Sunday, January 23, 2011

Sad stories, again

"When will you stop telling the same story over and over again?"


Plak! 
Kalimat yang saya dengar waktu nonton acara Oprah Winfrey Show itu kok terasa menampar pipi sekali ya? 
Sadarkah, kita mungkin selama ini mengulang-ngulang kisah hidup yang itu-itu juga ketika bercerita ke orang lain? Kisah yang bukannya membebaskan kita, tetapi justru membuat kita semakin terjerat dengan masa lalu.


Kalimat yang diucapkan oleh Rosie (saya lupa nama lengkapnya, konon seorang broadcaster-wati yang terkenal di Amerika sono) itu, membuat saya tiba-tiba melongok ke dalam diri sendiri. Did I? 


Rosie bilang, selama ini dia menceritakan kisah hidupnya kepada orang lain dengan menggarisbawahi pengalaman pahitnya. Ia ditinggal ibunya ketika dia masih kecil. Dia hanya tinggal dengan ayahnya yang acuh tak acuh, serta neneknya yang sudah tua, yang untuk memasak pun sudah tak bisa. Masa mudanya dihabiskan untuk bertahan hidup. 
Dia, kemudian, selalu menceritakan hal itu ke orang lain, over and over again, padahal semua itu sudah 40 tahun berlalu.


Sayangnya dia luput mengisahkan pencapaiannya selama 40 tahun itu. Padahal dia sudah berhasil dalam karir, mencapai kesuksesan sebagai seorang pembawa berita, bahkan menjadi produser di acaranya sendiri, telah menikah (dengan pasangan lesbiannya) dan mempunyai 4 orang anak yang lucu-lucu. 


Tapi balik lagi, ketika dia ditanyakan orang tentang hidupnya, dia selalu bercerita sebagai anak kecil yang ditinggal mati oleh ibunya. Padahal kini dia adalah ibu dari 4 anak! Dia masih belum bisa beranjak dari masa lalunya, sepertinya. Dan -masih menurutnya, hal ini agak terlambat untuk disadari.


Hmmm..mungkin kita juga pernah -atau bahkan sedang- dalam posisi itu. Sadar atau tidak sadar kita masih suka mengulang-ulang kisah yang itu-itu lagi seperti kaset rusak. Atau seperti dvd bajakan yang sering 'cekit-cekit' karena macet sehingga cerita tak bisa berlanjut ke chapter berikutnya. Banyak. Sepertinya banyak dari kita yang mengalami hal ini. 


Tetangga saya, masih saja menangisi kematian anak lelaki satu-satunya yang mungkin sudah hampir 10 tahun yang lalu. Padahal dia masih punya 3 orang anak perempuan yang sudah menikah dan memberinya cucu-cucu yang manis. Ada juga yang selalu mengisahkan dirinya sebagai anak "broken home", padahal sekarang kemandirian yang dilaluinya sudah membuahkan hasil yang gemilang.


Saya?? 
Yaa..yaa..saya ngaku. Saya masih mengulang-ulang kisah bersama si mantan yang padahal sudah berakhir sejak 4 tahun lebih itu. (hehee...*tutup muka). Kebayang deh, orang lain juga mungkin sudah eneg denger cerita saya yang pemeran utamanya masih dia lagi dia lagi.


Maka tak heran, ketika kalimat itu muncul di tayangan Oprah Winfrey Show, saya seperti "cring!" mendapatkan ilham dan langsung introspeksi dalam-dalam.
Banyak hal yang sesungguhnya sudah saya raih dalam kurun 4 tahun itu. Banyak kisah yang juga semestinya bisa saya bagi dengan aura yang lebih optimis. Tapi kenapa saya masih juga melihat kisah itu sebagai Bab I (Latar belakang) dari setiap hal yang saya jalani? 
Damn, I was trapped in my past!!


Kalo ditanya, kenapa gak move on? well.. I tried. I gave my best. 
Tapi ya gitu deh, mekanisme mengulang-ulang kisah ini sepertinya berasal dari alam bawah sadar kita. (hehe..entahlah, ini pledoi atau apa). 
Tapi mulai sekarang -ehm, mulai awal tahun ini sebetulnya-, saya sudah mencoba sebisa mungkin, dengan segala jurus yang saya punya, dan segala kekuatan bulan yang bisa saya himpun, saya harus beralih! Yap, banyak hal positif yang sudah saya capai selama ini, dan seharusnya itulah yang bisa saya bagi dengan orang-orang di sekitar saya. 


Tapi maksud saya di sini, bukannya kita lantas melupakan pengalaman pahit itu begitu saja, bukan. Kita tetap bisa mengenangnya, mengambil hikmah dan segala pelajaran dari semuanya. But, instead of telling the same sad stories over and over again, why can't we be proud of what he had and share the positive feeling to other people? 


Kalo semua orang begini kan, dunia rasanya lebih syahdu gitu...
Setuju?

3 comments:

ea_12h34 said...

setuju bu guru :)

tri said...

numpang komen. Dalam buku "mari bergaul" karangan Kak Seto hlm 23 ditulis dn dijelaskan, apa yg dpaparin sm ade itu adlh "selftalk" yg negatif.
Selftalk ini brperan sgt bsar dlm mbntuk alam bwh sadar. Tau ga, hampir 90% tndkan mnusia itu dpngaruhi oleh alam bwh sdar.
Dn klo blh ju2r, ini ga bs dhentikn -selftalk negatif itu. Cntoh kecil, "kok nilai agama gw D yah," atw "kok gw tambah gendut yah,".
Itu mbwt kita (baca: pikirn) jd ga sehat -yg nantinya akn mncul kalimat "what if", ini klo trs brulang, brpotensi jd rasa pnyesalan yg mndalam, dn tentu, rasa terpuruk, kyk lagu "Orang Termiskin Di Dunia"-nya Hamdan ATT.
Gw stuju dg yg ade blg, org kdang ga liat kbrhasilan2 yg dibuatnya. Mari, kita tulis kberhasilan2 dlm hidup kita, bs dr yg sdrhan semisal: "hari ini akhirnya bs mandi pake sabun, alhamdulillah," dll. Selftalk smcm ini bs mredam sisi negatif.
Sprti kata Gandhi, "Berbuat baiklah, krn org lain mpunyai mslah yg jauh lbih bsr dr kita,"
(haha, sok bijak nih gw, hahaha. Cheers!)

ade suryani said...

@ema: baguss... *salaman
@tri: hooo...begitu yaa... *manggut-manggut