Wednesday, July 07, 2010
Surat Kepada Tuhan
Thursday, September 11, 2008
Surat kepada Tuhan
Selamat malam Tuhanku, aku tak bisa tidur lagi malam ini. Dan dalam keterjagaanku, begitu banyak tanya yang menghampiri. Aku tak tahu dari mana munculnya semua itu. Tapi yang aku tahu, hanya Engkaulah Yang Maha Tahu. Maka kuputuskan untuk bertanya saja pada-Mu agar bisa menguraikan segala kebimbanganku.
Tuhanku, mengapa Adam kau turunkan ke bumi hanya karna Ia memakan buah khuldi? Apa salahnya buah khuldi? Mengapa buah itu tak boleh dimakan? Kalau memang benar-benar tak boleh dimakan atau bahkan sekedar didekati, lalu mengapa Engkau menciptakannya? Apakah hanya untuk menguji kepatuhan Adam dan Hawa pada-Mu? Apakah hanya untuk memberi peluang bagi iblis untuk memenuhi janjinya (mengganggu umat manusia)? Ataukah Engkau memang sudah menyusun sebuah skenario untuk mengutus Adam ke bumi, dan ini semua adalah bagiannya?
Tuhanku, lalu mengapa pula Adam Kau turunkan ke bumi? Mengapa tidak ke tempat lain? Mengapa bukan ke Pluto atau gugusan bintang yang lain? Apakah memang benar bahwa kehidupan hanya ada di bumi? Tapi mengapa hanya ada di bumi? Mengapa Engkau menciptakan kehidupan hanya di atas bumi dan tidak pula di tempat lain? Bukankah semesta-Mu begitu luasnya? Begitu istimewanya kah bumi-Mu ini?
Tuhanku, mengapa pula Engkau masih perlu bersumpah pada apa yang Kau ciptakan ketika Engkau berfirman? Kau bersumpah demi malam, demi siang, demi matahari dan bulan, demi langit dan hamparan bumi, demi fajar, demi jiwa dan penyempurnaannya, demi tin dan zaitun, demi Makkah, demi masa, bahkan demi kuda-kuda perang yang berlari kencang... Sungguh, hanya Engkau lah yang Maha Benar. Namun mengapa Kau masih juga bersumpah? Apakan manusia-manusia ini sedemikian lalainya dan masih juga tak kan percaya pada kebenaran-Mu?
Ya Khaliq Ya Tuhanku, maafkan aku yang mungkin terlalu ingin tahu. Ampuni aku jika pertanyaan ini menyinggung-Mu. Sungguh, aku hanya hamba-Mu yang terlalu haus dan dahaga. Yang merasa malu dan rugi jika tidak menggunakan nikmat akal yang Kau berikan. Aku hanyalah hamba-Mu yang kerdil, yang tak tahu apa-apa. Yang mencoba membaca-Mu melalui semesta. Tuhanku, hanya pada-Mu aku memohon ampun. Hanya pada-Mu aku memohon petunjuk.
Umm...Tuhan, satu pertanyaan lagi: Apakah Engkau memang menciptakan dia untukku?
Thursday, July 17, 2008
Just a little me
Setiap sujud menjadi begitu mendalam, setiap ayat terasa lebih bermakna. Dan cucuran air mata rasanya takkan pernah cukup mencuci diri yang begitu kerdil dan penuh dosa. Kita hanya sosok lemah, yang bergabung dengan jutaan umat lainnya, dan bersujud penuh syukur dan menghamba. Hitam-putih-besar-kecil-Cina-Turki-India-Afrika toh semuanya sama. Hanya debu-debu kecil di padang pasir.
Lebih dari itu, rasanya tak ada yang dapat menandingi perasaan takjub dan haru ketika melihat kotak hitam segi empat itu: Ka'bah. Entah bagaimana harus menjelaskan perasaan itu, segalanya hanya membuat kita semakin merasa tidak ada apa-apanya di mata Sang Khalik. Dalam tiap-tiap langkah yang terucap hanya doa. Dalam tiap-tiap putaran tawaf yang di agung-agungkan hanyalah Dia. Tiap kali menatap pintunya, bahkan mengecupnya dari kejauhan, ada keharuan yang luar biasa. Segala dosa seolah berputar di depan mata. Akankah aku mendapatkan ampunan, akankah aku dapat merasakan nikmat surga-Nya.
Dan ketika semuanya harus ditinggalkan, perasaan rela itu tak kan pernah muncul. Tak kan pernah..Ya Allah kumohon.. panggil aku lagi. Izinkan aku lagi berkunjung ke rumah-Mu, menziarahi Nabi-Mu, dan mengirimkan segala doaku pada sejuta malaikat-Mu. Karna aku akan selalu rindu..