Showing posts with label romansa. Show all posts
Showing posts with label romansa. Show all posts

Sunday, June 07, 2009

watch and hear

Belakangan ini saya lagi menggila nonton film. Dalam dua bulan terakhir ini aja, entah udah berapa puluh film yang saya lahap. Normalnya sih sehari bisa nonton 1-3 film. Mulai dari nonton yang pake tiket di bioskop, hasil copy punya temen-temen, pinjem DVD sana-sini, sampai mengunggahnya sendiri. Semua genre saya nikmati, film komersil atau film festival, film anak kecil sampe film orang besar, bahkan sampai film yang pemain dan sutradaranya pun saya gak kenal, tetap aja saya nikmati.

Nah semalam, saya nonton lagi. Sebuah film drama musikal berjudul High Fidelity (2000). Entah ada kekuatan magis apa dari film ini yang bisa bikin saya langsung menekan mouse untuk mendownloadnya tanpa tau ini film tentang apa. Tapi nyatanya, saya begitu tabah menunggu progressnya hingga komplit, meskipun memakan waktu hingga berhari-hari. Dan sekarang, setelah nonton filmnya seperti apa, saya bisa bilang bahwa penantian berhari-hari itu terbayar lunas. Penasaran? Hmm....

Saya ulangi sekali lagi, ini adalah film drama musikal. Tapi catat, bukan film semacam Accross the Universe atau Mama Mia! yang setiap 5 menit ada adegan nyanyi-nyanyi, bukan sama sekali! Film ini bercerita tentang Rob (dimainkan dengan apik oleh John Cusack) yang mempunyai toko musik yang menjual album rekaman dengan koleksinya yang bukan main. Pada setiap keping rekaman itu dia menyimpan cerita dan meletakkan nyawa nya sendiri untuk menjaga.

Sudah nonton film Garasi? Nah, kalau bisa mengingat dengan baik, di film itu ada Arie Dagienkz dan Desta Club Eighties yang membuka toko musik semacam ini dengan label D’Lawas. Toko musik yang bisa sombong menolak pembelinya dengan alasan pengetahuan musiknya masih ‘cetek’ atau seleranya payah! Hahaha.... And that’s the way it is in this movie. Sungguh, penikmat musik yang idealis.

Musik di film ini enak banget untuk dinikmati. Yaah, walaupun referensi musik saya masih jauh dari keren, tapi paling tidak saya masih nyambung ketika dia menyebut nama Eagle Eye Cherry, Nirvana atau Green Day, atau ketika kuping saya menangkap nada-nada milik The Prodigy atau The Queen. Hehehe.. Selebihnya, saya hanya menempatkan diri sebagai pendengar yang setia..

Tapi tenang saja, cerita di film ini gak melulu tentang musik kok. Di sini si tokoh utamanya, Rob, juga menceritakan tentang pengalaman kisah cintanya dengan membuat list the top five breakups. Cerita tentang kenapa selama ini dia sial banget sampai ditinggal berkali-kali oleh pacarnya. Termasuk pacarnya yang terakhir yang bisa bikin hatinya jadi retak seribu.

Menurut saya, di sini Rob menjadi narator yang asik untuk kisahnya sendiri. Kita bisa merasakan seolah-olah dia sedang curhat sama kita langsung, dengan pikiran-pikiran yang seperti tiba-tiba aja muncul di benaknya dan gak sabar untuk langsung diceritain saat itu juga, hingga membuat kita berfikir dan menyetujui hal yang sama.


Di film ini, bagusnya Rob nggak mencitrakan diri sebagai seorang pria dengan kesetiaan yang teguh, atau kekasih yang sempurna. Dia tak lain hanya seorang cowok biasa yang punya ego, yang gak mau kalah dibandingin cowok lain, yang masih bisa tergoda perempuan lain selain pacarnya, tapi juga berusaha mati-matian mendapatkan gadis yang benar-benar dia inginkan. Ada satu petikan yang saya suka banget di film ini. Bunyinya begini: “...some people, as far as your sense are concerned, just feel like home.”

Hmm.. sweet, isn’t it?

Nah, yang paling saya suka dari film ini adalah, dia (dan music director untuk film ini, tentu saja) selalu bisa mendapatkan soundtrack yang pas untuk setiap kisah yang dia ceritakan. Setiap scene ada musik latarnya. Awalnya saya sempat agak bingung, mau fokus ngikutin kisah cintanya, atau ngikutin kisah dibalik pilihan-pilihan musiknya ya? Karna dua-duanya sama-sama punya kekuatan tersendiri untuk dinikmati. Tetapi yang saya dapat, inti dari semuanya adalah, bahwa musik adalah hidupnya. Dan apapun yang dialaminya, termasuk kisah cinta dan segala peristiwa yang setiap hari yang dijalani, selalu berputar dengan musik sebagai porosnya. Musik adalah jiwanya. Musik adalah nafasnya. Keren kan?!

Dan sebagai pelengkap yang manis, di bagian terakhir Sonic Death Monkey menutup film ini dengan musik yang ciamik! Benar-benar diluar dugaan..

Nah, kalau Anda penyuka musik, rasanya perlu deh menguji pengetahuan musik Anda dengan film ini. Tonton filmnya dan nikmati musiknya.. :)

Saturday, May 16, 2009

2 Days in Paris

Hmm.. ini bukan cerita perjalanan saya selama di Paris. Nggak kok. Saya belum nyasar sejauh itu. Doakan saja ya saya bisa sampe ke sana. hehehe.. ini postingan tentang film yang baru aja tadi siang saya tonton (setelah kemarin-kemaring mendownload-nya dengan kesabaran ekstra) Judulnya: 2 Days in Paris (2007).

Ceritanya tentang sepasang kekasih yang sedang menikmati perjalanan keliling Eropa, lalu -dengan sedikit terpaksa- mereka menyempatkan diri singgah 2 hari ke kota Paris dan berjumpa dengan keluarga pihak cewek. Si cewek aslinya adalah orang Perancis, sedangkan si cowok adalah tipikal American guy. Maka film ini bukan hanya bercerita tentang hubungan personal mereka, tapi secara nggak langsung juga ngebahas masalah budaya dan hal-hal yang disadari atau tidak, sebenarnya juga ada di sekeliling kita. Oh iya, film ini bilingual, English and France.

Buat yang suka film Before Sunset dan Before Sunrise, pasti suka sama film ini. Pemeran utama ceweknya adalah Julie Delpy, yang juga main di kedua film itu. Mbak Delpy bahasa Perancisnya cas cis cus sekali.. hohoho. (belakang saya tau dari mbah Google, ternyata dia aslinya emang orang Perancis. Pantesan..) Tapi dibandingin Before Sunset dan Before Sunrise, bagi saya rasanya film ini lebih personal. Mungkin karna ditulis, disutradarai, diperankan, dan diedit oleh mbak Delpy itu sendiri ya. Mungkin..

Nah, untuk bisa menikmati film ini sampai selesai, ada satu syarat yang harus dipenuhi: penonton harus rela jadi pendengar yang setia. Karena, nggak jauh beda sama dua film itu juga, 2 Days in Paris adalah film ngobrol. Ngobrol dalam arti sebenarnya. Penuh dengan dialog, dialog, cerita, monolog, cerita dan dialog lagi. Tapi obrolannya tampak sangat cerdas dan mengalir. Ritmenya cepat, kadang diselingi dengan topik-topik yang agak berisi dan berloncat-loncatan. Dari ngebahas eksibisi seni, lalu pindah ke blow job, pindah lagi ngebahas terorisme, flu burung, kondom, demokrasi, kucing gendut, hak-hak perempuan, sampe ke masalah perselingkuhan.Tapi semuanya tetap enak untuk disimak.

Saya sendiri merasa begitu terlibat dalam film ini. Ketika ada adegan di meja makan pada sebuah ruang keluarga, misalnya, saya merasa seolah-olah juga sedang duduk disitu bersama mereka. Menikmati makanan, menyimak setiap percakapan,dan ikut tertawa bersama mereka. Dan yang saya suka, semua pemain di film itu tampaknya sedang tidak berakting! Bahkan juga para figurannya. Mereka begitu luwes, santai dan mengalir. Seolah-olah tidak ada kamera yang sedang merekam setiap detil kejadian. Padahal hampir dalam semua scene para pemain ditampilkan secara close-up, bahkan beberapa diantaranya extreme close-up. Inilah yang menurut saya justru menjadikan tidak ada jarak antara penonton dengan pemainnya. Setiap adegan terasa begitu detil dan akrab.

Oh iya, film ini bersetting kota Paris. Tapi jangan harap akan ada adegan menye-menye di bawah menara Eiffel atau dinner di cafe Paris nan romantis ya. Nggak ada. Yang ada adalah detil-detil peristiwa, kedekatan yang santai, dan keeratan hubungan personal yang bahkan hampir nggak ada hubungannya dengan sex.

Setelah nonton film ini saya jadi berfikir kembali tentang konsep mempertahankan sebuah hubungan. Tentang bagaimana bertoleransi dan memahami orang lain. Serta tentang bagaimana kita menerima pasangan kita sebagai sosok yang tak lain adalah manusia yang sama seperti diri kita juga -tidak sempurna. Hmm..Pesan yang bagus, bukan?

Ah..saya suka film ini. Tonton sendiri deh. Tapi maaf ya, ini nggak direkomendasikan buat penyuka film horor atau action yang penuh darah dan baku tembak. Hehehe..

Wednesday, November 05, 2008

Love is in the air

Selamat pagi semuanya..
This the most beautiful morning in my entire life.

Sarapan di sebuah cafe roti dengan segelas milo disaat pagi masih basah
Ditemani lagu-lagu klasik Indonesia era 60-an
Dengan suara penyanyi wanita yang lembut dalam irama bossas
Jadi berasa ada di cafe batavia
Sarapan dengan para noni Belanda yang cantik berkebaya encim


Di meja sebelah, ada pasangan suami istri separuh baya
Berbagi roti dan dua gelas kopi
Sang suami tuna netra, sang istri melayan dengan setia
Tersenyum membincangkan hari ini

Aah.. indahnya dunia