Friday, May 22, 2009

I am that same person who one day wanted to become an ocean
I wanted to become the greatest ocean in the world
My mournful story has remain the same as it has before
It’s the mournful story of someone with a tired heart

Oh God, Oh God, I am as lifeless as a dessert…
a dessert…
Tell the clouds to rain… I want to live again

We must remain captives,
we only live in captivity
For us, death is freedom.

I am in love the way a traveler is in love
I am in love with the idea of reaching an end


*taken from "Googosh, Iran Daughter", special feature of "The Cow", a movie by Dariush Mehrjui
copied from Ekky Imanjaya's note


Saturday, May 16, 2009

2 Days in Paris

Hmm.. ini bukan cerita perjalanan saya selama di Paris. Nggak kok. Saya belum nyasar sejauh itu. Doakan saja ya saya bisa sampe ke sana. hehehe.. ini postingan tentang film yang baru aja tadi siang saya tonton (setelah kemarin-kemaring mendownload-nya dengan kesabaran ekstra) Judulnya: 2 Days in Paris (2007).

Ceritanya tentang sepasang kekasih yang sedang menikmati perjalanan keliling Eropa, lalu -dengan sedikit terpaksa- mereka menyempatkan diri singgah 2 hari ke kota Paris dan berjumpa dengan keluarga pihak cewek. Si cewek aslinya adalah orang Perancis, sedangkan si cowok adalah tipikal American guy. Maka film ini bukan hanya bercerita tentang hubungan personal mereka, tapi secara nggak langsung juga ngebahas masalah budaya dan hal-hal yang disadari atau tidak, sebenarnya juga ada di sekeliling kita. Oh iya, film ini bilingual, English and France.

Buat yang suka film Before Sunset dan Before Sunrise, pasti suka sama film ini. Pemeran utama ceweknya adalah Julie Delpy, yang juga main di kedua film itu. Mbak Delpy bahasa Perancisnya cas cis cus sekali.. hohoho. (belakang saya tau dari mbah Google, ternyata dia aslinya emang orang Perancis. Pantesan..) Tapi dibandingin Before Sunset dan Before Sunrise, bagi saya rasanya film ini lebih personal. Mungkin karna ditulis, disutradarai, diperankan, dan diedit oleh mbak Delpy itu sendiri ya. Mungkin..

Nah, untuk bisa menikmati film ini sampai selesai, ada satu syarat yang harus dipenuhi: penonton harus rela jadi pendengar yang setia. Karena, nggak jauh beda sama dua film itu juga, 2 Days in Paris adalah film ngobrol. Ngobrol dalam arti sebenarnya. Penuh dengan dialog, dialog, cerita, monolog, cerita dan dialog lagi. Tapi obrolannya tampak sangat cerdas dan mengalir. Ritmenya cepat, kadang diselingi dengan topik-topik yang agak berisi dan berloncat-loncatan. Dari ngebahas eksibisi seni, lalu pindah ke blow job, pindah lagi ngebahas terorisme, flu burung, kondom, demokrasi, kucing gendut, hak-hak perempuan, sampe ke masalah perselingkuhan.Tapi semuanya tetap enak untuk disimak.

Saya sendiri merasa begitu terlibat dalam film ini. Ketika ada adegan di meja makan pada sebuah ruang keluarga, misalnya, saya merasa seolah-olah juga sedang duduk disitu bersama mereka. Menikmati makanan, menyimak setiap percakapan,dan ikut tertawa bersama mereka. Dan yang saya suka, semua pemain di film itu tampaknya sedang tidak berakting! Bahkan juga para figurannya. Mereka begitu luwes, santai dan mengalir. Seolah-olah tidak ada kamera yang sedang merekam setiap detil kejadian. Padahal hampir dalam semua scene para pemain ditampilkan secara close-up, bahkan beberapa diantaranya extreme close-up. Inilah yang menurut saya justru menjadikan tidak ada jarak antara penonton dengan pemainnya. Setiap adegan terasa begitu detil dan akrab.

Oh iya, film ini bersetting kota Paris. Tapi jangan harap akan ada adegan menye-menye di bawah menara Eiffel atau dinner di cafe Paris nan romantis ya. Nggak ada. Yang ada adalah detil-detil peristiwa, kedekatan yang santai, dan keeratan hubungan personal yang bahkan hampir nggak ada hubungannya dengan sex.

Setelah nonton film ini saya jadi berfikir kembali tentang konsep mempertahankan sebuah hubungan. Tentang bagaimana bertoleransi dan memahami orang lain. Serta tentang bagaimana kita menerima pasangan kita sebagai sosok yang tak lain adalah manusia yang sama seperti diri kita juga -tidak sempurna. Hmm..Pesan yang bagus, bukan?

Ah..saya suka film ini. Tonton sendiri deh. Tapi maaf ya, ini nggak direkomendasikan buat penyuka film horor atau action yang penuh darah dan baku tembak. Hehehe..

Wednesday, May 06, 2009

tissue

maaf,
aku tidak punya obat penawar untuk rasa sakitmu
aku juga tidak punya perban untuk membalut lukamu
apalagi untuk menyembuhkanmu,
bisa apa aku?

yang aku punya hanya selembar tissue
yang boleh kau pakai untuk menghapus air matamu
maka menangislah
menangis dan lepaskan semuanya

tenang saja..
aku masih punya baju, jika selembar tissue saja tidak cukup
tapi janji ya,
setelah semua tangis berlalu
kau harus tertawa lagi
tertawa lagi seperti dulu

Saturday, May 02, 2009

Komunikasi dan galaksi

Belakangan ini saya sedang asik memikirkan sesuatu, sesuatu yang dulu pernah juga terfikir, jauh sebelum malam ini. Setahun lalu mungkin, dalam adegan insomnia yang sama. Tapi tidak pernah terfikir hingga selesai dengan sempurna.

Ini tentang sesuatu yang agak serius. Tentang teori komunikasi. Tentang langit. Dan tentang galaksi. Saya menyebutnya sebagai Teori Komunikasi Galaksi.



Ehm..Menurut saya, pola komunkasi manusia itu tidak berbeda dengan galaksi.

Begini. Katakanlah seorang manusia (anggaplah ini saya atau anda) adalah bumi. Bumi punya satelit, salah satunya bulan (ini yg alami, yang buatan gak perlu dibahas lebih jauh disini). Satelit adalah benda yang mengorbit benda lain dengan periode revolusi dan rotasi tertentu. Maka bulan dapat disamakan dengan orang terdekat yang ada dalam lingkaran komunikasi antarpersonal kita. Bisa suami, pacar, orang tua, sahabat, atau siapa saja.

Begitu juga orang lain, yang bisa kita anggap sebagai planet lain, juga punya satelitnya masing-masing. Punya orang-orang terdekat dalam lingkaran komunikasi antarpersonalnya.

Lalu bumi dan planet lainnya ini, berada dalam satu orbit dan bersama-sama berputar mengelilingi matahari. Ini sama seperti saya/anda yang bersama dengan teman-teman, berada dalam satu kelompok komunikasi (yang pada level ini sudah agak besar sedikit) berada dalam satu lingkaran yang sama. Entah itu orbit kampus, orbit kantor, orbit kelurahan, kecamatan atau apapun. Maka yang menjadi pusat orbit, sang matahari, bisa saja dosen, bos, lurah, atau siapapun yang menjadi tokoh sentral kelompok komunikasi itu.

Jika kelompok ini diperbesar lagi, maka orbitnya juga akan lebih besar lagi. Kelompok berdasarkan kesamaan bahasa, wilayah, ras, negara atau bahkan benua. Sebutlah ini sebagai galaksi. Galaksi-galaksi inilah yang menyusun semesta. Sama halnya dengan kelompok-kelompok manusia yang saling berkomunikasi. Yang saling berhubungan dan mengorbit bersama-sama dalam populasi yang besar.

Jadi susunan semesta komunikasi, dimulai dari hanya seseorang, yang kemudian membentuk kelompok komunikasi yang kecil, lalu yang besar, lalu yang lebih besar lagi, dan begitu seterusnya, hingga mencakup seluruh populasi manusia yang ada di dunia ini.

Got my idea? Bingung ya..? sama..hehehe..saya juga bingung gimana jelasinnya dengan cara yang mudah. Tapi mudah-mudahan bisa difahami lah...

Nah, tapi ada kelanjutannya nih. (Masih menurut saya) ada perbedaan juga antara semesta komunikasi manusia dengan semesta alam ini. Bedanya ada pada satu hal: The Big Bang.

Kalau di semesta alam raya ini, Big Bang diyakini sebagai awal kejadian. Ledakan besar inilah yang memecah semesta menjadi gugusan-gugusan kecil, hingga ke sistem tata surya yang kita kenali saat ini. Nah, sedangkan pada komunikasi, terjadi kebalikannya. Big Bang bukan sebuah kejadian awal, melainkan sebuah ledakan yang (disadari atau tidak) baru saja terjadi.

Big Bang itu memecah kelompok-kelompok komunikasi yang telah ada. Sebelumnya bisa dikatakan satu kelompok komunikasi di Indonesia, di Jawa, di Yogyakarta di Ngawi, di Klaten, atau di Gresik misalnya, tidak saling bersinggungan dengan kelompok komunikasi di Amerika, di Puerto Rico, di Jerman atau di Namibia. Semua berjalan dalam orbitnya masing-masing tanpa saling bersinggungan. Tapi lihat sekarang, semua itu terpecah dan membentuk pola acak. Manusia hanya menjadi debu-debu kecil dalam satu gumpalan besar populasi di dunia ini yang entah bagaimana caranya bisa saling bersinergi dan berhubungan. Semuanya pecah karena satu ledakan besar. The Big Bang.

Nah, Big Bang itu adalah penemuan internet.

---

yaa.. saya tau, teori ini masih lemah. Ini juga masih pemikiran awal aja. pikiran-pikiran ngaco saya yang lagi nggak bisa tidur. Yah.. lain kali, ini mungkin akan saya sempurnakan lagi. Masih perlu baca dan belajar lebih banyak lagi. Tapi sepertinya beneran, saya mau serius mempelajari hal ini. So please, correct me if I'm wrong. Ditunggu komen dan kritiknya yaaa.. :)