Tuesday, December 21, 2010

You had a choice..



Take this sinking boat and point it home
We've still got time
Raise your hopeful voice you had a choice
You've made it now


(Falling Slowly, Glen Hasard and Marketa Irglova, OST Once)


  

Tuesday, November 30, 2010

Sunday, November 28, 2010

quarter plus one

so, sekarang saya udah 26
hehe.. nambah tua
dan hari itu diawali dengan sms dan telpon yang masuk pagi-pagi
doa, ucapan, wishlist, tagihan traktiran... hehehe


dan ceritanya pagi itu saya hanya ditemani sepotong tiramisu kecil 
sisa makan-makan di kantor malam sebelumnya
but it was nice..
gak pernah-pernahnya ulang tahun pake tiramisu segala. nyahahaa..




dan..
tumben-tumbenan juga tahun ini saya punya wishlist:
hmmmm...
pengen jadi orang yang lebih baik
pengen dapet kerjaan yang lebih baik
dan pengen dapet lelaki yang baik-baik
Amiiinn...


*haha...point terakhirnya, gak kuaattt :))

Friday, November 19, 2010

and the bla bla..

Hari ini di home FB saya ada beberapa orang teman yang bilang si A meninggal dunia. Saya rasanya pernah mendengar namanya sebelum ini, tapi saya gak ingat dia siapa. Logika saya, kalau beberapa teman dia adalah teman saya juga, mungkin aja saya juga berteman dengan dia. Tapi saya betul-betul gak ingat. Lalu saya cari namanya di FB, yang ada hanya postingan dari teman-teman saya tadi yang mengabarkan kematiannya. Saya googling namanya, gak ada hasil yang memuaskan. Saya cari foto, blog, tulisan atau apa saja tentang dia. Hasilnya?? bukan nihil sih..tapi minim. 
Masa sih? Apa dia gak pernah meninggalkan jejak di dunia maya sekalipun?
Ah, sayang sekali..

Pernah gak sih kalian mengalami hal seperti yang saya lakukan hari ini: mendapat berita tentang kematian seseorang, lalu mulai menelusuri tentang apa yang dia lakukan, apa yang pernah dia tuliskan di masa hidupnya? 

Dulu saya pernah membaca di sebuah blog, tulisan tentang seseorang yang tengah berjuang melawan kanker. Hari demi hari sebisanya dia menulis tentang apa yang dia rasa, apa yang dia alami, pengobatan apa yang dia lakukan, bahkan segala ketakutan dan pikiran remeh temehnya. Lalu suatu ketika, si pemilik blog ini meninggal dunia, dan orang-orang, entah itu teman atau orang asing yang saling berbagi link mulai membanjiri postingan terakhirnya dengan komentar bela sungkawa dan kesedihan yang mendalam.

Dan tulisannya itu menjadi jejak-jejaknya yang terakhir..

Saya juga jadi ingat suatu ketika di jaman kuliah dulu, di bagian awal sebuah tugas makalah, mbak ula pernah mengutip sebuah tulisan yang bunyinya begini kira-kira:

"menulislah, atau kau akan hilang dalam pusaran waktu"

Bagus ya? 
Tapi saya lupa,apakah ini tulisannya Seno Gumira atau siapa. Ah..my bad. tapi dulu itu saya manggut-manggut setelah membacanya dan diam-diam meletakkannya di long term memory saya. Ternyata tulisan kita, yang gak penting dan konyol sekalipun akan memberikan jejak pada waktu, bahwa pada suatu ketika dalam rentang masa tertentu, kita pernah hidup dan berpikir.

Jadi, ketika saya mulai malas menulis, entah itu tulisan serius yang berhubungan dengan akademik, atau sekedar pikiran-pikiran iseng yang meluncur dengan ringan, saya mengingat lagi kutipan itu. "Tulis de, atau nanti ilang seiring waktu", begitu gumam saya pada diri sendiri.

Bener sih, rasanya sayang aja pikiran, ide, kalimat-kalimat (yang menurut saya) bagus ilang dan menguap begitu saja cuma karena kita malas menuliskannya. Padahal kan nggak harus nulis di diary atau di blog begini juga ya sebenernya, menulis kan bisa di mana aja yaa. Tapi ya seringnya begitu. Dapet ide cemerlang, trus kepikiran, kepikiran, kepikiran, tapi malas dicatat, trus mikirin yang lain lagi, ngerjain yang lain lagi, trus dibawa tidur, trus besoknya lupa. Ya sudah, wasalam. 

Nah, belakangan saya mulai membiasakan diri untuk pake fasilitas notes di henpon. Yaaah..berhubung benda ini selalu dibawa kemana-mana, jadi ya nyatetnya disitu aja.Biasanya sih yang saya catet cuma berupa kalimat-kalimat pendek. Satu atau dua kalimat yang seperti sms. Tapi itu juga, lagi-lagi..kalo niat nulis. Heheheh.. Atau opsinya adalah menulis di blog ini. Atau yang lebih mudahnya, update di status. hehehhe.. Rasanya kalo menulis di media/internet gitu akan lebih permanen ya.. :D

Lalu, lagi-lagi saya menemukan tulisan yang bagus tentang hal ini. Dari sebuah disertasi milik Dr. Udi Marsudi disebutkan begini:

"media massa..selain menghubungkan antar golongan dalam masyarakat, juga menghubungkan antar pikiran antar generasi"


Nah..nah..bayangkan! tulisan yang kita buat sekarang, yang kita twit atau jadiin status itu, yang kita tulis di blog itu, atau bahkan yang kita kirim di web mana, majalah mana, koran mana, atau jadi buku itu, akan menjadi penghubung bagi pikiran generasi yang akan datang! Entah itu anak kita, cucu kita, atau orang lain atau siapapun di masa depan.
Keren kan?!

Bayangkan, anak cucu kita someday membaca puisi-puisi yang kita tulis, atau membaca surat cinta kita dengan sang kekasih. Atau seseorang siapapun itu, membaca lagi pikiran-pikiran kita yang sempat terwujud dalam buku, tesis, selebaran, blog, twit, note FB atau apapun itu. Ingat Soe Hok Gie? Anne Frank? Kartini? Mario Teguh? Tifatul Sembiring? (*eh?)
Nah...begitu.

Yaa..yaa..mungkin tulisan-tulisan yang kita buat tidak secerdas tulisan Gie, seromantik Kartini atau sedalam Anne Frank itu. Tulisan kita mungkin cuma ocehan-ocehan pagi hari yang tak memiliki makna lebih, atau pikiran-pikiran bodoh yang terlalu konyol kalau diceritakan ke orang lain.  Tapi intinya adalah, kita meninggalkan jejak!
Dan someday, tulisan kita itu akan terbaca lagi, oleh kita ataupun orang lain.
Mungkin kalau nanti di baca lagi, kita bisa menertawakannya, memikirkannya ulang, merevisinya, atau mungkin masih menyetujuinya. Mungkin juga, tulisan kita bisa menggugah seseorang, bisa menginspirasi, atau sekadar bikin manggut-manggut (seperti saya dulu).
Atau yaaah..sekurang-kurangnya, ketika kita nanti sudah mati, kita masih meninggalkan jejak bagi seseorang yang mencari-cari di google.

So my point here is, 
apapun yang ada di pikiran, yuk.. coba dituliskan.

Monday, November 15, 2010

phuket: episode 5

akhirnyaaa...ada juga kelanjutan postingan soal Phuket! hahahaa... 
maap lho yaa
Tanpa mengurangi rasa hormat, ini saya cuma ngasih poto-potonya aja. 
Mau cerita, ah udah kelamaan, saya udah lupa sensasi serunya gimana. hehehe
Dan dari 8 pulau yang dikunjungi, errrr... rasanya semua biasa aja. Dan, 
SAYA GAK HAPAL NAMANYA SATU-SATU!
Jadi harap dimaklumi yaa..
Bagian pertama dimulai dengan island hopping di Phi-phi island dan sekitarnya
Enjoy the pictures..

1000 baht, 8 pulau, 3 spot snorkeling, plus lunch

siap-siap naik jetti :D

our tour guide, SHAKIRA. Yes, that's his name :P

1st stop: Maya bay. Tempat shootingnya The Beach itu lhoo

Janjian sama kangmas Leonardo di  spot ini. hihii..

Pantainya bersih, airnya jernih. Enak buat cibang cibung

Ini....eerrr...lupa pulau apa :D

Mendarat untuk makan siang

Snorkle udah, makan siang udah, berjemur dulu ahh... *gaya!*

Hurraayyy..liburan!

Alip, mabok laut sepanjang perjalanan


pinacolada

Dan setelah puas berenang, foto-foto, mabok laut dan jadi ikan asin sesorean, hehehe...malemnya, acara jalan-jalan lanjut lagi!
Jalan-jalan kali ini masih di sekitar patong beach juga

Kata Andrea Hirata, inilah yang namanya moment biru.
Hanya dalam 2 menit, semuanya menjadi biru

I was here!

Do u have any CLUE, what kind of treatment is that? :D

try some?

aah..saya suka sekali coffee shop ini!!

mas-mas dan mbak-mbak Thailand :D

Belanja belanji souvenir

Kenapa gak ada rumah makan padang di sini?? why..oh why..??

So, that's it. perjalanan ngider-ngider hari itu berakhir sudah.
Dan besoknya pagi-pagi buta, diantar beby dan alip, saya udah harus balik ke Jakarta. Which means..kembali ke rutinitas kerja
*sigh..

Depature time

Kembali di saat pagi masih basah

Mencicipi kopi Thailand sesampainya di meja kerja, jadilah.. :D

Olrite guys... it's a wrap!
Sudah yaa..lunas cerita jalan-jalan ke Phuketnya. hehe..
Kalo mau baca yang versi komplitnya, mampir aja ke sini 



*foto: koleksi pribadi

Friday, November 05, 2010

berduka

maaf, dalam rangka turut berdukacita atas segala musibah di Indonesia tercinta
dengan ini kelanjutan cerita saya di phuket yang isinya melulu soal senang-senang, jalan-jalan dan ketawa-ketawa saya putuskan untuk di pending saja
Mungkin akan saya lanjutkan kapan-kapan

Sekarang, waktunya untuk prihatin
:(

Monday, October 25, 2010

phuket: episode 4

Di jalan menuju hotel, mobilnya Nuchy membawa kami melintasi patong road yang bener-bener hidup malam itu.  Ah, rasanya sayang banget ya melewati keramaian begitu cuma dari balik kaca mobil doang. Akhirnya kami bertanya sama Nuchy, ada apa di situ? Tempat apa yang menarik? 
Boleh gak turun di situ aja? 
Tapi Nuchy bilang, nanti pulangnya jauh lho. Kalo naik tuk-tuk ongkosnya 200 baht. Kalo jalan kaki, pasti capek.
Ah, kami biasa jalan kaki kook.. 
Tapi jauuhhh, kata Nuchy lagi
Berapa lama?
Sekitar 30 menit berjalan kaki.
Aaahh...never mind..! *sambil pamer betis dengan gaya congkak* Hahaha... 

Maka turunlah kami di ujung jalan patong itu dan berjalan kaki kesana kesini. Hilir mudik, celingak celinguk sambil sesekali tawar-tawar kaos atau topi yang lucu. Lirak-lirik bule ganteng, komentar sana sini sambil tetep..cekakak cekikik. Hehehee


Bule-bule bertebaran. Di bom, mantep nih..hahaha
Patong road di malam minggu tak ubahnya Kuta Bali sebelum kena bom. Rame, seru, banyak bule bertebaran. Banyak cafe dan bar yang konsepnya open air, bahkan banyak juga yang jualan cocktail dan minuman sejenis hanya dengan gelar meja sebiji doang di trotoar. Hmm...pasti banyak yang teler deh di sini.

Rameeeee

Bar pinggir jalan

Awas, orang mabok nyebrang! hahaha

Kami melanjutkan jalan-jalan sambil usaha cari tempat makan yang halal. Gak banyak sih pilihannya. Kalau gak restoran Melayu, ya restoran timur tengah gitu (yang menunya terasa kurang membangkitkan selera makan kami malem itu. haish...) Lalu di sebuah tikungan, kami menemukan restoran India berlabel halal. Hmmm... masuk gak ya? Menunya agak aneh-aneh sih. Atau mau coba cari fast food aja? Ke rumahnya Ronal atau kakek-kakek janggut putih, gitu? Ah, masa udah sampe sini makannya fast food juga.. Coba yang lain deh. Maka kami melangkah masuk ke restoran itu. 
Saya dan beby (setelah baca menu sampai 15 kali khatam) akhirnya memutuskan untuk pesan Fish and chips aja. hehehehe.. menu yang aman. Sedangkan Alip pesan, umm...saya lupa namanya. Tapi kalo menurut menu, ada cheese-cheese nya gitu. Dan ketika pesanan datang, Alip bingung. Kejunya nyempil di mana ini ya? Kok isinya tahu bakar semua? Trus ditambah krim yang rasanya juga gak jelas. Rasanya?? iieeyww... Aneh!

kejunya sebelah mana?
Sebenernya kasian banget si Alip, dengan kondisi lapar berat dapetnya malah makanan beginian. Dan setelah dicermati dengan seksama, diicip-icip dikit, saya baru bisa menyumpulkan, kalo yang di bakar itu adalah kejunya!
"Iya lip... itu keju. Keju yang GELONDONGAN gitu", ujar saya menghibur Alip.
Dan alip hanya mengangguk takzim sambil bilang, "Anjrit!!"
Hahahhaaa...

Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan. Baru beberapa meter keluar dari restoran itu, kami melihat ada plang yang dengan gagah perkasanya memajang tulisan Burger King dan McD. Hahahaa..Jadilah Alip semakin sumpah serapah. Tidak pernah dalam hidupnya, tidak pernah.. dia sebenci itu melihat McD.
Hahahaha...

Ya sudahlah yaa..kita ikhlaskan saja. Mari lanjutkan perjalanan sambil mengunyah pancake coklat yang dijual di pinggir jalan. Beberapa ratus meter kemudian, tibalah kami di Bangla Road yang konon adalah red district di kawasan Patong. Yap, di sinilah kita bisa menemukan cewek cantik dan cewek jadi-jadian bertebaran di mana-mana. 


Along the Bangla Road

Don't be suprised, di sepanjang jalan ini banyak banget cewek (atau banci? beware! hahaha..) yang cuma pake bikini doang meliuk-liuk di tengah jalan. Striptease, tawar-menawar, rayu-merayu, foto-foto, apa saja lah. Bukan cuma bancinya, banyak juga kok agen-agen (kalo yang begini biasanya cowok tulen) yang menawarkan paket happy. Mau massage? Massage biasa atau Massage ping-pong? Ahahaha...tak perlu lah saya jelaskan apa bedanya kedua jenis pijatan itu di sini ya.

Yak, dipilih...dipilih.. :D

in front of Rock City. Yeeaahh..!!
tanpa sensoorrr.. :D


Lady or lady boy?? hahhaa..


Lolos melewati Bangla Road dengan pakaian yang masih utuh (lho?) kami terus menyusuri jalan sembil mengarah pulang ke hotel. Ah rasanya berjalan 30 menit sih gak terlalu jauh. Sesekali kami masih mampir di toko suvenir, penjual makanan, atau sekedar liat-liat aja. Tapi kok...ini jalannya gak abis -abis ya?? Kaki udah mau copot nih..
1 jam..
2 jam...
Anjrit! kok gak sampe-sampe?
ahahahaa... Itulah! Tadi bilangnya "never mind!"
Belagu sih. 


Alhasil, jam setengah 12-an gitu kami baru masuk hotel. Betis udah kaya atlit sepak takraw! Bah... untung si Alip bawa konterpen. Mana besok masih mau jalan-jalan dan island hopping  seharian lagi! Ah, sudahlah..kita liat aja apakah bangun tidur besok betis saya masih utuh atau sudah potel.
Jadi, ya sudah.. tanpa ba-bi-bu, kami langsung bebersihan, tarik selimut dan nungging di tempat tidur.


Ah, see you tomorrow everyone.. 

Tuesday, October 19, 2010

phuket: episode 3

Yak, setelah nyawa dan keseimbangan tubuh kembali normal setelah bungy jumping itu, kami melanjutkan perjalanan hari ke 2 menuju ke beberapa tempat. Yang didatangi pertama adalah sebuah Chinesse Temple, tapi saya gak tau namanya apa. Saya kalo jalan-jalan, kadang memang suka juga mengunjungi tempat-tempat ibadah seperti ini. Bukan hanya masjid, tapi juga kuil atau gereja atau klenteng atau yang lainnya. Di 3 tempat yang saya sebutkan terakhir itu saya datang bukan untuk ibadah tentunya, tapi saya memang pada dasarnya suka mengamati budaya, ritual-ritual atau bahkan properti keagamaan yang menurut saya unik. Seperti di sini:
 
Temple yg gak tau namanya apa..ah, kita sebut saja diaa..... Chinesse Temple!


 
 
Tapi sayang sekali, baru jeprat jepret sebentar di klenteng ini, langit yang tadinya cerah ceria tiba-tiba aja mendung. Jadilah saya dan tim hore ini balik lagi ke mobilnya Nuchy dengan keadaan yang lapar berat (lho?). Hahaha... Maka kami didrop oleh Nuchy di sebuah restoran Melayu Muslim untuk makan siang. Dia? ah, mungkin pacaran... (eh, saya belum cerita ya kalo selama perjalanan ini dia membawa seorang wanita yang diakuinya sebagai boT-nya. Ingat, dia tidak bisa menyebut huruf S. Hahahaha..) Kami dikasih waktu 1 jam untuk makan dan jalan-jalan sedikit di daerah Phuket Town. Saya gak tau itu nama jalannya apa, tapi yang jelas di kawasan banyak toko-toko pinggir jalan yang menjual baju, suvenir, makanan, cafe, dll.

Sight seeing di Phuket Town

Lucunya, berhubung di sini sebagian besar nama toko, billboard pinggir jalan, rambu-rambu lalu lintas atau sejenisnya ditulis pake bahasa Thai yang mana kami gak bisa baca tulisannya apalagi tau artinya, jadi
kami iseng iseng berhadiah main tebak-tebakan aja ini toko apa. Hehehee.. Dan Alip lebih aneh lagi, kalo ada plang dengan tulisan berbahasa Inggris, pasti dia membacanya dengan lantang lalu diikuti dengan cengengesan atau manggut-manggut setelahnya. Alasannya; 
 "mumpung bisa dibaca, mbak..." Hahahaa...

hayoo tebak, ini toko apa?? (temukan jawabannya di bawah postingan ini)

Setelah sempet beli kaos bertulisan phuket di salah satu toko yang ada, jam 3 teng kami kembali ke spot di mana Nuchy akan menjemput kami lagi. Yak, perjalanan dilanjutken..... Tujuan berikutnya adalah Cashew Nut Factory a.k.a sebuah pabrik pengolahan kacang mede. Dalam bayangan saya, pabriknya itu gedeeee dan pohon jambu medenya buanyaaakk gitu. Ternyata?? Hanya sebuah toko yang mengolah berbagai varian kacang mede (ada yang rasa asin, pedas, manis, crispy, dll), dengan hanya ada seorang ibu-ibu yang (dengan wajah tanpa ekspresi) tengah sibuk memecahkan cangkang mede, dan sebatang (I repeat, SEBATANG) pohon kacang mede di halamannya. Jiaaahh..gubrag!! Oh ada lagi, di tepi jalan rayanya ada sebuah patung kacang mede yang lumayan gede yang bisa dijadiin tempat berfoto. Hahahaa...gitu doang sih. Intinya, kita masuk ke sana disuruh icip-icip lalu belanja oleh-oleh. Bah!

si ibu yang mengolah kacang mede, teteup.. tanpa ekspresi

Di depan Cashew Nut Factory

Setelah beli camilan kacang mede seadanya (basa-basi doang biar gak dibilang turis kere, hehehe..) kami dibawa lagi ke sebuah toko suvenir. Yang dijual di sini gak ada yang istimewa banget sih menurut saya, cuma kalung-kalung, lilin-lilin aromatherapi, pajangan-pajangan dengan ornamen gajah-gajahan, kaos-kaos bertuliskan Thailand yang biasa aja gitu. Makanya saya gak beli apa-apa di sini. Bukannya kere lho... (hahaa...masih gak mau ngaku!). Tapi yang unik adalah, di toko ini ada bapak-bapak yang bermain alat musik sejenis gamelan secara live, dan ada juga 2 orang gadis (atau janda? *eh..) yang sedang merakit kalung-kalung etnik untuk di jual. Dan uniknya lagi, mereka pake baju daerah lokal yang penuh kalung dan pernak pernik. Lucu sih...tapi tetep, saya gak beli. Di sini juga banyak lah begituan.. hehehe

topinya unik ya? ;)

kalung-kalung etnik, 250 baht :)
 
Oke, lanjut lagi perjalanannya. Kali ini spot yang dituju adalah sebuah kuil Budha yang cukup terkenal dan bisa dilihat di brosur-brosur wisata Phuket. Namanya Wat Chalong Temple. Ini adalah komplek kuil yang terdiri dari beberapa bangunan lagi di dalamnya. beberapa diantaranya masih dalam tahap pembangunan (atau renovasi? entahlah..) Saya gak ngerti sih bangunannya apa-apa aja, tapi arsitekturnya unik. Coba liat deh di fotonya ini:

bangunan utama dari Wat Chalong Temple
 
di salah satu gerbangnya

ada pagoda kecil di setiap pojok bangunan

Belanja udah, ke temple udah, maka perhentian berikutnya kami menyambangi patung Big Budha yang letaknya di atas bukit. Sebagaimana namanya, patungnya emang gedeeeee banget. Dari kejauhan aja sudah keliatan. Dan jalan menuju ke puncak bukit itu lumayan curam dan berlika-liku, tapi gak jauh-jauh amat kok. Dan begitu sampai di atas, kita bisa melihat pemandangan laut dari balik kabut-kabut tipis puncak bukit. Hmmm....lumayan bagus.

The Big Budha

Oh iya, patung Big budha ini masih dalam proses pembangunan dan belum jadi seutuhnya. Pembangunannya menggunakan dana yang terkumpul hasil dari donasi para pengunjung dan juga beberapa negara yang turut memberikan bantuan, seperti Kamboja, Vietnam, Cina, India, dll.

Selesai mengunjungi Big Budha, kami menuruni bukit beriringan dengan hujan dan kabut yang juga mulai turun (tsaaahhh bahasanya).. Nuchy mengantarkan ke spot terakhir. Eh sebenarnya ada satu lagi yang belum dikunjungi, yaitu Gipsy Village. Dari namanya kayanya seru ya...Gipsy Village..?? Tapi sayang, berhubung lokasinya rada jauh dan waktu sudah hampir magrib, terpaksa tempat yang satu itu di skip aja. Hmmm... ya sudahlah.

Nah, tempat terakhir yang dituju ini namanya Karon View Point, lokasinya di dataran tinggi kawasan Katta-Karon. Ini cuma lokasi buat foto-foto aja sih, nggak ada objek khusus. Dari titik ini kita bisa melihat matahari yang perlahan-lahan tengah beringsut tenggelam ke samudra Hindia. Ah, saya jadi ngerti kenapa Nuchy lebih memilih untuk membawa kami ke sini. Soalnya timingnya pas! Cuaca lagi bagus sehingga kami bisa liat sunset dan jajaran pasir pantai yang menguning terkena sinar matahari sore. Hmmmm....



panorama dari Karon View Point
 
Ah baiklaaahh...dengan demikian perjalanan hari ini usai sudah. Jam 7 malam Nuchy membawa kami kembali menuju hotel. Sepanjang jalan pulang, kami masih aja cekikian lihat ini itu. Batre masih setengah, rupanya. Hahahaa.. Niat mau langsung ke hotel, eh tapi di tengah jalan kami melewati kawasan yang happening banget! Rameee.... ooowh..rupanya itu kawasan Patong.

Daaaannn... eng-ing-eng...di sinilah letaknya The Famous Bangla Road. Hahahaa..
Maka secara tiba-tiba kami minta untuk diturunkan saja di tempat itu. Toh malam masih muda dan rasanya terlalu rugi melewatkan tempat ini hanya dari balik kaca mobil. Dan ternyata gak salah, Bangla Road bener-bener glowing malam itu. Ya iya laaahh... pas malem minggu gituh!

Ada apa sih di Bangla Road?? Seseru itu kah?
Hmmm.. Wait til I tell u next time, yaaa..
hahaha... Cacth u later!


*foto dari koleksi pribadi dan punya neng beby.
dan foto ke empat itu adalah plang dari sebuah barber shop. hahaha*

Sunday, October 17, 2010

phuket: episode 2

Jam 11 malam, kontingen Malaysia mengetuk pintu kamar saya. Setelah peluk peluk dan cupika-cupiki bentar (haish..), kami (ngemil sambil) musyawaroh untuk rencana besok paginya. Mau phi-phi tour dulu atau city tour dulu? Hmmm... Setelah bolak balik brosur dan itung-itung uang, kesimpulan yang didapat adalah besok subuh kita akan hunting paket tour yang ditawarkan beberapa travel agent di sekitar hotel. Cari yang paling murah, cari yang paling memungkinkan. Sip!

 

pagi di Kalim Bay

Dan yang saya bilang besok subuh adalah bener-bener subuh! Hahahaha..
Nggak ding, jam 7an lah..saya, beby dan alip udah keluar hotel dengan mata yang khas mongoloid sekali (segaris!).  Sambil foto-foto (teteuup walopun mata sepet) dan jalan-jalan menikmati udara pagi tepi pantai, kami menyambangi beberapa travel agent yang baru buka. Beneran baru buka lho! Orangnya juga baru bangun tidur (dengan terpaksa dibangunin karena kedatangan kami. hehee..) Si empu dari travel agent yang kami datangi bernama Nuchy, matanya segaris (bangun tidur), pipi masih cap bantal, (sepertinya) wanita dengan orientasi seksual agak diragukan, dan kesulitan (saya rasa memang gak bisa) melafalkan huruf S dan P. Hahaha... Tapi walau bagaimanapun keadaan mata kami waktu itu, transaksi tetap berlangsung. Tawar menawar harga, dengan tentunya miskomunikasi di sana-sini, didapatlah paket untuk city tour untuk hari itu dan phi-phi tour untuk esok harinya.

tawar menawar yang penuh miskomunikasi. hahaha..

Rinciannya begini:
Day 1
Keliling kota naik mobilnya Nuchy dijemput di pintu hotel jam 12 siang, mengunjungi 6 objek wisata yang kami pilih suka-suka (no, kami gak pilih paket berfoto bersama monyet atau jalan-jalan sambil menunggang gajah. Begituan sih di Indonesia juga banyak!), plus belanja souvenir segala, totalnya hanya 1000 baht untuk bertiga. Sama dengan 100 rebu doang per orang! udah gak usah bayar bensin dan tol lagi (gak lewat tol juga sih). Murah kan?

Lalu berhubung saya dan alip punya hasrat membara untuk nyobain bungy jumping, maka kami merogoh kantong lagi (kali ini agak dalam) dan membayar 1600 baht per orang. Ini paket yang murahnya. Cuma untuk loncat dan dapet sertifikat. Kalo paket kumplitnya, seharga 2800 baht, dapet topi, kaos, foto, video, dan sertifikat. Ah sudahlah, yang murah aja. Yang penting hasrat saya untuk bungy sudah terbayar! hahahaha..

Day 2:
Paket Phi-phi Tour yang akan menyambangi 8 pulau, di 3 tempat diantaranya bisa jemur-jemur atau snorkeling, plus makan siang. Transportasi hotel ke dermaga naik minibus, dijemput jam 8 pagi untuk ke dermaga. Dari dermaga naik speedboat ukuran sedang (kapasistas 30-35 orang) mengelilingi 8 pulau itu, dan dikembalikan ke hotel sore harinya. Total 1000 baht (300 ribu rupiah) saja per orang. Ini sudah termasuk makan siang, life jacket dan snorkeling mask. Mau pake fin, nambah lagi 100 baht. Mau dapet foto di depan boatnya (halah, penting) nambah lagi bayarannya. Huh!

Setelah bayar bayar dan janjian, kami bertiga kembali ke hotel, menikmati sarapan lalu Beby dan Alip memutuskan untuk berenang. Saya? Ah sudahlah, kalo saya nyemplung juga, kolam yang luasnya cuma 3 jengkal ini pasti langsung penuh. Hahaha..


Sarapan di lobby hotel


Jam 11 kami udah siap-siap, dan jam 12 teng si Nuchy dan camry-nya sudah parkir di depan hotel. Jadi baiklah.. Perjalanan hari itu dimulai!

Dan yang menjadi perhentian pertama adalah...tempat Bungy Jumping! Hahahhaa..saya dan Alip tiba-tiba jadi deg-degan. Kenapa harus kesini duluan? Kenapa gak tempat lain dulu aja? Belanja dulu kek..makan dulu kek.. Hahaha.. efek parno nih! Si Alip semakin deg-dengan karena begitu tiba di sana gak ada pengunjung lain, dan menurut aturan, yang badannya lebih berat akan loncat lebih dulu. Which means: ALIP ADALAH KORBAN PERTAMA! hahahhaa...



kontrak mati. ini bunuh diri, jangan harap uang kembali


Setelah saya dan Alip menandatangani kontrak mati, si Alip mulai diiket-iket dan naik ke katrol untuk sampai pada titik ketinggian 50 meter. Saya menyaksikan dari bawah. Lamaaaa banget persiapannya, rupanya Alip berusaha setengah mati mengumpulkan keberanian yang berceceran entah kemana. Bahkan katanya dia sudah berniat mundur aja. Tapi bagaimanapun uang gak bisa kembali. Jadilah si Alip minta didorong sama instrukturnya. Lalu hanya dalam hitungan detik Alip jatuh, teriak sejadi-jadinya, dan mendarat dengan kaki lemas dan nyawa setengah.

Saya? PUCAT.


persiapan sebelum naik.. ah, itu senyum palsu! hahaha..

Ketika giliran saya yang naik, saya deg-degan abis...Sumpah! Setelah ditimbang, ditandai dengan angka di tangan, lalu kaki dililit dengan kuat, saya mulai dikatrol sampai ke atas. Sedikit demi sedikit saya mulai mencapai titik 50 meter di atas tanah. Pemandangan dari atas baguuusss banget. Hijau asri, banyak pepohonan, rumput seperti di lapangan golf, dan di bawah ada laguna kecil. Angin yang berhembus siang itu memang agak kencang tapi segar dan udaranya bersih. Saya menghirup udara dalam-dalam dan ternyata efeknya lumayan untuk menenangkan.

Entah karena dibebat terlalu kencang atau karena gugup yang berlebihan, kaki saya mulai mati rasa. Ketika saya harus menapakkan kaki di tepi papan tolakan, rasanya saya tidak menjejak. Anehnya, melihat dan merentangkan  tangan lebar-lebar dari ketinggian seperti itu saya merasa tenang. Satu satunya yang saya khawatirkan waktu itu hanya angin yang hembusannya terlalu kencang, jadi saya seperti terdorong dari depan dan agak limbung. Tapi jantung saya sudah jauh lebih tenang. Maka dengan mata terpejam dan penuh kedamaian, saya menjatuhkan diri perlahan lahan...


ooh.. I love this moment!


Rasanya?

Hmm..5 detik pertama saya masih merasakan nikmatnya melayang-layang. Angin yang menyentuh wajah, dan tangan yang seolah-olah merentangkan sayap lebar-lebar. Ah, gini ya rasanya jadi burung? Enak juga ternyata..Saya tersenyum.. Tapi ngomong-ngomong, kok ini talinya gak mentok-mentok ya? 10 detik, 15 detik..kok lama banget?? Saya mulai deg-degan lagi. Baru deh mulai teriak! Hahaha..

Fase pusing baru terjadi ketika ujung tali sudah mentok dan saya terpental-pental ke segala arah. Saya mencoba membuka mata tapi justru semakin pusing melihat segalanya serba terbalik. Fase mental-mental ini rasanya lama banget. Saya sudah terlempar kesana kemari, suara sudah sampe serak tapi gak berhenti juga. Sekitar 1,5 menit terombang-ambing baru deh saya ditarik untuk mendarat. Rasanya? Pusing! Hahaha.. Tapi asik. Sumpah..Asik banget..!!


Setelah mendarat dan dilepaskan segala tali temali yang membebat kaki, dengan berjalan sempoyongan, saya kembali ke base camp dan mengambil sertifikat. Ahooyyy.. 50 meter sudah saya taklukkan! Maka marilah berfoto dengan senyum yang lebar.. :D


Beres bungy jumping, saya dan rombongan melanjutkan perjalanan. Ada beberapa tempat yang dikunjungi secara marathon. Artinya disana cuma singgah 15 menit, foto-foto bentar lalu lanjut menghampiri tempat lain, tapi ada juga yang dikelilingi sampe khatam.

Tapi, nggg... kayanya kepanjangan deh kalo semuanya diceritain di sini. Masih ada 7 spot lagi soalnya. Tunggu postingan berikutnya aja yaaa kalo gitu... huehehehee..
*semoga gak ditimpuk pembaca karena updatenya lama benerrr. Amiin..*



Jangan kemana-mana ya, saya akan usahakan kembali setelah pesan-pesan berikut ini