Friday, September 11, 2009

sebuah nama dan sederet nomor

Hari ini, malam sahur ke 21, ada yang berbeda dengan ritual saya.
Malam-malam sebelumnya saya selalu menyetel alarm pada jam 03.50 dan selalu memperpanjangnya hingga tepat 10 menit. Lalu baru benar-benar beranjak ke kamar mandi tepat pada pukul 04.00. Cuci muka, sikat gigi, turun dan makan sahur.

Tapi tidak malam tadi
Ketika baru membuka mata subuh itu, saya sengaja membuka hp terlebih dahulu lalu menghapus sebuah nama dari phonebook, baru kemudian melanjutkan ritual seperti biasa, beranjak ke kamar madi, cuci muka, sikat gigi, turun dan makan sahur.

Sebuah nama, dengan sederet nomor yang sengaja tidak saya ingat.
Tidak mau saya ingat.

Sengaja saya melakukannya ketika baru membuka mata, ketika kesadaran masih baru menyentuh ujung jari dan otak belum benar-benar berfungsi. Karena saya tidak mau mengingat nomor itu. Tidak mau melakukannya di saat kesadaran sedang terisi penuh, lalu mulai berfikir dan menimbang-nimbang, hapus-tidak-hapus-tidak-hapus tidak, dan pada akhirnya memutuskan menghapus namanya namun terlebih dulu mengingat-ingat sederet nomor yang tertera.

Saya tidak mau seperti itu.
Jadilah, saya menghapusnya saat mata masih separuh terbuka.

Nama siapa? Mengapa dihapus?
Marah? Benci?
Tidak.

Hanya saja, pemilik nama itu berpotensi untuk membuat saya sakit hati. Sangat berpotensi. Selama ini saya sudah menjadi umat paling sabar untuknya, meski tanpa memiliki alasan mengapa saya jadi sedemikian sabar. Saya bahkan heran, dari langit sebelah mana kesabaran seluas itu saya dapatkan?
Ah, kadang saya merasa itu bukan kesabaran. Itu cuma kamuflase yang saya gunakan untuk menenangkan hati sendiri. Seperti betadine dan perban yang saya pakai untuk membalut luka di kaki, sambil berbisik dalam hati, “besok pasti lukanya sembuh”.

Lalu kemarin saya membaca sebuah novel (“Subjek: Re” by Novita Estiti) dan menemukan kata-kata ini:

karena aku tahu
tak mungkin mencegah orang lain
menyakiti hatiku
maka
aku mencegah hatiku
dari merasakan sakit
dan
mencegah
hatiku dari merasakan
apa yang kurasakan saat ini


maka, sesederhana itu saya putuskan.
Menghapus sebuah nama, memilih untuk tidak mengingat nomornya, dan mencegah menyakiti hati sendiri.

Done.

2 comments:

-Be said...

gw udah pernah baca novel itu beberapa tahun lalu dan masih disimpen dan lupa isinya sampe beberapa hari lalu diingetin lagi isinya lewat sms :)
bagus!! hapus semuaa...
ada tanda silang dimana-mana, just click :)

Anonymous said...

kakak,,aku suka ini...hihiii...
kutipan na sesuai ma aku skrg..:((
kesabaran yg sering mbuat aku bodoh,,hihii...