Beberapa hari yang lalu, saya baru aja selesai nonton trilogi The Matrix. hahaha.. hari gini baru nonton Matrix? iya. Dulu saya gak suka The Matrix. Bukan karna gak suka filmnya, tapi gak suka karena Matrix waktu itu lagi ngetop abisss.. semua hal, semua orang, kapan saja dimana saja ngebahas Matrix. Iklan, fashion, semuanya Matrix or Neo wannabe. Dan saya gak suka aja jadinya. Beberapa orang teman mungkin sudah tau, saya gak suka hal-hal populer. Hal yang disukai, digandrungi banyak orang, saya malah gak suka. . Selain Matrix, saya juga gak baca Harry Potter, gak nonton LOTR, gak punya Friendster. Ya karna alasan itu tadi. Sebenernya sih lebih karna gak mau ikut-ikutan kebawa arus. Saya maunya, kalaupun saya menyukai hal itu, bukan karna ikut-ikutan orang rame. Bukan karna khawatir saya akan dicap cupu abis atau gak gaul atau apalah namanya, hanya karna gak ikutan. Saya pengen nonton ya disaat saya pengen nonton aja.
Nah, keinginan nonton The Matrix ini baru muncul beberapa hari yang lalu. Telat banget? nggak juga, menurut saya. (menurut Anda?)
Menurut saya film ini bagus banget, terutama yg bagian pertama. Dalam hal tekhnik, ide cerita, karakterisasi, visual effect, soundtrack, nyaris sempurna. Tapi yang paling kena ke saya adalah tentang filosofinya. Benar-benar menggugah kesadaran saya tentang apa yang ada di sekeliling saya. Tentang keberadaan, kesadaran, konstruktivisme, eksistensi manusia, dunia dan segala isinya. Yaa..mungkin buat yang udah pernah nonton ini, sudah lebih dulu merasakan 'sentuhan' yang sama, pasti ngerti maksud saya apa.
Kesadaran seperti ini jarang sekali saya alami. Pengalaman pertama saya adalah beberapa tahun yg lalu, ketika saya baca novel Dunia Sophie. Kesadaran itu sedikit-demi sedikit mulai muncul, tapi nggak bertahan lama. Sampai pada setahun yang lalu, ketika saya kuliah Media, Budaya dan Masyarakat, saya sempat mendapatkan pencerahan yang luar biasa dari Sang Guru. Kali itu, serta-merta fikiran saya terbuka tentang segala sesuatunya. Bagaimana manusia mengkonstruk makna, bagaimana media membentuk pemahaman kita, bagaimana manusia, bagaimana Tuhan, bagaimana kehidupan, bla..bla..bla.. Maka sejak saat itu, pandangan saya mulai berubah. Cara melihat, menilai, memaknai juga ikut berubah. Saya bahkan mere-konstruksi pemahaman yang telah ada di otak saya selama ini. Dan pelan-pelan belajar melihat lagi semuanya dengan mata bayi yang baru lahir.
Tapi sayangnya, kesadaran yang saya miliki itu selalu saja timbul tenggelam. Malah sejak lulus mata kuliah itu, lebih banyak waktu tenggelamnya. Nah, kemarin ini, The Matrix berhasil membuka kembali kesadaran saya itu. Membuat saya berfiikir dan berfikir ulang. Ah.. saya jadi suka, semakin suka sama film ini. Apalagi saya nonton trilogi ini secara marathon. Dapet banget deh 'feel'nya.
oh iya, satu hal lagi. Tokoh The Oracle-nya mirip dosen pembimbing (penyelia tesis) saya disini. She's very kind, wise, and genius. Terutama cara ngomongnya itu lho.. miriipp banget! Lembut, pelan, tapi tegas dan berisi. Keibuan sekali, tapi disaat yang sama juga tampak begitu tangguh. Nah, sekarang saya tau, kalau misalnya nanti setelah lulus S2 dan pulang ke Indonesia tiba-tiba saya merasa kangen dengan beliau, yang perlu saya lakukan hanya nonton The Matrix lagi.hehehe..
