Monday, September 23, 2013

Perkara Pendidikan Perempuan

Saya hari ini mau bilang: ‘Berbahagialah para perempuan yang bisa sekolah setinggi-tingginya tanpa adanya hambatan dari pasangan ataupun lingkungan.’
Eh bentar, hari gini kok ngomongin hambatan sekolah buat perempuan? Bukannya udah jaman  emansipasi ya?

Nah itu dia. Yakin setiap perempuan udah bebas mengenyam pendidikan setinggi-tingginya? Sebagian besar mungkin iya. Ibu Kartini mungkin bolehlah berbahagia melihat kenyataan bahwa hari gini anak perempuan gak harus mandeg di dapur karena alasan-alasan patriarkis; anak perempuan gak perlu sekolah, anak perumpuan cuma akan berujung di dapur-kasur-sumur, dan cuma anak laki-laki yang berhak untuk pintar. Iya, syukurnya sih kondisi di negara kita sekarang udah gak banyak (saya gak bilang gak ada lho ya!) orang-orang yang masih berpikiran feodal begitu.
Ya walaupun ada hambatan lain seperti faktor ekonomi, sistem pendidikan dan sebagainya, saya di sini juga percaya bahwa di level pendidikan tinggi dan tingkat ekonomi yang cukup baik-pun masih ada aja hambatan bagi perempuan untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Seperti yang saya sebut di atas tadi itu salah duanya;  faktor pasangan dan faktor lingkungan.
Kita bahas satu-satu ya.

Faktor pasangan.
Well, saya nggak jarang lho denger omongan bahwa perempuan itu gak perlu sekolah tinggi-tinggi karena nanti jadi seret jodoh. Kenapa? Karena pada umumnya laki-laki akan minder kalau pasangannya punya tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Gak cuma buat pendidikan sih, karir dan penghasilan juga termasuk di antaranya. Saya nggak ngerti psikologi laki-laki ya, tapi beberapa teman yang saya kenal memang bilang bahwa pasangan yang pendidikannya lebih tinggi akan mengancam ego si laki-laki. Merasa kalah, merasa terintimidasi, bikin minder dan sebagainya.

Gak usah jauh-jauh, di keluarga saya pun begitu. Bapak saya sempat mengenyam pendidikan S-2, bahkan dua kali. Anak-anaknya juga sejak awal sudah diarahkan, kalau beliau bisa S-2 maka kami harus bisa S-3. Tapi ketika ibu saya yang hanya lulusan S-1 bilang ingin melanjutkan ke S-2, bapak saya bilang 
“buat apa, gak perlu lah.. toh kerjaan juga gak menuntut harus jenjang S-2”.
Saya nggak ngerti apakah pertimbangan bapak saya melarang itu karena faktor ego atau pertimbangan-pertimbangan lain, tapi yang jelas ibu saya sebagai istri yang baik, ya manut sama suami, walaupun saya tau beliau juga punya semangat belajar yang tinggi.  Itu tadi yang saya bilang, faktor pasangan.

Masalah ego lelaki ini memang gak bisa dibilang sepele sih ya. Eh saya nggak menyalahkan lelaki juga sih, tapi kok anu…  agak mengherankan ya bahwa perkara ego menjadi hambatan bagi orang lain untuk menjadi lebih baik. Urusan intimidasi-intimidasi itu juga kalau menurut saya, hmm… subjektif.   

Saya dulu pernah membahas ini sama (mantan) pacar. Dia lulusan S-1 dan saya S-2. Saya sih demi Allah gak pernah nyombong atau menganggap diri saya lebih dari dia, nggak! Saya pernah nanya ke dia, apakah memang saya (entah itu sengaja atau gak sengaja) mengintimidasi dirinya? Dan dia jawabnya gini:
“Nggak.. Bukan kamu yang mengintimidasi, tapi aku yang merasa terintimidasi”

Nah kan, jadi ini bukan perkara perempuan sekolah tinggi trus jadi belagu! Kalau memang kebetulan si perempuan punya kesempatan untuk seolah ke jenjang yang lebih tinggi, salah dia? Kalopun perempuannya diem aja tapi laki-lakinya yang memang merasa terancam, gimana? Susah kan…

Dulu  pernah ada kenalan saya, seorang ibu-ibu dosen senior. Si ibu ini pernah cerita ke saya bahwa dia sampai bikin perjanjian pra nikah dengan calon suaminya, HITAM DI ATAS PUTIH,  yang menyebutkan bahwa setelah menikah dia boleh tetep sekolah, kuliah lagi dan bekerja. Coba ya, bayangkan, tahun 70an dia sudah bisa sekolah ngambil S-3 di Amerika. Itu tahun 70an lho! Jangan bayangin perempuan bisa dengan mudahnya punya kesempatan untuk sekolah sampe S3, dengan sistem pendaftaran online dan segala kemudahan belajar di luar negeri seperti yang ada seperti sekarang ini ya.
Berbekal surat perjanjian itu dia berangkat sekolah lagi. Dia bilang ke saya; “hamil ya hamil, punya anak ya memang sudah ditakdirkan, tapi sekolah lagi itu pilihan dan semuanya tetap bisa berjalan beriringan kok!” Beliau ibu bekerja, sebagai PNS di salah satu Kementrian dan juga pengajar di beberapa universitas, usianya sekarang 70 tahun dan bergelar Professor.  Suaminya nggak masalah tuh.

Mencermati hal ini bikin saya jadi inget kalimat Margaret Tatcher di film Iron Lady, yang bilang bahwa “perempuan seperti saya gak bisa hanya tinggal di dapur dan membersihkan cangkir…” .  Nah, begitulah beliau,perempuan yang sadar akan potensi dirinya yang begitu besar.

Tapi balik lagi, kan gak semua  laki-laki bisa menerima keadaan seperti ini. Hari gini pun masih banyak yang bawa-bawa ego dan kalimat terintimidasi itu. Alhasil apa? Perempuan cenderung jadi enggan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi karena khawatir membahayakan ego pasangannya.  Dan ini juga berhubungan dengan faktor berikutnya, menurut saya:

Faktor Lingkungan. 
Selain stigma tentang “apa kata orang kalo suami kalah sama istrinya”, perkara perempuan (terutama yang belum menikah) bersekolah sampai jenjang yang cukup tinggi pun harus berurusan dengan anggapan dari masyarakat soal seret jodoh.  Iya, katanya kalo udah sekolah ketinggian, perempuan cenderung gak laku karena laki-laki jadi takut ngedeketin (seperti yang saya bahas sebelum ini).
Lalu ketika seorang perempuan belum menikah dan (kebetulan) pendidikannya cukup tinggi, maka anak panah kesalahan itu diarahkan di dia. “Pantesan aja gak kawin-kawin..”, begitu kira-kira. Tapi tanya dong sama si perempuannya, apa memang dia maunya gak kawin-kawin? Belum tentu kan..

Ini emang agak curhat colongan sebetulnya, karena sayapun ada di posisi itu sekarang. Dan stigmanya juga muncul gak jauh-jauh, tapi dari keluarga saya sendiri.
Dulu waktu lulus S-2, saya sebetulnya langsung ditawari lanjut S-3 di kampus itu juga, dan karena saya lulus dengan nilai yang Alhamdulillah bagus, pihak kampus bilang mereka  akan upayakan ada beasiswa untuk saya S-3. Tapi ibu saya melarang, katanya:  Nikah dulu deh.. ntar keenakan sekolah jadi gak kepikiran mau nikah. Ntar kalo sekolahnya ketinggian, cowok jadi minder buat ngedeketin”. Ya saya manut apa kata ibu saya.
(see.. faktor pertama dan kedua ini sebetulnya saling berkaitan)

Dan sekarang sudah 4 tahun berlalu dari masa itu, dan saya belum juga menikah. Dan peluang S-3 itu selalu saja seliweran di depan mata saya dan selalu saya lewatkan. Pimpinan di tempat saya bekerja juga  sebetulnya sudah sejak awal menekankan bahwa saya harus lanjut S-3. Beliau malah jadi supporter nomor satu untuk nyuruh saya sekolah lagi. Tapi ya itu tadi, kepentok sama mandat orang tua.

Saya kalo disuruh sekolah lagi mah mau! Mau banget! Sekarang juga kalo memungkinkan ya hayuk. Tapi karena ada term and conditions dari ibu saya itu, ya apa mau di kata, terpaksa menunggu sampai ada laki-laki yang mau melamar saya. Daann.. dengan PR tambahan pula, laki-laki itu tidak akan merasa terintimidasi atau apalah namanya jika sekiranya status saya, entah itu pendidikan atau karir, akan mungkin jadi lebih tinggi dari dia. Ini bukan perkara ambisi lho ya. Bukannya saya yang ngotot pengen sekolah lagi sampe level paling tinggi. Iya, memang saya juga punya kecintaan yang besar sama kegiatan belajar, tapi ini juga lebih karena faktor bidang pekerjaan saya yang memang menuntut untuk sekolah setinggi-tingginya.

Jadi, singkatnya saya kalo mau S-3 harus nunggu kawin dulu.  Kawinnya kapan? Ituman bukan saya yang menentukan. Jodoh Allah yang ngatur, saya nggak tau kapan jodoh saya sampe. Dan sampai nanti saatnya jodoh saya itu dateng, sepertinya saya masih akan berhadapan dengan stigma seret jodoh dan perkara memilih pasangan itu.
Nah itulah dia, peliknya hidup diantara pusaran pendidikan, perempuan dan pasangannya!

Gimana, habis baca tulisan ini masih mau orasi soal emansipasi?

2 comments:

be said...

beberapa waktu lalu ngobrol sama salah satu mahasiswa gw, dia tanya2 tentang sekolah. kemudian dengan muka seolah diberi nyala lampu dia bilang gini ke gw "oo jadi mbak, orang2 yang suka sekolah kaya mbak ini memang tidak memikirkan pasangan atau menikah ya, karena fokusnya sekolah ya?" I was like WHAT?? kata siapeeeeh. stereotype seperti ini nih yang berkembang bebas menari di angkasa. gak tau aja mereka proses jatuh cinta patah hati kaya kaset di Fast Forward-Rewind yg gak habis-habis. *kalem*

ade suryani said...

Nah, pembaca yang budiman, sila baca komentar di atas dan coba utarakan, bagaimana pendapat Anda?
*soal essay*

NB: "proses jatuh cinta patah hati kaya kaset di Fast Forward-Rewind yg gak habis-habis" --> tolong jangan bagian ini yg dikomentarin. Tolong.