Monday, January 31, 2011

Blues Night



Just watched Gugun and The Blues Shelter's gigs last friday.
And..fheww.. that was f*ckin awesome!!
*speechless

Walopun ada kesalahan teknis dari soundsystem di sana sini, tapi semuanya termaafkan!
Gak sia-sia lah dateng ke Bentara Budaya bareng Tito, 
menerobos hujan, becek, untung aja masih ada tukang ojek. Hehee

Itu si Jono bule yang setengah gila *tapi ganteng*, nongol dengan sayap-sayap cintanya
Trus si Bowie yang ngegebuk drum kaya orang kesurupan!
Dan, for sure... om Gugun yang maen gitarnya sumpah mati bisa bikin orgasme!! haha

And dunno why, I was so lucky that night.
Bisa berdiri di shaf depan panggung. Bisa dapet guitar pick yang dilempar Gugun. 
Daaan... diajakin Bowie "ke atas aja yuk" setelah mereka selesai manggung.

Hahahaha.... edaann!

And just like Tito said:  Siapa bilang blues itu sedih?!


*foto: koleksi pribadi, edited by Tito

Sunday, January 23, 2011

Sad stories, again

"When will you stop telling the same story over and over again?"


Plak! 
Kalimat yang saya dengar waktu nonton acara Oprah Winfrey Show itu kok terasa menampar pipi sekali ya? 
Sadarkah, kita mungkin selama ini mengulang-ngulang kisah hidup yang itu-itu juga ketika bercerita ke orang lain? Kisah yang bukannya membebaskan kita, tetapi justru membuat kita semakin terjerat dengan masa lalu.


Kalimat yang diucapkan oleh Rosie (saya lupa nama lengkapnya, konon seorang broadcaster-wati yang terkenal di Amerika sono) itu, membuat saya tiba-tiba melongok ke dalam diri sendiri. Did I? 


Rosie bilang, selama ini dia menceritakan kisah hidupnya kepada orang lain dengan menggarisbawahi pengalaman pahitnya. Ia ditinggal ibunya ketika dia masih kecil. Dia hanya tinggal dengan ayahnya yang acuh tak acuh, serta neneknya yang sudah tua, yang untuk memasak pun sudah tak bisa. Masa mudanya dihabiskan untuk bertahan hidup. 
Dia, kemudian, selalu menceritakan hal itu ke orang lain, over and over again, padahal semua itu sudah 40 tahun berlalu.


Sayangnya dia luput mengisahkan pencapaiannya selama 40 tahun itu. Padahal dia sudah berhasil dalam karir, mencapai kesuksesan sebagai seorang pembawa berita, bahkan menjadi produser di acaranya sendiri, telah menikah (dengan pasangan lesbiannya) dan mempunyai 4 orang anak yang lucu-lucu. 


Tapi balik lagi, ketika dia ditanyakan orang tentang hidupnya, dia selalu bercerita sebagai anak kecil yang ditinggal mati oleh ibunya. Padahal kini dia adalah ibu dari 4 anak! Dia masih belum bisa beranjak dari masa lalunya, sepertinya. Dan -masih menurutnya, hal ini agak terlambat untuk disadari.


Hmmm..mungkin kita juga pernah -atau bahkan sedang- dalam posisi itu. Sadar atau tidak sadar kita masih suka mengulang-ulang kisah yang itu-itu lagi seperti kaset rusak. Atau seperti dvd bajakan yang sering 'cekit-cekit' karena macet sehingga cerita tak bisa berlanjut ke chapter berikutnya. Banyak. Sepertinya banyak dari kita yang mengalami hal ini. 


Tetangga saya, masih saja menangisi kematian anak lelaki satu-satunya yang mungkin sudah hampir 10 tahun yang lalu. Padahal dia masih punya 3 orang anak perempuan yang sudah menikah dan memberinya cucu-cucu yang manis. Ada juga yang selalu mengisahkan dirinya sebagai anak "broken home", padahal sekarang kemandirian yang dilaluinya sudah membuahkan hasil yang gemilang.


Saya?? 
Yaa..yaa..saya ngaku. Saya masih mengulang-ulang kisah bersama si mantan yang padahal sudah berakhir sejak 4 tahun lebih itu. (hehee...*tutup muka). Kebayang deh, orang lain juga mungkin sudah eneg denger cerita saya yang pemeran utamanya masih dia lagi dia lagi.


Maka tak heran, ketika kalimat itu muncul di tayangan Oprah Winfrey Show, saya seperti "cring!" mendapatkan ilham dan langsung introspeksi dalam-dalam.
Banyak hal yang sesungguhnya sudah saya raih dalam kurun 4 tahun itu. Banyak kisah yang juga semestinya bisa saya bagi dengan aura yang lebih optimis. Tapi kenapa saya masih juga melihat kisah itu sebagai Bab I (Latar belakang) dari setiap hal yang saya jalani? 
Damn, I was trapped in my past!!


Kalo ditanya, kenapa gak move on? well.. I tried. I gave my best. 
Tapi ya gitu deh, mekanisme mengulang-ulang kisah ini sepertinya berasal dari alam bawah sadar kita. (hehe..entahlah, ini pledoi atau apa). 
Tapi mulai sekarang -ehm, mulai awal tahun ini sebetulnya-, saya sudah mencoba sebisa mungkin, dengan segala jurus yang saya punya, dan segala kekuatan bulan yang bisa saya himpun, saya harus beralih! Yap, banyak hal positif yang sudah saya capai selama ini, dan seharusnya itulah yang bisa saya bagi dengan orang-orang di sekitar saya. 


Tapi maksud saya di sini, bukannya kita lantas melupakan pengalaman pahit itu begitu saja, bukan. Kita tetap bisa mengenangnya, mengambil hikmah dan segala pelajaran dari semuanya. But, instead of telling the same sad stories over and over again, why can't we be proud of what he had and share the positive feeling to other people? 


Kalo semua orang begini kan, dunia rasanya lebih syahdu gitu...
Setuju?

Thursday, January 13, 2011

Empat Ciri Belum Siap Berkomitmen

diambil dari: Y! Newsroom - Kamis, 13 Januari
Hubungan cinta tak berjalan mulus dan selalu kandas di tengah jalan? Bisa jadi ketidaksiapan Anda berkomitmen yang menjadi penyebabnya.
Mungkin sebelumnya Anda tak pernah menyadari masalah ini. Berikut beberapa ciri Anda belum siap untuk menjalankan hubungan yang lebih serius dengan pasangan, seperti dikutip dari Sheknows.
1. Selalu menemukan kekurangan pada pasangan Anda. Kekurangan itu membuat Anda enggan meneruskan hubungan dengannya. Padahal, seringkali hal itu bukanlah sesuatu yang mendasar.
Anda harus menyadari bahwa tak ada orang yang sempurna. Jika memang Anda benar-benar, mencintai pasangan, itu juga berarti mencintai kekurangannya. Jika Anda tak bisa melakukannya, berarti Anda memang belum siap berkomitmen.
2. Pernikahan membuat Anda takut. Anda skeptis dan sinis terhadap segala hal mengenai pernikahan. Anda menganggap pernikahan adalah sebuah penjara yang akan mengekang hidup Anda.
3. Hidup tidak stabil. Anda masih sering bertindak spontan sesuai keinginan hati tanpa berpikir panjang. Gonta-ganti pekerjaan, peer group juga pasangan merupakan kebiasaan. Memang hal tersebut bukan hal yang buruk. Namun tindakan-tindakan di atas bisa menjadi tanda bahwa Anda belum siap berkomitmen terhadap sebuah hubungan cinta yang serius.
4. Susah mengakui perasaan cinta. Anda sudah lama berhubungan dengan pasangan, namun belum juga mau mengungkapkan perasaan yang lebih dalam? Selama ini Anda hanya menjalankan hubungan dengan santai, namun saat ditanya mengenai perasaan atau tujuan hubungan, Anda menjadi ketakutan. Ini juga merupakan suatu tanda Anda belum berani berkomitmen.
---

Ehm... baca ini kok saya berasa ditampar ya? hahaha..
  

gambar dicomot dari sini

Wednesday, January 12, 2011

over is good

Banyak orang yang bilang segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik
Anda percaya?
Saya tadinya iya
Tapi setelah apa yang saya alami 2 hari ini, saya bisa menarik kesimpulan kalo hukum itu gak selalu berlaku.


Jadi gini, 2 hari yang lalu kan saya jatuh dari tangga. Oke, singkat kata singkat cerita, kaki kanan saya keseleo karena posisi jatuhnya dengan telapak kaki tertekuk ke arah dalam (ouuch!). Cederanya di bagian angkle dan bengkak sedikit lah, lumayan. Nggak...saya sih nggak nyalahin tangganya, biarlah dia menerima hukum karma atas perbuatannya itu nanti. Hahaha..




Ini ketiga kalinya saya cedera di posisi yang sama. Dulu pertama dan kedua kali kenanya waktu, ummm... 5 tahun yang lalu mungkin, gara-gara main basket. Nah, sejak cedera yang dulu itu memang gak pernah disembuhin sampe tuntas. Sempet diurut sekali, tapi setelah itu udah, dibiarin aja sampai sekarang. Akibatnya, mata kaki saya antara yang kanan dengan yang kiri memang agak berbeda.


Nah, setelah jatuh kemarin itu, besoknya saya ke klinik fisioterapi. Maksudnya sih biar gak tambah parah (Ehm, sebenernya karena di kampus saya ada kliniknya, dan juga gratis buat karyawannya, jadilah saya periksa. hehehe) Sampe di sana kaki saya diperiksa cederanya di mana, dicek seberapa parahnya, dan di-treatment ini itu. Gak lupa juga saya ceritakan riwayat per-cedera-an (istilah apalah ini?) yang saya alami.
Mau tau kesimpulannya?


Kaki saya selamat dari cedera yang seharusnya bisa lebih parah dari ini. Apalagi mengingat ini adalah yang ketiga kalinya. Kok bisa?
Karena eh karena... nah ini intinya:


Pergelangan kaki saya over elastis!


Whuoo...keren ya?? 
Bukaaan...maksudnya bukan kaki saya glemar-glemer gak ada tulang gitu, bukaan!! Hahaha..
Gini lho. Coba praktekin: Gerakkan telapak kaki kanan kamu ke arah samping dalam. Kalo mengikut kemampuan rata-rata manusia, paling cuma bisa mencapai kemiringan (kalo pake skala jarum jam) di angka 11 atau 10. Nah kalo kaki saya bisa sampe ke angka 9. Kebayang kan, maksudnya gimana? Ya gitu lah kira-kira.  
So, "over" disini ternyata ada gunanya kan? Untung juga punya pergelangan kaki yang over elastis. Jadinya gak mudah cedera. Saya juga baru tau dengan bakat terpendam saya ini. (cailah, bakat..) setelah diperiksa kemarin itu. Dan ketika terapisnya bilang kalo kaki saya OVER ELASTIS itu somehow kok terdengar keren yaa? Hahaha... Tau gitu dari dulu saya bikin cita-cita penari balet aja deh. Hahaa...*mulaigakpenting
  


*gambar dipinjem dari sini

Monday, January 03, 2011

just another new year


so, here it comes. 2011

kembang api, terompet, petasan, macet, rame-rame, jagung bakar.
saya? tidur. hahaha
Saya pada dasarnya emang males keluar pas tahun baru. Karena muacetnya itu lho.. besides, saya suka bertanya-tanya: apa sih yang kita rayain? Tahun yang baru? tanggal 1? hmm... gak segitu pentingnya sih buat saya. it's just another day. biasa aja sebenernya. entah kalo menurut yang lain yaa

Tapi ya saya juga gak menyalahkan orang-orang yang ikut meramaikan suasana pergantian tahun kok. Saya juga kalo diajak sama temen jalan keluar, ya mau-mau aja. Ambil seneng-senengnya aja lah.. hehehe

Lalu, apa resolusimu?
Punya pacar? atau getting married? get a better job or be a better person? Yaa..apapun itu, saya doaken semoga terwujud. Amiin.

Resolusi saya?
hmm... gak nganeh-nganeh kok. Saya cuma bikin program:  
baca koran setiap hari.
Mungkin pembaca yang budiman pada bertanya-tanya, kenapa baca koran?

Jadi begini ceritanya. Suatu pagi di bulan Desember, saya duduk di sebuah kedai kopi di stasiun, menyeruput secangkir capuccino sambil membaca koran. Saya lupa kapan terakhir kali saya membaca koran se-serius itu. Membaca bukan cuma judulnya, tapi hampir semua kolom beritanya. Membaca dengan khusyu' dan mencoba mencermati setiap peristiwa yang disajikan. Dan, oh.. setelahnya saya merasa jadi pintar! Jadi tau banyak hal. Isu-isu yang selama ini saya hindari kalo baca berita di internet seperti masalah politik, ekonomi, atau permasalahan nasional lainnya, jadi bisa saya cermati dengan lebih baik, lebih komprehensif (tssaah...bahasanya) saat membaca koran itu.

Nah, kalo baru baca satu edisi aja saya sudah merasa mendapatkan informasi tentang banyak hal, gimana kalo saya baca setiap hari ya??

Jadi begitulah, saya berniat melakukannya di tahun 2011 ini. Ya, begitu aja sih alasannya. hehehe... *tampak tidak penting ya*

Tapi so far.. ehm sebentar, ini tanggal berapa??
Ya, masih tanggal 3 Januari. Sampai hari ke tiga dan di hari senin pertama, program itu belum juga berjalan. Hahahha...
Ya wajar sih, tanggal 1-2 nya rata-rata surat kabar memang gak terbit karena libur. Nah tanggal 3 nya ini kan hari senin, masa sih gak ada koran?

Bukan gak ada.. Tadi itu saya udah niat mau beli koran ketika keluar dari kosan menuju ke kampus. Tapi sepanjang jalan yang saya lalui, kok gak ketemu tukang koran ya? Trus di mas-mas fotokopian di lt.6 kantor saya juga masih tutup, masnya lagi pulang ke jawa, kata mbak-mbak kantin sebelahnya.
Jadi ya sudah, sampe siang begini belum juga ketemu korannya.

Hahaha...masa baru hari ke-3 resolusi saya udah kandas sih? Gak lucu dong.
Jadi inget resolusi tahun 2010 saya yang kandas hanya dalam waktu 9 hari. hahahaha..

Mungkin nanti mau coba daftar berlangganan aja ah. Biar enak, gitu. Pagi-pagi bangun tidur korannya udah ada di depan kamar. Jadi pagi-pagi, abis stretching, sit-up-sit up dikit, trus baca koran sambil sarapan, baru kemudian mandi dan siap-siap berangkat ngantor. Asik kan, kedengerannya?

Tapi pertanyaan selanjutnya adalah: BISAKAH SAYA BANGUN PAGI??

Hahahahaha..