Showing posts with label books. Show all posts
Showing posts with label books. Show all posts

Sunday, April 06, 2014

Banyak hutang!!!

Hahaha...lama banget ya blognya gak ada tulisan baru. 6 bulan! Mana tuh katanya yang mau mencoba konsisten posting setidaknya sebulan sekali?? Hahahaha...syudahlah

Ada yang bilang katanya kalo seseorang lagi nggak sibuk di dunia maya, biasanya berarti dia lagi sibuk di dunia nyata. Saya sih nggak. Sibuk apa coba? Ngurus negara? Hahaha.. ya standar aja sih, males. Lagi kering ide, nggak tau mau nulis apa.

Ini aja sambil elap-elap blog yang debuan, masih mikir bakal nulis apaan.

Oh iya, lagi banyak utang bacaan sih sebenernya. Sementara ini masih ada 5 buku yang menanti entah kapan bakal bisa dibaca. Gitu deh saya, beli-beli, bacanya entah kapan. Abis di beli, di buka plastiknya, diendus-endus bau kertasnya, disampul plastik yang rapi, disusun di rak buku berjejer sama buku-buku lainnya, dipandang-pandagin.. Dibaca? Insyaallah. Hehehee..

Yaudah sih, yang penting niat :D

oh, tumpukan hutang-hutangku!

Nih, coba deh saya review sedikit ya.

Dari yang paling bawah, ada Kairo, Kota Kemenangan. Ini buku sejarah dan antropologis tentang Kairo yang ditulis oleh jurnalis Max Rodenbeck. Sejauh ini baru dibaca sampe bab II. Saya suka pemerhatiannya yang detil, maklum jurnalis. Cara bertuturnya juga enak, bikin saya merasa seolah-olah ada di sana. Si Max ini dalam bayangan saya, sedang duduk di sebuah cafe, yang posisinya agak tinggi, mungkin lantai 2 atau 3, di samping jendela kaca yang lebar, dan di hadapanya ada laptop dan minuman hangat. Dari jendela kaca itu dia celingukan mengamati orang-orang lalu lalang, bangunan-bangunan tua, pasar, jalanan, dan riuhnya kehidupan di Kairo. Terus apa yang diliatnya langsung diketik di laptopnya. Hehehe...bayangan saya sih gitu. Saya lagi seneng-senengnya baca buku ini. Tapi rada dilematis juga sih, suka bacanya dan penasaran sama ceritanya, tapi juga sayang kalo satu buku ini dihabisin sekaligus. Problema. Hahaha

Di atasnya Kairo ada buku DeHarmonie. Ini novel roman dengan setting Batavia tahun 20-an. Kayaknya sih menarik. Saya beli karena lagi diskon. Harganya jadi cuma 20.000. Untuk novel setebal 384 halaman dan kualitas kertas yang bagus, itu murah banget jadinya. Murah kan? Saya begitu ngeliat novel ini di tumpukan buku-buku diskon, langsung ngebayangin kamar bola Harmoni yang selalu disebut-sebut dalam Tetralogi Pulau Buru-nya Pramoedya. Era-era batavia awal itu... entah ya... buat saya menarik aja. Nah, berdasarkan sinopsisnya, novel ini katanya penuh intrik, sangat detil, penuh suspense, sekaligus bernilai historis yang amat kaya data, disajikan dengan alur mengalir bak telaga. Oke. Tapi sejauh ini belum dibaca sedikitpun. Baru disampul plastik dan diendus-endus doang. Hehehe.

Di barisan tengah, ada Panggil Aku Kartini Saja, tulisannya Pramoedya Ananta Toer. Entahlah, buku ini kayanya sudah 5 abad di tangan saya. Dibawa kemana-mana. Tapi nggak selesai-selesai juga bacanya. Banyak banget distractionnya ketika membaca dan mencoba khusyu', alhasil sampe hari ini baru sampe bab 3 akhir. Loooong way to go. 


Di atasnya lagi ada buku Islamic Golden Perspective, Benang Merah Sejarah Islam. Ini bukunya ditulis oleh Tutik Hasanah, S.Th.I.  Belum dibuka plastik segelnya. Katanya sih ini menyajikan sejarah yang luas tentang penciptaan, kenabian, persebaran manusia, ragam budaya dan peradaban, Nabi Muhammad dan juga Khulafaur Rasyidin. Saya sih agak skepstis, buku yang gak tebel-tebel amat ini menyajikan sejarah yang luas dan membahas secara mendalam tentang hal-hal itu tadi. Tapi saya beli ini sebagai pengantar aja, nantinya mau nyari kumpulan ensiklopedi Islam untuk pemahaman yang lebih spesifik. Buku inimah preambulnya aja... Ngomong-ngomong, penulisnya punya titel S.Th.I, itu maksudnya apa ya? Sarjana Theologi Islam kah?? Baru denger saya....

Nah terakhir, buku yang di tumpukan paling atas, yang warnanya paling gonjreng ini, judulnya The Journey to be The Ultimate U #2, kumpulan tulisannya Rene Suhardono sang career coach dan selebtwit itu :D  Banyak yang bilang tulisannya cerdas, nampar, dan menggugah. Tapi hmmm....saya kok nggak 'kena' ya? Satu-satunya hal yang saya suka di buku ini adalah, setiap akhir satu tulisan, disediakan space kosong satu halaman untuk kita nulis-nulis corat-coret apa yang ada dipikiran kita. Ya semau-mau aja, kan buku kita. Oh iya, bukunya juga banyak gambar-gambar dari orang kreatif.  Keren sih. Tapi entahlah, warnanya yang orange itu menyakiti mata saya. Selebihnya, tulisannya biasa aja menurut saya.. Hanya berhasil menuntaskan beberapa tulisan aja, dan belum lanjut baca lagi.

Nah itulah dia sedikit ulasan dari buku-buku yang lagi dan akan saya baca.
Saya kayanya belakangan lagi suka baca-baca yang berhubungan dengan sejarah deh. 3 dari 5 hutang buku itu temanya tentang sejarah. Trus kemarin-kemarin juga sempet iseng-iseng belajar sedikit-sedikit soal Perang Dunia II. Kalo ke museum-museum gitu sih emang udah dari dulu. Eh, apa jangan-jangan saya ini emang penyuka sejarah ya?

Ah, impulsif aja mungkin.
Dulu waktu baca bukunya Dee yang partikel juga jadi tertarik soal Arkeologi dan peninggalan-peninggalan zaman megalithikum. Baca Bilangan Fu jadi penasaran soal candi-candian. Ini, entah apa lagi nanti.

Sunday, June 26, 2011

Book review: Jakarta tanpa mall

Hey kamu-kamu yang ada di Jakarta, pernah nggak jalan-jalan sama temen atau keluarga tapi bingung mau kemana? Mengeluh bahwa di Jakarta ini udah kurang tempat wisata dan ujung-ujungnya malah end up keliling mall. Pernah? Pernah?? Toss! Hahaha..
Kalau begitu, berarti kamu perlu baca buku yang satu ini:


Oleh Ade MulyaniWieke Dwiharti
Yes, ini adalah buku panduan lengkap tentang objek-objek wisata yang ada di Jakarta. Mulai dari museum, taman-taman kota, wisata alam, objek-objek bersejarah, pasar, flora dan fauna sampai objek khusus bagi penyalur hobi-hobi tertentu. Ada pasar burung, pasar batu perhiasan, pasar barang antik, pasar kembang, dan banyak lagi. Sebetulnya waktu saya ke toko buku beberapa hari yang lalu, saya masih nyari buku 47 Museum yang ada di Jakarta, yang begini nih penampakannya:


dikarang oleh Edi Dimyati
Tapi bukunya pak Edi Dimyati ini sekarang agak susah ditemui. Eh saya malah gak sengaja ketemu sama buku yang tadi. Harganya memang mahal sih, Rp 98.000. Saya sempet mikir-mikir juga mau belinya. Tapi begitu liat sampel yang sudah kebuka plastiknya, saya langsung jatuh cinta.. ^__^

Buku ini lengkap banget. Yes, LENGKAP! dengan 280 halaman yang tipis (seperti halaman majalah intisari) isinya bisa dibilang benar-benar padat bergizi. Ada sekitar 60 lokasi menarik yang dibahas di dalamnya. Bukan cuma menjelaskan masalah itu tempat wisata macam apa, tapi dilengkapi juga dengan sejarahnya, fakta-fakta tersembunyinya, juga dilengkapi dengan informasi pakaian macam apa yang perlu kita pakai ketika berkunjung, harga tiket masuknya, jadwal dan jam buka, fasilitas yang tersedia, tempat untuk cari makan di sekitarnya, peta lokasi menuju ke sana, nomor kontak untuk reservasi, dan tentu saja foto-fotonya. Fotonya banyak, dan halamannya berwarna semua! Hohoho..saya suka!  Oh iya, bahkan ada juga tips yang diberikan untuk belanja dan tawar-menawar harga lho! hehehe.. Keren kan?

Buku ini cocok banget dibaca sama orang tua yang bingung mau ngajak anakanya ke mana lagi selain mol dan ancol. Cocok juga buat kamu-kamu yang suka ngebolang keliling kota. Seriously, kamu akan tersadar bahwa banyak lho tempat menarik di Jakarta! Dan harga 98.000 nya beneran worth-it.

Saran saya, buku ini jangan sekali dibaca langsung habis. Tapi baca satu-satu tentang objek tertentu, bahkan jadikan buku panduan ketika kamu jalan-jalan. Bikin check-list tempat-tempat mana aja yang mau kunjungi. Bawa buku ini kemana-mana, taro di tas, atau dashboard mobil, kali aja lagi iseng jalan sama temen trus bingung mau kemana lagi. Hehehe.. Bukunya ringan kok, handy, informative but suprisingly enjoyable!

Baiklaah...selamat membaca dan selamat keliling Jakarta yaa.. dan tolong, usulkan saya sebagai putri pariwisata Jakarta ke bang kumis Foke itu. hehehe...
*kidding ah!


gambar dipinjem dari sini dan sini



Sunday, May 08, 2011

Hutang bacaan



Beberapa bulan yang lalu saya membeli tetralogi Pulau Buru-nya Pramoedya. Sampai detik ini baru satu setengahnya yang saya baca.
Lalu bulan kemarin, saya dapat 3 jurnal penelitian yang juga penting untuk dibaca, tapi sampai sekarang sama sekali belum saya buka. Hehehe..
Eh..Minggu kemarin saya malah belanja buku lagi. Pulang dari keluyuran sendirian, dengan senang hati saya menenteng 3 buku baru:


Kicau Kacau - Indra Herlambang
The Grand Design - Stephen Hawking dan Leonard Mlodinov
dan The Story of My Life - Hellen Keller

Ini pun sudah hasil pilah pilih dan pertimbangan yang cukup panjang selama saya mondar-mandir diantara rak-rak di toko bukunya. Bahkan ada buku yang sudah saya ambil, eh gak jadi, ambil lagi, eh taro lagi... Hehehhe..


Meh! Hutang bacaan saya banyak! 
Ah tapi saya suka. Biarlah.
Sekarang, mari mencicil hutangnya....


  

Monday, May 31, 2010

dan saya menangis, sodara-sodari...

Awal bulan yang lalu akhirnya saya beli buku lagi setelah sekian lama gak baca atau beli buku selain text book.. Toto-chan's Children judulnya.

Familiar sama nama Toto-chan? Ya, dia adalah si gadis kecil nan lincah yang duduk di tepi jendela itu. Dan buku yang baru saja saya beli ini adalah lanjutan kisah Toto-chan itu sendiri. Tapi di sini dia bukan lagi anak kecil yang asik sama dunianya sendiri. Di sini dia sudah menjadi seorang wanita dewasa, aktris populer di Tokyo, yang kemudian diangkat menjadi duta kemanusiaan untuk UNICEF dan mengunjungi daerah-daerah konflik di beberapa benua.

Saya, sejak dulu sudah jatuh cinta dengan Toto-chan kecil. Imajinasinya, kecerdasannya, keluguannya dan semangatnya yang gak ada habisnya. Di samping itu, sejak dulu juga (sebelum baca buku ke-2 ini) saya bermimpi, suatu saat saya ingin, ingin sekali, menjadi volunteer, atau bahkan kalau Tuhan mengizinkan, menjadi duta UNICEF. Maka menemukan buku tentang si Toto-chan yang mencatat perjalanannya selama menjadi duta UNICEF, saya nggak pikir panjang lagi untuk membeli bukunya.

Tapi, demi Tuhan, jangan sekali-kali berfikir bahwa buku ini akan penuh tawa seperti kisah Toto-chan kecil. Jangan.

Saya, ketika membuka lembar-lembar pertamanya saja sudah berkali-kali terkesiap dan menahan nafas mendapati begitu banyaknya fakta yang membuat miris membacanya.

Tentang anak-anak pengungsi di afrika yang ternyata tidak pernah sekalipun melihat gajah dan jerapah. Tentang anak-anak korban perang yang selalu menahan sakit dalam diam. Tentang bocah Mozambik yang terpaksa minum air berlumpur. Tentang bocah kecil India yang sekarat, dan nafasnya hanya bergantung pada tangan si ibu yang memompakan udara.

Dan saya menangis...
Ya, pertama kalinya sebuah buku bisa membuat saya menangis.

Saya bahkan bukan hanya menangis, tetapi juga menahan muntah ketika sampai di bab lima di mana dikisahkan tentang bagaimana kejamnya pembantaian anak-anak di Kamboja.

Pada bab itu, saya hampir-hampir memutuskan untuk berhenti membaca bukunya. Sumpah, saya nggak sanggup melanjutkan buku itu. Sebulan sejak buku itu saya beli, hingga kini saya belum juga menghabiskan separuhnya. Kegetiran yang ada di dalamnya kadang membuat saya terpaksa berhenti membaca dan menginggalkannya selama beberapa hari.

Saya nggak sanggup membayangkan kepedihan macam apa yang dirasakan "anak-anak Toto-chan" itu. Saya bahkan merasa bersalah ketika membaca buku ini sambil ngemil keripik kentang dan minum ice lemon tea :(

Oh ya, satu hal lagi.
Kalau kamu adalah seseorang yang lahir dan tumbuh besar pada era 1978-1990an, di mana kamu bisa minum susu hingga kegemukan, tidur di kasur yang empuk dan nyaman, di tengah-tengah keluarga yang utuh dan penuh kasih sayang, maka BERSYUKURLAH!
Karena pada saat yang sama ketka kamu minum susu atau merengek minta mainan itu, ada anak-anak lain di belahan dunia lain yang tengah meregang nyawa dalam kebisuan.

Maka bersyukurlah, teman. Bersyukurlah.

Sunday, July 12, 2009

Secret key to the universe

Saya suka sama astronomi. Entah bagaimana awalnya saya bisa suka sama bidang ini, saya juga gak inget. Yang pasti, sejak SMP dulu saya suka nangkring di atas genteng rumah malam hari dan ngeliatin bintang sampai berjam-jam dan kedinginan. Tapi dulu cuma sebatas melihat, nggak sampai belajar lebih jauh.

Lalu seiring perkembangan waktu, semakin kesini saya makin suka sama langit dan semesta. Maka saya mulai sedikit demi sedikit mencoba memahami ada apa di atas sana. Mengapa, bagaimana, sejak kapan, menjadi pertanyaan yang terus berulang-ulang di kepala saya dan mendorong saya mencari jawabannya. Mencoba membaca semesta melalui imaji dan logika.

Pengetahuan saya di bidang ini masih dangkal banget. Makanya saya coba baca buku yang level basic-nya dulu sebagai bahan pemahaman awal. Untungnya sekarang banyak banget buku astronomi untuk anak-anak. Mulai dari yang tipis, buram, item putih, sampe yang hard cover, elegan dan penuh gambar-gambar berwarna. Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Menarik atau membuat ngantuk, pokoknya saya baca. Kadang saya masuk ke toko buku atau berkunjung ke pameran buku, sengaja untuk mencari buku astronomi for kids. Sekali lagi, FOR KIDS ya. Karna otak saya belum nyampe untuk belajar tentang fisika kuantum, teori relativitas atau supermasive black hole secara lebih mendalam. Dikhawatirkan kejang-kejang. Hehehee...

Nah, ini buku yang baru selesai saya baca. ‘George’s secret key to the universe’. 

Ini novel anak-anak. Ceritanya tentang anak kecil bernama George yang hidup dalam keluarga konservatif. Bapak ibunya adalah aktivis lingkungan, yang nggak mau punya kendaraan, alat elektronik atau benda-benda berbau teknologi. Semuanya ramah lingkungan, makan hasil tanaman kebun sendiri, bahkan makan malam dengan cahaya lilin. Padahal, George ingin sekali punya komputer. Baginya komputer adalah benda yang sangat pintar dan bisa membantunya menjawab segala rasa ingin tahunya tentang dunia dan semesta. 

Lalu suatu ketika, babi peliharaan George lari menerobos pagar belakang kebun dan masuk ke halaman rumah tetangganya yang tampak horor dan sudah terbengkalai. Tapi ternyata, di rumah itu tinggal seorang ilmuwan fisika bernama Eric dan anak perempuannya, Annie. Dan oh, Eric punya komputer supercerdas bernama Cosmos! Dan hebatnya lagi, Cosmos bisa membuka jalan rahasia menuju petualangan ke alam semesta. Maka kemudian, George sedikit demi sedikit mulai mendapatkan jawaban dari rasa ingin tahunya. Bukan hanya itu, George juga bisa mengalami sebuah petualangan seru, yang bahkan bisa membahayakan nyawnya sendiri dan nyawa orang lain! Hohoho... seru, bukan???


Buku ini ditulis oleh Stephen & Lucy Hawking. Stephen Hawking sendiri disebut-sebut sebagai fisikawan paling cerdas setelah Newton dan Einstein. Kalau saya bilang, dia supergenius, padahal badannya lumpuh total. (googling aja sendiri kalo mau tau lebih banyak. He’s so amazing!) Sedangkan Lucy, tak lain adalah anaknya Stephen Hawking yang merupakan seorang penulis cerita anak-anak. Maka perpaduan antara bapak dan anak jenius ini, melahirkan buku cerita petualangan yang seru dan benar-bernar cerdas! Banyak banget yang bisa saya pelajari dari buku ini. 

Ah, saya jadi kepikiran, buku ini akan saya wariskan untuk anak saya kelak. 
Supaya dia bisa lebih mengenal tentang langit dan semesta di atas kepalanya 
Supaya dia menyadari betapa besarnya kuasa Sang Maha Pencipta, dan
Supaya dia tau, ibunya dulu pernah memandang takjub dan penuh tanya ke angkasa sana. 

Hahaha, mulai deh melankolisnya. :D

Oh iya, buku ini ada web-nya juga lho...
Kalo mau tau lebih banyak, klik dari side bar blog ini yah!