Showing posts with label kids. Show all posts
Showing posts with label kids. Show all posts

Wednesday, March 27, 2013

Daddy's little girl

Kalo boleh jujur nih ya, saya itu sebenernya gak dekat sama bapak ibu saya. Dekat dalam artian, saya gak terbiasa curhat masalah pribadi saya ke mereka. Sakit pun saya jarang mengeluh atau ngadu ke mereka. Waktu saya harus tinggal berjauhan dan merantau sendiri, hmm..jujurly, saya juga gak pernah homesick.

Tapi ada saat-saat tertentu di mana saya menikmati secara diam-diam waktu-waktu yang saya habiskan sama orang tua saya, entah kumplit dengan mereka berdua ataupun mereka secara terpisah. Misalnya nganterin ibu saya ke pasar, creambath bareng, atau makan bebek goreng berduaan sama bapak saya, nemenin dia mancing. Simple sih, tapi menyenangkan. 

Saya beberapa kali juga pernah menghabiskan waktu yang agak lama hanya berduaan sama ibu saja atau bapak saja. Agak lama di sini hitungannya biasanya berkisar antara beberapa hari sampai beberapa minggu. 
Dulu jamannya bapak saya sering dinas ke luar kota dan kakak-kakak saya masih pada kuliah/kerja di kota lain, ya di rumah saya cuma berduaan sama ibu saya. Atau seperti belakangan ini,  ibu saya lagi pergi umroh, ya di rumah saya cuma berduaan dengan bapak. Bener-bener cuma sisa dua orang ini aja, karena di rumah memang populasinya tinggal 3 orang inilah. hehehe.

Tapi kalo disuruh memilih, saya terus terang lebih enjoy ngabisin waktu berduaan sama bapak saya. Hmm... apa yaa. Kalo sama ibu saya itu, saya memposisikan diri jadi penjaga. Seperti jadi anak laki yang harus melindungi. Urusan-urusannya ya gak jauh-jauh dari masang tabung gas, ngunciin pagar dan pintu-pintu kalau malam, bersihin kandang burung, ngangkat yang berat-berat, dan tentu saja jadi supir kemana-mana. Hehe. *yang terakhir itu kodrat sih*. Tapi ibu saya ini cenderung bawel, dan apa-apa sifatnya perintah, gitu. Ya biasa lah yaa..namanya juga emak-emak. hehehee.

Tapi kalo sama bapak saya, terasa sekali posisinya adalah kami SALING menjaga. Partnership. Iya, bapak saya orangnya egaliter. Saya ngurusin dapur, dia ngurusin kolam. Saya nyiramin bunga, dia nyuciin mobil. Tapiii... nah ini ajaibnya. Perilaku dia yang seperti ini baru muncul kalo kami lagi berdua aja. Biasanya mah, beeuuh.. patriarkis abiss!!  

Kalo diskusi atau sharing hal-hal yang serius, saya juga lebih sreg sama bapak saya, soalnya lebih rasional aja gitu. Sama beliau saya sering diskusi dengan lebih mengedepankan logika, dan saya memang lebih suka dengan cara yang seperti itu. Kalo sama Ibu saya? Ah, biasa lah, sebagaimana ibu-ibu korban sinetron pada umumnya, dramatis sekali. hehee

Saya juga kadang (secara diam-diam) lebih 'menye-menye' kalo lagi jalan berduaan sama bapak saya. Seperti kemarin malam misalnya. Saya ceritanya lagi mau mengunjungi rumah saudara, berduaan aja sama bapak saya, saya yang nyupir. Biasa lah, ngobrol-ngobrol ringan. Trus dari CD player ada lagunya Warrant yang Heaven. Album classic rock. Klasik, tapi liriknya keren. Nih penggalannya: 
When I come home late at night,  And you're in bed asleep.  I wrap my arms around you,  so I can feel you breathe. I don't need to be the king of the world As long as I'm the hero of this little girl

Mellow yaa.. Rocker yang sayang anak. Hehehe. Nah, abis lagu itu, ada lagunya Mr Big pula! Iyaaa..kan tadi saya bilang CDnya classic rock. Hehe.  Ada lagu Wild Word. Tau dooong liriknya:  
You know I’ve seen a lot of what the world can do, And it’s breaking my heart in two, ’cause I never want to see you sad, girl, Don’t be a bad girl. But if you want to leave, take good care, Hope you make a lot of nice friends out there, But just remember there’s a lot of bad and beware. Well, Oh baby, baby it’s a wild world, It’s hard to get by just upon a smile, Oh baby, baby it’s a wild world, And I always remember you like a child, girl.

Pas lagi ada jeda di obrolan kami, saya sing along lagu ini. Hihihi.. jadi senyum sendiri. Trus mellow… iya, saya berasa jadi bocah kecil yang lagi diajak main keliling ke pasar malem sama bapaknya. Trus dibeliin boneka sambil dikasih wejangan gak boleh nakal. Hehehe.

Saya juga kalo lagi jalan berduaan sama bapak saya emang suka jadi kaya temenan. Gak jarang kami jalan berdua di pertokoan sambil gandengan tangan atau rangkulan bahu. Saya pernah dikira jadi simpenan om-om karena bapak saya nemenin saya yang lagi belanja kosmetik. Bukan cuma nemenin trus bayarin, tapi juga ikut milihin dan teteuup.. sambil rangkulan. Mbak-mbak pegawainya sampe bisik-bisik (tapi ketahuan) ngomongin bapak saya bawa ayam kampus. Haahaha..

Gitu deh, secara non verbal, keliatan sekali kalo kami itu saling menjaga. (Terms and condition apply, tapi ya.. kalo lagi akur doang. Hahaha) Atau istilah kerennya, egaliter. Tapi apa pernah gitu secara verbal saling bilang sayang atau kangen? Hampir gak pernah rasanya. Tapi kedekatan itu ada. Selalu ada. Mau sesebel apapun satu sama lain, tetep yaa, namanya bapak sama anak.. ikatan itu akan selalu ada.

Dan memang, bagaimanapun dan umur berapapun, saya ngerasa di mata bapak saya, saya memang akan selalu jadi gadis kecilnya

Hehe. Iya, saya anak bungsu :)



Monday, May 31, 2010

dan saya menangis, sodara-sodari...

Awal bulan yang lalu akhirnya saya beli buku lagi setelah sekian lama gak baca atau beli buku selain text book.. Toto-chan's Children judulnya.

Familiar sama nama Toto-chan? Ya, dia adalah si gadis kecil nan lincah yang duduk di tepi jendela itu. Dan buku yang baru saja saya beli ini adalah lanjutan kisah Toto-chan itu sendiri. Tapi di sini dia bukan lagi anak kecil yang asik sama dunianya sendiri. Di sini dia sudah menjadi seorang wanita dewasa, aktris populer di Tokyo, yang kemudian diangkat menjadi duta kemanusiaan untuk UNICEF dan mengunjungi daerah-daerah konflik di beberapa benua.

Saya, sejak dulu sudah jatuh cinta dengan Toto-chan kecil. Imajinasinya, kecerdasannya, keluguannya dan semangatnya yang gak ada habisnya. Di samping itu, sejak dulu juga (sebelum baca buku ke-2 ini) saya bermimpi, suatu saat saya ingin, ingin sekali, menjadi volunteer, atau bahkan kalau Tuhan mengizinkan, menjadi duta UNICEF. Maka menemukan buku tentang si Toto-chan yang mencatat perjalanannya selama menjadi duta UNICEF, saya nggak pikir panjang lagi untuk membeli bukunya.

Tapi, demi Tuhan, jangan sekali-kali berfikir bahwa buku ini akan penuh tawa seperti kisah Toto-chan kecil. Jangan.

Saya, ketika membuka lembar-lembar pertamanya saja sudah berkali-kali terkesiap dan menahan nafas mendapati begitu banyaknya fakta yang membuat miris membacanya.

Tentang anak-anak pengungsi di afrika yang ternyata tidak pernah sekalipun melihat gajah dan jerapah. Tentang anak-anak korban perang yang selalu menahan sakit dalam diam. Tentang bocah Mozambik yang terpaksa minum air berlumpur. Tentang bocah kecil India yang sekarat, dan nafasnya hanya bergantung pada tangan si ibu yang memompakan udara.

Dan saya menangis...
Ya, pertama kalinya sebuah buku bisa membuat saya menangis.

Saya bahkan bukan hanya menangis, tetapi juga menahan muntah ketika sampai di bab lima di mana dikisahkan tentang bagaimana kejamnya pembantaian anak-anak di Kamboja.

Pada bab itu, saya hampir-hampir memutuskan untuk berhenti membaca bukunya. Sumpah, saya nggak sanggup melanjutkan buku itu. Sebulan sejak buku itu saya beli, hingga kini saya belum juga menghabiskan separuhnya. Kegetiran yang ada di dalamnya kadang membuat saya terpaksa berhenti membaca dan menginggalkannya selama beberapa hari.

Saya nggak sanggup membayangkan kepedihan macam apa yang dirasakan "anak-anak Toto-chan" itu. Saya bahkan merasa bersalah ketika membaca buku ini sambil ngemil keripik kentang dan minum ice lemon tea :(

Oh ya, satu hal lagi.
Kalau kamu adalah seseorang yang lahir dan tumbuh besar pada era 1978-1990an, di mana kamu bisa minum susu hingga kegemukan, tidur di kasur yang empuk dan nyaman, di tengah-tengah keluarga yang utuh dan penuh kasih sayang, maka BERSYUKURLAH!
Karena pada saat yang sama ketka kamu minum susu atau merengek minta mainan itu, ada anak-anak lain di belahan dunia lain yang tengah meregang nyawa dalam kebisuan.

Maka bersyukurlah, teman. Bersyukurlah.

Wednesday, September 17, 2008

anak-anak itu..

Hari sabtu kemaren gua sempet ikutan acara buka puasa bersama yg diadain sama adek-adek tingkat gw (anak kom tapi yang S1). Tapi keikutsertaan gw disini bukan sebagai anak kom, (lho kok?) tapi sebagai pelajar Internasional. Maksudnya sebagai kontingen dari Indonesia, gitu.. (lho kok buka puasa pake kontingen-kontingenan sih? Emang olimpiade?) hehe..

Jadi gini ceritanya:
Acaranya itu kunjungan ke sebuah panti asuhan anak-anak yatim di daerah Sabak Bernam. (Jauuh banget..udah di perbatasan Selangor. gw juga gak ngerti jalan kesana lewat mana). Tapi ini bukan kunjungan biasa. Gak cuma sekedar games-games, bagi-bagi santunan, ceramah dan buka puasa bareng. Tapi panitia juga sengaja mengundang beberapa pelajar Internasional untuk ikutan acara ini. Maksudnya sih untuk berbagi tentang budaya masing-masing negara. Perwakilan yang dateng hari itu ada 2 orang dari Irak (Basha dan Ali), 1 orang Somalia (Mr.Ahmed), 2 orang Cina (Sally dan...duh, satu lagi gw gak ngerti gimana nyebut namanya, susah!) dan 1 orang Indonesia (ya gua ini lah..)


Serunya ngeliat anak-anak itu antusias banget pengen tau budaya masing-masing negara. Walopun sedikit terhambat dengan kendala bahasa, karna beberapa perwakilan asing ini Bahasa Inggrisnya agak-agak gak jelas karna pengaruh dialek masing-masing, dan anak-anaknya juga gak semua ngerti bahasa Inggris, tapi tetep aja acaranya seru.











Dan ketika memperkenalkan sedikit tentang budaya Indonesia, anak-anak itu juga sempet melontarkan pertanyaan yg kalo menurut gua agak lucu sekaligus lugu, khas anak-anak banget. (yg seperti ini kira-kira kalo diterjemahin ke Bahasa Indonesia):

"kakak suka nggak nonton sinetron Bawang merah bawang putih?" (sinetron ini lagi ngetop abiss di Malaysia)
"kakak pernah ketemu artis gak?"
"Pernah ketemu FERDI gak, kak?" (tokoh utama cowok di sinetron itu)
"kakak tau sinetron Anakku bukan Anakku? yang main cantik yah kak.." (Nabila Syakieb maksudnya)
"kakak suka lagu Alhamdulillah gak?" (nah yang ini soundtrack sinetronnya)
hahahha...kasian banget anak-anak ini,masih kecil sudah termakan imperialisme sinetron Indonesia.

Lalu ada juga pertanyaan seperti ini:
"kakak kesini naik apa?"
-- naik pesawat terbang
"gak takut tinggi kak? gak kepingin muntah?"
--hehehe......

Ah, lugunya anak-anak ini. Tapi enak deh ngobrol sama mereka. Obrolan ringan anak-anak yang bikin kangen (udah lama juga gw gak maen dengan anak-anak, terakhir mendongeng juga entah kapan, udah lama banget)

Tapi di balik kecerian mereka, sebenernya gua sedih ngeliat kondisi mereka disana. Kamarnya, pantinya, kamar mandinya, semua kondisinya agak memprihatinkan..belum lagi kisah-kisah dibalik senyum mereka itu. Gua yakin gak mudah bagi mereka menjalani ini semua sambil tetap tersenyum.

Dan satu hal yang bikin gua pengen nangis ngeliatnya adalah, katika lagi tahlilan bareng dan mengucap do'a untuk kedua orang tua mereka, gua melihat salah seorang anak (yang mimpin do'a waktu itu) menutup rapat-rapat matanya, sampe keningnya berkerut dan nafasnya tertahan sebentar. Keliatan kalo dia sebenernya nahan nangis...

Sedih ngeliatnya....

Ah, anak-anak itu.. Semoga saja kalian tetap bisa tersenyum walaupun dunia terasa begitu sepi. Semoga Tuhan selalu menghujani kalian dengan kasih-Nya. Dan semoga kedatangan kami yang walaupun cuma sebentar itu, bisa membuat kalian termotivasi.


(dedicated for Aisyah, Noordiana, Fatimah, Syafiq, Arif dan teman-teman)