Ada apa dengan menghela nafas panjang? Mendengarnya dihembuskan seolah-olah segala penat juga ikut terlepaskan. Seolah-olah segala beban yang menghimpit ikut larut dalam karbondioksida yang melayang. Dan mengapa yang ada perasaan lega setelahnya? Mengapa ini memberi rongga yang lebih lapang untuk menghirup udara?
Bukan... itu bukan sekedar nafas panjang. Itu adalah beban yang terhembuskan.
Saya kenal seseorang, yang mencoba untuk merokok demi bisa lebih sering menghela nafas panjang. Kalau dia terus-terusan menghela nafas panjang, orang-orang di sekitarnya selalu bertanya, "kenapa?", "ada apa?". Seolah-olah sebentar lagi dunianya akan ambruk.
Dengan merokok, ia bisa lebih sering menghela nafas panjang, dan mungkin orang akan menganggapnya itu hal yang biasa. Gak perlu banyak tanya.
Tapi toh merokok ternyata hanya membuatnya bertambah sesak, bukannya lega. Asap-asap tidak melarutkan penat, katanya..Dan ia jadi tidak cukup percaya pada rokok.
Lalu tiap kali dia merasakan sakit pada tubuhnya, selalu terfikir untuk melakukan hal gila. Tiap kali pelipisnya terasa nyeri, ia berharap ada sebuah pistol yang ditempelkan ke pelipisnya itu. Tiap kali perutnya sakit, ia berandai-andai sedang merobek perutnya dengan sebilah belati dan mengangkat sumber sakitnya itu.
Dia tau itu akan lebih terasa sakit. Tapi membayangkan rasa sakitnya yang dahsyat, membuatnya melupakan rasa sakit yang kecil itu.
Entahlah,
Fikirannya memang absurd.
Sebegitu inginnya dia menghilangkan penat.. Sebegitu inginnya dia menghembuskan nafas panjang..
No comments:
Post a Comment