Tuesday, October 13, 2009

dilemma

Pernah nggak merasakan sebuah dilemma?
Merasa terhimpit dalam dua pilihan yang sulit? Pernah?
Saya sedang.

Dan himpitan ini membuat saya sesak seperti kekurangan oksigen. Nggak enak banget rasanya. Apalagi ini menyangkut hal penting, yang efeknya bukan hanya untuk sekarang, tapi masa depan.

Ini bukan lagi selevel dilemma hari ini mau pakai baju apa, mau jalan-jalan ke mana, atau pilih makan siang menu apa.

Ini perkara penting yang, aargh...apa ya bilangnya? Mungkin selevel dengan pilihan kerjaan, pilihan jodoh, pilihan investasi dimana, dan sejenisnya. Kan bukan hal yang mudah untuk memutuskan hal yang dua-duanya baik. Misalnya, ada tawaran kerja di Deplu dan Depkeu. Dua-duanya oke. Dua-duanya menjanjikan. Tapi kan harus pilih salah satu.

Atau bingung memilih antara si Joni yang tampan dan pintar atau si Mamat yang kaya dan baik hati. Nah, ini juga bukan perkara main-main. Apalagi kalo untuk hubungan yang serius. Nggak bisa juga kalau mau ambil dua-duanya. Ntar dibilang “Kok ya jadi manusia serakah amat.”

Ummm....Awalnya memang enak sih berada di antara dua pilihan yang menyenangkan begini. Nggak bisa dipungkiri, perasaan jumawa pasti ada walopun dikit. GR..Berasa naik level. Atau berasa ngetop. Hehehee... Tapi untuk memutuskan dan memilih salah satu itu juga proses yang luar biasa peliknya!

Dan ini, saya sedang terjepit diantaranya.
Belakangan ini saya jadi terus-terusan berpikir keras. Menimbang-nimbang. Mengira-ngira segala kemungkinan. Berganti-ganti antara logika dan insting.


Aargh...ini semua terasa begitu menyesakkan.
Dan sesaknya lebih dari rasa sesak akibat pakai korset.

I hate this.

Tuesday, October 06, 2009

the gravity


kamu itu seperti gravitasi
setinggi apapun aku loncat
sejauh apapun aku terbang
aku hanya akan kembali jatuh ke kamu

and I just can't resist
...