Monday, April 12, 2010

(Not) A Shoulder to Cry On

Menurut orang-orang yang kenal saya dengan baik, saya ini less emotional. Apa ya istilah bahasa Indonesianya? Hmmm… Kurang peka? Bukan.. Kurang emosian? Ya, hampir begitulah kira-kira. Bukannya gak bisa marah, bukan. Tapi yang lebih mendekati maksudnya, mungkin adalah, saya kurang bisa mengungkapkan emosi saya secara langsung. Emosi apapun itu (kecuali rasa bahagia ya). Apalagi perasaan sedih dan kangen, jangan harap saya bisa mengungkapkannya secara frontal. Berapa kali saya bilang “I Love You” aja mungkin bisa diitung dengan jari.  Hehehehe…Ngomong kangen?? Wuiiih… pake acara mikir 100x sebelumnya.  Hehehee..
 
Dan satu lagi, hal yang kadang saya sesali adalah, I’m not good in comforting. Bukannya gak bisa berempati. Bukannya nggak suka jadi tempat curhat, bukan….Tapi saya nggak cukup bisa menjadi sandaran yang baik. A good shoulder to cry on, gitu..

Kalo ada orang yang datang ke saya sambil curhat dan nangis-nangis, saya sih welcome aja. Dan saya akan mendengarkan setiap kata dan sumpah serapah yang dia muntahkan. Yes, I will. Mau 3 atau 4 jam menjadi tong sampah, I will. Mau itu jam 3 subuh, I will. Tapi tolonglah, jangan berharap saya akan memeluk erat, mengambil tissue, menggenggam tangan, menghapus air mata yang menetes di pipi, sambil berujar “cup..cup..cup…tenang yaa. Semua akan baik-baik saja”.

Maaf. Tapi…..Saya tidak berbakat melakukannya.  


Pernah suatu ketika, seorang sahabat menangis sejadi-jadinya karena hatinya retak seribu. Saya Cuma bisa bilang: “Nangis boleh, tapi jangan ngabisin tissue banyak-banyak ya. Pemerintah aja susah mau reboisasi.”

Atau disaat lain, ketika seorang teman merasa dikecewakan, saya lebih memilih mengajaknya makan eskrim sampe eneg. Lalu tertawa, ngobrol, dan tertawa, dan membicarakan apa saja yang terlintas, bahkan menertawakan kekecewaannya sendiri.

Bukannya saya gak pernah mau berusaha menjadi sandaran yang baik. Pernah. Tapi ketika saya memeluk teman yang sedang nangis sesenggukan, misalnya, saya malah merasa canggung. Ummh…apa ya?? Mungkin karena saya sendiri kalo lagi sedih gak mau diperlakukan seperti itu. Nggak mau dipeluk atau dielus-elus bahunya. Jadi, cara saya memperlakukan orang lain yang lagi sedih juga begitu.

Pilihan kata yang saya gunakan untuk menenangkan juga mungkin agak tidak biasa. Bukan kosakata umum yang bisa dipakai untuk melegakan hati. Tapi kalo mau dicerna dengan baik, ya maksud saya juga pengen dia menjadi lebih tenang, merasa lebih baik. Dan percayalah, saya adalah orang yang paling gak tegaan kalo ngeliat orang lain sedih. Apalagi yang lagi sedih itu teman-teman saya, sahabat-sahabat saya. Mana bisa saya cuek gitu aja.

Tapi sekali lagi, saya mungkin tidak berbakat untuk menjadi sandaran yang menenangkan..

And I’m so sorry for that.

4 comments:

Darkpuccino™ said...

mampir ke blog saya ya

http://mr-cappucinno.blogspot.com/

Tri said...

haha, saya baru tau klo ade sprti itu. but, everyone has her/his character. jadi, tdk masalah dg hal itu kan? selama kita nyaman dg diri sendiri. btw, surat2 itu sdh sampe ke pemiliknya, hehehe

Nurul said...

Yup, Saya juga sama. Sampai teman saya bilang, pingin deh ngeliat saya nangis tersedu-sedu (do'anya jelek bgt ya)
Saya tidak melakukan itu karna saya juga tidak mau diperlakukan bgitu jika saya menangis nanti (mudah-mudahan jgn sampai ya)
Btw, Nice Post! ^^b

ade suryani said...

@nurul: wah post lama ada pengunjungnya lagi.. salam kenal :)
kamu juga sama kaya gini? hahaha...*toss