Aku pernah membencinya. Teramat sangat membencinya.
Aku bahkan pernah berdoa kepada Tuhan untuk mengambil saja nyawanya seketika.
Aku juga pernah bersumpah pada diriku, tidak akan menangisi kematiannya. Tidak setitikpun air mataku akan jatuh pada saat ajal itu datang.
Ya, aku mungkin terlalu membencinya.
Aku ingat dia pernah memberiku satu tamparan keras. Lalu dia berkata bahwa aku HARUS memaafkannya. Semudah itu? Tidak, tentu saja.
Lalu dia mengatakan bahwa sedalam apapun aku membencinya, aku tidak akan pernah melupakannya, tidak akan pernah bisa jauh darinya. Dia berkata sambil menepuk dadanya waktu itu. Sombong!
Nyatanya, dia memang tidak pernah benar-benar hilang dari pandanganku. Tapi bagiku, dia hanya seperti benda mati. Tidak lebih. Seperti tai kerbau atau rongsokan besi. Membusuk pun aku tak peduli.
Lalu siang ini, aku mengingatnya lagi.
Pada irisan tomat bersiram kecap aku menemukan wajahnya. Dia yang mengajarkanku makan tomat dengan cara itu.
Aku suka tomat itu. Tapi hatiku mendadak nyeri karna wajah itu hadir kembali.
Maka aku melumat tomat itu, mengunyahnya dan menelannya cepat-cepat.
Aku jamin, besok pagi pasti tomat itu sudah membusuk di lubang WC ku.
No comments:
Post a Comment