Mungkin gak banyak dari teman-teman saya yang tau bahwa sejak tahun 2006 saya aktif menjadi pendongeng untuk anak-anak. Gak kerasa, berarti sudah 3 tahun lebih saya nyemplung di kegiatan ini, and I love doing it! Meskipun on-off karena urusan kuliah dan kerjaan, tapi dongeng gak bisa saya tinggalin begitu saja.
Anyway..Saya tergabung di Komunitas Dongeng Dakocan bersama 6 rekan lainnya, dan mencoba mengembalikan lagi indahnya berimajinasi melalui dongeng dan permainan tradisional kepada anak-anak jaman sekarang. Yah, setidaknya menarik mereka sejenak dari kotak ajaib penuh racun warna-warni bernama televisi. Nggak hanya mendongeng untuk anak-anaknya, saya dan juga teman-teman mencoba sharing apa yang kami bisa ke beberapa guru TK dan playgroup, serta beberapa rekan yang mulai menyadi young mommy and daddy. Dan sampai sekarang, alhamdulillah, virus dongeng sudah mewabah di Lampung dan beberapa daerah lainnya. Gak hanya itu, beberapa lagu anak yang kami ciptakan juga sudah mulai masuk top chart di beberapa sekolah TK dan SD. Hehehee..
Selama aktif mendongeng, saya lebih banyak berperan sebagai narator. Sedangkan 2 teman lainnya membawakan karakter/ tokoh, 2 lainnya berperan sebagai pemusik, dan 1 orang sebagai floor director, kadang merangkap tim artistik, kadang tukang listrik, atau sekedar mengamankan anak-anak dari euforia berlebihan. Hahaha.
Naah, yang mau saya share disini adalah, ternyata mendongeng itu gak mudah lho. Gak hanya sekedar menyampaikan cerita aja. Ada trik-trik dan teknik yang harus dikuasai, dan itu perlu latihan khusus Tapi setelah menguasai bagaimana trik mendongeng yang asik, saya bisa menerapkannya di hal-hal lain juga, terutama di kerjaan saya sekarang sebagai dosen. Bener-bener bermanfaat! Simak deh:
Pertama ya, mendongeng itu perlu latihan vokal. Dan ini HARUS! Mendongeng gak akan efektif kalo suara kita kecil. Selain itu, artikulasi harus jelas, intonasi harus pas, nafas juga harus diatur biar gak ngos-ngos-an. Nah, ini jelas sangat berguna buat saya yang sekarang berprofesi sebagai dosen dengan primary duty-nya tukang ngecap di kelas. Gimana biar suara saya terdengar sampe ke belakang, dan mahasiswa saya tetep bisa menyimak dengan asik, harus bisa dikuasai oleh si dosen. Mahasiswa pasti bakalan bosen kalo intonasi saya datar. Daan...ini penting nih: gimana ngatur ngomong cepat, terus menerus, tanpa membuat mulut berbusa dan rahang capek. Dan saya mendapatkan teknik ini ketika belajar mendongeng.
Lalu, apa sih tantangan terbesar saat mendongeng? Hmm..let me ask you this:
Bisa nggak kamu membuat anak-anak usia 5 tahun duduk manis selama… 15 menit aja, untuk fokus mendengarkan kamu bercerita, atau bahkan ikut terbawa dengan isi cerita yang kamu sampaikan?. Misal, ketakutan waktu serigala mau menerkam, atau sedih saat anak ayam hampir mati. Can you?
Kalau kamu bisa melakukannya, for sure kamu juga bisa membuat mahasiswa betah berada di dalam kelas dan tetap fokus selama 2 jam ketika ngebahas perubahan paradigma dalam penelitian ilmu sosial.
Anak-anak itu benar-benar makhluk visual. Dan fokus mereka pada umumnya hanya bertahan selama 15 menit. Untuk mempertahankan ini, perlu cara ekstra yang nggak membosankan. Beda dengan mahasiswa yang bisa duduk diam di kelas selama 2 jam (yah walaupun ini sebenarnya terpaksa) tanpa diramaikan adegan lari-larian atau nangis jejeritan. Tapi gimana menjadikan 2 jam di kelas itu tetap asik dan enjoyable, itu dia yang susah..
Lalu, tantangan berikutnya yang juga dihadapi oleh pendongeng adalah: Nggak Cuma membuat anak-anak mendengar dan tetap menyimak sampai habis, tapi juga bagaimana menanamkan hal-hal penting ke dalam benak anak-anak dan membuatnya bisa melekat di long term memory mereka. Hal-hal sederhana seperti pentingnya menabung, atau sama temen gak boleh memukul, atau anak lelaki dan anak perempuan itu sama. Ini juga tantangan besar lho!
Sama dengan ketika saya mengajar. Membuat mahasiswa faham tentang apa itu fenomenologi bener-bener kerja keras. Nggak jarang saya harus mengulangnya sampai 3 atau 4 kali. Haduh Gusti....Tapi dengan mendongeng, saya belajar bagaimana menyampaikan sesuatu dengan cara sederhana, cara termudah yang bisa difahami, dan membuat mereka mudah-mudahan tetap inget sampai kapan pun. Mengajar materi seperti ini memang harus kreatif dan banyak akal. Mau tau gimana saya membuat mahasiswa gak bingung lagi membedakan penelitian induktif-deduktif? Saya pakai analogi Induk Ayam! Hahahha....
Gak hanya itu, banyak hal yang saya pelajari dari mendongeng dan bisa banget saya terapin di dunia mengajar yang sekarang saya jalani. Mulai dari hal-hal kecil, seperti gimana masuk kelas dengan wajah yang ceria dan optimis (ini beneran mempengaruhi mood mahasiswa lho!), gimana menjaga eye contact, mengatur gestur saaat berbicara, merangsang mahasiswa untuk ikut diskusi dan interaksi dalam kelas, bahkan...ini juga penting nih: membuat mereka pengen masuk kelas lagi di pertemuan berikutnya, dan bukan sekadar hadir karena kewajiban absen!
See? Mendongeng emang gak mudah. Tapi setelah kita menguasai, banyak lho hal positif yang bisa kita ambil dan terapkan di kerjaan sehari-hari, dan ini berlaku gak hanya mengajar seperti saya aja. Karena saya percaya, mendongeng membantu kita mengembangkan soft skill dan membuat aura positif kita semakin terpancar.
Gak perlu ke dukun deh untuk totok aura! Hehehhe...
Gimana, tertarik untuk belajar mendongeng?
1 comment:
hehhee jadi inget waktu ngajarin tentang awal mula ilmu komunikasi, saya ngedongeng kisah narcissuss..
dan mahasiswanya terpana, hehehe ternyata yg butuh dongeng bukan cuma anak anak
Post a Comment