Gua percaya ya, dalam jiwa seorang penulis pasti ada sisi autisnya. Penulis apapun itu. Ya penulis novel, penulis buku anak-anak, penulis cerpen, bahkan ke penulis buku teks sekalipun. Pasti mereka punya dunia lain di dalam otaknya atau paling gak mereka sering kali merasa terlalu asik sama diri sendiri.
Marshal McLuhan misalnya ya. Doski nih pakar komunikasi yang menulis buku tentang Global Village. Bukunya ya buku teks, buku teori gitu. Dan di awal abad ke 20 dia udah bisa menulis di salah satu buku teorinya tentang kewujudan Global Village di dunia ini kelak. Buat yang gak ngerti teori ini, maksudnya tuh suatu hari nanti masyarakat dunia akan terhubung sedemikian rupa dan dunia akan terasa semakin kecil, gak beda dengan sebuah perkampungan. Dan sama halnya dengan kampung, masyarakatnya akan saling mengenal, share everything together, dan komunikiasi bisa terjalin dengan mudahnya. Bayangin, dunia jadi kampung! Gila kan, punya fikiran kaya gini di saat itu, sama aja kita bilang saat ini kalo mungkin aja manusia ngebangun mall di saturnus. Tapi nyatanya, it happen now. Oh.. thanks to the internet.
Nah, balik lagi ke masalah autis itu ya, gimana mungkin Marshal mcLuchan bisa ngebayangin dunia ini sebegitu jauhnya kalo dia gak punya imajinasi yang begitu luar biasa. Yang mungkin akan dipandang orang lain sebagai orang gila, atau nerd atau apalah..Dan pasti saat itu dia gak perduli apapun kata orang, apapun cemoohan orang tentang fikirannya, ide gilanya, atau justru kejeniusannya.
Contoh lain lagi, beberapa penulis novel top di Indonesia sekarang lebih memilih bercerai dan hidup sendiri (bagusnya dengan cara baik-baik) padahal rumah tangga mereka sebelumnya keliatan adem-ayem aja. Yaa..gua sih gak ngerti ya urusan domestik mereka. Cuma asumsi gua adalah, mereka menemukan kenyamanan yang lebih disaaat mereka sendiri (atau hanya berdua dengan imajinasinya) dibandingkan saat mereka berdua dengan pasangannya. Kenyamanan yang tidak tertandingi, kenyamanan yang membawa mereka pada ekstase luar biasa sehingga mampu menghasilkan karya-karya yang juga luar biasa.
Juga penulis-penulis lain seperti anak ini nih. Walaupun karya-karyanya belum di publish selain di personal blognya, tapi tulisan-tulisannya gua suka banget. Dan itu bagi gua termasuk luar biasa untuk anak seumuran dia. Dan dia juga termasuk salah satu orang yang masih saja berfikir apakah dia autis atau tidak. hahhaa..
Belum lagi penulis-penulis seperti Hans Christian Anderson, Agatha Christie, Paulo Coelho, dan semuanya. Gua yakin ada sisi autis dalam diri mereka semua.
Dan gua, sebagai penulis thesis (yang sumpah, gak penting dan gak sebanding banget dengan nama-nama di atas!) juga mulai merasa sisi autis gua semakin tumbuh dan berkembang. Gua sudah terlalu sering duduk di perpus sendirian, berkutat dengan keyboard dan loncat-loncatan antara neuron dan serabut otak gw berjam-jam lamanya. Yang paling menohok adalah.. ketika beberapa temen gua mulai complain dan mengatakan kalo gua menjadi semakin (berarti gejala ini udah dari dulu) antisosial. Juga ketika tadi malem, disaat yang gua lakukan hanyalah leyeh-leyeh dengan headset di kuping, mendengarkan lagu dari playlist yang diputer secara random, memejamkan mata dan meluruskan kaki, dilanjutkan dengan maen game tamiya dari laptop. Sumpah..moment itu terasa mahal banget!
Gua lupa kapan terakhir kali merasa senyaman itu.
Gua lupa kapan terakhir kali gua gak memikirkan kata thesis.
And now, here I am. Ngetik sendirian di koridor fakultas gua, kembali bercinta dengan windows, gak sadar dan gak peduli dengan semua orang yang lalu lalang. Gak sadar dengan siapa yg duduk di sebelah gua. Gak sadar sekarang udah jam berapa dan mengapa semua orang keliatan begitu sibuknya.
Yang gua sadar adalah, gua jadi makin autis aja
3 comments:
soliter, born to be joker...
oke..trus gua makin bingung sama bedanya soliter, joker dan autis.
hufffh...
"Kenyamanan yang tidak tertandingi, kenyamanan yang membawa mereka pada ekstase luar biasa sehingga mampu menghasilkan karya-karya yang juga luar biasa."
SETUJU!
Post a Comment