Showing posts with label love. Show all posts
Showing posts with label love. Show all posts

Friday, August 24, 2012

Jumpin over the edge

Eh waw.. sudah sebulan yaa saya gak nulis sesuatu di blog ini. Sejak terakhir upload foto bantal itu agenda saya emang banyakan tidurnya sih. Hahaha.. Apalagi kemarin bulan puasa. 
Baydeweey... Maaf lahir batin yaa buat semua pembaca, rekan rekan dan handai taulan sekalian yang mampir ke sini. Saya pasti banyak salah. Salah omong, salah tulis, salah perbuatan, banyak lah pastinya. Mohon dimaafkan ya..

Terus, ada cerita baru apa setelah saya sebulan lebih menghilang dari dunia per-blog-an ini? Banyak!
Saya punya pacar baru (aheeeyyy..) yang entah gimana ceritanya saya bisa jatuh cinta sama dia. Hihhihi.. Euphoria? I hope not. Tapi yang jelas, saya gak pernah merasa sebegitu disayangnya sama seseorang sebelum ini. Apa yang selama ini saya cari semuanya ada di dia. Selebihnya, saya cari di google aja. Hehehe. Sekarang ini love is in the air lah pokoknya. Hahaaayyy.. ;)
Oke, cerita bagian pacarnya segitu dulu. Ntar kalo dia baca pasti GR-nya sampe kembang kempis deh. Hehehe.

Trus-trus apa lagi?
Hmm.. Buat orang-orang yang sering jadi tempat sampah curhatan saya, pasti tau dari jaman hong saya udah pengen resign dari kerjaan saya sekarang ini. Dan inilah berita terbaiknya sodara-sodara, I finally quit this job! Yeay!

Kenapa? Bosen? Kerjaan dosen kan enak. Mapan. Gampang ngatur waktu. Kok keluar?
Hmm..gimana yaa. Banyak pertimbangannya. Kerjaan ini ada plus minusnya sih. Di satu sisi saya senang mengajar di depan kelas, dekat dengan mahasiswa yang umurnya juga gak beda jauh sama saya. Di sisi lain mahasiswa saya ini kadang jadi cobaan terberat untuk kesabaran. Kalo ketemu mahasiswa yang pinter, yang manut, yang rajin sih enak. Tapi kalo udah ndableg, sok preman, banyak maunya, mending kalo cakep, hadeeuuhh... Saya mah cuma bisa ngelus dada. (dada sendiri lho ya). Tapi ya saya ngerti lah, gak mungkin juga semua mahasiswa di kampus itu pinter, rajin dan manut. Justru di situ lah peran saya sebagai pendidik (bukan cmua pengajar lho yaa) akan terlihat. Ini sebenernya tantangan tersendiri sih buat saya. Meskipun sering bikin emosi, tapi saya sih bawa enjoy aja.

Di samping itu, lingkungan kerja juga jadi salah satu faktor pertimbangan saya. Di sini saya belajar banyak dari dosen-dosen yang rata-rata sudah senior entah untuk urusan akademis, maupun non akademis. Tapi di sisi lain, ritme kerja saya dan mereka sudah jauh berbeda. Mereka rata-rata berusia di atas 40 tahun yang kalau kerja sudah purely money oriented, sudah ajeg dan enggan sama perubahan, kadang apatis sama hal-hal baru, sudah cari posisi nyaman dan gak mau bergeser dari sana til the rest of their life. Lha saya, 180 derajat kebalikannya. Saya masih fresh graduate ketika masuk lingkungan ini, masih (sok) idealis --kalo gak bisa disebut 'sotoy'. Di saat saya masih berlari kencang, mereka sudah jalan melenggang. Ya gak cocok ritmenya.  Belum lagi topik obrolan di waktu senggang yang gap-nya sampe 3 dekade. Jokes yang kadang gak nyambung atau obrolan yang beda genre. Ada kalanya saya merasa dianggap seperti anak bawang yang bisa disepelekan. Ada kalanya saya diremehkan kemampuannya. Banyak lah. Tapi emang dunia kerja gak ada yang berjalan adem ayem aman damai sejahtera kan? Itulah dinamikanya.

Tapi sebetulnya alasan terkuat yang membuat saya berfikir untuk resign adalah kondisi keluarga. Di lampung itu, yang tinggal di rumah cuma bapak, ibu dan nenek saya, tanpa pembantu atau orang yang bisa mengurusi. FYI, nenek saya sudah 87 tahun dan mulai pikun. Ibu saya sudah sejak 2 tahun terakhir kakinya sakit parah. Malah sempat susah untuk sekadar pake sendal apalagi untuk jalan. Alhamdulillah sih sekarang kondisinya sudah membaik, tapi ya masih gak bisa terlalu capek juga. Bapak saya, baru 2 tahun ini pensiun. Dan post power syndrome nya gila-gilaan. Orang salah ngomong dikit bawaannya emosi. Suka rungsing sendiri kalo gak ada kegiatan, alhasil jadi stress, banyak pikiran dan kebawa juga ke kondisi kesehatannya. Rumah juga suka terasa sepi kaya gak ada kehidupan. Kalo bapak ibu saya keluar rumah karena ada urusan misalnya, nenek gak mungkin di bawa. Tapi ditinggal sendiri di rumah juga mengkhawatirkan. 

Mi familia :)

Kakak-kakak saya semua sudah berkeluarga. Yang no.1 cowok, memang sih tinggal di Lampung juga, tapi sudah di rumahnya sendiri. Mungkin hanya sesekali bisa datang dan nengokin. Kakak yg no.2 cewek, baru saja hijrah ke Australia bersama suami untuk lanjut S3. Kalau gak berangkat pun mereka sudah settle tinggal di Bandung bertahun-tahun belakangan ini.

Nah jadi tinggal saya nih ceritanya yang masih memungkinkan untuk mengambil peran untuk jagain orang tua.  Di satu sisi kondisi di rumah begitu, di sisi lain saya di Jakarta struggle sendirian, dengan biaya hidup yang cukup tinggi, sibuk mengejar impian dan menaklukkan kota besar. Dari hasil pikir-pikir yang gak telalu lama, saya akhirnya dengan bulat memutuskan, oke saya pulang aja deh ke Lampung.

Nggak, saya sih demi Allah gak ngerasa ini sebagai beban. Saya juga gak dipaksa oleh siapapun apalagi ibu saya. Saya cuma berpikir, mau sampai kapan sih kondisinya kaya gini? Mengejar karir itu kebutuhan, gak ada habisnya. Sedangkan ngurus orang tua itu kewajiban saya sebagai anak. Apa bisa saya seneng seneng di tempat lain padahal hati dan pikiran saya khawatir mikirin orang tua? Justru inilah kesempatan saya untuk melakukan apa yang saya bisa untuk mereka. Mumpung saya masih bisa, mumpung saya belum menikah dan diboyong suami entah ke mana, mumpung saya masih sanggup cari rezeki, insya Allah ini justru akan jadi ladang pahala buat saya. Aamiin...ya Allah.

Saya sempet cerita-cerita dengan rekan kerja saya, seorang ibu yang dari sejak kuliah sudah meninggalkan rumah orang tuanya di Serang. Lulus kuliah dari Bengkulu dia hijrah ke Jakarta, dan menikah dan punya anak dan sampai sekarang hanya sesekali saat liburan aja dia ke rumah orang tuanya. Dengan mata yang berkaca-kaca dia bilang ke saya, 
"De..pilihan kamu itu indah banget. Saya gak pernah ngerasain ngurus orang tua saya sendiri. Saya gak pernah cuciin baju mereka, atau ngurusuin keperluan-keperluan mereka. Saya nggak bisa dekat secara emosional dengan bapak-ibu saya. Jujur saya iri sama kamu de.."

Ibu yang lain lagi, ayahnya sudah berpulang sejak beberapa tahun yang lalu. Ini lebih mengharu biru lagi ketika cerita sama saya. 
"Mumpung de, bapak-ibu masih ada. Kalo udah nggak ada, kamu mau nangis-nangis, cuma sekadar bilang kangen pun gak bisa.."  dan dia mewek lagi.

Jadi ya gitu deh, semua langkah terasa ringan ketika saya mengambil keputusan untuk pulang ke Lampung. Walopun awalnya justru bapak-ibu saya yang keberatan (mungkin mereka mikirnya saya terpaksa ya pulang ke Lampung ini) tapi buat saya semua itu gak ada bandingannya dengan apa yang akan saya dapatkan di rumah. Saya sendiri ngerasa quality time saya sama keluarga sudah berkurang sejak saya memutuskan sekolah lagi ke luar negeri. Dan inilah waktunya saya menambal kebolongan itu. Saya sadar pastinya akan banyak cobaan yang mungkin datangnya dari orang tua saya sendiri. Menghadapi kondisi mereka seperti itu sudah pasti akan menguji kesabaran saya sebagai anak. Saya mah cuma bisa berdoa semoga dikasih stock kesabaran yang unlimited sama Allah. Kalo saya ikhlas insyaAllah semuanya diringankan. Aamiin.

Trus ntar di Lampung mau kerja apa? Hmm... belum tau. Tapi saya percaya, rezeki mah bisa datang dari mana aja. Rezeki bukan hanya berpusat di ibukota kan? Hehhee..
Nah, pacar gimana? Ini dia nih yang jujur rada berat ninggalinnya.  Hhuhuuhu.. Tapi dari awal kami membangun hubungan ini, keputusan untuk ke Lampung itu memang sudah ada. Kami juga dari awal sudah tau resikonya akan seperti apa, dan yah.. we decided to take the risk.  Kalo disuruh milih stay di Jakarta demi pacar atau balik ke Lampung demi orang tua, well...saya rasa sih itu bukan hal yang layak untuk dibandingkan satu sama lain ya. Jawabannya sudah jelas, family comes first. Saya tau ini juga berat untuk dia. Tapi dengan kesanggupannya mengerti dan mendukung keputusan saya, makes me love him even more. Dia sendiri bilang, sekarang ini komunikasi sudah jauh lebih mudah. Bisa telpon murah, bisa watssap-an, YM, Skype, apapun lah. Insya Allah ada jalan. "Kamu pulang kan bukan berarti kiamat", gitu katanya. :) 

So, there it is. Saya secara resmi meninggalkan kerjaan ini mulai tanggal 31 Agustus nanti. 
Kalo ditanya apa rasanya counting down berapa hari berapa menit lagi yang saya punya sebelum waving good bye dan ninggalin hati saya di sini...? 
Entahlah... 

Mungkin seperti minum baygon pake sedotan kali ya. 
It's killing me slowly.

Thursday, January 13, 2011

Empat Ciri Belum Siap Berkomitmen

diambil dari: Y! Newsroom - Kamis, 13 Januari
Hubungan cinta tak berjalan mulus dan selalu kandas di tengah jalan? Bisa jadi ketidaksiapan Anda berkomitmen yang menjadi penyebabnya.
Mungkin sebelumnya Anda tak pernah menyadari masalah ini. Berikut beberapa ciri Anda belum siap untuk menjalankan hubungan yang lebih serius dengan pasangan, seperti dikutip dari Sheknows.
1. Selalu menemukan kekurangan pada pasangan Anda. Kekurangan itu membuat Anda enggan meneruskan hubungan dengannya. Padahal, seringkali hal itu bukanlah sesuatu yang mendasar.
Anda harus menyadari bahwa tak ada orang yang sempurna. Jika memang Anda benar-benar, mencintai pasangan, itu juga berarti mencintai kekurangannya. Jika Anda tak bisa melakukannya, berarti Anda memang belum siap berkomitmen.
2. Pernikahan membuat Anda takut. Anda skeptis dan sinis terhadap segala hal mengenai pernikahan. Anda menganggap pernikahan adalah sebuah penjara yang akan mengekang hidup Anda.
3. Hidup tidak stabil. Anda masih sering bertindak spontan sesuai keinginan hati tanpa berpikir panjang. Gonta-ganti pekerjaan, peer group juga pasangan merupakan kebiasaan. Memang hal tersebut bukan hal yang buruk. Namun tindakan-tindakan di atas bisa menjadi tanda bahwa Anda belum siap berkomitmen terhadap sebuah hubungan cinta yang serius.
4. Susah mengakui perasaan cinta. Anda sudah lama berhubungan dengan pasangan, namun belum juga mau mengungkapkan perasaan yang lebih dalam? Selama ini Anda hanya menjalankan hubungan dengan santai, namun saat ditanya mengenai perasaan atau tujuan hubungan, Anda menjadi ketakutan. Ini juga merupakan suatu tanda Anda belum berani berkomitmen.
---

Ehm... baca ini kok saya berasa ditampar ya? hahaha..
  

gambar dicomot dari sini

Wednesday, September 15, 2010

sanctuary

 
 
it's nice to know that
you have
thousand ways
to hug me

 
 

Wednesday, July 07, 2010

Surat Kepada Tuhan

Jakarta, 7 Juli 2010
Kepada Yang Maha Kuasa
di Arasy nan Agung

Perihal: Permohonan

Tuhan Yang Maha Memahami, 
Lagi-lagi saya mengirimi-Mu surat. Maaf Tuhan, jika mengganggu kesibukan-Mu. Bukan apa-apa, tapi sepertinya ini adalah hal pribadi yang perlu saya sampaikan langsung dan tertulis biar saya bisa merinci setiap hal dengan baik. Saya ingin mengajukan beberapa permohonan, kalau boleh. Kalau sekiranya saya masih layak untuk meminta rahmat-Mu.

Tuhan Yang Maha Menentukan,
Saya tau Tuhan telah menentukan siapa lelaki terbaik untuk saya. Tapi masih ada nggak kesempatan buat saya meminta lelaki seperti apa yang saya inginkan? Lelaki yang membuat saya mau menghabiskan sisa hidup saya bersamanya kelak. Boleh ya Tuhan, please....Saya nggak minta yang macem-macem kok. Janji deh!

Tuhan Yang Maha Kuasa Membolak-balik Hati,
Kalau boleh, saya minta laki-laki yang cerdas. Nggak perlu lah IQ nya sampe 180, tapi yang penting dia bisa berfikir jernih. Saya pengen dia nantinya bisa mengajarkan banyak hal dan menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh dari anak kami.
"Ayah, kenapa kok bulan bentuknya berubah-ubah?"
"Ayah, sex itu apa?"
"Ayah, kenapa pohon tumbuhnya ke atas?"
"Ayah, kenapa nyamuk nggak minum kuah bayem aja?"

Tuhan Yang Maha Baik,
Kalau boleh, saya juga pengen mendapatkan lelaki yang humoris. Nggak harus yang pelawak sih... Tapi paling nggak saya pengen ada orang yang tetap bisa membuat saya tersenyum setiap hari. I know, life is hard. Orang-orang juga ada yang bilang, marriage is sucks. Kok kayanya berat banget ya, Tuhan? Jadi rasanya nggak muluk-muluk kan, kalo saya minta lelaki yang humoris? Saya pengen bisa menertawakan banyak hal setiap hari, bahkan hal-hal kecil sekalipun, bersama dia.

Tuhan Yang Maha Pemurah,
Satu lagi, boleh? Saya pengen mendapatkan lelaki yang kemampuan navigasinya bagus. Nggak harus pilot kok.. Tapi paling nggak, dia bisa mengarahkan kemana jalan yang akan kami tempuh. Dia bisa berdiri di depan ketika menunaikan sholat. Dia bisa menuntun menuju jalan keluar ketika semuanya terasa gelap. Saya sadar, saya sendiri juga suka bingung walaupun sudah baca peta. Tapi kalo dia pegang kompas dan bisa membaca arah mata angin, sepertinya semuanya akan baik-baik saja.

Tuhan Yang Maha Pengampun,
Maaf yaa..saya banyak banget permintaan. Tapi 3 ini boleh kan? Saya sadar, saya masih suka lalai sama kewajiban. Saya masih suka lupa sama urusan akhirat. Tapi kalo Tuhan meng-ACC permohonan saya ini, wah... saya pasti akan sangat bersyukur. Saya percaya kok, Tuhan Maha Baik. Tuhan Maha Mengasihi.

Sekali lagi saya ucapkan terima kasih yang tak terhingga karena Tuhan sudah berkenan membaca surat saya.
Mohon maaf kalo kata-kata saya kurang sopan
Tapi percayalah Tuhan, saya cuma ingin menjadi hamba-Mu yang baik..
Sekali lagi terima kasih


Hanya Engkaulah yang Maha Mengetahui segala isi hati.


PS: Tuhan, kalo lelakinya dikirim pake kilat khusus aja, boleh gak? :D


Saturday, July 03, 2010

penaklukan

Beberapa orang bilang saya gadis bodoh

Dulu saya sempat mempercayakan hati saya pada seseorang.Tapi singkat kata singkat cerita, dia memilih untuk balik kanan dan maju jalan. Dan saya yang ditinggal hanya diam tanpa mempertanyakan apa-apa. Bodoh, begitu kata orang

ya, saya marah
ya, saya juga tentu kecewa

Lalu setelah limabelas kali hujan dan tujuh puluh dua kali matahari terbit, saya kembali lagi menemui dia. Menertawakan hal yang sama lagi, membagi senyum untuknya lagi. Dan sama seperti sebelumnya, orang bilang saya bodoh. Masih mau membuka hati untuknya lagi. Masih bisa memaafkan orang yang sudah pernah menyakiti.

Tapi bagi saya, ini adalah sebuah misi.
Ya, misi penaklukan
Saya marah sama dia. Bahkan dalam hati, saya pernah bersumpah dan mendendam. Tapi saya tau, marah dan dendam hanya akan membuat saya membusuk dari dalam. Maka, entah bagaimana caranya saya harus menghilangkan marah dan dendam itu. Harus. 

Jadi ketika saya sudah sanggup menemuinya lagi, menertawakan hal yang sama lagi, membagi senyum untuknya lagi, saya merasa penaklukan itu sudah tuntas.

Ya
Saya,
menaklukkan amarah
dan jika orang berkata saya bodoh, terserah

Dan oh! Saya selalu mendapat bonus ketika berhasil melakukan penaklukan:
Manghadapi orang yang pernah menyakiti, dengan senyum mengembang, menatap langsung ke matanya tanpa rasa gugup, dan tanpa menyimpan sedikitpun perasaan yang dulu pernah ada,

...rasanya begitu elegan!

Percayalah!

Monday, February 08, 2010

and I start to love stiletto

Baiklah bapak ibu sodara sodari sebangsa dan setanah air… akhirnya saya menyentuh lagi laman blog ini. Setelah beberapa waktu.. ummm, nyampe sebulan gak sih? Saya nggak update. ada beberapa berita terakhir tentang saya yang belum sempat dipublish melalui infotainment manapun (CIH! Sok ngetop banget…) Jadi anda adalah orang beruntung yang mengetahuinya langsung dari saya! hahaha..

Okay, pertama. Saya akhirnya bekerja sebagai mbak-mbak dosen di salah satu kampus swasta di sebelah barat ibukota negara. Hehee…senangnya bisa menyebut sesuatu sebagai K.A.N.T.O.R, punya cubicle sendiri, punya jadwal weekdays 9 to 5, dan pake high heels tiap pagi (walopun sebenernya nggak bakat pake high heels, tapi berasa lagi shooting Sex and The City aja. Hihii..)

Iyaaa..iyaa..saya tau ini cuma euphoria sesaat. Mungkin gak lama lagi saya sudah akan menulis disini segala keluh kesah dunia kerja. Beberapa bulan lagi mungkin saya sudah mulai mengeluarkan sumpah serapah sama segala rutinitas. Karena untuk orang-orang yang kenal saya dengan baik, pasti tau kalo saya amat sangat pembosan.

Yaah, gak usah tunggu lama-lama. Pagi ini aja, hari Senin di minggu ke-2 saya bekerja (catat: MINGGU KE-2) saya sudah merasa not in a good mood untuk mulai bekerja. Sebenernya sih bukan masalah rutinitas atau beban kerjanya. Saya sih belum ngapa-ngapain amat. Ngajar juga baru mulai 2 minggu lagi. Tapi mood saya sekarang sedang agak terganggu dengan urusan (ehm..) hati.

Aaaah…menyebalkan rasanya ketika harus berhadapan dengan dunia lain disaat hati kita sedang tidak stabil. Jadinya uring-uringan gini. Nggak sih, hati saya gak sampe luluh lantak dan retak seribu, tapi ada kekecewaan yang cukup dalam di dasar hati saya. Kekecewaan atas sesuatu yang saya pikir bisa dijalankan dengan baik tapi ternyata tidak. Kekecewaan atas seseorang yang saya pikir bisa membuat saya merasa dihargai dan diperlakukan dengan baik, tapi ternyata nggak segitunya.

Dan sedihnya, saya nggak bisa berbuat banyak karena saya berada di posisi yang sangat tidak memungkinkan. Tapi satu hal yang saya sadari betul, adalah bodoh untuk terus mengharapkan sesuatu yang sepertinya hanya akan menggiring ke kekecewaan-kekecewaan berikutnya. Jadi satu-satunya jalan yang bisa saya ambil adalah berusaha berlapang dada. Mengikhlaskan dengan cara yang dewasa. Saya nggak mau nangis-nangis, apalagi ngemis-ngemis. No, it’s totally not me. Jadi saya lebih memilih cara yang elegan untuk menghadapi hal ini.

So, I woke up this morning, humming while took a shower, walked happily with my stiletto and greet everyone….

I am happy!

 

Wednesday, December 23, 2009

janji saya

Pernah dengar ungkapan "cinta sampai mati"? atau janji setia "for the good times and bad times"? Selalu terdengar romantis ya? Selalu bisa bikin hati meleleh dan bibir tersenyum.
Tapi apa iya pada kenyataannya selalu begitu?
Hmmm....Malam ini, saya melihat kenyataannya. Wujud dari perasaan cinta yang KONON nya sampai usia senja.

Kejadiannya begini.
Saya tengah menikmati makan malam di sebuah restoran siap saji. Saya sendiri, duduk di tepi jendela. Di seberang saya terdengar riuh rendah sebuah keluarga besar yang sedang menikmati makan malamnya juga. Ada bapak, ibu, kakek, nenek, dan tiga orang anak perempuannya yang menginjak usia remaja. Semua tertawa, semua ceria, entah sedang merayakan apa.

Si nenek masih cukup gagah dan dandannya masih cukup trendy. Sementara si kakek, menggeser kursinya sendiripun sudah tak mampu. Bicaranya hanya sepatah-dua patah kata. Tubuhnya renta dimakan usia.
Lalu semua orang menikmati makanannya. Sambil mengunyah, sambil bercanda. Si kakek juga ikut mengunyah, hanya saja ia tak cukup kuat mengangkat tangannya sendiri.

Ia disuapi.

oleh pembantu.


....

Hampir menangis saya melihatnya.
Di sana ada istrinya, ada anaknya, menantunya, bahkan cucu-cucunya semua sudah besar. Duduk satu meja, berhadapan dengannya. Tapi kenapa ia disuapi oleh pembantu? Kenapa bukan istrinya yang menyuapi? atau anaknya, atau cucunya?
Duh..Miris melihatnya...


Cukup lama saya terdiam, hingga akhirnya saya mengirimkan SMS untuk seseorang yang jauh di mata hanya untuk bilang:

"..kalau misalnya suatu hari nanti kamu lg sakit dan aku lg ada di dekat kamu, aku janji aku yang akan suapin kamu makan yah.. :) "

Iya, saya janji.
Saya janji bukan hanya ke dia, tapi juga ke diri saya sendiri.

Karna saya nggak akan pernah lupa dengan apa yang saya lihat malam ini

Semua orang di meja itu masih terus sibuk dengan menu masing-masing. Masih tertawa, masih ceria. Sesekali tampak melupakan keberadaan sosok tua di sudut meja. Dan si kakek hanya diam sambil terus mengunyah.


Tuesday, October 06, 2009

the gravity


kamu itu seperti gravitasi
setinggi apapun aku loncat
sejauh apapun aku terbang
aku hanya akan kembali jatuh ke kamu

and I just can't resist
...

Friday, June 19, 2009

nick and norah's infinite playlist


baru aja selesai nonton film ini
dan,
...
...
aah... speechless!
bagus banget,
awesome!
I should re-arrange my top five best movies now