Showing posts with label me and My God. Show all posts
Showing posts with label me and My God. Show all posts

Wednesday, July 07, 2010

Surat Kepada Tuhan

Jakarta, 7 Juli 2010
Kepada Yang Maha Kuasa
di Arasy nan Agung

Perihal: Permohonan

Tuhan Yang Maha Memahami, 
Lagi-lagi saya mengirimi-Mu surat. Maaf Tuhan, jika mengganggu kesibukan-Mu. Bukan apa-apa, tapi sepertinya ini adalah hal pribadi yang perlu saya sampaikan langsung dan tertulis biar saya bisa merinci setiap hal dengan baik. Saya ingin mengajukan beberapa permohonan, kalau boleh. Kalau sekiranya saya masih layak untuk meminta rahmat-Mu.

Tuhan Yang Maha Menentukan,
Saya tau Tuhan telah menentukan siapa lelaki terbaik untuk saya. Tapi masih ada nggak kesempatan buat saya meminta lelaki seperti apa yang saya inginkan? Lelaki yang membuat saya mau menghabiskan sisa hidup saya bersamanya kelak. Boleh ya Tuhan, please....Saya nggak minta yang macem-macem kok. Janji deh!

Tuhan Yang Maha Kuasa Membolak-balik Hati,
Kalau boleh, saya minta laki-laki yang cerdas. Nggak perlu lah IQ nya sampe 180, tapi yang penting dia bisa berfikir jernih. Saya pengen dia nantinya bisa mengajarkan banyak hal dan menjawab pertanyaan-pertanyaan aneh dari anak kami.
"Ayah, kenapa kok bulan bentuknya berubah-ubah?"
"Ayah, sex itu apa?"
"Ayah, kenapa pohon tumbuhnya ke atas?"
"Ayah, kenapa nyamuk nggak minum kuah bayem aja?"

Tuhan Yang Maha Baik,
Kalau boleh, saya juga pengen mendapatkan lelaki yang humoris. Nggak harus yang pelawak sih... Tapi paling nggak saya pengen ada orang yang tetap bisa membuat saya tersenyum setiap hari. I know, life is hard. Orang-orang juga ada yang bilang, marriage is sucks. Kok kayanya berat banget ya, Tuhan? Jadi rasanya nggak muluk-muluk kan, kalo saya minta lelaki yang humoris? Saya pengen bisa menertawakan banyak hal setiap hari, bahkan hal-hal kecil sekalipun, bersama dia.

Tuhan Yang Maha Pemurah,
Satu lagi, boleh? Saya pengen mendapatkan lelaki yang kemampuan navigasinya bagus. Nggak harus pilot kok.. Tapi paling nggak, dia bisa mengarahkan kemana jalan yang akan kami tempuh. Dia bisa berdiri di depan ketika menunaikan sholat. Dia bisa menuntun menuju jalan keluar ketika semuanya terasa gelap. Saya sadar, saya sendiri juga suka bingung walaupun sudah baca peta. Tapi kalo dia pegang kompas dan bisa membaca arah mata angin, sepertinya semuanya akan baik-baik saja.

Tuhan Yang Maha Pengampun,
Maaf yaa..saya banyak banget permintaan. Tapi 3 ini boleh kan? Saya sadar, saya masih suka lalai sama kewajiban. Saya masih suka lupa sama urusan akhirat. Tapi kalo Tuhan meng-ACC permohonan saya ini, wah... saya pasti akan sangat bersyukur. Saya percaya kok, Tuhan Maha Baik. Tuhan Maha Mengasihi.

Sekali lagi saya ucapkan terima kasih yang tak terhingga karena Tuhan sudah berkenan membaca surat saya.
Mohon maaf kalo kata-kata saya kurang sopan
Tapi percayalah Tuhan, saya cuma ingin menjadi hamba-Mu yang baik..
Sekali lagi terima kasih


Hanya Engkaulah yang Maha Mengetahui segala isi hati.


PS: Tuhan, kalo lelakinya dikirim pake kilat khusus aja, boleh gak? :D


Thursday, September 11, 2008

Surat kepada Tuhan

Selamat malam Tuhanku, aku tak bisa tidur lagi malam ini. Dan dalam keterjagaanku, begitu banyak tanya yang menghampiri. Aku tak tahu dari mana munculnya semua itu. Tapi yang aku tahu, hanya Engkaulah Yang Maha Tahu. Maka kuputuskan untuk bertanya saja pada-Mu agar bisa menguraikan segala kebimbanganku.

Tuhanku, mengapa Adam kau turunkan ke bumi hanya karna Ia memakan buah khuldi? Apa salahnya buah khuldi? Mengapa buah itu tak boleh dimakan? Kalau memang benar-benar tak boleh dimakan atau bahkan sekedar didekati, lalu mengapa Engkau menciptakannya? Apakah hanya untuk menguji kepatuhan Adam dan Hawa pada-Mu? Apakah hanya untuk memberi peluang bagi iblis untuk memenuhi janjinya (mengganggu umat manusia)? Ataukah Engkau memang sudah menyusun sebuah skenario untuk mengutus Adam ke bumi, dan ini semua adalah bagiannya?

Namun jika memang demikian, mengapa tak Kau utus saja Adam dan Hawa untuk turun ke bumi dengan mulia, tanpa menjadikannya hamba-Mu yang berdosa? Dan mengapa Adam perlu berdoa dan bertobat bertahun-tahun lamanya untuk bisa mendapatkan ampunan-Mu, hanya karna ia memakan sebutir buah (khuldi)? Bukankan Engkau Maha Pengampun, Ya Rabb?

Tuhanku, lalu mengapa pula Adam Kau turunkan ke bumi? Mengapa tidak ke tempat lain? Mengapa bukan ke Pluto atau gugusan bintang yang lain? Apakah memang benar bahwa kehidupan hanya ada di bumi? Tapi mengapa hanya ada di bumi? Mengapa Engkau menciptakan kehidupan hanya di atas bumi dan tidak pula di tempat lain? Bukankah semesta-Mu begitu luasnya? Begitu istimewanya kah bumi-Mu ini?

Tuhanku, mengapa pula Engkau masih perlu bersumpah pada apa yang Kau ciptakan ketika Engkau berfirman? Kau bersumpah demi malam, demi siang, demi matahari dan bulan, demi langit dan hamparan bumi, demi fajar, demi jiwa dan penyempurnaannya, demi tin dan zaitun, demi Makkah, demi masa, bahkan demi kuda-kuda perang yang berlari kencang... Sungguh, hanya Engkau lah yang Maha Benar. Namun mengapa Kau masih juga bersumpah? Apakan manusia-manusia ini sedemikian lalainya dan masih juga tak kan percaya pada kebenaran-Mu?

Ya Khaliq Ya Tuhanku, maafkan aku yang mungkin terlalu ingin tahu. Ampuni aku jika pertanyaan ini menyinggung-Mu. Sungguh, aku hanya hamba-Mu yang terlalu haus dan dahaga. Yang merasa malu dan rugi jika tidak menggunakan nikmat akal yang Kau berikan. Aku hanyalah hamba-Mu yang kerdil, yang tak tahu apa-apa. Yang mencoba membaca-Mu melalui semesta. Tuhanku, hanya pada-Mu aku memohon ampun. Hanya pada-Mu aku memohon petunjuk.


Umm...Tuhan, satu pertanyaan lagi: Apakah Engkau memang menciptakan dia untukku?

Thursday, July 17, 2008

Just a little me

Mungkin banyak yang nanya, apa rasanya ada di tanah suci. I tell u now.. it feels so amazing. Jangankan di depan Ka'bah, ketika bis baru sampe kota Madinah dan melewati depan masjid Nabawi, gak kerasa tiba-tiba seisi bis sudah pada nangis. Akhirnya bisa juga aku menginjakkan kaki di tanah ini, menziarahi sang Nabi, menghayati setiap kisahnya, melihat tanda-tanda kebesaran Allah. Kecil... sungguh kita merasa begitu kecil dihadapan-Nya.

Setiap sujud menjadi begitu mendalam, setiap ayat terasa lebih bermakna. Dan cucuran air mata rasanya takkan pernah cukup mencuci diri yang begitu kerdil dan penuh dosa. Kita hanya sosok lemah, yang bergabung dengan jutaan umat lainnya, dan bersujud penuh syukur dan menghamba. Hitam-putih-besar-kecil-Cina-Turki-India-Afrika toh semuanya sama. Hanya debu-debu kecil di padang pasir.

Lebih dari itu, rasanya tak ada yang dapat menandingi perasaan takjub dan haru ketika melihat kotak hitam segi empat itu: Ka'bah. Entah bagaimana harus menjelaskan perasaan itu, segalanya hanya membuat kita semakin merasa tidak ada apa-apanya di mata Sang Khalik. Dalam tiap-tiap langkah yang terucap hanya doa. Dalam tiap-tiap putaran tawaf yang di agung-agungkan hanyalah Dia. Tiap kali menatap pintunya, bahkan mengecupnya dari kejauhan, ada keharuan yang luar biasa. Segala dosa seolah berputar di depan mata. Akankah aku mendapatkan ampunan, akankah aku dapat merasakan nikmat surga-Nya.

Dan ketika semuanya harus ditinggalkan, perasaan rela itu tak kan pernah muncul. Tak kan pernah..Ya Allah kumohon.. panggil aku lagi. Izinkan aku lagi berkunjung ke rumah-Mu, menziarahi Nabi-Mu, dan mengirimkan segala doaku pada sejuta malaikat-Mu. Karna aku akan selalu rindu..