Eh bentar, hari gini kok ngomongin hambatan
sekolah buat perempuan? Bukannya udah jaman emansipasi ya?
Nah itu dia. Yakin
setiap perempuan udah bebas mengenyam pendidikan setinggi-tingginya? Sebagian
besar mungkin iya. Ibu Kartini mungkin bolehlah berbahagia melihat kenyataan
bahwa hari gini anak perempuan gak harus mandeg di dapur karena alasan-alasan patriarkis;
anak perempuan gak perlu sekolah, anak perumpuan cuma akan berujung di
dapur-kasur-sumur, dan cuma anak laki-laki yang berhak untuk pintar. Iya,
syukurnya sih kondisi di negara kita sekarang udah gak banyak (saya gak bilang
gak ada lho ya!) orang-orang yang masih berpikiran feodal begitu.
Ya walaupun ada
hambatan lain seperti faktor ekonomi, sistem pendidikan dan sebagainya, saya di sini juga percaya
bahwa di level pendidikan tinggi dan tingkat ekonomi yang cukup baik-pun masih
ada aja hambatan bagi perempuan untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin.
Seperti yang saya sebut di atas tadi itu salah duanya; faktor pasangan dan faktor lingkungan.
Kita bahas
satu-satu ya.
Faktor pasangan.
Well, saya nggak
jarang lho denger omongan bahwa perempuan itu gak perlu sekolah tinggi-tinggi
karena nanti jadi seret jodoh. Kenapa? Karena pada umumnya laki-laki akan
minder kalau pasangannya punya tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Gak cuma
buat pendidikan sih, karir dan penghasilan juga termasuk di antaranya. Saya
nggak ngerti psikologi laki-laki ya, tapi beberapa teman yang saya kenal memang
bilang bahwa pasangan yang pendidikannya lebih tinggi akan mengancam ego si
laki-laki. Merasa kalah, merasa terintimidasi, bikin minder dan sebagainya.
Gak usah jauh-jauh, di keluarga saya pun begitu. Bapak saya sempat mengenyam pendidikan S-2, bahkan dua kali. Anak-anaknya juga sejak awal sudah diarahkan, kalau beliau bisa S-2 maka kami harus bisa S-3. Tapi ketika ibu saya yang hanya lulusan S-1 bilang ingin melanjutkan ke S-2, bapak saya bilang
“buat apa, gak perlu lah.. toh kerjaan juga gak menuntut harus jenjang S-2”.
Saya nggak ngerti
apakah pertimbangan bapak saya melarang itu karena faktor ego atau
pertimbangan-pertimbangan lain, tapi yang jelas ibu saya sebagai istri yang
baik, ya manut sama suami, walaupun saya tau beliau juga punya semangat
belajar yang tinggi. Itu tadi yang saya bilang, faktor pasangan.
Masalah ego
lelaki ini memang gak bisa dibilang sepele sih ya. Eh saya nggak menyalahkan
lelaki juga sih, tapi kok anu… agak
mengherankan ya bahwa perkara ego menjadi hambatan bagi orang lain untuk
menjadi lebih baik. Urusan intimidasi-intimidasi itu juga kalau menurut saya,
hmm… subjektif.
Saya dulu pernah membahas ini sama (mantan) pacar. Dia lulusan S-1 dan saya S-2. Saya sih demi Allah gak pernah nyombong atau menganggap diri saya lebih dari dia, nggak! Saya pernah nanya ke dia, apakah memang saya (entah itu sengaja atau gak sengaja) mengintimidasi dirinya? Dan dia jawabnya gini:
Saya dulu pernah membahas ini sama (mantan) pacar. Dia lulusan S-1 dan saya S-2. Saya sih demi Allah gak pernah nyombong atau menganggap diri saya lebih dari dia, nggak! Saya pernah nanya ke dia, apakah memang saya (entah itu sengaja atau gak sengaja) mengintimidasi dirinya? Dan dia jawabnya gini:
“Nggak.. Bukan kamu yang mengintimidasi, tapi aku yang merasa terintimidasi”
Nah kan, jadi ini
bukan perkara perempuan sekolah tinggi trus jadi belagu! Kalau memang kebetulan si perempuan punya kesempatan untuk seolah ke jenjang yang lebih tinggi, salah dia? Kalopun perempuannya
diem aja tapi laki-lakinya yang memang merasa terancam, gimana? Susah kan…
Dulu pernah ada kenalan saya, seorang ibu-ibu dosen senior. Si
ibu ini pernah cerita ke saya bahwa
dia sampai bikin perjanjian pra nikah dengan calon suaminya, HITAM DI ATAS PUTIH, yang menyebutkan
bahwa setelah menikah dia boleh tetep sekolah, kuliah lagi dan bekerja. Coba ya, bayangkan,
tahun 70an dia sudah bisa sekolah ngambil S-3 di Amerika. Itu tahun 70an lho!
Jangan bayangin perempuan bisa dengan mudahnya punya kesempatan untuk sekolah
sampe S3, dengan sistem pendaftaran online dan segala kemudahan belajar di luar
negeri seperti yang ada seperti sekarang ini ya.
Berbekal surat
perjanjian itu dia berangkat sekolah lagi. Dia bilang ke saya; “hamil ya hamil,
punya anak ya memang sudah ditakdirkan, tapi sekolah lagi itu pilihan dan
semuanya tetap bisa berjalan beriringan kok!” Beliau ibu bekerja, sebagai PNS
di salah satu Kementrian dan juga
pengajar di beberapa universitas, usianya sekarang 70 tahun dan bergelar Professor. Suaminya nggak masalah tuh.
Mencermati hal
ini bikin saya jadi inget kalimat Margaret Tatcher di film Iron Lady, yang
bilang bahwa “perempuan seperti saya gak bisa hanya tinggal di dapur dan
membersihkan cangkir…” . Nah, begitulah
beliau,perempuan yang sadar akan potensi dirinya yang begitu besar.
Tapi balik lagi,
kan gak semua laki-laki bisa menerima
keadaan seperti ini. Hari gini pun masih banyak yang bawa-bawa ego dan kalimat
terintimidasi itu. Alhasil apa? Perempuan cenderung jadi enggan untuk
melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi karena khawatir
membahayakan ego pasangannya. Dan ini
juga berhubungan dengan faktor berikutnya, menurut saya:
Faktor
Lingkungan.
Selain stigma
tentang “apa kata orang kalo suami kalah sama istrinya”, perkara perempuan
(terutama yang belum menikah) bersekolah sampai jenjang yang cukup tinggi pun
harus berurusan dengan anggapan dari masyarakat soal seret jodoh. Iya, katanya kalo udah sekolah ketinggian,
perempuan cenderung gak laku karena laki-laki jadi takut ngedeketin (seperti
yang saya bahas sebelum ini).
Lalu ketika
seorang perempuan belum menikah dan (kebetulan) pendidikannya cukup tinggi, maka
anak panah kesalahan itu diarahkan di dia. “Pantesan aja gak kawin-kawin..”,
begitu kira-kira. Tapi tanya dong sama si perempuannya, apa memang dia maunya
gak kawin-kawin? Belum tentu kan..
Ini emang agak
curhat colongan sebetulnya, karena sayapun ada di posisi itu sekarang. Dan
stigmanya juga muncul gak jauh-jauh, tapi dari keluarga saya sendiri.
Dulu waktu lulus
S-2, saya sebetulnya langsung ditawari lanjut S-3 di kampus itu juga, dan
karena saya lulus dengan nilai yang Alhamdulillah bagus, pihak kampus bilang
mereka akan upayakan ada beasiswa untuk
saya S-3. Tapi ibu saya melarang, katanya: Nikah dulu deh.. ntar keenakan sekolah jadi gak kepikiran mau nikah.
Ntar kalo sekolahnya ketinggian, cowok jadi minder buat ngedeketin”. Ya saya
manut apa kata ibu saya.
(see.. faktor
pertama dan kedua ini sebetulnya saling berkaitan)
Dan sekarang
sudah 4 tahun berlalu dari masa itu, dan saya belum juga menikah. Dan peluang
S-3 itu selalu saja seliweran di depan mata saya dan selalu saya lewatkan.
Pimpinan di tempat saya bekerja juga
sebetulnya sudah sejak awal menekankan bahwa saya harus lanjut S-3.
Beliau malah jadi supporter nomor satu untuk nyuruh saya sekolah lagi. Tapi ya itu
tadi, kepentok sama mandat orang tua.
Saya kalo disuruh
sekolah lagi mah mau! Mau banget! Sekarang juga kalo memungkinkan ya hayuk. Tapi karena ada term and conditions dari
ibu saya itu, ya apa mau di kata, terpaksa menunggu sampai ada laki-laki yang
mau melamar saya. Daann.. dengan PR tambahan pula, laki-laki itu tidak akan
merasa terintimidasi atau apalah namanya jika sekiranya status saya, entah itu
pendidikan atau karir, akan mungkin jadi lebih tinggi dari dia. Ini bukan
perkara ambisi lho ya. Bukannya saya yang ngotot pengen sekolah lagi
sampe level paling tinggi. Iya, memang saya juga punya kecintaan yang besar
sama kegiatan belajar, tapi ini
juga lebih karena faktor bidang pekerjaan saya yang memang menuntut untuk sekolah setinggi-tingginya.
Jadi, singkatnya saya kalo mau S-3 harus nunggu kawin
dulu. Kawinnya kapan? Ituman bukan saya
yang menentukan. Jodoh Allah yang ngatur, saya nggak tau kapan jodoh saya
sampe. Dan sampai nanti saatnya jodoh saya itu dateng, sepertinya saya masih akan berhadapan dengan stigma seret jodoh dan perkara memilih pasangan itu.
Nah itulah dia,
peliknya hidup diantara pusaran pendidikan, perempuan dan pasangannya!
Gimana, habis baca tulisan ini masih mau
orasi soal emansipasi?
2 comments:
beberapa waktu lalu ngobrol sama salah satu mahasiswa gw, dia tanya2 tentang sekolah. kemudian dengan muka seolah diberi nyala lampu dia bilang gini ke gw "oo jadi mbak, orang2 yang suka sekolah kaya mbak ini memang tidak memikirkan pasangan atau menikah ya, karena fokusnya sekolah ya?" I was like WHAT?? kata siapeeeeh. stereotype seperti ini nih yang berkembang bebas menari di angkasa. gak tau aja mereka proses jatuh cinta patah hati kaya kaset di Fast Forward-Rewind yg gak habis-habis. *kalem*
Nah, pembaca yang budiman, sila baca komentar di atas dan coba utarakan, bagaimana pendapat Anda?
*soal essay*
NB: "proses jatuh cinta patah hati kaya kaset di Fast Forward-Rewind yg gak habis-habis" --> tolong jangan bagian ini yg dikomentarin. Tolong.
Post a Comment