Pagi itu saya buka pintu balkon kamar dan menghirup udara dalam-dalam. Hmmm..udara Bali. Biasa aja sih sebenarnya, tapi agak lebih fresh aja dibandingin sama udara Jakarta. (ya iya laaahh). Dan ibu saya pagi itu nelpon lagi, nanya akan kemana, sama siapa dan ngasih wejangan ini itu lebih dari biasanya. Waktu saya bilang mau jalan aja entah ke mana, sendirian lagi dan mungkin akan jalan kaki menyesatkan diri, wejangannya malah makin panjang. Hahaha...
Hari itu hari ke-2 saya di Bali. Jam 9.00 WITA saya turun untuk mengunyah roti dan menyesap kopi Bali. Hmm..enak! Sambil sarapan saya browsing lagi tentang apa aja yang menarik di seputaran Kuta, Legian dan sekitarnya. Ah, terima kasih untuk siapapun itu yang menemukan Travel Advisor *sembah sujud*. Jadi rencana saya hari itu adalah menyusuri Jl. Raya Kuta sampai ke sekitar pasar seni. Liat-liat, beli apa yang mungkin menarik untuk dibeli dan sorenya saya akan ke Uluwatu. Oke!
Beres sarapan, mandi, sisiran dan pupuran, saya mulai jalan menyusuri Gg Poppies II ke arah pantai melewati toko-toko souvenir dan beberapa travel agent yang berjejer rapat satu sama lain. Toko-toko semacam ini biasanya dijaga oleh mas-mas anak pantai, berbadan tegap, kulit terbakar matahari, sebagian dari mereka bertato, memakai kaos tanpa lengan dan entah siang entah malam mereka berkaca mata hitam. Sepertinya mereka semua merasa sekeren
Tipi Jabrik. w-o-w!
Lewat satu toko saya disapa "Assalamu'alaikum..". Pelan saya menjawab "Wa'alaikumsalam" sambil terus jalan. Lewat toko berikutnya, disapa lagi begitu. "Assalamu'alaikum..". Kali ini saya senyum aja dikit. Toko berikutnya lagi, sapaan itu mulai jadi agak too much. Sepanjang toko itu saya susuri, kok sepertinya "Assalamu'alaikum" sudah berubah makna jadi "Hai cewek...swit swiiww.." gitu yaa? Tapi hmm... gimana ya, gak jawab rasanya kok gimanaa gitu, orang udah doa'in keselamatan kita tapi kok ya kitanya mlengos. Kalo dijawab, hmm...nganu, masalahnya saya juga gak yakin mereka menyapa itu memang niat memberi salam. Ah jadi gak enak hati. Sudahlah, saya jawabnya dalam hati aja. Allah Maha Tau, kan? :)
Oke, lanjut. Pagi menjelang siang itu saya nyamperin pantai Kuta ceritanya. Tapi..maaf lho ya.. maaf inimah, kalo menurut saya pantainya mah biasa aja. Cenderung jelek kalo menurut saya yang notabene anak pesisir Lampung ini. Tapi kalo kamu adalah seorang surfer yang senang menaklukkan ombak besar, I assure you, this is your place. Selebihnya, biasa aja. Hehehe.. Jadi saya cuma bentar doang di pantai sebelum akhirnya keluar lagi ke jalan raya dan menyusuri pertokoan dan kafe-kafe.
 |
| Leleyehan sejenak di pantai Kuta |
Siangnya saya mampir di Pasar Seni Kuta dan celingak-celinguk di pertokoan. Nothing to buy. Lalu lanjut makan siang nasi + iga bakar dan esteh manis = 35rb. Jam 3.30 sore saya bingung mau ke mana lagi. Mau jalan lagi ya isinya cuma gitu-gitu aja. Hotel besar, pantai, toko, bar, cafe, hotel lagi, toko lagi, dan gitu lagi. Yasudah lah akhirnya saya menyetop taksi dan minta diantar ke Uluwatu. Agak lebih awal memang dari waktu yang disarankan, ah tapi gak papa deh. Mungkin di sana saya bisa lebih eksplor.
 |
| Peta bagian ujung pulau Bali |
Uluwatu itu adalah tempat paling ujung bawah pulau Bali. Satu-satunya cara untuk bisa sampai di sana adalah dengan taksi karena gak ada bis umum yang datang dan menuju ke sana. Lain ceritanya kalau kamu menyewa motor atau tergabung dalam rombongan travel yang menyewa mobil. Saya? Saya gak bisa naik motor, dan gak ikut travel-travelan. Jadi inilah kerugian saya yang pertama. Naik taksi sendiri ke Uluwatu itu menghabiskan ongkos 200ribu lebih pulang perginya. Mahal kan? Sayangnya saya gak ada partner untuk sharing ongkos taksi ini. Akan lebih parah lagi kalau kamu membuat perjanjian untuk ditungguin sama supir taksinya. Jadi kalo kamu datang pukul 4 sore, bayar 100ribuan, lalu menyuruh supir taksinya menunggu, karena setelah pertunjukan Tari Kecak jam 7 malam itu sudah gak ada lagi transportasi umum, maka argo akan terus berjalan. Hitung aja kira-kira 3 jam. Ditambah dengan ongkos perjalanan pulang ke kawasan Kuta dsk. Mungkin bisa mencapai 500ribuan. Taksi doang! Beuuh...Untunglah saya nekad aja ngebiarin pak supirnya langsung jalan. Sebetulnya dia menawarkan menunggu, ngasih nomer telpon segala biar saya bisa mencarinya lagi pas jam pertunjukan berakhir, tapi saya menolak dengan halus. Urusan pulang, gimana nanti aja deh. Hahaha.. nekad memang. Tapi moto saya sejak kemarin adalah: God save the solo traveler, just believe it ;)
Setengah jam perjalanan tanpa macet dari Kuta saya tiba di Uluwatu. Masuk ke situ bayar karcis 4.000, lalu kita akan dipasangkan selendang pengikat pinggang. Untuk yang pakai celana pendek akan dikasih kain penutup untuk dipakai. Di situ juga ditawarkan mau pakai guide atau nggak. Awalnya saya menolak, tapi dipikir-pikir asyem juga yaa seharian gak ada teman ngobrolnya. Hehe.. Selain itu, monyet-monyet di situ banyak yg nakal bahkan gak malu-malu untuk menyerang atau ngambil barang barang seperti kamera, kacamata, bahkan sendal jepit yg kita pake! Nah sedangkan masing-masing guide itu dilengkapi dengan ketapel. Jadi kayanya agak lebih aman kalo pake guide ya. Tarifnya 50.000. Okelah.. *nelen ludah* Yang jadi guide saya namanya Ibu Ketut, orangnya baik, ramah dan very helpful.
Uluwatu itu adalah jajaran tebing terbawah dari pulau Bali, langsung berhadapan dengan laut lepas Samudra Indonesia. Tebing-tebingnya bagus, dan ada beberapa spot yang menurut saya very breathtaking. Mungkin karena didukung oleh cuaca yang cerah dan sinar matahari yang maksimal ya..jadinya bagus gitu (lap keringet). Di sana juga ada pura Uluwatu yang cukup besar dan sering jadi tempat perayaan hari-hari besar umat Hindu Bali. Trus ada juga lokasi yang sering dijadiin tempat nikahan para selebritis tanah air atau sekadar spot untuk foto prewedding karena katanya romantis banget dan viewnya indah. #gandengmonyetfotobareng. Sayangnya menjelang sunset cuaca tiba-tiba berubah mendung. Aaahh...gak bisa deh dapet foto langit kemerahan, padahal posisinya udah bagus banget loh! *manyun.
 |
| ini lho tempat artis-artis papan atas itu menikah |
 |
| beautiful, isn't it? |
 |
| tebing paling bawahnya Uluwatu |
Beres muter-muter tebing dan pura, saya istirahat bentar di kantin sederhana di depan loket masuk sambil menunggu loket penjualan pertunjukan tari kecak dibuka. Masih sekitar satu jam lagi. Sambil minum es teh saya ngobrol-ngobrol sama ibu penjualnya yang ternyata sudah 50 tahun lebih buka lapak di sana. Waw.. lalu mengalirlah cerita-cerita menyenangkan dari penduduk lokal :)
 |
| Tiket pertunjukan tari |
Jam 6, loket pertunjukan sudah mulai dibuka. Bayar 70.000 per orang dan akan dikasih sinopsis sendratari Ramayana dalam berbagai bahasa. Gak perlu lah yaa saya ceritain tentang tariannya. Hehehe. Yang menarik adalah, ratusan penonton yang hadir di sini itu datang dari berbagai bangsa berbagai belahan dunia. Dan kalau anda adalah pemerhati soal intercultural communication, maka ini adalah melting pot yang kecil tapi isinya macem-macem. Tari Kecaknya sendiri juga jadi sesuatu yang bisa bikin semua mata terpaku, dan somehow menyaksikannya langsung di tempat seperti Uluwatu ini juga terasa sekali suasanya magisnya.
 |
| Barisan penonton |
 |
| Persiapan sebelum pertunjukan dimulai |
 |
| Tari Kecak |
 |
| Hanoman in action |
Pertunjukan tarinya berlangsung sekitar satu jam, tapi sayangnya, 10 menit menjelang pertunjukan berakhir suasana jadi kacau karena hujan turun tiba-tiba. Penarinya sih tetep santai, tapi penontonnya pada kabur. Kacau dah.. Jam 7 acaranya beres dan untungnya saya dibantu sama Bu Ketut pesan taksi. Kakaknya sendiri yang rupanya supir taksi yang akan mengantarkan saya kembali ke Kuta. Malam itu hujan deras, sebagian daerah Jimbaran bahkan tergenang banjir. Alhamdulillah saya sudah di dalam taksi, membeli makan di KFC terdekat dan kembali ke penginapan dengan tenang. See..? God save the solo traveler ;)
 |
| Ibu Ketut yang baik dan saya yang kucel keringetan+keujanan :D |
So, that's all catatan perjalanan hari ke dua ini. Tapi masih ada looh kelanjutannya. Jangan khawatir, the fun is not finish yet. And I'm so sorry that I just can't make it short. Hehehe.. Jangan bosen-bosen mampir ke sini yaa. Tunggu kelanjutannya di Escape part III
*mulai merasa berbakat ngarang cerita sinetron*
No comments:
Post a Comment