Wednesday, April 29, 2009

The Matrix dan kesadaran

Beberapa hari yang lalu, saya baru aja selesai nonton trilogi The Matrix. hahaha.. hari gini baru nonton Matrix? iya.

Dulu saya gak suka The Matrix. Bukan karna gak suka filmnya, tapi gak suka karena Matrix waktu itu lagi ngetop abisss.. semua hal, semua orang, kapan saja dimana saja ngebahas Matrix. Iklan, fashion, semuanya Matrix or Neo wannabe. Dan saya gak suka aja jadinya. Beberapa orang teman mungkin sudah tau, saya gak suka hal-hal populer. Hal yang disukai, digandrungi banyak orang, saya malah gak suka. . Selain Matrix, saya juga gak baca Harry Potter, gak nonton LOTR, gak punya Friendster. Ya karna alasan itu tadi. Sebenernya sih lebih karna gak mau ikut-ikutan kebawa arus. Saya maunya, kalaupun saya menyukai hal itu, bukan karna ikut-ikutan orang rame. Bukan karna khawatir saya akan dicap cupu abis atau gak gaul atau apalah namanya, hanya karna gak ikutan. Saya pengen nonton ya disaat saya pengen nonton aja.

Nah, keinginan nonton The Matrix ini baru muncul beberapa hari yang lalu. Telat banget? nggak juga, menurut saya. (menurut Anda?)

Menurut saya film ini bagus banget, terutama yg bagian pertama. Dalam hal tekhnik, ide cerita, karakterisasi, visual effect, soundtrack, nyaris sempurna. Tapi yang paling kena ke saya adalah tentang filosofinya. Benar-benar menggugah kesadaran saya tentang apa yang ada di sekeliling saya. Tentang keberadaan, kesadaran, konstruktivisme, eksistensi manusia, dunia dan segala isinya. Yaa..mungkin buat yang udah pernah nonton ini, sudah lebih dulu merasakan 'sentuhan' yang sama, pasti ngerti maksud saya apa.

Kesadaran seperti ini jarang sekali saya alami. Pengalaman pertama saya adalah beberapa tahun yg lalu, ketika saya baca novel Dunia Sophie. Kesadaran itu sedikit-demi sedikit mulai muncul, tapi nggak bertahan lama. Sampai pada setahun yang lalu, ketika saya kuliah Media, Budaya dan Masyarakat, saya sempat mendapatkan pencerahan yang luar biasa dari Sang Guru. Kali itu, serta-merta fikiran saya terbuka tentang segala sesuatunya. Bagaimana manusia mengkonstruk makna, bagaimana media membentuk pemahaman kita, bagaimana manusia, bagaimana Tuhan, bagaimana kehidupan, bla..bla..bla.. Maka sejak saat itu, pandangan saya mulai berubah. Cara melihat, menilai, memaknai juga ikut berubah. Saya bahkan mere-konstruksi pemahaman yang telah ada di otak saya selama ini. Dan pelan-pelan belajar melihat lagi semuanya dengan mata bayi yang baru lahir.

Tapi sayangnya, kesadaran yang saya miliki itu selalu saja timbul tenggelam. Malah sejak lulus mata kuliah itu, lebih banyak waktu tenggelamnya. Nah, kemarin ini, The Matrix berhasil membuka kembali kesadaran saya itu. Membuat saya berfiikir dan berfikir ulang. Ah.. saya jadi suka, semakin suka sama film ini. Apalagi saya nonton trilogi ini secara marathon. Dapet banget deh 'feel'nya.

oh iya, satu hal lagi. Tokoh The Oracle-nya mirip dosen pembimbing (penyelia tesis) saya disini. She's very kind, wise, and genius. Terutama cara ngomongnya itu lho.. miriipp banget! Lembut, pelan, tapi tegas dan berisi. Keibuan sekali, tapi disaat yang sama juga tampak begitu tangguh. Nah, sekarang saya tau, kalau misalnya nanti setelah lulus S2 dan pulang ke Indonesia tiba-tiba saya merasa kangen dengan beliau, yang perlu saya lakukan hanya nonton The Matrix lagi.hehehe..



Sunday, April 19, 2009

The new rule

UNDANG-UNDANG HATI NO.1/2008
----------------------------------------------
Pasal 1 ayat (1)
Patah hati jangan kelamaan
Pasal 1 ayat (2)
Cuci otak bila perlu

Tuesday, April 14, 2009

Tomat siram kecap

Aku pernah membencinya. Teramat sangat membencinya.
Aku bahkan pernah berdoa kepada Tuhan untuk mengambil saja nyawanya seketika.
Aku juga pernah bersumpah pada diriku, tidak akan menangisi kematiannya. Tidak setitikpun air mataku akan jatuh pada saat ajal itu datang.

Ya, aku mungkin terlalu membencinya.

Aku ingat dia pernah memberiku satu tamparan keras. Lalu dia berkata bahwa aku HARUS memaafkannya. Semudah itu? Tidak, tentu saja.
Lalu dia mengatakan bahwa sedalam apapun aku membencinya, aku tidak akan pernah melupakannya, tidak akan pernah bisa jauh darinya. Dia berkata sambil menepuk dadanya waktu itu. Sombong!

Nyatanya, dia memang tidak pernah benar-benar hilang dari pandanganku. Tapi bagiku, dia hanya seperti benda mati. Tidak lebih. Seperti tai kerbau atau rongsokan besi. Membusuk pun aku tak peduli.

Lalu siang ini, aku mengingatnya lagi.
Pada irisan tomat bersiram kecap aku menemukan wajahnya. Dia yang mengajarkanku makan tomat dengan cara itu.
Aku suka tomat itu. Tapi hatiku mendadak nyeri karna wajah itu hadir kembali.
Maka aku melumat tomat itu, mengunyahnya dan menelannya cepat-cepat.

Aku jamin, besok pagi pasti tomat itu sudah membusuk di lubang WC ku.

Sunday, April 12, 2009

lukisan langit


Dan sungguh, Kami telah menciptakan gugusan bintang di langit dan menjadikannya indah bagi orang yang memandang(nya)

--Q.S. Al-Hijr.16 --

Sunday, April 05, 2009

Politik, REPELITA, dan Tembok Berlin


Whuiii..baca judulnya kok kayanya postingan ini bakal serius ya. haha..nggak kok, gak segitunya. ini cuma rangkuman beberapa hal yang belakangan ini melintas di pikiran saya, cuma gak pernah bener-bener ada waktu lapang untuk posting ini ke blog. Jadi ya sudah, dibikin quick update aja ya. Here it goes:

Pertama,
Beberapa hari yang lalu Malaysia ganti Perdana Mentri, dari sebelumnya Abdullah Ahmad Badawi (Pak Lah), digantiin sama Najib Tun Razak. (kalau gak suka omongan politik beginian, mending langsung skip aja deh ke point ke dua) Selama dua tahun saya disini, bisa dibilang saya berada pada masa-masa penting sejarah politik Malaysia. Dalam 2 tahun ini ada pergolakan di kursi PM sini. Pak Lah sendiri baru menjabat beberapa bulan setelah terpilih pada pertengahan 2008 kemarin. Ini masa terpendek jabatan PM dipegang sepanjang sejarah Malaysia. Belakangan masyarakat juga mulai hilang kepercayaan pada UMNO (partai terbesar di Malaysia) dan mulai beralih ke oposisi. Pak Lah sendiri mengalami tekanan dari bawah dan beberapa tokoh UMNO lain, termasuk Mahatir Mohammad. "Sudahlah bro..turun aja" (gitu kira-kira). Jadi ya sudah, Pak Lah mengundurkan diri dan digantikan oleh Najib yang sebelumnya menjadi wakil. Nah, Najib sendiri, tak lain adalah anak pertama PM Malaysia ke-2 (sudah diralat. tnx, for bang ido n faeiz), Tun Abdul Razak. Kalau di Indonesia ibarat dulunya Soekarno, dan sekarang Guntur Soekarno Putra. Najib ini bisa dibilang jebolan business school dari London yang pulang ke Malaysia, dan karir politiknya mulusss lancar bak jalan tol.

Nah, saya pikir akan ada moment yang cukup seru untuk disimak selama proses pergantian PM ini. Saya sempat nangkringin siaran berita, dan beli koran segala (yang selama disini sebenarnya sangat jarang saya baca koran). Tapi ternyata gak segitu hebohnya juga. Mulai dari pengunduran diri sampai pelantikan PM baru, kayanya adem-ayem aja. Ah, gak seru ternyata. hehehe.. Tapi ya sudah, paling gak jadi tau perkembangan terkini, itu aja sih.

Kedua,
Ya..ya..belakangan ini saya terlalu sering menyebut kata tesis. Kabar gembiranya adalah..final project ini akan segera selesai. Hohoho..Mudah-mudahan sih dalam waktu 1-2 bulan ini. Mohon do'anya yaa. Tapi tau nggak, saya juga sering ngerasa panik seiring dengan semakin dekatnya lulus S2 ini. Bingung, abis ini mau ngapain. Mau kerja apa, dimana, atau mau S3 lagi, atau mau kawin lari (hahaha..yg terakhir nggak kayanya sih). Jujur, saya gak punya rencana masa depan. And I'm just so tired of making plan. Jangankan menyusun REPELITA, rencana untuk sebulan kedepan aja saya gak punya. Saya sempat merasa mendapat tamparan keras ketika ngobrol dengan seseorang nun jauh dimata. Saya tanya rencana hidupnya ke depan apa. Dia bisa menjawabnya dengan pasti, malah cukup detil kalo saya bilang. Mau sekolah lagi ambil jurusan ini di negara A, lalu mau melakukan itu, nabung beli ini itu, pergi ke sana dan ke situ, lalu nikah umur sekian, bla-bla bla..

Lalu dia melontarkan pertanyaan yang sama ke saya. Saya..... saya cuma bisa bilang GAK TAU. karna saya memang gak tau. Gak tau mau melakukan apa. Gak tau mau kemana. Gak tau mau jadi apa. Saya tau ini bodoh. Makanya, saya sekarang sedang berusaha, sedang berfikir keras, menyusun propgram REPELITA hidup saya. Saya gak mau semua yang udah saya jalani sejauh ini jadi sia sia hanya karna pasrah pada jawaban GAK TAU itu.

hhufffh.... wish me luck.

Oke, ketiga.
Kemarin saya lagi seneng. Seneng karna hal-hal kecil dan mendapat sapaan-sapaan ringan dari orang-orang yang gak disangka-sangka. Mulai dari SMS yang hanya bertanya "Apa kabar, gimana tesismu? Jaga kesehatan ya.." SMSnya sih biasa, tapi orangnya yang nggak biasa. Nggak pernah-pernahnya dia begini ke saya. Apalagi sampai niat menghabiskan pulsa kirim pesan ke nomor luar negeri untuk menanyakan hal ini. Saya sempat nanya "Kok tumben SMS? Ada apa?" Dia cuma jawab "gpp". Dan ya sudah, saya pikir hal itu memang gak perlu dijawab. Kalau dijawab mungkin akan jadi aneh dan gak spesial lagi. hehehe. Simple, but nice messages.

Lalu siangnya, saya chatting dengan seseorang. Teman kuliah dulu. Cuma, walaupun selama 4 tahun dia ada di depan muka saya, saya selalu merasa ada jarak antara kami. Dan dia juga merasakan hal yang sama. Dia bilang saya seperti hiu, dan saya bilang dia macan tidur. Tidak pernah ada obrolan panjang, tidak pernah ada sesi curhat-curhatan.Saya tidak tau dia ulang tahunnya kapan, dia juga tidak tau saya suka film apa. Dia pernah menulis, katanya seperti ada Tembok Berlin diantara kami. Saya tau, kata-kata itu tepat sekali.

Kemarin siang itu, setelah makan siang sebenarnya saya nggak ngapa-ngapain. Lalu memutuskan untuk nonton film aja di laptop. Tapi ketika baru online, sapaan ringan itu datang lagi. Kali ini dia yang menyapa saya dengan pertanyaan-pertanyaan yang juga sangat biasa. Tapi kok rasanya ini jadi sesuatu yang berharga buat saya. Maka, bye-bye film dan saya lanjut chatting dengan dia. Membincangkan hal-hal ringan, termasuk kecanggungan yang selama ini kami punya. Saya menyesal, kenapa gak dari dulu aja bisa ngobrol begini dengan dia. Hahhaa..agak melankolis memang, tapi saya bersyukur, tembok berlin itu akhirnya kami sepakati untuk dirobohkan.

Semuanya hanya datang dari hal-hal kecil, sapaan-sapaan ringan, tapi berharga. amat berharga..

terima kasih semuanya :)