Monday, October 25, 2010

phuket: episode 4

Di jalan menuju hotel, mobilnya Nuchy membawa kami melintasi patong road yang bener-bener hidup malam itu.  Ah, rasanya sayang banget ya melewati keramaian begitu cuma dari balik kaca mobil doang. Akhirnya kami bertanya sama Nuchy, ada apa di situ? Tempat apa yang menarik? 
Boleh gak turun di situ aja? 
Tapi Nuchy bilang, nanti pulangnya jauh lho. Kalo naik tuk-tuk ongkosnya 200 baht. Kalo jalan kaki, pasti capek.
Ah, kami biasa jalan kaki kook.. 
Tapi jauuhhh, kata Nuchy lagi
Berapa lama?
Sekitar 30 menit berjalan kaki.
Aaahh...never mind..! *sambil pamer betis dengan gaya congkak* Hahaha... 

Maka turunlah kami di ujung jalan patong itu dan berjalan kaki kesana kesini. Hilir mudik, celingak celinguk sambil sesekali tawar-tawar kaos atau topi yang lucu. Lirak-lirik bule ganteng, komentar sana sini sambil tetep..cekakak cekikik. Hehehee


Bule-bule bertebaran. Di bom, mantep nih..hahaha
Patong road di malam minggu tak ubahnya Kuta Bali sebelum kena bom. Rame, seru, banyak bule bertebaran. Banyak cafe dan bar yang konsepnya open air, bahkan banyak juga yang jualan cocktail dan minuman sejenis hanya dengan gelar meja sebiji doang di trotoar. Hmm...pasti banyak yang teler deh di sini.

Rameeeee

Bar pinggir jalan

Awas, orang mabok nyebrang! hahaha

Kami melanjutkan jalan-jalan sambil usaha cari tempat makan yang halal. Gak banyak sih pilihannya. Kalau gak restoran Melayu, ya restoran timur tengah gitu (yang menunya terasa kurang membangkitkan selera makan kami malem itu. haish...) Lalu di sebuah tikungan, kami menemukan restoran India berlabel halal. Hmmm... masuk gak ya? Menunya agak aneh-aneh sih. Atau mau coba cari fast food aja? Ke rumahnya Ronal atau kakek-kakek janggut putih, gitu? Ah, masa udah sampe sini makannya fast food juga.. Coba yang lain deh. Maka kami melangkah masuk ke restoran itu. 
Saya dan beby (setelah baca menu sampai 15 kali khatam) akhirnya memutuskan untuk pesan Fish and chips aja. hehehehe.. menu yang aman. Sedangkan Alip pesan, umm...saya lupa namanya. Tapi kalo menurut menu, ada cheese-cheese nya gitu. Dan ketika pesanan datang, Alip bingung. Kejunya nyempil di mana ini ya? Kok isinya tahu bakar semua? Trus ditambah krim yang rasanya juga gak jelas. Rasanya?? iieeyww... Aneh!

kejunya sebelah mana?
Sebenernya kasian banget si Alip, dengan kondisi lapar berat dapetnya malah makanan beginian. Dan setelah dicermati dengan seksama, diicip-icip dikit, saya baru bisa menyumpulkan, kalo yang di bakar itu adalah kejunya!
"Iya lip... itu keju. Keju yang GELONDONGAN gitu", ujar saya menghibur Alip.
Dan alip hanya mengangguk takzim sambil bilang, "Anjrit!!"
Hahahhaaa...

Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan. Baru beberapa meter keluar dari restoran itu, kami melihat ada plang yang dengan gagah perkasanya memajang tulisan Burger King dan McD. Hahahaa..Jadilah Alip semakin sumpah serapah. Tidak pernah dalam hidupnya, tidak pernah.. dia sebenci itu melihat McD.
Hahahaha...

Ya sudahlah yaa..kita ikhlaskan saja. Mari lanjutkan perjalanan sambil mengunyah pancake coklat yang dijual di pinggir jalan. Beberapa ratus meter kemudian, tibalah kami di Bangla Road yang konon adalah red district di kawasan Patong. Yap, di sinilah kita bisa menemukan cewek cantik dan cewek jadi-jadian bertebaran di mana-mana. 


Along the Bangla Road

Don't be suprised, di sepanjang jalan ini banyak banget cewek (atau banci? beware! hahaha..) yang cuma pake bikini doang meliuk-liuk di tengah jalan. Striptease, tawar-menawar, rayu-merayu, foto-foto, apa saja lah. Bukan cuma bancinya, banyak juga kok agen-agen (kalo yang begini biasanya cowok tulen) yang menawarkan paket happy. Mau massage? Massage biasa atau Massage ping-pong? Ahahaha...tak perlu lah saya jelaskan apa bedanya kedua jenis pijatan itu di sini ya.

Yak, dipilih...dipilih.. :D

in front of Rock City. Yeeaahh..!!
tanpa sensoorrr.. :D


Lady or lady boy?? hahhaa..


Lolos melewati Bangla Road dengan pakaian yang masih utuh (lho?) kami terus menyusuri jalan sembil mengarah pulang ke hotel. Ah rasanya berjalan 30 menit sih gak terlalu jauh. Sesekali kami masih mampir di toko suvenir, penjual makanan, atau sekedar liat-liat aja. Tapi kok...ini jalannya gak abis -abis ya?? Kaki udah mau copot nih..
1 jam..
2 jam...
Anjrit! kok gak sampe-sampe?
ahahahaa... Itulah! Tadi bilangnya "never mind!"
Belagu sih. 


Alhasil, jam setengah 12-an gitu kami baru masuk hotel. Betis udah kaya atlit sepak takraw! Bah... untung si Alip bawa konterpen. Mana besok masih mau jalan-jalan dan island hopping  seharian lagi! Ah, sudahlah..kita liat aja apakah bangun tidur besok betis saya masih utuh atau sudah potel.
Jadi, ya sudah.. tanpa ba-bi-bu, kami langsung bebersihan, tarik selimut dan nungging di tempat tidur.


Ah, see you tomorrow everyone.. 

Tuesday, October 19, 2010

phuket: episode 3

Yak, setelah nyawa dan keseimbangan tubuh kembali normal setelah bungy jumping itu, kami melanjutkan perjalanan hari ke 2 menuju ke beberapa tempat. Yang didatangi pertama adalah sebuah Chinesse Temple, tapi saya gak tau namanya apa. Saya kalo jalan-jalan, kadang memang suka juga mengunjungi tempat-tempat ibadah seperti ini. Bukan hanya masjid, tapi juga kuil atau gereja atau klenteng atau yang lainnya. Di 3 tempat yang saya sebutkan terakhir itu saya datang bukan untuk ibadah tentunya, tapi saya memang pada dasarnya suka mengamati budaya, ritual-ritual atau bahkan properti keagamaan yang menurut saya unik. Seperti di sini:
 
Temple yg gak tau namanya apa..ah, kita sebut saja diaa..... Chinesse Temple!


 
 
Tapi sayang sekali, baru jeprat jepret sebentar di klenteng ini, langit yang tadinya cerah ceria tiba-tiba aja mendung. Jadilah saya dan tim hore ini balik lagi ke mobilnya Nuchy dengan keadaan yang lapar berat (lho?). Hahaha... Maka kami didrop oleh Nuchy di sebuah restoran Melayu Muslim untuk makan siang. Dia? ah, mungkin pacaran... (eh, saya belum cerita ya kalo selama perjalanan ini dia membawa seorang wanita yang diakuinya sebagai boT-nya. Ingat, dia tidak bisa menyebut huruf S. Hahahaha..) Kami dikasih waktu 1 jam untuk makan dan jalan-jalan sedikit di daerah Phuket Town. Saya gak tau itu nama jalannya apa, tapi yang jelas di kawasan banyak toko-toko pinggir jalan yang menjual baju, suvenir, makanan, cafe, dll.

Sight seeing di Phuket Town

Lucunya, berhubung di sini sebagian besar nama toko, billboard pinggir jalan, rambu-rambu lalu lintas atau sejenisnya ditulis pake bahasa Thai yang mana kami gak bisa baca tulisannya apalagi tau artinya, jadi
kami iseng iseng berhadiah main tebak-tebakan aja ini toko apa. Hehehee.. Dan Alip lebih aneh lagi, kalo ada plang dengan tulisan berbahasa Inggris, pasti dia membacanya dengan lantang lalu diikuti dengan cengengesan atau manggut-manggut setelahnya. Alasannya; 
 "mumpung bisa dibaca, mbak..." Hahahaa...

hayoo tebak, ini toko apa?? (temukan jawabannya di bawah postingan ini)

Setelah sempet beli kaos bertulisan phuket di salah satu toko yang ada, jam 3 teng kami kembali ke spot di mana Nuchy akan menjemput kami lagi. Yak, perjalanan dilanjutken..... Tujuan berikutnya adalah Cashew Nut Factory a.k.a sebuah pabrik pengolahan kacang mede. Dalam bayangan saya, pabriknya itu gedeeee dan pohon jambu medenya buanyaaakk gitu. Ternyata?? Hanya sebuah toko yang mengolah berbagai varian kacang mede (ada yang rasa asin, pedas, manis, crispy, dll), dengan hanya ada seorang ibu-ibu yang (dengan wajah tanpa ekspresi) tengah sibuk memecahkan cangkang mede, dan sebatang (I repeat, SEBATANG) pohon kacang mede di halamannya. Jiaaahh..gubrag!! Oh ada lagi, di tepi jalan rayanya ada sebuah patung kacang mede yang lumayan gede yang bisa dijadiin tempat berfoto. Hahahaa...gitu doang sih. Intinya, kita masuk ke sana disuruh icip-icip lalu belanja oleh-oleh. Bah!

si ibu yang mengolah kacang mede, teteup.. tanpa ekspresi

Di depan Cashew Nut Factory

Setelah beli camilan kacang mede seadanya (basa-basi doang biar gak dibilang turis kere, hehehe..) kami dibawa lagi ke sebuah toko suvenir. Yang dijual di sini gak ada yang istimewa banget sih menurut saya, cuma kalung-kalung, lilin-lilin aromatherapi, pajangan-pajangan dengan ornamen gajah-gajahan, kaos-kaos bertuliskan Thailand yang biasa aja gitu. Makanya saya gak beli apa-apa di sini. Bukannya kere lho... (hahaa...masih gak mau ngaku!). Tapi yang unik adalah, di toko ini ada bapak-bapak yang bermain alat musik sejenis gamelan secara live, dan ada juga 2 orang gadis (atau janda? *eh..) yang sedang merakit kalung-kalung etnik untuk di jual. Dan uniknya lagi, mereka pake baju daerah lokal yang penuh kalung dan pernak pernik. Lucu sih...tapi tetep, saya gak beli. Di sini juga banyak lah begituan.. hehehe

topinya unik ya? ;)

kalung-kalung etnik, 250 baht :)
 
Oke, lanjut lagi perjalanannya. Kali ini spot yang dituju adalah sebuah kuil Budha yang cukup terkenal dan bisa dilihat di brosur-brosur wisata Phuket. Namanya Wat Chalong Temple. Ini adalah komplek kuil yang terdiri dari beberapa bangunan lagi di dalamnya. beberapa diantaranya masih dalam tahap pembangunan (atau renovasi? entahlah..) Saya gak ngerti sih bangunannya apa-apa aja, tapi arsitekturnya unik. Coba liat deh di fotonya ini:

bangunan utama dari Wat Chalong Temple
 
di salah satu gerbangnya

ada pagoda kecil di setiap pojok bangunan

Belanja udah, ke temple udah, maka perhentian berikutnya kami menyambangi patung Big Budha yang letaknya di atas bukit. Sebagaimana namanya, patungnya emang gedeeeee banget. Dari kejauhan aja sudah keliatan. Dan jalan menuju ke puncak bukit itu lumayan curam dan berlika-liku, tapi gak jauh-jauh amat kok. Dan begitu sampai di atas, kita bisa melihat pemandangan laut dari balik kabut-kabut tipis puncak bukit. Hmmm....lumayan bagus.

The Big Budha

Oh iya, patung Big budha ini masih dalam proses pembangunan dan belum jadi seutuhnya. Pembangunannya menggunakan dana yang terkumpul hasil dari donasi para pengunjung dan juga beberapa negara yang turut memberikan bantuan, seperti Kamboja, Vietnam, Cina, India, dll.

Selesai mengunjungi Big Budha, kami menuruni bukit beriringan dengan hujan dan kabut yang juga mulai turun (tsaaahhh bahasanya).. Nuchy mengantarkan ke spot terakhir. Eh sebenarnya ada satu lagi yang belum dikunjungi, yaitu Gipsy Village. Dari namanya kayanya seru ya...Gipsy Village..?? Tapi sayang, berhubung lokasinya rada jauh dan waktu sudah hampir magrib, terpaksa tempat yang satu itu di skip aja. Hmmm... ya sudahlah.

Nah, tempat terakhir yang dituju ini namanya Karon View Point, lokasinya di dataran tinggi kawasan Katta-Karon. Ini cuma lokasi buat foto-foto aja sih, nggak ada objek khusus. Dari titik ini kita bisa melihat matahari yang perlahan-lahan tengah beringsut tenggelam ke samudra Hindia. Ah, saya jadi ngerti kenapa Nuchy lebih memilih untuk membawa kami ke sini. Soalnya timingnya pas! Cuaca lagi bagus sehingga kami bisa liat sunset dan jajaran pasir pantai yang menguning terkena sinar matahari sore. Hmmmm....



panorama dari Karon View Point
 
Ah baiklaaahh...dengan demikian perjalanan hari ini usai sudah. Jam 7 malam Nuchy membawa kami kembali menuju hotel. Sepanjang jalan pulang, kami masih aja cekikian lihat ini itu. Batre masih setengah, rupanya. Hahahaa.. Niat mau langsung ke hotel, eh tapi di tengah jalan kami melewati kawasan yang happening banget! Rameee.... ooowh..rupanya itu kawasan Patong.

Daaaannn... eng-ing-eng...di sinilah letaknya The Famous Bangla Road. Hahahaa..
Maka secara tiba-tiba kami minta untuk diturunkan saja di tempat itu. Toh malam masih muda dan rasanya terlalu rugi melewatkan tempat ini hanya dari balik kaca mobil. Dan ternyata gak salah, Bangla Road bener-bener glowing malam itu. Ya iya laaahh... pas malem minggu gituh!

Ada apa sih di Bangla Road?? Seseru itu kah?
Hmmm.. Wait til I tell u next time, yaaa..
hahaha... Cacth u later!


*foto dari koleksi pribadi dan punya neng beby.
dan foto ke empat itu adalah plang dari sebuah barber shop. hahaha*

Sunday, October 17, 2010

phuket: episode 2

Jam 11 malam, kontingen Malaysia mengetuk pintu kamar saya. Setelah peluk peluk dan cupika-cupiki bentar (haish..), kami (ngemil sambil) musyawaroh untuk rencana besok paginya. Mau phi-phi tour dulu atau city tour dulu? Hmmm... Setelah bolak balik brosur dan itung-itung uang, kesimpulan yang didapat adalah besok subuh kita akan hunting paket tour yang ditawarkan beberapa travel agent di sekitar hotel. Cari yang paling murah, cari yang paling memungkinkan. Sip!

 

pagi di Kalim Bay

Dan yang saya bilang besok subuh adalah bener-bener subuh! Hahahaha..
Nggak ding, jam 7an lah..saya, beby dan alip udah keluar hotel dengan mata yang khas mongoloid sekali (segaris!).  Sambil foto-foto (teteuup walopun mata sepet) dan jalan-jalan menikmati udara pagi tepi pantai, kami menyambangi beberapa travel agent yang baru buka. Beneran baru buka lho! Orangnya juga baru bangun tidur (dengan terpaksa dibangunin karena kedatangan kami. hehee..) Si empu dari travel agent yang kami datangi bernama Nuchy, matanya segaris (bangun tidur), pipi masih cap bantal, (sepertinya) wanita dengan orientasi seksual agak diragukan, dan kesulitan (saya rasa memang gak bisa) melafalkan huruf S dan P. Hahaha... Tapi walau bagaimanapun keadaan mata kami waktu itu, transaksi tetap berlangsung. Tawar menawar harga, dengan tentunya miskomunikasi di sana-sini, didapatlah paket untuk city tour untuk hari itu dan phi-phi tour untuk esok harinya.

tawar menawar yang penuh miskomunikasi. hahaha..

Rinciannya begini:
Day 1
Keliling kota naik mobilnya Nuchy dijemput di pintu hotel jam 12 siang, mengunjungi 6 objek wisata yang kami pilih suka-suka (no, kami gak pilih paket berfoto bersama monyet atau jalan-jalan sambil menunggang gajah. Begituan sih di Indonesia juga banyak!), plus belanja souvenir segala, totalnya hanya 1000 baht untuk bertiga. Sama dengan 100 rebu doang per orang! udah gak usah bayar bensin dan tol lagi (gak lewat tol juga sih). Murah kan?

Lalu berhubung saya dan alip punya hasrat membara untuk nyobain bungy jumping, maka kami merogoh kantong lagi (kali ini agak dalam) dan membayar 1600 baht per orang. Ini paket yang murahnya. Cuma untuk loncat dan dapet sertifikat. Kalo paket kumplitnya, seharga 2800 baht, dapet topi, kaos, foto, video, dan sertifikat. Ah sudahlah, yang murah aja. Yang penting hasrat saya untuk bungy sudah terbayar! hahahaha..

Day 2:
Paket Phi-phi Tour yang akan menyambangi 8 pulau, di 3 tempat diantaranya bisa jemur-jemur atau snorkeling, plus makan siang. Transportasi hotel ke dermaga naik minibus, dijemput jam 8 pagi untuk ke dermaga. Dari dermaga naik speedboat ukuran sedang (kapasistas 30-35 orang) mengelilingi 8 pulau itu, dan dikembalikan ke hotel sore harinya. Total 1000 baht (300 ribu rupiah) saja per orang. Ini sudah termasuk makan siang, life jacket dan snorkeling mask. Mau pake fin, nambah lagi 100 baht. Mau dapet foto di depan boatnya (halah, penting) nambah lagi bayarannya. Huh!

Setelah bayar bayar dan janjian, kami bertiga kembali ke hotel, menikmati sarapan lalu Beby dan Alip memutuskan untuk berenang. Saya? Ah sudahlah, kalo saya nyemplung juga, kolam yang luasnya cuma 3 jengkal ini pasti langsung penuh. Hahaha..


Sarapan di lobby hotel


Jam 11 kami udah siap-siap, dan jam 12 teng si Nuchy dan camry-nya sudah parkir di depan hotel. Jadi baiklah.. Perjalanan hari itu dimulai!

Dan yang menjadi perhentian pertama adalah...tempat Bungy Jumping! Hahahhaa..saya dan Alip tiba-tiba jadi deg-degan. Kenapa harus kesini duluan? Kenapa gak tempat lain dulu aja? Belanja dulu kek..makan dulu kek.. Hahaha.. efek parno nih! Si Alip semakin deg-dengan karena begitu tiba di sana gak ada pengunjung lain, dan menurut aturan, yang badannya lebih berat akan loncat lebih dulu. Which means: ALIP ADALAH KORBAN PERTAMA! hahahhaa...



kontrak mati. ini bunuh diri, jangan harap uang kembali


Setelah saya dan Alip menandatangani kontrak mati, si Alip mulai diiket-iket dan naik ke katrol untuk sampai pada titik ketinggian 50 meter. Saya menyaksikan dari bawah. Lamaaaa banget persiapannya, rupanya Alip berusaha setengah mati mengumpulkan keberanian yang berceceran entah kemana. Bahkan katanya dia sudah berniat mundur aja. Tapi bagaimanapun uang gak bisa kembali. Jadilah si Alip minta didorong sama instrukturnya. Lalu hanya dalam hitungan detik Alip jatuh, teriak sejadi-jadinya, dan mendarat dengan kaki lemas dan nyawa setengah.

Saya? PUCAT.


persiapan sebelum naik.. ah, itu senyum palsu! hahaha..

Ketika giliran saya yang naik, saya deg-degan abis...Sumpah! Setelah ditimbang, ditandai dengan angka di tangan, lalu kaki dililit dengan kuat, saya mulai dikatrol sampai ke atas. Sedikit demi sedikit saya mulai mencapai titik 50 meter di atas tanah. Pemandangan dari atas baguuusss banget. Hijau asri, banyak pepohonan, rumput seperti di lapangan golf, dan di bawah ada laguna kecil. Angin yang berhembus siang itu memang agak kencang tapi segar dan udaranya bersih. Saya menghirup udara dalam-dalam dan ternyata efeknya lumayan untuk menenangkan.

Entah karena dibebat terlalu kencang atau karena gugup yang berlebihan, kaki saya mulai mati rasa. Ketika saya harus menapakkan kaki di tepi papan tolakan, rasanya saya tidak menjejak. Anehnya, melihat dan merentangkan  tangan lebar-lebar dari ketinggian seperti itu saya merasa tenang. Satu satunya yang saya khawatirkan waktu itu hanya angin yang hembusannya terlalu kencang, jadi saya seperti terdorong dari depan dan agak limbung. Tapi jantung saya sudah jauh lebih tenang. Maka dengan mata terpejam dan penuh kedamaian, saya menjatuhkan diri perlahan lahan...


ooh.. I love this moment!


Rasanya?

Hmm..5 detik pertama saya masih merasakan nikmatnya melayang-layang. Angin yang menyentuh wajah, dan tangan yang seolah-olah merentangkan sayap lebar-lebar. Ah, gini ya rasanya jadi burung? Enak juga ternyata..Saya tersenyum.. Tapi ngomong-ngomong, kok ini talinya gak mentok-mentok ya? 10 detik, 15 detik..kok lama banget?? Saya mulai deg-degan lagi. Baru deh mulai teriak! Hahaha..

Fase pusing baru terjadi ketika ujung tali sudah mentok dan saya terpental-pental ke segala arah. Saya mencoba membuka mata tapi justru semakin pusing melihat segalanya serba terbalik. Fase mental-mental ini rasanya lama banget. Saya sudah terlempar kesana kemari, suara sudah sampe serak tapi gak berhenti juga. Sekitar 1,5 menit terombang-ambing baru deh saya ditarik untuk mendarat. Rasanya? Pusing! Hahaha.. Tapi asik. Sumpah..Asik banget..!!


Setelah mendarat dan dilepaskan segala tali temali yang membebat kaki, dengan berjalan sempoyongan, saya kembali ke base camp dan mengambil sertifikat. Ahooyyy.. 50 meter sudah saya taklukkan! Maka marilah berfoto dengan senyum yang lebar.. :D


Beres bungy jumping, saya dan rombongan melanjutkan perjalanan. Ada beberapa tempat yang dikunjungi secara marathon. Artinya disana cuma singgah 15 menit, foto-foto bentar lalu lanjut menghampiri tempat lain, tapi ada juga yang dikelilingi sampe khatam.

Tapi, nggg... kayanya kepanjangan deh kalo semuanya diceritain di sini. Masih ada 7 spot lagi soalnya. Tunggu postingan berikutnya aja yaaa kalo gitu... huehehehee..
*semoga gak ditimpuk pembaca karena updatenya lama benerrr. Amiin..*



Jangan kemana-mana ya, saya akan usahakan kembali setelah pesan-pesan berikut ini

 

Tuesday, October 05, 2010

Phuket: episode 1

Akhirnyaaa...saya punya kesempatan untuk jalan-jalan lagi! Ihiiiyy..


Setelah terakhir kali nengokin singa yang nyemburin air  tahun lalu itu, saya memang belum pernah piknik lagi. Maka ketika ada tawaran tiket murah dari maskapai berwarna merah, ditambah lagi dengan bujuk rayu si partner akademik ini, maka dengan berbangga hati, saya berhasil menukar gaji pertama saya dengan selembar tiket menuju Phuket. Cieeee...

Rada gambling sih awalnya. Soalnya pesen tiket itu bulan Februari, sedangkan berangkatnya bulan Oktober. Saya masih belum tau gimana urusan kerjaan nantinya, belum lagi kondisi Thailand yang katanya sempet rusuh sampe ada travel warning segala, belum lagi urusan izin sama orang tua (yang saya agak ragu kalo dikasih tau sebelum pesen tiketnya mereka bakal ngizinin saya jalan) Tapi ya sudahlah, modal nekad aja! Mau traveling kok mikirnya ribet amat.. heheheheh..

Singkat kata singkat cerita, ada 4 orang yang berhasil terpedaya oleh bujuk rayu si maskapai merah itu, sebut saja dia Ade dan Egi (kontingen dari Jakarta) serta Beby dan Alip (kontingen dari Malaysia). Perlu diingat, nama-nama yang disebutkan ini bukan nama sebenarnya semua. Halah..

Nah, jadi…setelah dihitung-hitung, cari paket termurah tapi ciamik, didapatlah bahwa untuk tiket pesawat PP Jakarta-Phuket-Jakarta, ditambah biaya hotel bintang 3 untuk 4H3M, angka di kalkulator menunjukkan 1,7 juta rupiah saja per orang. Murah bukan??? Kannn….
okay, booked!

fly me, fly me..

Seiring berjalannya waktu..(tssaaahh) 6 bulan menunggu, kok rasanya lama banget ya. Setiap tgl 1 pasti counting down berapa bulan lagi berangkatnya. Tapi ketika tinggal beberapa hari lagi menuju 1 Oktober, kok rasanya deg-deg-an gitu.. hahaha.. Over excited mungkin. Ah tapi gak papa deh, toh saya berangkatnya berdua, di sana juga katanya informasi objek-objek wisata, termasuk peta dan transportasi cukup lengkap dan mudah didapat. Ya sudah, saya tenang-tenang saja. Semoga semuanya berjalan lancar.

 
Tapi ternyata sodara-sodara…. Ada aja kejadian diluar prediksi! Pagi hari, jam 10.30 WIB ketika saya sudah cek in di bandara, dan hanya 30 menit lagi menjelang boarding gate ditutup, temen saya si Egi itu belum juga datang. Dan setelah menjelaskan duduk perkaranya (yang mungkin demi kemaslahatan umat) via sms, dia memutuskan membatalkan rencananya.


Errrr….okay.. berarti saya sendirian.

Iya siih..Walopun nantinya di sana saya akan bergabung dengan kontingen dari Malaysia juga, tapi mereka baru akan berangkat malam harinya. Kemungkinan baru akan sampai di hotel tengah malam. Jadi kesimpulannya, dari Jakarta sampai Phuket saya sendiri, cari transport ke hotel sendiri, dan menikmati sisa waktu yang ada dari siang sampai tengah malam itu sendirian. Okay…. Saya nyengir.

Dibilang takut sih nggak. Sama sekali tidak terlintas di pikiran saya hal-hal yang menakutkan seperti; gimana kalo nanti saya diculik? Gimana kalo detergent yang saya bawa dikira sabu-sabu? Gimana kalo saya nyasar? Gimana kalo saya dikerjain supir taksi? Sama sekali gak kepikiran.

Yang ada di otak saya justru…Hmm..Okay, Allah rupanya ngasih saya cara untuk latihan solo backpacking. Kalo harus bener-bener sengaja piknik sendirian selama 4 hari ke Negara lain gitu mungkin saya gak akan berani. Tapi kalau sudah begini keadaannya, mau gak mau saya harus tetap melangkah. Sendiri bukan hambatan. Toh semua ini terlalu mubazir kalau saya menyerah hanya pada rasa khawatir, ya kan? Baiklah… lanjuutttt.
 
memikirkan rencana Allah untuk saya.. *sok serius*


Jam 14.40 saya mendarat di Phuket International Airport, dan langsung disambut dengan ucapan selamat datang yang bunyinya kira-kira.... eeerrr...


anyone, read for me pleaseeee...

 Nah, berdasarkan referensi yang saya baca, begitu keluar dari airport akan ada airport bus yang menurut jadwal berangkat tiap jam dan singgah di terminal-terminal pantai utama. Tapi sayangnya saya gak nemu counter tempat beli tiket bisnya. Yang saya lihat justru counter tiket taksi dan minibus airport. Lihat-lihat list harga, menyesuaikan dengan tempat tujuan, dan mempertimbangkan bahwa saya cuma sendirian, maka saya memilih untuk naik minibus seharga 150 baht (45 ribu rupiah), jauh lebih irit dibandingkan naik taksi yang harganya bisa mencapai 500-600 baht. 1 minibus berisi 9 orang, tapi kita harus menunggu dulu sekitar 15 menit sampai terdaftar ada 9 orang yang ikut berangkat. Mobilnya bagus kok, dan kita akan langsung di antar sampai ke depan hotel.

yang putih itu mobilnya. beda tujuan beda juga harganya


Oh iya, saya menginap di Orchid Hotel Kalim Bay, Phuket. Tepat bersebrangan dengan pantainya. (perhatikan kalimat saya, bukan di depan pantai, tapi bersebrangan dengan pantai. Which is ada jalan raya yang memisahkan antara hotel dan pantainya. Beda banget sama foto yang saya liat di webnya. hehehehe) Kalim Bay itu sebenarnya bukan pantai yg utama. Turis-turis biasanya memilih menginap di sekitar Patong Beach yang lebih ramai dan happening, banyak hotel, resto, café, bar, toko-toko souvenir, dan macem-macem. Kalim gak seramai itu. Pantainya juga gak bisa buat berenang. Hanya bisa berjemur dan nyelup-nyelupin jempol aja di ombak pinggir pantainya. Tapi jarak antara Kalim-Patong gak jauh kok. Pantainya sebelahan, bisa ditempuh dengan berjalan kaki 5 menit saja.



Kalim bay, Phuket

 Maka begitu sampai di hotel, saya istirahat sebentar lalu memutuskan untuk jalan-jalan sendirian di pinggir pantai. Sengaja saya keluar menjelang magrib, maksudnya sih biar bisa liat sunset. Tapi sampai jam 6 kurang, langitnya masih terang. Jadi saya memutuskan untuk makan kwetiau goreng yang ada di pinggir pantai sambil menikmati angin sore yang sepoi sepoi. Satu porsi kwetiau seharga 40 baht dan jus melon 30 baht (total Rp 21 ribu).

kwetiaunya ditaburi sama kacang tumbuk. jadi agak kriuk-kriuk gitu..

Iya, di pinggir pantainya (tepi jalan raya) memang banyak penjual makanan. Dan dijamin halal. Yang jual orang melayu muslim. Jualannya macem-macem, ada rujak, (sejenis) bakso, jus buah, mi goreng, sampe sate-satean (bakso ikan, sosis, atau cumi goreng yang ditususk seperti sate gitu). Tapi kios-kios ini baru ada di atas jam 3 sore, dan jam 9 malam sudah sepi atau bahkan sudah bubar semua.

  
<>
warung tenda pinggir pantai

Langit baru mulai menguning pada pukul 18.20 WJTS (Waktu Jam Tangan Saya). Tapi sayangnya sore itu agak mendung, dan matahari tertutup sama sekumpulan awan cumulus nimbus yang gendut-gendut. Tapi lumayan lah, masih dapet sedikit semburat warna merah untuk difoto-foto




Ketika langit mulai gelap, saya balik ke hotel. Mandi, sholat lalu tidur sebentar sambil menunggu kontingen Malaysia yang akan sampai tengah malam nanti. Dan rasanya saya perlu istirahat sambil mengumpulkan tenaga buat city tour besok yang pasti akan berlangsung seharian penuh.
Hmmm..akan kemana saya besok?
Nantikan lanjutan ceritanya yaa, hanya di laman ini!
Hehehehhee…