Monday, May 31, 2010
new kid in my phone
Welcome!
Now that your phone is equipped with the world's leading mobile travel assistant service, we bet you want to know all about how to get the most out of it.
And if you're a real frequent traveler, treat yourself to Gold status for a 20% rebate off a yearly Gold subscription, which will give you access to:
* Alerts for flight delays, cancellations and diversions
* Real-time Flight Status information for over 350 airlines
* Comprehensive Flight Schedules for over 800 airlines
And more...
(Haiish...lagak seperti traveler yang sibuk kesana kemari)
dan saya menangis, sodara-sodari...
Awal bulan yang lalu akhirnya saya beli buku lagi setelah sekian lama gak baca atau beli buku selain text book.. Toto-chan's Children judulnya.
Familiar sama nama Toto-chan? Ya, dia adalah si gadis kecil nan lincah yang duduk di tepi jendela itu. Dan buku yang baru saja saya beli ini adalah lanjutan kisah Toto-chan itu sendiri. Tapi di sini dia bukan lagi anak kecil yang asik sama dunianya sendiri. Di sini dia sudah menjadi seorang wanita dewasa, aktris populer di Tokyo, yang kemudian diangkat menjadi duta kemanusiaan untuk UNICEF dan mengunjungi daerah-daerah konflik di beberapa benua.
Saya, sejak dulu sudah jatuh cinta dengan Toto-chan kecil. Imajinasinya, kecerdasannya, keluguannya dan semangatnya yang gak ada habisnya. Di samping itu, sejak dulu juga (sebelum baca buku ke-2 ini) saya bermimpi, suatu saat saya ingin, ingin sekali, menjadi volunteer, atau bahkan kalau Tuhan mengizinkan, menjadi duta UNICEF. Maka menemukan buku tentang si Toto-chan yang mencatat perjalanannya selama menjadi duta UNICEF, saya nggak pikir panjang lagi untuk membeli bukunya.
Tapi, demi Tuhan, jangan sekali-kali berfikir bahwa buku ini akan penuh tawa seperti kisah Toto-chan kecil. Jangan.
Saya, ketika membuka lembar-lembar pertamanya saja sudah berkali-kali terkesiap dan menahan nafas mendapati begitu banyaknya fakta yang membuat miris membacanya.
Tentang anak-anak pengungsi di afrika yang ternyata tidak pernah sekalipun melihat gajah dan jerapah. Tentang anak-anak korban perang yang selalu menahan sakit dalam diam. Tentang bocah Mozambik yang terpaksa minum air berlumpur. Tentang bocah kecil India yang sekarat, dan nafasnya hanya bergantung pada tangan si ibu yang memompakan udara.
Dan saya menangis...
Ya, pertama kalinya sebuah buku bisa membuat saya menangis.
Saya bahkan bukan hanya menangis, tetapi juga menahan muntah ketika sampai di bab lima di mana dikisahkan tentang bagaimana kejamnya pembantaian anak-anak di Kamboja.
Pada bab itu, saya hampir-hampir memutuskan untuk berhenti membaca bukunya. Sumpah, saya nggak sanggup melanjutkan buku itu. Sebulan sejak buku itu saya beli, hingga kini saya belum juga menghabiskan separuhnya. Kegetiran yang ada di dalamnya kadang membuat saya terpaksa berhenti membaca dan menginggalkannya selama beberapa hari.
Saya nggak sanggup membayangkan kepedihan macam apa yang dirasakan "anak-anak Toto-chan" itu. Saya bahkan merasa bersalah ketika membaca buku ini sambil ngemil keripik kentang dan minum ice lemon tea :(
Oh ya, satu hal lagi.
Kalau kamu adalah seseorang yang lahir dan tumbuh besar pada era 1978-1990an, di mana kamu bisa minum susu hingga kegemukan, tidur di kasur yang empuk dan nyaman, di tengah-tengah keluarga yang utuh dan penuh kasih sayang, maka BERSYUKURLAH!
Karena pada saat yang sama ketka kamu minum susu atau merengek minta mainan itu, ada anak-anak lain di belahan dunia lain yang tengah meregang nyawa dalam kebisuan.
Maka bersyukurlah, teman. Bersyukurlah.
Familiar sama nama Toto-chan? Ya, dia adalah si gadis kecil nan lincah yang duduk di tepi jendela itu. Dan buku yang baru saja saya beli ini adalah lanjutan kisah Toto-chan itu sendiri. Tapi di sini dia bukan lagi anak kecil yang asik sama dunianya sendiri. Di sini dia sudah menjadi seorang wanita dewasa, aktris populer di Tokyo, yang kemudian diangkat menjadi duta kemanusiaan untuk UNICEF dan mengunjungi daerah-daerah konflik di beberapa benua.
Saya, sejak dulu sudah jatuh cinta dengan Toto-chan kecil. Imajinasinya, kecerdasannya, keluguannya dan semangatnya yang gak ada habisnya. Di samping itu, sejak dulu juga (sebelum baca buku ke-2 ini) saya bermimpi, suatu saat saya ingin, ingin sekali, menjadi volunteer, atau bahkan kalau Tuhan mengizinkan, menjadi duta UNICEF. Maka menemukan buku tentang si Toto-chan yang mencatat perjalanannya selama menjadi duta UNICEF, saya nggak pikir panjang lagi untuk membeli bukunya.
Tapi, demi Tuhan, jangan sekali-kali berfikir bahwa buku ini akan penuh tawa seperti kisah Toto-chan kecil. Jangan.
Saya, ketika membuka lembar-lembar pertamanya saja sudah berkali-kali terkesiap dan menahan nafas mendapati begitu banyaknya fakta yang membuat miris membacanya.
Tentang anak-anak pengungsi di afrika yang ternyata tidak pernah sekalipun melihat gajah dan jerapah. Tentang anak-anak korban perang yang selalu menahan sakit dalam diam. Tentang bocah Mozambik yang terpaksa minum air berlumpur. Tentang bocah kecil India yang sekarat, dan nafasnya hanya bergantung pada tangan si ibu yang memompakan udara.
Dan saya menangis...
Ya, pertama kalinya sebuah buku bisa membuat saya menangis.
Saya bahkan bukan hanya menangis, tetapi juga menahan muntah ketika sampai di bab lima di mana dikisahkan tentang bagaimana kejamnya pembantaian anak-anak di Kamboja.
Pada bab itu, saya hampir-hampir memutuskan untuk berhenti membaca bukunya. Sumpah, saya nggak sanggup melanjutkan buku itu. Sebulan sejak buku itu saya beli, hingga kini saya belum juga menghabiskan separuhnya. Kegetiran yang ada di dalamnya kadang membuat saya terpaksa berhenti membaca dan menginggalkannya selama beberapa hari.
Saya nggak sanggup membayangkan kepedihan macam apa yang dirasakan "anak-anak Toto-chan" itu. Saya bahkan merasa bersalah ketika membaca buku ini sambil ngemil keripik kentang dan minum ice lemon tea :(
Oh ya, satu hal lagi.
Kalau kamu adalah seseorang yang lahir dan tumbuh besar pada era 1978-1990an, di mana kamu bisa minum susu hingga kegemukan, tidur di kasur yang empuk dan nyaman, di tengah-tengah keluarga yang utuh dan penuh kasih sayang, maka BERSYUKURLAH!
Karena pada saat yang sama ketka kamu minum susu atau merengek minta mainan itu, ada anak-anak lain di belahan dunia lain yang tengah meregang nyawa dalam kebisuan.
Maka bersyukurlah, teman. Bersyukurlah.
Wednesday, May 26, 2010
Cracks
Saya melihat tebaran luka dimana-mana
luka-luka masa lalu
yang diam-diam terkubur
pada senyuman seorang penyanyi kafe
pada parau suara kondektur
pada kerutan kening juru ketik kantor
pada sepatu mengkilap bapak pejabat
pada tawa anak-anak tepi jalan
pada tulisan-tulisan cendikiawan
pada polesan bedak anak perawan
luka yang selalu saja dibalut rapi dengan senyuman
luka yang entah sudah berapa lama membusuk ditelan diam
luka yang setiap kita menyimpannya
ya,
setiap kita
saya
dan tentu juga anda
luka-luka masa lalu
yang diam-diam terkubur
pada senyuman seorang penyanyi kafe
pada parau suara kondektur
pada kerutan kening juru ketik kantor
pada sepatu mengkilap bapak pejabat
pada tawa anak-anak tepi jalan
pada tulisan-tulisan cendikiawan
pada polesan bedak anak perawan
luka yang selalu saja dibalut rapi dengan senyuman
luka yang entah sudah berapa lama membusuk ditelan diam
luka yang setiap kita menyimpannya
ya,
setiap kita
saya
dan tentu juga anda
Monday, May 10, 2010
This is serious!
Saya sedang merasa khawatir dengan diri saya sendiri.
Menimbang beberapa fakta bahwa:
1. Hasil psikotes yang saya ikuti 2 bulan yang lalu menunjukkan hasil yang agak mengkhawatirkan dalam aspek kematangan emosional. Dari range 0 hingga 9, saya berada di titik ekstrim 9. Dan menurut analis nya, ini tidak baik/normal. Saya dinilai terlalu memendam perasaan dan dihawatirkan bisa meledak sewaktu-waktu.
2. Saya membaca artikel di majalah wanita bulan ini yang membahas masalah schizofrenia. Indikator kelainan ini cukup banyak, bukan hanya halusinasi berlebihan atau mulai ngoceh-ngoceh sendiri seperti yang diasumsikan banyak orang sebagai "kegilaan". Salah satu indikator yang disebutkan disitu adalah: kelainan atau gangguan dalam berekspresi. Contohnya: Menceritakan hal sedih tetapi ekspresi wajah terlalu datar. dan ini GUA BANGET!
3. Sebagaimana yang saya tulis di sini dulu, bahwa saya kecanduan rasa sakit (mentally). Dan itu masih saya alami hingga kini. Awalnya saya pikir saya adalah adrenaline freak, tapi sepertinya ini hanya kesimpulan tidak mendasar dari diri saya...
4. Dan ingat ketika saya ikutan kuis (iseng) yang hasilnya menunjukkan bahwa saya mempunyai ciri-ciri sebagai seorang obsessive compulsive disorder? Saya juga sempet menuliskan hal itu di sini. Dan ya, saya masih terobsesi sama sabun pencuci tangan.
5. Dan ah, ini yang agak parah sih sebenarnya. Kuis itu juga bilang bahwa: You are at high risk for being a psychopath. It is very likely that you have no soul. Lihat ulasannya di artikel ini
Saya sempat berkali-kali kepikiran untuk menemui psikiater. Ini serius!
Mendongeng v.s. mengajar
Mungkin gak banyak dari teman-teman saya yang tau bahwa sejak tahun 2006 saya aktif menjadi pendongeng untuk anak-anak. Gak kerasa, berarti sudah 3 tahun lebih saya nyemplung di kegiatan ini, and I love doing it! Meskipun on-off karena urusan kuliah dan kerjaan, tapi dongeng gak bisa saya tinggalin begitu saja.
Anyway..Saya tergabung di Komunitas Dongeng Dakocan bersama 6 rekan lainnya, dan mencoba mengembalikan lagi indahnya berimajinasi melalui dongeng dan permainan tradisional kepada anak-anak jaman sekarang. Yah, setidaknya menarik mereka sejenak dari kotak ajaib penuh racun warna-warni bernama televisi. Nggak hanya mendongeng untuk anak-anaknya, saya dan juga teman-teman mencoba sharing apa yang kami bisa ke beberapa guru TK dan playgroup, serta beberapa rekan yang mulai menyadi young mommy and daddy. Dan sampai sekarang, alhamdulillah, virus dongeng sudah mewabah di Lampung dan beberapa daerah lainnya. Gak hanya itu, beberapa lagu anak yang kami ciptakan juga sudah mulai masuk top chart di beberapa sekolah TK dan SD. Hehehee..
Selama aktif mendongeng, saya lebih banyak berperan sebagai narator. Sedangkan 2 teman lainnya membawakan karakter/ tokoh, 2 lainnya berperan sebagai pemusik, dan 1 orang sebagai floor director, kadang merangkap tim artistik, kadang tukang listrik, atau sekedar mengamankan anak-anak dari euforia berlebihan. Hahaha.
Naah, yang mau saya share disini adalah, ternyata mendongeng itu gak mudah lho. Gak hanya sekedar menyampaikan cerita aja. Ada trik-trik dan teknik yang harus dikuasai, dan itu perlu latihan khusus Tapi setelah menguasai bagaimana trik mendongeng yang asik, saya bisa menerapkannya di hal-hal lain juga, terutama di kerjaan saya sekarang sebagai dosen. Bener-bener bermanfaat! Simak deh:
Pertama ya, mendongeng itu perlu latihan vokal. Dan ini HARUS! Mendongeng gak akan efektif kalo suara kita kecil. Selain itu, artikulasi harus jelas, intonasi harus pas, nafas juga harus diatur biar gak ngos-ngos-an. Nah, ini jelas sangat berguna buat saya yang sekarang berprofesi sebagai dosen dengan primary duty-nya tukang ngecap di kelas. Gimana biar suara saya terdengar sampe ke belakang, dan mahasiswa saya tetep bisa menyimak dengan asik, harus bisa dikuasai oleh si dosen. Mahasiswa pasti bakalan bosen kalo intonasi saya datar. Daan...ini penting nih: gimana ngatur ngomong cepat, terus menerus, tanpa membuat mulut berbusa dan rahang capek. Dan saya mendapatkan teknik ini ketika belajar mendongeng.
Lalu, apa sih tantangan terbesar saat mendongeng? Hmm..let me ask you this:
Bisa nggak kamu membuat anak-anak usia 5 tahun duduk manis selama… 15 menit aja, untuk fokus mendengarkan kamu bercerita, atau bahkan ikut terbawa dengan isi cerita yang kamu sampaikan?. Misal, ketakutan waktu serigala mau menerkam, atau sedih saat anak ayam hampir mati. Can you?
Kalau kamu bisa melakukannya, for sure kamu juga bisa membuat mahasiswa betah berada di dalam kelas dan tetap fokus selama 2 jam ketika ngebahas perubahan paradigma dalam penelitian ilmu sosial.
Anak-anak itu benar-benar makhluk visual. Dan fokus mereka pada umumnya hanya bertahan selama 15 menit. Untuk mempertahankan ini, perlu cara ekstra yang nggak membosankan. Beda dengan mahasiswa yang bisa duduk diam di kelas selama 2 jam (yah walaupun ini sebenarnya terpaksa) tanpa diramaikan adegan lari-larian atau nangis jejeritan. Tapi gimana menjadikan 2 jam di kelas itu tetap asik dan enjoyable, itu dia yang susah..
Lalu, tantangan berikutnya yang juga dihadapi oleh pendongeng adalah: Nggak Cuma membuat anak-anak mendengar dan tetap menyimak sampai habis, tapi juga bagaimana menanamkan hal-hal penting ke dalam benak anak-anak dan membuatnya bisa melekat di long term memory mereka. Hal-hal sederhana seperti pentingnya menabung, atau sama temen gak boleh memukul, atau anak lelaki dan anak perempuan itu sama. Ini juga tantangan besar lho!
Sama dengan ketika saya mengajar. Membuat mahasiswa faham tentang apa itu fenomenologi bener-bener kerja keras. Nggak jarang saya harus mengulangnya sampai 3 atau 4 kali. Haduh Gusti....Tapi dengan mendongeng, saya belajar bagaimana menyampaikan sesuatu dengan cara sederhana, cara termudah yang bisa difahami, dan membuat mereka mudah-mudahan tetap inget sampai kapan pun. Mengajar materi seperti ini memang harus kreatif dan banyak akal. Mau tau gimana saya membuat mahasiswa gak bingung lagi membedakan penelitian induktif-deduktif? Saya pakai analogi Induk Ayam! Hahahha....
Gak hanya itu, banyak hal yang saya pelajari dari mendongeng dan bisa banget saya terapin di dunia mengajar yang sekarang saya jalani. Mulai dari hal-hal kecil, seperti gimana masuk kelas dengan wajah yang ceria dan optimis (ini beneran mempengaruhi mood mahasiswa lho!), gimana menjaga eye contact, mengatur gestur saaat berbicara, merangsang mahasiswa untuk ikut diskusi dan interaksi dalam kelas, bahkan...ini juga penting nih: membuat mereka pengen masuk kelas lagi di pertemuan berikutnya, dan bukan sekadar hadir karena kewajiban absen!
See? Mendongeng emang gak mudah. Tapi setelah kita menguasai, banyak lho hal positif yang bisa kita ambil dan terapkan di kerjaan sehari-hari, dan ini berlaku gak hanya mengajar seperti saya aja. Karena saya percaya, mendongeng membantu kita mengembangkan soft skill dan membuat aura positif kita semakin terpancar.
Gak perlu ke dukun deh untuk totok aura! Hehehhe...
Gimana, tertarik untuk belajar mendongeng?
Anyway..Saya tergabung di Komunitas Dongeng Dakocan bersama 6 rekan lainnya, dan mencoba mengembalikan lagi indahnya berimajinasi melalui dongeng dan permainan tradisional kepada anak-anak jaman sekarang. Yah, setidaknya menarik mereka sejenak dari kotak ajaib penuh racun warna-warni bernama televisi. Nggak hanya mendongeng untuk anak-anaknya, saya dan juga teman-teman mencoba sharing apa yang kami bisa ke beberapa guru TK dan playgroup, serta beberapa rekan yang mulai menyadi young mommy and daddy. Dan sampai sekarang, alhamdulillah, virus dongeng sudah mewabah di Lampung dan beberapa daerah lainnya. Gak hanya itu, beberapa lagu anak yang kami ciptakan juga sudah mulai masuk top chart di beberapa sekolah TK dan SD. Hehehee..
Selama aktif mendongeng, saya lebih banyak berperan sebagai narator. Sedangkan 2 teman lainnya membawakan karakter/ tokoh, 2 lainnya berperan sebagai pemusik, dan 1 orang sebagai floor director, kadang merangkap tim artistik, kadang tukang listrik, atau sekedar mengamankan anak-anak dari euforia berlebihan. Hahaha.
Naah, yang mau saya share disini adalah, ternyata mendongeng itu gak mudah lho. Gak hanya sekedar menyampaikan cerita aja. Ada trik-trik dan teknik yang harus dikuasai, dan itu perlu latihan khusus Tapi setelah menguasai bagaimana trik mendongeng yang asik, saya bisa menerapkannya di hal-hal lain juga, terutama di kerjaan saya sekarang sebagai dosen. Bener-bener bermanfaat! Simak deh:
Pertama ya, mendongeng itu perlu latihan vokal. Dan ini HARUS! Mendongeng gak akan efektif kalo suara kita kecil. Selain itu, artikulasi harus jelas, intonasi harus pas, nafas juga harus diatur biar gak ngos-ngos-an. Nah, ini jelas sangat berguna buat saya yang sekarang berprofesi sebagai dosen dengan primary duty-nya tukang ngecap di kelas. Gimana biar suara saya terdengar sampe ke belakang, dan mahasiswa saya tetep bisa menyimak dengan asik, harus bisa dikuasai oleh si dosen. Mahasiswa pasti bakalan bosen kalo intonasi saya datar. Daan...ini penting nih: gimana ngatur ngomong cepat, terus menerus, tanpa membuat mulut berbusa dan rahang capek. Dan saya mendapatkan teknik ini ketika belajar mendongeng.
Lalu, apa sih tantangan terbesar saat mendongeng? Hmm..let me ask you this:
Bisa nggak kamu membuat anak-anak usia 5 tahun duduk manis selama… 15 menit aja, untuk fokus mendengarkan kamu bercerita, atau bahkan ikut terbawa dengan isi cerita yang kamu sampaikan?. Misal, ketakutan waktu serigala mau menerkam, atau sedih saat anak ayam hampir mati. Can you?
Kalau kamu bisa melakukannya, for sure kamu juga bisa membuat mahasiswa betah berada di dalam kelas dan tetap fokus selama 2 jam ketika ngebahas perubahan paradigma dalam penelitian ilmu sosial.
Anak-anak itu benar-benar makhluk visual. Dan fokus mereka pada umumnya hanya bertahan selama 15 menit. Untuk mempertahankan ini, perlu cara ekstra yang nggak membosankan. Beda dengan mahasiswa yang bisa duduk diam di kelas selama 2 jam (yah walaupun ini sebenarnya terpaksa) tanpa diramaikan adegan lari-larian atau nangis jejeritan. Tapi gimana menjadikan 2 jam di kelas itu tetap asik dan enjoyable, itu dia yang susah..
Lalu, tantangan berikutnya yang juga dihadapi oleh pendongeng adalah: Nggak Cuma membuat anak-anak mendengar dan tetap menyimak sampai habis, tapi juga bagaimana menanamkan hal-hal penting ke dalam benak anak-anak dan membuatnya bisa melekat di long term memory mereka. Hal-hal sederhana seperti pentingnya menabung, atau sama temen gak boleh memukul, atau anak lelaki dan anak perempuan itu sama. Ini juga tantangan besar lho!
Sama dengan ketika saya mengajar. Membuat mahasiswa faham tentang apa itu fenomenologi bener-bener kerja keras. Nggak jarang saya harus mengulangnya sampai 3 atau 4 kali. Haduh Gusti....Tapi dengan mendongeng, saya belajar bagaimana menyampaikan sesuatu dengan cara sederhana, cara termudah yang bisa difahami, dan membuat mereka mudah-mudahan tetap inget sampai kapan pun. Mengajar materi seperti ini memang harus kreatif dan banyak akal. Mau tau gimana saya membuat mahasiswa gak bingung lagi membedakan penelitian induktif-deduktif? Saya pakai analogi Induk Ayam! Hahahha....
Gak hanya itu, banyak hal yang saya pelajari dari mendongeng dan bisa banget saya terapin di dunia mengajar yang sekarang saya jalani. Mulai dari hal-hal kecil, seperti gimana masuk kelas dengan wajah yang ceria dan optimis (ini beneran mempengaruhi mood mahasiswa lho!), gimana menjaga eye contact, mengatur gestur saaat berbicara, merangsang mahasiswa untuk ikut diskusi dan interaksi dalam kelas, bahkan...ini juga penting nih: membuat mereka pengen masuk kelas lagi di pertemuan berikutnya, dan bukan sekadar hadir karena kewajiban absen!
See? Mendongeng emang gak mudah. Tapi setelah kita menguasai, banyak lho hal positif yang bisa kita ambil dan terapkan di kerjaan sehari-hari, dan ini berlaku gak hanya mengajar seperti saya aja. Karena saya percaya, mendongeng membantu kita mengembangkan soft skill dan membuat aura positif kita semakin terpancar.
Gak perlu ke dukun deh untuk totok aura! Hehehhe...
Gimana, tertarik untuk belajar mendongeng?
Subscribe to:
Posts (Atom)


