kenyamanan itu suka menipu
dan bodohnya,
kali ini gua yang tertipu
umur saya nambah satu lagi
alhamdulillah
dan seperti tahun-tahun sebelumnya, saya gak bikin catatan perenungan
gak juga bikin resolusi
gak pasang target pencapaian-pencapaian
gak juga membuat daftar wishlist atau apapun itu
saya cuma punya niat kecil yang harus,
HARUS saya laksanakan mulai hari ini:
gak lupa lagi baca bismillah sebelum makan,
gak makan terlalu banyak apalagi sampai kekenyangan
dan gak lupa lagi baca alhamdulillah sesudahnya
itu saja
karna saya masih suka lupa
masih terlalu sering lupa untuk bersyukur
bahkan untuk hal-hal kecil seperti itu

Gua percaya ya, dalam jiwa seorang penulis pasti ada sisi autisnya. Penulis apapun itu. Ya penulis novel, penulis buku anak-anak, penulis cerpen, bahkan ke penulis buku teks sekalipun. Pasti mereka punya dunia lain di dalam otaknya atau paling gak mereka sering kali merasa terlalu asik sama diri sendiri.
Marshal McLuhan misalnya ya. Doski nih pakar komunikasi yang menulis buku tentang Global Village. Bukunya ya buku teks, buku teori gitu. Dan di awal abad ke 20 dia udah bisa menulis di salah satu buku teorinya tentang kewujudan Global Village di dunia ini kelak. Buat yang gak ngerti teori ini, maksudnya tuh suatu hari nanti masyarakat dunia akan terhubung sedemikian rupa dan dunia akan terasa semakin kecil, gak beda dengan sebuah perkampungan. Dan sama halnya dengan kampung, masyarakatnya akan saling mengenal, share everything together, dan komunikiasi bisa terjalin dengan mudahnya. Bayangin, dunia jadi kampung! Gila kan, punya fikiran kaya gini di saat itu, sama aja kita bilang saat ini kalo mungkin aja manusia ngebangun mall di saturnus. Tapi nyatanya, it happen now. Oh.. thanks to the internet.
Nah, balik lagi ke masalah autis itu ya, gimana mungkin Marshal mcLuchan bisa ngebayangin dunia ini sebegitu jauhnya kalo dia gak punya imajinasi yang begitu luar biasa. Yang mungkin akan dipandang orang lain sebagai orang gila, atau nerd atau apalah..Dan pasti saat itu dia gak perduli apapun kata orang, apapun cemoohan orang tentang fikirannya, ide gilanya, atau justru kejeniusannya.
Contoh lain lagi, beberapa penulis novel top di Indonesia sekarang lebih memilih bercerai dan hidup sendiri (bagusnya dengan cara baik-baik) padahal rumah tangga mereka sebelumnya keliatan adem-ayem aja. Yaa..gua sih gak ngerti ya urusan domestik mereka. Cuma asumsi gua adalah, mereka menemukan kenyamanan yang lebih disaaat mereka sendiri (atau hanya berdua dengan imajinasinya) dibandingkan saat mereka berdua dengan pasangannya. Kenyamanan yang tidak tertandingi, kenyamanan yang membawa mereka pada ekstase luar biasa sehingga mampu menghasilkan karya-karya yang juga luar biasa.
Juga penulis-penulis lain seperti anak ini nih. Walaupun karya-karyanya belum di publish selain di personal blognya, tapi tulisan-tulisannya gua suka banget. Dan itu bagi gua termasuk luar biasa untuk anak seumuran dia. Dan dia juga termasuk salah satu orang yang masih saja berfikir apakah dia autis atau tidak. hahhaa..
Belum lagi penulis-penulis seperti Hans Christian Anderson, Agatha Christie, Paulo Coelho, dan semuanya. Gua yakin ada sisi autis dalam diri mereka semua.
Dan gua, sebagai penulis thesis (yang sumpah, gak penting dan gak sebanding banget dengan nama-nama di atas!) juga mulai merasa sisi autis gua semakin tumbuh dan berkembang. Gua sudah terlalu sering duduk di perpus sendirian, berkutat dengan keyboard dan loncat-loncatan antara neuron dan serabut otak gw berjam-jam lamanya. Yang paling menohok adalah.. ketika beberapa temen gua mulai complain dan mengatakan kalo gua menjadi semakin (berarti gejala ini udah dari dulu) antisosial. Juga ketika tadi malem, disaat yang gua lakukan hanyalah leyeh-leyeh dengan headset di kuping, mendengarkan lagu dari playlist yang diputer secara random, memejamkan mata dan meluruskan kaki, dilanjutkan dengan maen game tamiya dari laptop. Sumpah..moment itu terasa mahal banget!
Gua lupa kapan terakhir kali merasa senyaman itu.
Gua lupa kapan terakhir kali gua gak memikirkan kata thesis.
And now, here I am. Ngetik sendirian di koridor fakultas gua, kembali bercinta dengan windows, gak sadar dan gak peduli dengan semua orang yang lalu lalang. Gak sadar dengan siapa yg duduk di sebelah gua. Gak sadar sekarang udah jam berapa dan mengapa semua orang keliatan begitu sibuknya.
Yang gua sadar adalah, gua jadi makin autis aja
Selama di Pineng ini gua sempet juga mengalami beberapa kesulitan. Yang pertama adalah gua agak kesulitan untuk mencari tempat makan. Mayoritas rumah makan yg ada di Georgetown adalah rumah makan Cina, yang sangat dikhawatirkan mengandung -nguik!. Ada sih tempat makan Cina yang memajang tulisan “strictly no pork”, tapi tetep aja gak ada tulisan HALAL nya, jadi masih agak meragukan juga. Buat yang khawatir, lebih baik jangan dimakan deh.
Opsi yang ada adalah restoran melayu yang jumlahnya sedikiiiiitttt banget, atau restoran India muslim (a.k.a restoran Mamak) atau ke Cafe dan Restoran Fast Food yang sebenernya menjadi opsi terakhir buat petualang ala kadarnya ini. hehehe.. Pilihan ke dua yang akhirnya sempet gua ambil. Makan Nasi Briyani khas India dengan ditambah ikan bakar ternyata top bgt! atau emang gua yg lagi laper aja ya?? hmmm...boleh jadi. Gua juga sempet mengidam-idamkan suasana makan malem di kafe tenda pinggir pantai Batu Feringghi. Tapi ternyata kafe tendanya gak ada. Mungkin gak boleh ada kaki lima dan jajanan pinggir pantai gitu. huhuhu..sayang sekali. Yang ada malah semacam foodcourt di tepi jalan raya. Tapi gak menghadap ke pantai. Jadi gak seru deh. Cita-cita untuk nyobain dim sum khas penang juga gak kesampean. sayang banget... Lain kali deh kalo ada kesempatan balik lagi ke sini, pasti gua cari!Lalu..Masalah yang ke-3 adalah transportasi. Di brosur yg gua dapet dibilang ada free shuttle bus yang melewati objek-objek wisata utama di Georgetown. tapi ternyata...bis itu adanya cuma Weekdays! hahaha...Lha gue datengnya pas Sabtu-Minggu- dan Senin yang lagi hari libur Nasional di Malaysia. Mau cater becak juga sebenernya bisa sih. tapi muahaalll. itungannya perjam 30 ringgit (sekitar 100ribu). Duh makasih deh. Toh jalan kaki juga masih bisa dijangkau kok. lebih enak malah, bisa nyelip-nyelip ke gang-gang kecilnya.
Most of all, yang paling bikin adem dan menyenangkan adalah suasana pantai Batu Feringghi. Walaupun awalnya gak niat mau ke pantai (gak heran gue rada saltum) tapi toh kerasa sayang aja udah sampe Pineng tapi gak ke Batu Feringghi, pantainya yang katanya lumayan ngetop itu. Okeh, nekat lagi deh! Dengan naik bis yang lebih berupa roller coaster, tiket cuma 2 ringgit, melewati tebing-tebing curam pinggir pantai dalam waktu gak lebih dari 1 setengah jam, akhirnya sampe juga gua di tepian pulau ini. Ah.. ini toh Batu Feringghi..
Pantainya kalo gua bilang sih biasa aja, gak jauh beda dengan pantai-pantai di Lampung. Gak juga sebagus pantai di Bali atau Lombok atau Phuket. Tapi karena pada dasarnya gua adalah perempuan yang selalu jatuh cinta dengan laut, jadinya tetep syahdu terasa. (halaaahh...)Enaaaakkkk banget tiduran di atas batu besar dan datar yang teronggok di pojokan tebing, sambil menengadah ke langit menunggu sunset. Mengosongkan pikiran, menghirup udara dalam-dalam, menginjak pasir halus, dan mengobati kerinduan pada aroma laut, hmm.. gak pengen pulang rasanya. Lupa deh gua sama urusan thesis, sama kerjaan di kampus, sama bacaan yang menumpuk. Hehehe. Amnesia sesaat. Itung-itung escaping for a while, deehh...
Aaah...suka suka suka!!
Jadi kesimpulannya yaa, Pineng itu keren abis! Recommended deh buat yang mau liburan. Gak terlalu mahal juga kok. Asal pinter-pinter aja nyari promosi paket liburan murah. Intinya, kalo lu belum sanggup ngumpulin duit buat ke Eropa, atau kejauhan kalo mau ke Cina, atau belum berani ke India, jawabannya ya ke Pineng aja deh. Ini paket kombonya yang mantab.
See it by your self!

Dan ah.... speechless. Akhirnya jadi juga gua memulai perjalanan gua sendiri. Dengan uang tabungan sendiri yang tadinya buat beli MP4 baru (menggantikan almarhum MP4 pink dangdut gw yg udah hancur). Untungnya gw sempet mikir ulang waktu mo beli MP4 itu (takut jiwa gw bertambah autis dengan kemana-mana pake headset. Hehehe..) Nah sekarang uangnya bisa dipake buat jalan-jalan deh. Ada hikmahnya kan!
Gua sih percaya ya, ini emang udah waktunya gua memulai perjalanan. Gua gak merencanakan ini dari jauh hari loh, baru sekitar 2 minggu yg lalu. Semuanya serba dadakan deh.. Tapi kan di buku Traveler’s Tale dibilang bahwa untuk bisa mewujudkan mimpi keliling dunia, all you have to do is taking the first step! Gak usah banyak pertimbangan, gak usah banyak mikir, mulai aja! Nah gua sendiri merasa yakin kalo gua sudah mulai melangkah pertama kali itu ketika sampe di Malaysia. Dalam hati gua bilang, pasti suatu saat akan ada tempat-tempat lain lagi yang akan gua datangi. Dan sekarang, (walaupun masih juga di negara Malaysia) paling gak gua udah melebarkan langkah sedikit ke utara. Mudah-mudahan yang lain bisa dipijak juga secepatnya. Hehehehhe. Amin.
Ya sudah, malem ini gua mau tidur cepet. Besok mau berangkat pagi-pagi soalnya. Do’akan semoga perjalanan lancar dan baik-baik aja ya. Tunggu deh, begitu pulang pasti gw bakalan posting cerita perjalanan gw plus foto-fotonya juga.
See ya on Tuesday!




Dan satu hal yang bikin gua pengen nangis ngeliatnya adalah, katika lagi tahlilan bareng dan mengucap do'a untuk kedua orang tua mereka, gua melihat salah seorang anak (yang mimpin do'a waktu itu) menutup rapat-rapat matanya, sampe keningnya berkerut dan nafasnya tertahan sebentar. Keliatan kalo dia sebenernya nahan nangis...Selamat malam Tuhanku, aku tak bisa tidur lagi malam ini. Dan dalam keterjagaanku, begitu banyak tanya yang menghampiri. Aku tak tahu dari mana munculnya semua itu. Tapi yang aku tahu, hanya Engkaulah Yang Maha Tahu. Maka kuputuskan untuk bertanya saja pada-Mu agar bisa menguraikan segala kebimbanganku.
Tuhanku, mengapa Adam kau turunkan ke bumi hanya karna Ia memakan buah khuldi? Apa salahnya buah khuldi? Mengapa buah itu tak boleh dimakan? Kalau memang benar-benar tak boleh dimakan atau bahkan sekedar didekati, lalu mengapa Engkau menciptakannya? Apakah hanya untuk menguji kepatuhan Adam dan Hawa pada-Mu? Apakah hanya untuk memberi peluang bagi iblis untuk memenuhi janjinya (mengganggu umat manusia)? Ataukah Engkau memang sudah menyusun sebuah skenario untuk mengutus Adam ke bumi, dan ini semua adalah bagiannya?
Tuhanku, lalu mengapa pula Adam Kau turunkan ke bumi? Mengapa tidak ke tempat lain? Mengapa bukan ke Pluto atau gugusan bintang yang lain? Apakah memang benar bahwa kehidupan hanya ada di bumi? Tapi mengapa hanya ada di bumi? Mengapa Engkau menciptakan kehidupan hanya di atas bumi dan tidak pula di tempat lain? Bukankah semesta-Mu begitu luasnya? Begitu istimewanya kah bumi-Mu ini?
Tuhanku, mengapa pula Engkau masih perlu bersumpah pada apa yang Kau ciptakan ketika Engkau berfirman? Kau bersumpah demi malam, demi siang, demi matahari dan bulan, demi langit dan hamparan bumi, demi fajar, demi jiwa dan penyempurnaannya, demi tin dan zaitun, demi Makkah, demi masa, bahkan demi kuda-kuda perang yang berlari kencang... Sungguh, hanya Engkau lah yang Maha Benar. Namun mengapa Kau masih juga bersumpah? Apakan manusia-manusia ini sedemikian lalainya dan masih juga tak kan percaya pada kebenaran-Mu?
Ya Khaliq Ya Tuhanku, maafkan aku yang mungkin terlalu ingin tahu. Ampuni aku jika pertanyaan ini menyinggung-Mu. Sungguh, aku hanya hamba-Mu yang terlalu haus dan dahaga. Yang merasa malu dan rugi jika tidak menggunakan nikmat akal yang Kau berikan. Aku hanyalah hamba-Mu yang kerdil, yang tak tahu apa-apa. Yang mencoba membaca-Mu melalui semesta. Tuhanku, hanya pada-Mu aku memohon ampun. Hanya pada-Mu aku memohon petunjuk.
Umm...Tuhan, satu pertanyaan lagi: Apakah Engkau memang menciptakan dia untukku?
You Are 60% Abnormal |
![]() You are at high risk for being a psychopath. It is very likely that you have no soul. You are at medium risk for having a borderline personality. It is somewhat likely that you are a chaotic mess. You are at medium risk for having a narcissistic personality. It is somewhat likely that you are in love with your own reflection. You are at medium risk for having a social phobia. It is somewhat likely that you feel most comfortable in your mom's basement. You are at medium risk for obsessive compulsive disorder. It is somewhat likely that you are addicted to hand sanitizer. |
Yang disamping ini adalah makanan dari Nigeria. hidangannya ada daging sate tapi tusuknya kecil-kecil dan diselang-seling sama cabe paprika, ada juga nasi yang sepintas kaya' nasi goreng, ada sambel goreng udang, ada yang mirip-mirip pisang goreng, dan yang bulet-bulet itu adalah ubi yang dipadetin. Kalo yg ditengah itu..duh, gua lupa itu sayur apaan. Hmm..sekilas kayanya sama aja ya dengan makanan Indonesia, tapi ternyata rasanya beda banget. hehehe.. rada tertipu juga sih. Gua gak sempet nyobain semua, soalnya rebutan. hehehe. Tapi menurut testimonial temen-temen gua, rasanya aneh! aneh gak enak gitu. huehehehe...
Nah kalo yang ini, makanan dari Sudan. Ini adalah kentang dicampur daging cincang dicampur saos yang enak bangeeedd. Dagingnya empuk.Kentangnya lembut. Saosnya pedes manis, gimanaaa gitu..Enak lah! Harusnya sih makannya pake nasi, cuma gua mengantisipasi kekenyangan sebelum nyoba semuanya, jadi nasinya ditinggal dulu. hehehehe.. strategi yang baik, bukan?!
Yak, ke stand selanjutnya, kita ke Libya. Wheww..jangan kaget dulu ngeliat buntelan coklat di pinggir piring itu. Pasti mikirnya kaya something deh. hehehe, warna aslinya sih ijo tua. Walopun penampilannya agak meragukan, tapi ternyata lumayan enak. Itu adalah nasi campur daging alus, yang dibalut sama sayuran hijau, trus dikukus, eh apa direbus ya? Pokoknya semuanya jadi lembut. Makannya dicampur pake acar, yang ada di sebelahnya itu. Acarnya cantik, warna-warni. hehehe (acar kok cantik..) Lalu, yang paling kiri berwarna kuning itu adalah taburannya. Kaya' serondeng kalo di kita sih. Cuma bedanya ini ada rasa-rasa kembang setaman gitu. Hahahha.. aneh. Agak susah ditelan jadinya.
Okeh lanjut! next stop is Iran. Masih belun kenyang rupanya. hehehe. Nah, diantara yang diatas itu, ini kayanya yang paling enak deh. Yang ada ijo-ijo itu kalo di kita mungkin disebutnya omelete sayur. Karna di dalemnya emang sayuran dan didadar pake telor gitu. Lalu yang berwarna coklat di deket sendok itu, nah itu kaya kornet, karna ada daging halusnya. Tapi ternyata itu adalah campuran daging dengan terong yang dihaluskan. iya.. TERONG! hahaha. tapi enak. Lalu coklat-coklat yang dibawah itu adalah nasi, campur kismis dan kacang merah. Enak juga. lembuutt.. dan yang paling bawah warna putih itu mayonaise. Sebetulnya itu adalah pasangan untuk makan si telor sayur itu. Cuma karna yang nyobanya masih pada dusun, di campur-campur aja deh semuanya. hahaha..
Abis ke sana-sini, pasti gak lupa mampir ke stand makanan Indonesia dong... Ada ,siomay, ada gado-gado, rujak aceh, soto padang, bakso dan bandrek! Yang tampak menggiurkan disini adalah siomaynya.. montok! haha..Dan emang cuma siomaynya aja yang sempet gua cobain disini. Abis menggoda bangeeett. Nah, kalo orang-orang asing itu keliatannya agak-agak ragu makan-makanan Indonesia, soalnya terkenal pedes. Padahal mah bumbu siomay doang gituu. Tapi kalo temen-temen Malaysia gua lumayan suka makanan kita. Bahkan ada yang doyan banget sama pecel lele. hehehe.. Yang asik sih itu, minumnya bandrek. Pas banget dengan cuaca yang dingin dan lagi ujan dari tadi sore. Untuk lidah orang indonesia sih mungkin pas. Tapi buat orang timur tengah, mungkin aneh. huhehehehe..
Perhentian terakhir, kita ke Jordania. Disini menunya didominasi sama nasi. Nasinya juga mirip-mirip sama yang dari iran, pake kismis. Makannya boleh pake ayam yang dikukus dengan bumbu, ada juga acar bawangnya, dan ada sup. Supnya kental, sekilas kaya' kuah opor ayam. Tapi pas gua tanya sama yg jaga stand, dia bilang itu milk soup. Okeh, kalo gitu gua coba deh. Dikit aja dulu.. Dan ternyata pas gua coba... duh, aseem. Kaya' yogurt (ini kalo bahasa sopannya), tapi lebih kaya' susu basi (haha..ini bahasa yg agak gak tau diri..) But, most of all, berhubung ini stand terakhir yg gua kunjungi, gua milih makan nasinya. Biasa laaahh orang Indonesia, udah makan ini itu tapi kalo belun makan nasi ya namanya tetep aja belum makan. Hihiihi.. Tapi alasan utamanya sih, hari itu gua puasa, dan gak sempet sahur pula. Jadi kayanya closingnya emang harus pake nasi deh.


Setelah tahun lalu gagal mengikuti acara sakral ini (baca postingan setahun lalu kalo merasa itu perlu), maka tahun ini hukumnya jadi wajib bagi gua untuk pergi ke Wisma Duta, KBRI untuk ikut acara 17an. Soalnya, mudah-mudahan sih ini tahun terakhir gua ada di sini, tahun depan kan udah lulus...hehehe.. (mari kita amini bersama-sama)
Bangun pagi, lalu mandi dan berbaju batik, gua dan rombongan pelajar lainnya berangkat ke Wisma Duta KBRI di Kuala Lumpur jam 8 pagi dengan bis sekolah dan bis pekerja (belakangan banyak yg komplain karna kebagian naek bis pekerja. Kita bahas ini belakangan ya..) Dan sayang sekali, sampe sana ternyata kami udah telat...yaaahh...Gak ikutan upacara (lagi) deh.
Pas sampe sana, ternyata lagi acara penaikan bendera merah putih dan lagu Indosesia Raya sedang berkumandang. Yang telat dateng ternyata rame juga, dan gak boleh masuk karna pasti akan mengganggu. Jadi terpaksa menunggu di luar gerbang sampe upacara selesai deh. Jadi inget jaman SMP, suka telat upacara trus disuruh baris di depan gerbang. Hehehe... Pinggir jalan raya pula! Hehe..
Begitu boleh masuk, yang dikunjungi pertama adalah apalagi kalau bukan stand makanan Indonesia. Yay, akhirnya bisa ketemu ketoprak, siomay, mi ayam, bahkan bakwan dan lemper! Hahahha...girang banget! Jadi agenda siang itu adalah MAKAN-MAKAN.
Soalnya abis upacara ya gak ada acara lain. Paling beramah tamah sama pejabat kedutaan (yang gua juga gak tau bapak-bapak itu siapa dan jabatannya apa). Pak Da’i Bachtiar sendiri yang sekarang menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Malaysia malah gak berbaur dangan para tamu.
Oh iya, ada bintang tamu lain yang gak kalah seru: Inul (yang konsernya di KL sempet dilarang oleh pemerintah Malaysia), Mpok Ati, dan Mocca. Gua sih sebenernya gak sabar banget pengen ngeliat Inul trus minta foto bareng sama dia, hehehe..boong deng! Gua mah pengen liat Mocca-nya aja. Cuma berhubung mereka tampilnya udah siang dan rombongan gua harus pulang, gak jadi deh..huu, sayang ya.
Nah, kembali ke masalah komplainnya beberapa orang ttg bis yang dinaiki dan shownya Inul yang agak-agak mendominasi dibandingkan peringatan kemerdekaannya sendiri, gua punya pendapat nih.
Kalo soal konsernya inul, beberapa orang –terutama dari kalangan mahasiswa- protes karna aksi ngebornya inul yang agak-agak heboh. Tapi kalo menurut gua justru ini menjadi hiburan yang berarti banget buat para TKI itu. Mereka rela panas-panasan, mungkin ada yang dateng dari jauh, hanya untuk menghibur diri dan merayakan kemerdekaan. Coba kalo yang diadakan adalah acara seminar internasional tentang pendidikan, atau tentang hubungan bilateral Indonesia-Malaysia, apa mereka gak bete?
Nah, kalo soal bisnya, mungkin bagi sebagian orang, naik bis pekerja (yang kalo disini diidentikkan dengan rombongan TKI) agak terasa memalukan. Lho emang kenapa sih? Kalo menurut gua sih, biasa aja lah.. Pelajar atau pekerja, itu Cuma masalah status. Dan siapa bilang pekerja itu derajadnya lebih rendah dari pelajar? Mereka justru menjadi penyumbang devisa negara loh, sedangkan beberapa pelajar malah minta disekolahin sama negara. (mhehehe...maap loh ya, gak bermaksud menyinggung siapapun)
Dan sayangnya, emang masih banyak yang membedakan kedua golongan ini. Pihak kedutaan sendiri juga kelihatannya masih saja membeda-bedakan. Contoh nyata: Pelajar dan Mahasiswa ngambil makanan di sebelah sini, sedangkan pekerja di sebelah sana. Pelajar dan mahasiswa dapet nasi kotak dan lauknya ada dua, sedangkan pekerja Cuma dapet lauknya satu. Pelajar dan mahasiswa boleh masuk ke dalam ruangan dan beramah tamah dengan pejabat kedutaan, pekerja... sana aja deh..nonton inul.
Tuh kan..?? Siapa coba yang gak adil?
Sadar gak sih ketika mereka mendapatkan perlakuan tidak adil dari majikannya kita lalu protes dan mengatakan bahwa mereka juga manusia, bahwa mereka adalah pahlawan devisa yang seharusnya juga diperlakukan secara layak. Lha sedangkan kitanya sendiri masih suka berlaku gak adil sama mas-mas dan mbak-mbak ini.
Terfikir gak sih, bahwa mungkin aja inilah satu hari dalam setahun mereka bisa keluar dari rumah majikannya dan berbaur dengan rekan-rekan se tanah airnya. Sedikit udara kemerdekaan dari setahun penuh keringat dan kerja keras. Tapi kenapa mereka belum juga mendapatkan keadilan, bakan di “rumah” yang harusnya mengayomi mereka? Dan kenapa mereka belum juga mendapatkan keadilan di hari yang katanya Indonesia sudah merdeka?
Terfikir gak sih tentang mereka??
Terfikir gak sih kalau mereka juga ingin merdeka?