Showing posts with label Bali. Show all posts
Showing posts with label Bali. Show all posts

Thursday, March 08, 2012

Escape (part III-fin)

Oke...oke. saya berasa punya utang selama tulisan tentang escape ke Bali ini belum saya tuntaskan. Maka baiklah, kita tiba di bagian penghujung cerita tentang petualangan saya selama solo traveling ke Bali. Mari kita tuntaskan. Hehehe.

Hari ke-3 itu jujur aja saya sebenarnya udah agak bingung mau ke mana lagi. Target wajib saya hari itu cuma mau ke Bali Shell Museum dan Cartoon Museum yang jaraknya berdekatan. Dan yaah..semoga aja hari ini langit cerah sehingga saya bisa menangkap moment matahari terbenam di pantai Kuta. Udah sih itu aja. Oh iya, hari itu juga sebetulnya bertepatan dengan Hari Raya Galungan. Ini termasuk Hari Raya yang besar bagi umat Hindu Bali. Jadi katanya toko-toko, tempat makan, tempat hiburan, terutama yang dimiliki orang Bali pasti akan tutup karena mereka mudik ke desanya masing-masing. Hmm... okelah, saya toh juga gak akan belanja-belanja hari ini. Cukuplah seandainya bisa menangkap moment perayaan Galungan di pura terdekat dari tempat saya menginap, itu pun rasanya akan menyenangkan.

Kata penduduk lokal, biasanya orang akan sembahyang di pura pagi-pagi sekali, lalu dilanjutkan dengan saling mengunjungi rumah kerabat di desa asal masing-masing. Tapi toh pura tidak akan sepi hari itu, akan ada saja orang yang datang dan bersembahyang. Maka saya memutuskan akan bangun pagi dan mencari spot perayaan Galungan. Paginya saya? Tetep aja jam 10. hehehe.. Tapi ini WITA loohh.. *kekeuh*

Berjalan 300m dari penginapan saya, persis di mulut Gg. Poppies II menuju ke arah Jl. Legian ada monumen Bali Bombing yang berdiri tegak. Hoo...di sini toh ground zeronya, gumam saya. Tengok kanan, tengok kiri, liat seberang, liat belakang memang semua di sana adalah jejeran club dan bar yang dipenuhi oleh bule-bule semua. Siang aja rame gitu apalagi malem. Dengan berbagai tema party, wanita berbikini dan minuman beralkohol di mana-mana. Saya jadi mikir, (duh, maap ini mah ya) pantes aja tempat ini yang menjadi sasaran ledakan kaum teroris fanatis itu. Please don't get it wrong, saya bukannya bilang pemboman itu wajar, atau saya sok men-judge bahwa itu adalah tempat maksiat, NO. Saya cuma mencoba melihat hal itu dari kacamata mereka yang meledakkan diri, itu aja.

Monument of Bali Bombing


Selesai menangkap foto di ground zero, saya berjalan kaki menyusuri Jl. Legian. Banyak toko yang tutup memang. Di sepanjang jalan ini ada beberapa tempat sembahyang yang gak besar-besar amat, tapi sepertinya ramai dikunjungi orang-orang Bali. Saya sebetulnya ingin masuk dan melihat-lihat ke dalam, memotret apa yang kira-kira menarik, tapi rasanya kok sungkan ya.. Takut mengganggu kekhusyu'an orang beribadah gitu. Saya sih mikirnya gini, kalo saya lagi Sholat 'Id di masjid trus ada umat agama lain datang dan moto-moto saya yang lagi ruku' dan sujud, pasti saya akan risi. Bukannya melarang mereka masuk masjid sih, tapi pasti janggal aja rasanya. Nah saya lagi-lagi berusaha untuk menempatkan diri di posisi orang lain. Mereka yang sedang beribadah di dalam pura itu tentunya akan merasa terganggu melihat saya (yang notabene berjilbab ini) masuk dan celingak-celinguk di dalam, berlagak sok turis dan moto-moto sesuka hati. Hmm... pikiran ini akhirnya mengurungkan niat saya untuk melangkah ke dalam. Foto-foto dari luar saja cukuplah rasanya. Penting untung menhargai orang lain yang sedang beribadah.

Di pintu masuk salah satu pura kecil di Jl. Legian

Kemeriahan Galungan
Lalu saya lanjut lagi berjalan, kali ini saya sampai di Sunset Road, yang mana itu lumayan juga jaraknya dari Kuta-Legian. (*lap keringet) Di Sunset Road inilah ada Museum Kerang dan Museum Kartun. Selama berjalan kaki itu saya juga sempat singgah di pusat oleh-oleh grosiran, ah sayangnya saya lupa nama tokonya. Tapi belanja di sini lebih murah dibandingkan tempat-tempat lain. Recommended deh!

Dari toko suvenir, 500 meter berjalan kaki dan nyeberang ke ruas jalan sebelah kanan, di sana ada bilboard besar bertuliskan Bali Shell Museum. Aha, ini dia! Masuklah saya dengan semangat ke dalamnya. Bangunan itu berlantai 2 (eh atau 3 ya? Lupa :D ) Tapi yang lantai dasar itu adalah toko dan galeri kerajinan tangan dari kerang dan sejenisnya. Di lantai atasnya itulah ada Museum Kerang. Sepertinya sih tempatnya kecil ya. Cuma kaya ruko 2 unit dijadikan satu gitu. Tapi tiket masuk ke museumnya Rp 50.000. Damn, mahal! (menurut saya loh...biasanya kan masuk museum itu bayarnya gak sampe 5000an per orang). Pas saya tanya, kok mahal ya? Kata mas-mas yang jaganya, "ini satu-satunya museum kerang di dunia mbak, ada kerang-kerang yang langka juga"  Hmm...saya berfikir ulang.. ah, kayanya gak worth-it deh. Sudahlah, akhirnya saya cuma liat-liat di galerinya sebentar, cari sesuatu yang menarik untuk dibeli, tapi ternyata mahal-mahal semua barangnya. Hahaha...ya sudah, belok kanan maju jalan deh!

Bali Shell Museum tampak dari seberang jalan

Lanjut, menurut peta, cuma beberapa jengkal dari situ akan ada Museum Kartun di ruas jalan sebelah kiri. Sambil jalan saya perhatikan pelan-pelan setiap plang nama yang ada. Kok Museumnya gak ketemu ya? Oke, saya ulangi lagi dari tempat tadi, lewatin supermarket, lewatin pom bensin, dan menurut peta posisinya persis di seberang Rip Curl. Celingak-celinguk....lho kok gak ada ya? Bertanya lah saya pada pak satpam yang berjaga di depan Rip Curl sambil menyodorkan peta. Dan you know what? Dia sendiri gak pernah tau atau dengar ada musium kartun di sekitar situ! Nah lho. Tanya lagi sama satpam yang lain, jawabannya sama. Ini petanya yang salah atau bangunannya yang emang belum jadi ya? Hahaha.. gagal maning deh mau masuk museum. Yasudahlah..

Trus saya bingung mau ke mana lagi. Kaki sebetulnya masih sakit sisa berjalan kemarinnya, dan saya juga gak tau mau ke mana lagi. Dan tiba-tiba...byurrr...hujan turun deras gak pake acara bilang-bilang. Yasudah, saya menyetop taksi dan kembali ke penginapan. Ngapain? Tidur siang. Hahahahhaa... Suka-suka banget, mumpung liburan sendirian :P

Jam 4 sore saya kebangun dan sadar kalo saya belum makan seharian. Pantesan laper banget. Maka saya beringsut bangun dan kembali menengok warung padang tercinta itu. Sambil mengunyah makanan, saya mikir apa yang akan saya lakukan di 1 setengah hari yang masih tersisa ini. Kayanya kok baru hari ke 3 aja udah mati gaya gini. Sambil makan, saya melihat di depan warung itu ada beberapa travel agent yang menawarkan paket-paket wisata dengan shuttle bus ke kawasan-kawasan Bali lainnya seperti Ubud, Seminyak, Tanjung Benoa, dll. Beres makan saya sempat mampir ke salah satu kios dan tanya-tanya paket ke Ubud, shuttle bus nya aja 50.000, tapi itu exclude paket wisata, sewa sepeda, tiket masuk galeri dan pertunjukan lainnya. Hmm...pikir-pikir dulu deh.

Beres makan, saya nangkring di Pantai Kuta. Sendirian memandangi horizon dan berharap akan muncul warna jingga di ujung sore hari ini. Sambil melumat es krim sundae stroberi, telinga saya dimanjakan dengan lagu-lagu Michael Buble, Norah Jones dan Andien. Hhmm..cozy-cozy romantic gimanaaa gitu ya. Dan pikiran saya melayang...memikirkan....... BESOK MAU NGAPAIN?!! Hahaha..
Untunglah langit mencegah saya dari kegalauan berlebihan. Sore itu kembali gerimis dan matahari juga hilang tanpa pake acara romantic sunset dulu. Maka saya beringsut dan kembali menyusuri jejeran travel agent. Setelah lihat-lihat brosur, tawar menawar harga, merayu-rayu MBAK-mbak penjaga kiosnya, maka saya pulang ke penginapan dengan memegang tiket Rafting di Telaga Waja untuk besok pagi. Yeay!

Paket yang saya ambil sudah termasuk antar jemput PP dari dan ke hotel dengan mobil jenis APV, perlengkapan rafting, makan siang dan asuransi keselamatan diri. Saya akan dijemput di penginapan jam 8 pagi, perjalanan Kuta- Telaga Waja memakan waktu 1 jam, mampir di perkebunan kopi luwak dulu, lalu lanjut rafting di Telaga Waja selama 2 jam dan ditutup dengan makan siang, lalu di antar sampai penginapan lagi jam 3 sore. BERAPA?? Totalnya hanya 200 ribu saja sodara-sodara! Murah yaa... Kuncinya adalah bandingkan harga dulu antara satu kios dengan yang lain, berani menawar, dan jangan lupa, yakinkan ke penjaganya bahwa wisatawan lokal berhak untuk harga murah! Iya dooong.. Tau gak kalo wisawatawan asing dipatok harganya berapa? US$75. Jauh kaaan bedanya? Ingat, jangan takut nawar!

Ah, malam itu saya kembali penginapan dengan riang gembira gak sabar untuk petualangan berikutnya. Pagi harinya saya cek out dari hotel jam 8, sarapan sebentar, menitipkan backpack ke resepsionis lalu meluncur ke Telaga Waja. Perjalalan yang dilalui lumayan menyejukkan mata, rerimbunan pohon, udara pegunungan, dan hiasan janur di mana-mana tanda kemeriahan Galungan di desa-desa.
Seperti yang saya bilang, paket ini juga termasuk menyinggahi perkebunan kopi di desa Nongan. Menyesap kopi Bali di antara rerimbunan pohon dan udara gunung pagi hari itu enak banget. Dan suguhannya pun gak cuma kopi, tapi ada juga coklat, jahe, teh dan minuman hangat lain yang boleh dicoba secara gratis. Di sini juga kita bisa lihat beberapa jenis tanaman seperti kayumanis, lihat luwaknya langsung, dan belanja kopi giling dan rempah-rempah lainnya.

Free drinks to try

Kopi Luwak
Lanjut, jam 10an saya sudah tiba di lokasi rafting. Paket wisata yang saya pilih sepertinya cukup keren, jadi basecampnya lebih besar dan meyakinkan dibandingkan beberapa basecamp yang ditawarkan agent lain. Sebelum mulai, ada sedikit pelatihan dari team leadernya. Gimana posisi ketika perahu membentur tebing, gimana ketika melewati kolong jembatan, apa saja instruksi yang diberikan, kapan harus mendayung ke depan, kapan harus ke belakang, dan sebagainya. Oh iya, di bagian registrasi juga ditawarkan pake CD berisi foto-foto kita nanti, tapi harganya mahal beculll... moso sampe 250rb per keping. Wew! Ogah ah saya mah. Gak papa deh gak ada foto pas raftingnya. Hehehe.. *kere

Saya deg-degan juga awalnya. Ini pertama kalinya saya rafting. Telaga Waja sendiri termasuk dalam jeram grade 3. Beberapa hari belakangan memang selalu hujan, saya agak khawatir juga sih. Tapi menurut guidenya, ketinggian air sungai masih berada di garis normal. Jadi gak perlu khawatir. Mereka sendiri gak akan berani jalan kalo kondisi mengkhawatirkan, katanya. Okelah..Bismillaah aja.

Dan ternyata, raftingnya SERU BANGETTT!!! Pemandangannya keren, melewati sekitar 14 air terjun baik besar maupun kecil, dan yang paling menegangkan adalah ketika perahu akan menuruni bendungan yang ketinggiannya sekitar 5 meter dengan level kemiringan 90 derajat. Whoaa!! Sayang sih saya gak ada fotonya, tapi ya sudalah ya, bayangin aja kira-kira begitu. Or you should try it someday! Asik lhoo..

Sempet singgah dan foto di salah satu air terjun yang besar

Kelokan Telaga Waja
Beres rafting perahu merapat di tepian telaga dan saya harus mendaki ke atas bukit lagi (sumpah deh kaki rasanya lemes banget) untuk makan siang. And Thank God, it was all you can eat! hahaha..Setelah ganti pakaian dan makan siang, saya sudah ditunggu sama driver untuk kembali di antar ke penginapan. Waw..finishing yang bener-bener asik buat hari ini.

Saya sampai di penginapan jam 3 sore, dan ambil backpack yang tadi dititipkan di resepsionis. Setelah ganti baju lagi saya melanjutkan perjalanan, menuju airport. Yes, I'm going home.. Penerbangan dengan pesawat singa jam 6.30 akan membawa saya kembali ke Jakarta.

So this is the end of my 4 days escape story in Bali. Sounds fun, eh? IT WAS.
Perjalanan kali ini memang bener-bener recharge buat saya. Bener-bener pelarian dari kepenatan kantor dan kesesakan ibukota. Ah..kayanya saya harus sering-sering liburan nih biar gak mudah jenuh sama kerjaan. Hehehe...Apa kabar dompeeett??? :P

Kita lihat saja, apakah akan ada trip berikutnya lagi? Hmm... semoga!
Thank you for reading patiently, yaa.. terutama buat yang sudah menanti-nanti cerita ini dari part I sampe yang sekarang.  Hope you enjoy it.

Cheers!


Monday, February 27, 2012

Escape (part II)

Pagi itu saya buka pintu balkon kamar dan menghirup udara dalam-dalam. Hmmm..udara Bali. Biasa aja sih sebenarnya, tapi agak lebih fresh aja dibandingin sama udara Jakarta. (ya iya laaahh). Dan ibu saya pagi itu nelpon lagi, nanya akan kemana, sama siapa dan ngasih wejangan ini itu lebih dari biasanya. Waktu saya bilang mau jalan aja entah ke mana, sendirian lagi dan mungkin akan jalan kaki menyesatkan diri, wejangannya malah makin panjang. Hahaha...

Hari itu hari ke-2 saya di Bali. Jam 9.00 WITA saya turun untuk mengunyah roti dan menyesap kopi Bali. Hmm..enak! Sambil sarapan saya browsing lagi tentang apa aja yang menarik di seputaran Kuta, Legian dan sekitarnya. Ah, terima kasih untuk siapapun itu yang menemukan Travel Advisor *sembah sujud*. Jadi rencana saya hari itu adalah menyusuri Jl. Raya Kuta sampai ke sekitar pasar seni. Liat-liat, beli apa yang mungkin menarik untuk dibeli dan sorenya saya akan ke Uluwatu. Oke!

Beres sarapan, mandi, sisiran dan pupuran, saya mulai jalan menyusuri Gg Poppies II ke arah pantai melewati toko-toko souvenir dan beberapa travel agent yang berjejer rapat satu sama lain. Toko-toko semacam ini biasanya dijaga oleh mas-mas anak pantai, berbadan tegap, kulit terbakar matahari, sebagian dari mereka bertato, memakai kaos tanpa lengan dan entah siang entah malam mereka berkaca mata hitam. Sepertinya mereka semua merasa sekeren Tipi Jabrik. w-o-w!

Lewat satu toko saya disapa "Assalamu'alaikum..". Pelan saya menjawab "Wa'alaikumsalam" sambil terus jalan. Lewat toko berikutnya, disapa lagi begitu. "Assalamu'alaikum..". Kali ini saya senyum aja dikit. Toko berikutnya lagi, sapaan itu mulai jadi agak too much. Sepanjang toko itu saya susuri, kok sepertinya "Assalamu'alaikum" sudah berubah makna jadi "Hai cewek...swit swiiww.." gitu yaa? Tapi hmm... gimana ya, gak jawab rasanya kok gimanaa gitu, orang udah doa'in keselamatan kita tapi kok ya kitanya mlengos. Kalo dijawab, hmm...nganu, masalahnya saya juga gak yakin mereka menyapa itu memang niat memberi salam. Ah jadi gak enak hati. Sudahlah, saya jawabnya dalam hati aja. Allah Maha Tau, kan? :)

Oke, lanjut. Pagi menjelang siang itu saya nyamperin pantai Kuta ceritanya. Tapi..maaf lho ya.. maaf inimah, kalo menurut saya pantainya mah biasa aja. Cenderung jelek kalo menurut saya yang notabene anak pesisir Lampung ini. Tapi kalo kamu adalah seorang surfer yang senang menaklukkan ombak besar, I assure you, this is your place. Selebihnya, biasa aja. Hehehe..  Jadi saya cuma bentar doang di pantai sebelum akhirnya keluar lagi ke jalan raya dan menyusuri pertokoan dan kafe-kafe.

Leleyehan sejenak di pantai Kuta

Siangnya saya mampir di Pasar Seni Kuta dan celingak-celinguk di pertokoan. Nothing to buy. Lalu lanjut makan siang nasi + iga bakar dan esteh manis = 35rb. Jam 3.30 sore saya bingung mau ke mana lagi. Mau jalan lagi ya isinya cuma gitu-gitu aja. Hotel besar, pantai, toko, bar, cafe, hotel lagi, toko lagi, dan gitu lagi. Yasudah lah akhirnya saya menyetop taksi dan minta diantar ke Uluwatu. Agak lebih awal memang dari waktu yang disarankan, ah tapi gak papa deh. Mungkin di sana saya bisa lebih eksplor.

Peta bagian ujung pulau Bali

Uluwatu itu adalah tempat paling ujung bawah pulau Bali. Satu-satunya cara untuk bisa sampai di sana adalah dengan taksi karena gak ada bis umum yang datang dan menuju ke sana. Lain ceritanya kalau kamu menyewa motor atau tergabung dalam rombongan travel yang menyewa mobil. Saya? Saya gak bisa naik motor, dan gak ikut travel-travelan. Jadi inilah kerugian saya yang pertama. Naik taksi sendiri ke Uluwatu itu menghabiskan ongkos 200ribu lebih pulang perginya. Mahal kan? Sayangnya saya gak ada partner untuk sharing ongkos taksi ini. Akan lebih parah lagi kalau kamu membuat perjanjian untuk ditungguin sama supir taksinya. Jadi kalo kamu datang pukul 4 sore, bayar 100ribuan, lalu menyuruh supir taksinya menunggu, karena setelah pertunjukan Tari Kecak jam 7 malam itu sudah gak ada lagi transportasi umum, maka argo akan terus berjalan. Hitung aja kira-kira 3 jam. Ditambah dengan ongkos perjalanan pulang ke kawasan Kuta dsk. Mungkin bisa mencapai 500ribuan. Taksi doang! Beuuh...Untunglah saya nekad aja ngebiarin pak supirnya langsung jalan. Sebetulnya dia menawarkan menunggu, ngasih nomer telpon segala biar saya bisa mencarinya lagi pas jam pertunjukan berakhir, tapi saya menolak dengan halus. Urusan pulang, gimana nanti aja deh. Hahaha.. nekad memang. Tapi moto saya sejak kemarin adalah:  God save the solo traveler, just believe it ;)

Setengah jam perjalanan tanpa macet dari Kuta saya tiba di Uluwatu. Masuk ke situ bayar karcis 4.000, lalu kita akan dipasangkan selendang pengikat pinggang. Untuk yang pakai celana pendek akan dikasih kain penutup untuk dipakai. Di situ juga ditawarkan mau pakai guide atau nggak. Awalnya saya menolak, tapi dipikir-pikir asyem juga yaa seharian gak ada teman ngobrolnya. Hehe.. Selain itu, monyet-monyet di situ banyak yg nakal bahkan gak malu-malu untuk menyerang atau ngambil barang barang seperti kamera, kacamata, bahkan sendal jepit yg kita pake! Nah sedangkan masing-masing guide itu dilengkapi dengan ketapel. Jadi kayanya agak lebih aman kalo pake guide ya. Tarifnya 50.000. Okelah.. *nelen ludah* Yang jadi guide saya namanya Ibu Ketut, orangnya baik, ramah dan very helpful.

Uluwatu itu adalah jajaran tebing terbawah dari pulau Bali, langsung berhadapan dengan laut lepas Samudra Indonesia. Tebing-tebingnya bagus, dan ada beberapa spot yang menurut saya very breathtaking. Mungkin karena didukung oleh cuaca yang cerah dan sinar matahari yang maksimal ya..jadinya bagus gitu (lap keringet). Di sana juga ada pura Uluwatu yang cukup besar dan sering jadi tempat perayaan hari-hari besar umat Hindu Bali. Trus ada juga lokasi yang sering dijadiin tempat nikahan para selebritis tanah air atau sekadar spot untuk foto prewedding karena katanya romantis banget dan viewnya indah. #gandengmonyetfotobareng. Sayangnya menjelang sunset cuaca tiba-tiba berubah mendung. Aaahh...gak bisa deh dapet foto langit kemerahan, padahal posisinya udah bagus banget loh! *manyun.

ini lho tempat artis-artis papan atas itu menikah
beautiful, isn't it?
tebing paling bawahnya Uluwatu
Beres muter-muter tebing dan pura, saya istirahat bentar di kantin sederhana di depan loket masuk sambil menunggu loket penjualan pertunjukan tari kecak dibuka. Masih sekitar satu jam lagi. Sambil minum es teh saya ngobrol-ngobrol sama ibu penjualnya yang ternyata sudah 50 tahun lebih buka lapak di sana. Waw.. lalu mengalirlah cerita-cerita menyenangkan dari penduduk lokal :)

Tiket pertunjukan tari
Jam 6, loket pertunjukan sudah mulai dibuka. Bayar 70.000 per orang dan akan dikasih sinopsis sendratari Ramayana dalam berbagai bahasa. Gak perlu lah yaa saya ceritain tentang tariannya. Hehehe. Yang menarik adalah, ratusan penonton yang hadir di sini itu datang dari berbagai bangsa berbagai belahan dunia. Dan kalau anda adalah pemerhati soal intercultural communication, maka ini adalah melting pot yang kecil tapi isinya macem-macem. Tari Kecaknya sendiri juga jadi sesuatu yang bisa bikin semua mata terpaku, dan somehow menyaksikannya langsung di tempat seperti Uluwatu ini juga terasa sekali suasanya magisnya.


Barisan penonton
Persiapan sebelum pertunjukan dimulai

Tari Kecak

Hanoman in action
Pertunjukan tarinya berlangsung sekitar satu jam, tapi sayangnya, 10 menit menjelang pertunjukan berakhir suasana jadi kacau karena hujan turun tiba-tiba. Penarinya sih tetep santai, tapi penontonnya pada kabur. Kacau dah.. Jam 7 acaranya beres dan untungnya saya dibantu sama Bu Ketut pesan taksi. Kakaknya sendiri yang rupanya supir taksi yang akan mengantarkan saya kembali ke Kuta. Malam itu hujan deras, sebagian daerah Jimbaran bahkan tergenang banjir. Alhamdulillah saya sudah di dalam taksi, membeli makan di KFC terdekat dan kembali ke penginapan dengan tenang. See..? God save the solo traveler ;)

Ibu Ketut yang baik dan saya yang kucel keringetan+keujanan :D

So, that's all catatan perjalanan hari ke dua ini. Tapi masih ada looh kelanjutannya. Jangan khawatir, the fun is not finish yet. And I'm so sorry that I just can't make it short. Hehehe.. Jangan bosen-bosen mampir ke sini yaa. Tunggu kelanjutannya di Escape part III


*mulai merasa berbakat ngarang cerita sinetron*

Friday, February 17, 2012

Escape (part I)

Saya gak nyangka, setelah saya bilang di post sebelum ini bahwa saya bakalan backpacking lagi, ternyata ada yang bener-bener nungguin ceritanya! Sampe bolak-balik mampir ke mari wondering apakah sudah ada postingan baru atau belum, bahkan pake acara nagih segala. Aiih...makasih lo mbak wulafit atas perhatiannya. Hehehe...jadi GR sayah. Iya deeh ini disempetin nulis ;)

Yes, akhir bulan kemarin itu memang saya sempet jalan lagi. SEJATINYA, saya akan ke Vietnam bersama seorang teman. Ke Ho Chi Minh tepatnya. Kenapa saya bilang SEJATINYA? Karena...eng ing eng, saya ternyata gak jadi ke Vietnam! Paspor saya ternyata sudah hampir expired dan singkat kata singkat cerita saya dilarang ke luar negara. Hahahaha.. my bad. Yasudah, akhirnya saya cupika-cupiki dan dadah-dadah di pintu terminal 3 dengan teman saya itu, dia melanjutkan perjalannya sendirian ke Ho Chi Minh. Yaah trus jadi batal dong jalan-jalannya? Sudah, gitu aja? Gak ada kelanjutan ceritanya dong?

Oo..tentu tidak!
Berhubung saya sudah kepalang ambil cuti 3 hari, sayang dooong kalo gak dipake kemana-mana. Alhasil saya yang "terusir" dari terminal 3 Soekarno Hatta itu (ya ampun, sedih amat pake istilah 'terusir'..) langsung belok kanan ke terminal 1, mendatangi counter maskapai singa, membeli tiket lainnya di jam terdekat, cek in, dan berangkat! Ke mana? ....BALI!

Serius?? Iya.
Sendirian?? Iya.
Spontan?? Uhuy. Eh, iya!

Jadilah saya solo traveling untuk pertama kalinya ke Bali hari itu. Tiket Jkt-Denpasar-Jkt yang dibeli 1,5 jam sebelum keberangkatan dengan harga 700rb PP saya peluk erat. Lha tiket ke vietnamnya? Ya angus lahh. Tapi gak papa. Nepermain kalo kata orang bule. Hehehe.. Jadi sekarang setting ceritanya kita pindah ke Bali ya.

Jujur aja ketika saya sadar bahwa saya sepertinya gak mungkin ke Vietnam, saya udah sempet browsing tentang Bali dan cari-cari penginapan murah di sekitar Kuta. Tapi ya cuma itu aja bekal yang saya punya. Oh, sama sebuah telepon pintar yang begitu setianya mendampingi saya. Jadi begitu mendarat di bandara I Gusti Ngurah Rai sekitar jam 7.30 malam, yang saya tau cuma saya harus cari peta Bali, cari taksi bermeter, dan minta diantar ke Gg. Poppies di mana banyak hostel-hostel murah yang cuma berjarak 5 menit jalan kaki dari pantai Kuta. That's it.

Dan ternyata peta Balinya gak ada. Yang tumpah ruah di pintu keluar bandara adalah brosur rental mobil, restoran, spa, dan paket-paket wisata lainnya. Berhubung saya kere sendiri, gak minat ah ambil paket-paket begituan. Hehe..Jadi ya sudah, gak punya peta wisata pun gak masalah, cukuplah ngandelin google maps dan travel advisor dari Hp saja. Trus pesan taksi di loket, ke Kuta Rp 60.000. Selama ngobrol-ngobrol sama Pak Supir, saya sempet tanya, enaknya ke mana ya jalan-jalannya? Disarankan ke Uluwatu. Katanya di sana bagus, ada pertunjukan tarinya, naik taksi setengah jam juga sampai. Baiklah..dicatat.

Peta daerah Kuta dan sekitarnya.  Click image kalo mau lebih jelas.

Sama pak supir saya diantar sampai depan Gg. Poppies I lalu saya mulai menyusuri jalan, celingukan keluar masuk hostel dan guess house untuk cari kamar yang nyaman dengan harga murah. Saya sih pede aja bakalan dapet kamar, karena itu hari Senin, lagi nggak musim liburan, jadi pasti kamar kosong mudah didapat dengan harga yang masih normal. Menurut hasil browsing, di gang ini ada beberapa hostel yang menyewakan kamar dengan kisaran harga hanya 60-70 ribuan saja.  Tapi ternyata... sampe jam 10 malam saya belum juga dapet kamar yang available, dan belum makan malam, belum mandi, dan sepatu saya jebol. Alhamdulillah..

Singkat kata akhirnya saya dapet juga sebuah kamar di Gg. Poppies II, dengan twin bed, fan, shower bathroom, plus breakfast seharga 100 ribu saja  per malam. Murah ya? Okkie Guest House namanya.  Kamarnya juga nyaman. Posisinya tepat di seberang Billabong dan di samping Barong Hotel yang selalu happening tiap malam. Oke. Sudah cek in, sekarang urusannya cari makan. Di sepanjang Gg. Poppies I dan II ini sebetulnya banyak cafe, resto dan bar gitu. Tapi saya mah gak yakin halal jadi ya gak niat mau nyoba juga. Kata bapak resepsionis, dari depan situ cuma perlu belok kiri dan jalan sedikit, paling hanya 100 meter, di sana ada warung padang yang dijamin halal. Ah senangnya...

Gg. Poppies, Kuta. 

Keluar dari warung padang saya sempatkan untuk scanning area di sekitar penginapan barang sejenak. Oke, saya jadi tau di mana-mana banyak minimarket, toko suvenir dan ATM yang satu sama lain jaraknya dekat banget. Beres makan, mandi, dan ngelurusin badan sebentar, saya mulai menyusun rencana buat besok. Baiklah, saya akan ke Uluwatu. Tapi dari informasi yang saya dapat, ke sana itu enakan menjelang sunset. Hmm...jadi dari pagi ngapain dulu ya? Hmm...
Udah ah, liat besok aja gimana-gimananya. Toh saya traveling sendirian ini kan? Saya bisa semau-mau atur jadwal. Mau ke mana jam berapa nyasar sampe mana gak perlu repot-repot dikompromikan. Hehehe..Mendingan sekarang tidur biar besok fit buat jalan seharian. Maka setelah ngasi kabar ke ibu saya yang demi Tuhan khawatir banget mikirin anak gadisnya nyasar sendirian, saya mulai memejamkan mata.

Good night Bali, kita having fun besok ya ... :)



to be continued..