Monday, August 23, 2010

go blog

Voila!
Selamat datang di blog dengan template baru ini. Kalau dihitung-hitung ini sudah ke..umm.. 256 kalinya saya ganti template.
Hahahaa..

Biasa lah. Bosan.
Dan pengen sesuatu yang simple aja. Biar lebih enak ngeliatnya

Anyway..Ngomong-ngomong soal blog, kampus tempat saya bekerja mengeluarkan kebijakan yang menurut saya dan rekan-rekan sesama dosen agak ganjil. Jadi intinya, atasan mengeluarkan peraturan yang mengharuskan semua dosen punya blog, biar rating web kampus dengan sistem webometrik (don’t ask me. saya gak ngerti yang beginian) jadi meningkat.

"Ya berarti gak masalah dong de..kan udah punya blog ini dari kapan tau.."

APAAN!
Gak mungkin lah blog ini gw jadikan official blog yang bisa diakses dan dinikmati oleh rekan kerja dan mahasiswa gue!! Hahahhaa.. Bisa hancur reputasi!


Dulu aja ada rekan kerja yang nanyain apakah saya punya blog atau nggak, karena dia sharing blognya yang kontennya penuh dengan hal-hal akademik, penelitian terbaru yang dia lakukan, sampai opini-opini yang analisisnya…beuh! Dia bilang gini “tukeran link dong, mbak ade..”

Hehehee…Saya cuma bisa nyengir bajing diajak tukeran link begitu. Memandang bahwa blog ini cuma berisi hal hal remeh temeh, banyakan lala lili yang gak penting, dan urusan dalam negeri yang nggak banget dibawa-bawa sampe ke kantor, saya terpaksa geleng-geleng…”Jangan deh pak, blog saya mah gak mutu. Hehehe”

Dan sekarang, kebijakan kampus mengharuskan setiap dosen punya blog. Walaupun gak diperinci juga di aturan itu mengenai kontennya, tetapi gak mungkin juga kan blog dosen yang di-link dari official website kampusnya dipenuhi dengan resep masakan atau curhatan-curhatan gak penting? Menurut loo?!

Jadi, apa saya perlu bikin blog baru? Sesuatu yang lebih formal, gitu?

Ah saya itu sebenernya paling males nulis-nulis yang serius begitu. Dan lebih malas lagi mengalokasikan waktu untuk mengetik materi di blognya itu. Sama aja kaya bikin buku gak sih? Ah...malas! Mending kalo dibayar! Hahahaha... *plak!*

Jadi ya sudahlah, lihat aja bagaimana nantinya. Tapi yang jelas blog ini gak mungkin saya share dengan dunia kampus. Karena di sinilah saya bisa menjadi sosok lain yang kadang suka nganeh-nganeh. Hehehe..

Enjoy the new face, fellas.. :)
Hope you all like it

Wednesday, August 04, 2010

First Thing

Do you remember the name of your first grade teacher? No?
But you DO remember the one who gave you the first kiss, rite?

Hahahha.. Think why.

Oke. Hal ini mungkin sepele. Tapi nyatanya memang demikian bukan? Kita lebih bisa mengingat seseorang yang memberi ciuman pertama dibandingin sama guru kelas 1 SD kita dulu. Kenapa ya? Karena “pengalaman pertama” itu?

Kalo dipikir-pikir, sebenernya kita juga banyak mengalami hal pertama di waktu kelas 1 SD kan? Pertama kali bisa baca, nulis, berhitung. Pertama kali pake seragam sekolah. Pertama kali punya kotak makanan untuk membawa bekal. Pertama kali punya teman untuk pulang sekolah bareng. Pertama kali berani tunjuk tangan dan menulis di papan tulis. Pertama kali berani bernyanyi di depan kelas. Banyak kan?

Tapi seberapa banyak dari hal-hal pertama itu yang bisa kita ingat sampai sekarang? Bahkan sesederhana pertanyaan siapa nama ibu/bapak gurunya?

Hehehehe.. jujur, saya sendiri juga gak inget nama ibu guru saya dulu itu. Yang bisa saya inget cumaa… umm, bentar.

Umm...Oh, hari pertama itu saya ke sekolah belum memakai seragam. Belum dapat, mungkin. Jadi waktu itu saya pakai baju baby doll warna pink, bertangan panjang dan bagian bawah yang agak megar hingga sepanjang lutut. Di bagian tengah dada ada kepala boneka anak perempuan berkepang dua. Saya sendiri waktu itu rambutnya masih pendek. Model bob. Saya menggendong tas monyet berwarna coklat muda, belum ada buku di dalamnya. Hanya sekotak makanan, dan saya lupa apa lagi isinya.

Dan saya juga ingat, sebelum melangkah keluar rumah, Bapak saya memotret saya yang tersenyum manis dengan lemari kayu warna coklat tua sebagai backgroundnya.

Sudah, hanya sebatas itu yang bisa saya ingat. Itupun setelah bersusah payah memeras memori. Selebihnya, apa yang terjadi di sekolah, siapa nama teman sebangku saya waktu itu, atau bagaimana tiba-tiba saya bisa menghitung 2 + 2 = 4, saya lupa. Apalagi nama Ibu Guru wali kelas saya waktu itu, saya gak ingat sama sekali. Padahal kalau dipikir-pikir, saya menghabiskan 3 caturwulan bersama beliau. Setiap hari kan gurunya gak ganti-ganti. Setiap hari juga saya mencium tangannya waktu berbaris masuk kelas dan pulang sekolah. Tapi saya nggak ingat!

Coba bandingkan dengan pengalaman ciuman pertama.

Hahaha... No, saya nggak akan membahas pengalaman pribadi saya di sini. No way! *yak, penonton silahkan kecewa. Hehehehe *


Tapi gini pointnya. Ciuman pertama itu mungkin hanya sekelebat. Hanya moment 2 atau 3 detik yang sedikit memalukan. Orang yang turut berpatisipasi dalam adegan itu *ca’ilah bahasanya*, mungkin juga orang yang belum terlalu lama kita kenal. Mungkin hanya anak kelas sebelah yang diam-diam suka perhatian. Atau teman les bahasa Inggris yang suka menemani pulang ke rumah. Atau anak tetangga yang sebenarnya nakal dan suka menggoda. Tapi kita mengingatnya seumur hidup!

Bandingkan, si mas-mas yang nyium itu mungkin sekarang entah dimana. Dia juga mungkin bukan best kisser I’ve ever met. Mungkin dia juga sudah lupa sama saya. Mungkin dia sudah ada di Timbuktu, atau menikah dengan orang Madura, atau apalah. Ciuman itu sendiri juga mungkin lebih cenderung malu-maluin, atau rasanya kok aneh, atau bahkan gak bisa dirasain *saking groginya* hehehe. Tapi nama mas-mas itu keinget terus seumur hidup!

Lha si ibu guru? Padahal sampai hari ini kita masih terus menggunakan ilmu menulis membaca dan berhitung. Kita sudah nggak takut lagi saat harus angkat tangan menjawab pertanyaan. Kita nggak malu lagi saat harus maju untuk tampil di depan kelas. Tapi kenapa nama beliau nggak juga bisa kita ingat?

Ah, saya juga gak tau kenapa...