanya menjalankan hubungan dengan santai, namun saat ditanya mengenai perasaan atau tujuan hubungan, Anda menjadi ketakutan. Ini juga merupakan suatu tanda Anda belum berani berkomitmen.
---

Ehm... baca ini kok saya berasa ditampar ya? hahaha..
  

gambar dicomot dari sini

Tuesday, November 30, 2010

Wednesday, September 29, 2010

(pengennya) bike to work



Baiklaaahh... seperti yang sudah saya kasih bocoran pada postingan sebelumnya, saya belakangan ini punya keinginan untuk mencoba sepedahan ke kantor, atau kalo kata orang mah bike to work. Tapi masih ada beberapa hal yang mengganjal nih, dan rasanya saya perlu masukan dari yg baca disini. Bukaaan.. ini bukan perkara memilih sepeda yg fixie atau gear, atau jenis sepeda lainnya. Gak serumit itu sih, cuma masalah kecil sebenernya, tapi tetep aja bikin bingung.

Gini yaa..saya jabarin aja keadaannya gimana:

Pertama, dari segi lokasi. Dari kosan ke kantor saya sebetulnya dekat, kalo naik kopaja hanya memakan waktu sekitar 5 menit. Biasanya justru lebih lama nunggunya daripada di atas kopaja nya. Hehehhe.. Tapi kalo jalan kaki sih lumayan juga. Paling gak bisa bikin aroma parfum yang semerbak itu jadi berubah asem karna keringetan. hehehe. Jadi kalo untuk urusan jarak tempuh, pake sepeda kayanya pas lah. Tapiiii jalur yang dilintasi lumayan padat kendaraan. Ada jalur lain sih, tapi jalannya tidak terlalu lebar, melewati pasar dan termasuk padat juga di pagi hari.

Perkara kedua adalah, saya bekerja sebagai dosen, yang mana busana saya harus formal. Selama ini aja saya mengakali dengan pake sepatu flat dulu dari kos-kosan (ingat, saya naik kopaja) dan baru setelah sampe kantor ganti pake high heels 7cm. Baju? Paling tidak, kemeja. Kadang malah saya harus pakai blazer atau long shirt gitu. Nah, kalo pake baju kerja begini, kebayang dong, paling tidak harus ada polesan bedak sedikit, maskara biar mata kinclong, dan.. bye bye dulu sama ransel buluk saya itu. Hehehe... Tasnya kudu tas "cewek". Walopun kadang saya bawa laptop atau perkakas yang rada banyak, saya biasanya memilih untuk pakai tas model postman (selempangan) atau bawa jinjingan tambahan.

Nah, masalah ini nih yang merepotkan!

Kalo saya liat orang-orang yang sudah mencoba sepedahan ke kantor yaa, biasanya dari rumah mereka pake outfit yang sporty dulu. Baju kaos, sneakers, tas ransel, lengkap dengan helm dan protektor melekat di badan. Baru setelah sampe kantor, bebersihan badan (malah ada juga lho yg baru mandi di kantor :P ) dan ganti busana formal. Ketika mau pulang ke rumah, ganti lagi pake kostum sepedahan.

Nah, sekarang.. coba aplikasikan cara itu ke kondisi yang sudah saya jabarkan. Rasanya kok agak merepotkan yaa...

Pertama, dengan jarak sepedahan yg gak jauh-jauh amat itu kok rasanya ribet amat yaa harus bawa baju ganti dan peralatan lenong (baca: make-up) saya. Belum lagi bawa helm plus protektornya plus gemboknya plus botol minumnya plus anduk kecil buat lap keringetnya....hahaha. Itu udah satu ransel aja. Trus tas kerja (kempit) saya gimana? Kalo bawa laptop juga gimana? bawa 3 tas dong?? errrr... kok jadi kaya orang mau mudik ya??

Tapi kalo gak bawa perkakas gitu, masa saya sepedahan pake blazer, tas kempit dan sepatu cantik?? Gak matching dong... Belum lagi keringetan segala, eeeiiiyww.. Gak lucu ah ngajar pagi tapi tampilan udah kucel gitu.

Jadi gimana dong.. Bawa ganti, repot. Gak bawa ganti, kucel.  Aaahhh...bingung nih!!

Saran doong...



gambar diambil dari sini

Thursday, September 02, 2010

lipstik dan kaca



sini cuma menyodorkan kaca
karena lipstik situ sudah mulai melenceng ke pipi
tapi situ malah melemparkan kaca ke sini
tepat kena hidung sini


ah ya sudah
sini pergi saja kalo gitu
ke pasar, beli kaca lagi


kaca yang lama sudah situ pecahin
dan hidungpun sinipun gak akan pernah sama lagi



(hiks...tambah pesek)



 *gambar diambil dari sini