Thursday, April 22, 2010

Tahukah Kamu?

Roller coaster
sanggup menaikkan detak jantuk dari 70 detak per menit
menjadi 180 detak per menit



sama seperti orgasme!


gambar diambil di sini

Monday, April 12, 2010

(Not) A Shoulder to Cry On

Menurut orang-orang yang kenal saya dengan baik, saya ini less emotional. Apa ya istilah bahasa Indonesianya? Hmmm… Kurang peka? Bukan.. Kurang emosian? Ya, hampir begitulah kira-kira. Bukannya gak bisa marah, bukan. Tapi yang lebih mendekati maksudnya, mungkin adalah, saya kurang bisa mengungkapkan emosi saya secara langsung. Emosi apapun itu (kecuali rasa bahagia ya). Apalagi perasaan sedih dan kangen, jangan harap saya bisa mengungkapkannya secara frontal. Berapa kali saya bilang “I Love You” aja mungkin bisa diitung dengan jari.  Hehehehe…Ngomong kangen?? Wuiiih… pake acara mikir 100x sebelumnya.  Hehehee..
 
Dan satu lagi, hal yang kadang saya sesali adalah, I’m not good in comforting. Bukannya gak bisa berempati. Bukannya nggak suka jadi tempat curhat, bukan….Tapi saya nggak cukup bisa menjadi sandaran yang baik. A good shoulder to cry on, gitu..

Kalo ada orang yang datang ke saya sambil curhat dan nangis-nangis, saya sih welcome aja. Dan saya akan mendengarkan setiap kata dan sumpah serapah yang dia muntahkan. Yes, I will. Mau 3 atau 4 jam menjadi tong sampah, I will. Mau itu jam 3 subuh, I will. Tapi tolonglah, jangan berharap saya akan memeluk erat, mengambil tissue, menggenggam tangan, menghapus air mata yang menetes di pipi, sambil berujar “cup..cup..cup…tenang yaa. Semua akan baik-baik saja”.

Maaf. Tapi…..Saya tidak berbakat melakukannya.  


Pernah suatu ketika, seorang sahabat menangis sejadi-jadinya karena hatinya retak seribu. Saya Cuma bisa bilang: “Nangis boleh, tapi jangan ngabisin tissue banyak-banyak ya. Pemerintah aja susah mau reboisasi.”

Atau disaat lain, ketika seorang teman merasa dikecewakan, saya lebih memilih mengajaknya makan eskrim sampe eneg. Lalu tertawa, ngobrol, dan tertawa, dan membicarakan apa saja yang terlintas, bahkan menertawakan kekecewaannya sendiri.

Bukannya saya gak pernah mau berusaha menjadi sandaran yang baik. Pernah. Tapi ketika saya memeluk teman yang sedang nangis sesenggukan, misalnya, saya malah merasa canggung. Ummh…apa ya?? Mungkin karena saya sendiri kalo lagi sedih gak mau diperlakukan seperti itu. Nggak mau dipeluk atau dielus-elus bahunya. Jadi, cara saya memperlakukan orang lain yang lagi sedih juga begitu.

Pilihan kata yang saya gunakan untuk menenangkan juga mungkin agak tidak biasa. Bukan kosakata umum yang bisa dipakai untuk melegakan hati. Tapi kalo mau dicerna dengan baik, ya maksud saya juga pengen dia menjadi lebih tenang, merasa lebih baik. Dan percayalah, saya adalah orang yang paling gak tegaan kalo ngeliat orang lain sedih. Apalagi yang lagi sedih itu teman-teman saya, sahabat-sahabat saya. Mana bisa saya cuek gitu aja.

Tapi sekali lagi, saya mungkin tidak berbakat untuk menjadi sandaran yang menenangkan..

And I’m so sorry for that.

Thursday, April 08, 2010

I Trust You To Kill Me

Anda kenal siapa Kiefer Sutherland?  Saya nggak.
Anda pernah denger Rocco DeLuca and The Burden? Saya (sebelumnya) juga nggak.
Baru di film inilah saya kenalan dengan mereka. Lho, ini film toh?  Iya, film.

Ini adalah sebuah film dokumenter tentang rock band bernama Rocco DeLuca and The Burden. So they call it as rockumentary. Judul film ini diambil dari judul lagu yang dinyanyikan mereka. Tapi tenang aja, dokumenter yang satu ini tidak akan membosankan karena mata dan telinga kita akan disuguhkan oleh musik dan aksi panggung yang keren.

Film ini menceritakan tentang Kiefer Sutherland yang membawa Rocco DeLuca and The Burden (asal California) untuk tour keliling Eropa. Siapa yang kenal band satu ini di sana? Belum banyak. Nah, perjuangan mereka untuk manggung dari satu tempat ke tempat lain, dari satu negara ke negara lain itulah yang dipaparkan di film ini. Ada beberapa kejadian lucu, hal-hal yang tidak menyenangkan, dan tentu saja, ada point penting yang bisa kita ambil dari para personel dan si Keifer itu sendiri. Nggak cuma itu, nonton film ini serasa ikutan jalan-jalan keliling Eropa lho. Bisa ngerasain pagi buta di Ireland, meriahnya malam di London, bekunya Berlin di penghujung Desember, dan juga tempat-tempat lain yang jarang diekspos di film lain.

Tapi, emangnya ini band keren banget ya, sampe tour mereka dibikinin dokumenternya segala? Ketika si Keifer yang ditanyakan mengenai hal ini, dia sempat terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab; "This band is worth seeing...". Dan saya mengamini.

Kalo menurut saya, Rocco DeLuca, sang vokalis sekaligus gitaris, punya deep sense of pain yang jarang sekali saya temukan dari seorang musisi. Denger dia nyanyi dan mencabik gitar rasanya pengen nangis! Serius, ini nggak melampau. Sepanjang sejarah, baru ada beberapa lagu (mungkin hanya 3 atau 4) yang sukses bikin saya hati saya teriris-iris ketika dengernya. Dan ini salah satunya.

The Burden sendiri, sebagai band di belakang DeLuca, kehadirannya nggak bisa diremehkan. Walaupun dalam film ini mereka gak banyak diceritakan tapi kehadiran mereka membuat musik dan film ini semakin utuh. Dan ada hal penting yang bisa saya pelajari dari para personelnya ini, bahwa penting sekali untuk mencintai apa yang kita lakukan. Pengen kenalan lebih jauh sama mereka? Monggo di cek di mari.

Kesimpulan saya, film ini beneran keren! nggak salah kalo disebutnya Rockumentary. Dan tanya kenapa si Keifer sampe membuat tatoo di tangannya bertuliskan judul yang sama: I Trust You To Kill Me.

PS: Jangan bunuh diri dulu sebelum nonton film ini yah!


tulisan ini juga dipublish di sini

Monday, April 05, 2010

Suara di seberang sana

okay, cerita ini sebenernya udah sebulan yang lalu saya alamin, tapi baru sempet nulisnya sekarang. Dan..hemm, sempet berfikir sih, tulis gak yaaa? tulis gak yaa??? Tapi, ya sudah, ditulis aja deh, berharap bisa sharing sama yang baca.

Cerita ini kalo dirunut-runut dimulai dari tahun 2005, waktu itu saya PKL di salah satu stasiun TV swasta yang kantornya di daerah Kebon Jeruk, Jakarta. Saya sempat PKL disitu selama 2 bulan, dan di minggu terakhir PKL itu saya kenalan sama seseorang yang, at the end of that month, menyisakan kenangan menyenangkan buat saya. Mungkin sekilas saya pernah menceritakan tentang dia di sini. Dan okelah, kali ini saya akan  menceritakan dia dengan lebih jelas, berharap ada yang baca atau kali aja kenal sama dia.

Namanya Purwa. Dulu dia kuliah di UIN- Jakarta. He is a very nice guy. Dan cerdas. Dan saya bisa menertawakan hal yang sama dengan dia sampe cekikikan. Yes, at that time, maybe I had a crush on him. hehehhee... *jadi malu. Saya gak tau apakah dia juga ngerasa hal yang sama atau nggak, tapi waktu itu sih dia sempet ujan-ujanan demi bisa ke kosan saya. (deeeuuuh.... ABG sekali. hahahha...) Tapi ya gitu, setelah masa PKL habis, semuanya juga lewat begitu aja. Dia sempet sih ngasih nomor telponnya ke saya. Tapi nomor telp rumah. Yah, jaman dulu kan belum banyak yang punya hape. Sedangkan saya gak pernah ngasih nomor telp ke dia sama sekali. Setelah di Lampung, seinget saya dulu saya sempet telpon dia sekali, hanya obrolan singkat tapi tetap menyenangkan.

Then time goes bye...

Kami lost contact.
Sayang sekali. 

Saya sempet sih nyari dia di jejaring sosial, tapi nihil. Iya lah, saya kan cuma tau namanya Purwa, gitu aja. Gak tau nama panjangnya apa. Dulu saya sempat nelpon sekali lagi ke nomor rumahnya itu, tapi konon katanya dia sedang di Singapura. Entah sekolah lagi, kerja disana, atau cuma tamasya berkeliling kota, saya gak ngerti. Kadang saya suka tiba-tiba keingetan sama dia sih, sekilas gitu. Seperti yang saya bilang dulu, saya kadang berharap bahwa serendipity gak hanya ada di dalam film.

Lalu sekali lagi, waktu berlalu.. (tsaaaahh..). Saya dimana dan dia juga entah dimana.

Hingga sebulan yang lalu, ketika sedang beres-beres kosan, saya menemukan sebuah buku telpon mungil di dalam laci. Dan.... saya menemukan lagi nomor telpon rumahnya! Sumpah, saya grogi waktu itu...hahaha. Deg-deg-an setengah mati sambil menimbang-nimbang, telpon-nggak-telpon-enggak...

Pengeeen banget rasanya nelpon, tapi kok saya takut ya. Gimana kalo dia udah nggak inget sama saya? Gimana kalo ternyata dia udah gak disitu lagi? Atau, gimana kalo ternyata dia sudah nikah? Trus saya jadi telponan sama suami orang, ketawa-ketawa ngingetin cerita lama sama dia? Haduh...!! Saya makin grogi mikirin segala kemungkinan yang ada.

Tapi lalu ada yang ngetok kepala saya, Hey..anggep aja ini obrolan teman lama yang sudah kehilangan kabar sekian tahun. Gak usah pake ngarep dot kom! hahaha....iya juga yaa.. Ah tapi saya masih ragu. Grogi sih tepatnya. Seminggu lebih saya menimbang-nimbang. tapi buku telpon kecil di laci itu sepertinya gak mau diam.

Akhirnya, baiklah... saya memberanikan diri. Saya buka lagi buku telpon itu, memencet sekian digit nomor yang tertera, tapi lamaaaaa banget sebelum akhirnya berani menekan tombol OK untuk dial. Serius, saya DEG-DEG-AN.

Sampai tiba-tiba terdengar suara perempuan di seberang sana.
Iya, suara perempuan!
Suaranya merdu. Intonasinya datar. Dan tanpa tedeng aling-aling, seenak jidatnya, langsung bilang ke saya bahwa:


"nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi..."



Dan saya hanya bisa menghela nafas, speechless..