Hari ini di home FB saya ada beberapa orang teman yang bilang si A meninggal dunia. Saya rasanya pernah mendengar namanya sebelum ini, tapi saya gak ingat dia siapa. Logika saya, kalau beberapa teman dia adalah teman saya juga, mungkin aja saya juga berteman dengan dia. Tapi saya betul-betul gak ingat. Lalu saya cari namanya di FB, yang ada hanya postingan dari teman-teman saya tadi yang mengabarkan kematiannya. Saya googling namanya, gak ada hasil yang memuaskan. Saya cari foto, blog, tulisan atau apa saja tentang dia. Hasilnya?? bukan nihil sih..tapi minim.
Masa sih? Apa dia gak pernah meninggalkan jejak di dunia maya sekalipun?
Ah, sayang sekali..
Pernah gak sih kalian mengalami hal seperti yang saya lakukan hari ini: mendapat berita tentang kematian seseorang, lalu mulai menelusuri tentang apa yang dia lakukan, apa yang pernah dia tuliskan di masa hidupnya?
Dulu saya pernah membaca di sebuah blog, tulisan tentang seseorang yang tengah berjuang melawan kanker. Hari demi hari sebisanya dia menulis tentang apa yang dia rasa, apa yang dia alami, pengobatan apa yang dia lakukan, bahkan segala ketakutan dan pikiran remeh temehnya. Lalu suatu ketika, si pemilik blog ini meninggal dunia, dan orang-orang, entah itu teman atau orang asing yang saling berbagi link mulai membanjiri postingan terakhirnya dengan komentar bela sungkawa dan kesedihan yang mendalam.
Dan tulisannya itu menjadi jejak-jejaknya yang terakhir..
Saya juga jadi ingat suatu ketika di jaman kuliah dulu, di bagian awal sebuah tugas makalah,
mbak ula pernah mengutip sebuah tulisan yang bunyinya begini kira-kira:
"menulislah, atau kau akan hilang dalam pusaran waktu"
Bagus ya?
Tapi saya lupa,apakah ini tulisannya Seno Gumira atau siapa. Ah..my bad. tapi dulu itu saya manggut-manggut setelah membacanya dan diam-diam meletakkannya di long term memory saya. Ternyata tulisan kita, yang gak penting dan konyol sekalipun akan memberikan jejak pada waktu, bahwa pada suatu ketika dalam rentang masa tertentu, kita pernah hidup dan berpikir.
Jadi, ketika saya mulai malas menulis, entah itu tulisan serius yang berhubungan dengan akademik, atau sekedar pikiran-pikiran iseng yang meluncur dengan ringan, saya mengingat lagi kutipan itu. "Tulis de, atau nanti ilang seiring waktu", begitu gumam saya pada diri sendiri.
Bener sih, rasanya sayang aja pikiran, ide, kalimat-kalimat (yang menurut saya) bagus ilang dan menguap begitu saja cuma karena kita malas menuliskannya. Padahal kan nggak harus nulis di diary atau di blog begini juga ya sebenernya, menulis kan bisa di mana aja yaa. Tapi ya seringnya begitu. Dapet ide cemerlang, trus kepikiran, kepikiran, kepikiran, tapi malas dicatat, trus mikirin yang lain lagi, ngerjain yang lain lagi, trus dibawa tidur, trus besoknya lupa. Ya sudah, wasalam.
Nah, belakangan saya mulai membiasakan diri untuk pake fasilitas notes di henpon. Yaaah..berhubung benda ini selalu dibawa kemana-mana, jadi ya nyatetnya disitu aja.Biasanya sih yang saya catet cuma berupa kalimat-kalimat pendek. Satu atau dua kalimat yang seperti sms. Tapi itu juga, lagi-lagi..kalo niat nulis. Heheheh.. Atau opsinya adalah menulis di blog ini. Atau yang lebih mudahnya, update di status. hehehhe.. Rasanya kalo menulis di media/internet gitu akan lebih permanen ya.. :D
Lalu, lagi-lagi saya menemukan tulisan yang bagus tentang hal ini. Dari sebuah disertasi milik Dr. Udi Marsudi disebutkan begini:
"media massa..selain menghubungkan antar golongan dalam masyarakat, juga menghubungkan antar pikiran antar generasi"
Nah..nah..bayangkan! tulisan yang kita buat sekarang, yang kita twit atau jadiin status itu, yang kita tulis di blog itu, atau bahkan yang kita kirim di web mana, majalah mana, koran mana, atau jadi buku itu, akan menjadi penghubung bagi pikiran generasi yang akan datang! Entah itu anak kita, cucu kita, atau orang lain atau siapapun di masa depan.
Keren kan?!
Bayangkan, anak cucu kita someday membaca puisi-puisi yang kita tulis, atau membaca surat cinta kita dengan sang kekasih. Atau seseorang siapapun itu, membaca lagi pikiran-pikiran kita yang sempat terwujud dalam buku, tesis, selebaran, blog, twit, note FB atau apapun itu. Ingat Soe Hok Gie? Anne Frank? Kartini? Mario Teguh? Tifatul Sembiring? (*eh?)
Nah...begitu.
Yaa..yaa..mungkin tulisan-tulisan yang kita buat tidak secerdas tulisan Gie, seromantik Kartini atau sedalam Anne Frank itu. Tulisan kita mungkin cuma ocehan-ocehan pagi hari yang tak memiliki makna lebih, atau pikiran-pikiran bodoh yang terlalu konyol kalau diceritakan ke orang lain. Tapi intinya adalah, kita meninggalkan jejak!
Dan someday, tulisan kita itu akan terbaca lagi, oleh kita ataupun orang lain.
Mungkin kalau nanti di baca lagi, kita bisa menertawakannya, memikirkannya ulang, merevisinya, atau mungkin masih menyetujuinya. Mungkin juga, tulisan kita bisa menggugah seseorang, bisa menginspirasi, atau sekadar bikin manggut-manggut (seperti saya dulu).
Atau yaaah..sekurang-kurangnya, ketika kita nanti sudah mati, kita masih meninggalkan jejak bagi seseorang yang mencari-cari di google.
So my point here is,
apapun yang ada di pikiran, yuk.. coba dituliskan.