Monday, September 28, 2009

phobia

saya phobia ular. liat gambarnya pun saya merinding. hiiiy...
tapi saya sekarang menemukan cara yang asik untuk terapi
nonton acara Petualangan Panji di Global TV

and I start to like it,

simply because Panji nya ganteng. huehehe.... :D

Friday, September 25, 2009

it's in my blood

Saya kok kangen nenek ya..
Padahal baru lebaran ke-3 kemarin nenek pindah ke tempat om saya di Tanggerang setelah hampir dua tahun lebih tinggal di rumah. Baru aja 3 hari nggak ada nenek di rumah, rasanya sepi. Nggak ada yang diajak ngobrol, bercanda, masak bareng, atau bahkan sekadar duduk di teras dan ngerumpiin orang-orang yang lewat. hihihi...

Nenek saya itu orangnya cuek. Persis seperti Gus Dur. Kalau ngomong ceplas-ceplos dan segala sesuatunya ditanggapi dengan santai. Hidupnya terasa begitu ringan, tanpa beban, dan begitu ikhlas menghadapi segala masalah.

Saya sempat berfikir, apa jangan-jangan sikap beliau ini mengalir juga di darah saya. Soalnya bisa dibilang, untuk beberapa hal saya mempunyai banyak kesamaan sama nenek saya. Saya jarang sekali menangis. Sama seperti nenek. Saat orang lain sudah nangis sesenggukan seperti nonton film India, beliau hanya komentar "sudaah...buat apa ditangisin". Dan saya pun selalu mengamini.

Saat kakek saya meninggal pun, tidak ada setitikpun air mata jatuh di pipinya. Di tepi ranjang rumah sakit itu mereka hanya berpegang tangan, memaafkan satu sama lain dan mengikhlaskan apa yang pernah ada. Begitu lapangnya hati beliau. Seumur-umur, baru beberapa kali saya melihat beliau menangis. Mungkin kurang dari lima kali. Dan umumnya itu karena sakit yang luar biasa di tubuhnya.

Nah ini juga kesamaan saya dengan nenek. Kalau sakit lebih memilih diam. Rasakan sendiri, obati sendiri. Kalau nenek sih alasannya tidak mau merepotkan orang lain. Kalau saya, lebih karena percaya ini hanyalah siklus sementara dari tubuh yang sedang rewel. Jarang ada yang tau kalau saya atau nenek sedang sakit. Sakit-sakit ringan gitu yaa, maksudnya. Seperti sakit kepala, flu, sakit gigi, demam, atau sekadar kelelahan. Jadi, kalau sudah bilang ke orang lain, "kaki saya sakit", itu berarti sakitnya sudah cukup serius untuk ditahan.

Makanya saya faham betul ketika nenek menangis karena sakit di kakinya. Itu berarti sakit yang teramat sangat. Menusuk hingga ke tulang sum-sum.

Nenek saya juga sosok yang tegar. Dan saya amat sangat berharap hal ini juga ikut mengalir dalam darah saya. Beliau sudah benar-benar melewati pahit manisnya hidup sejak kecil hingga tuanya ini. Tapi begitu kuatnya ia bertahan. Dan yang paling penting, meski disakiti seperti apapun, nenek selalu punya stock maaf yang tidak ada habis-habisnya.

Lalu, yang juga saya warisi dari nenek adalah sikapnya mandiri. Meskipun beliau sudah berjalan tertatih-tatih, tetap saja tidak mau dipegangi. Kalau masak, tidak mau dibantu. "Malah pusing kalau terlalu banyak orang yang campur tangan", katanya. Di usianya yang sudah 84 tahun, nenek masih mau berjalan ke warung sendiri, malah jengah kalau terlalu dikhawatirkan. Seperti umumnya orang lanjut usia, keras kepalanya bukan main. Nah, watak satu ini juga mungkin saya warisi. hehehe...

Oh iya, nenek saya juga lucu! komentarnya yang suka asal 'nyeletuk' tak jarang bikin orang lain geli mendengarnya. Kosakata pilihannya pun suka aneh-aneh. Dan dia tidak akan mau repot-repot memilih istilah yang lebih halus untuk menggambarkan sesuatu.
Misalnya, daripada menyebut "tetangga sebelah meninggal dunia" dia akan lebih memilih istilah "bapak itu mati. napasnya berenti!" hehehe... kocak deh.

Tapi justru itu yang bikin saya kangen sama nenek. Lucunya, cueknya, kesabarannya...
Dan, oh! tentu saja, masakannya yang selalu enak tiada tara!

Friday, September 11, 2009

sebuah nama dan sederet nomor

Hari ini, malam sahur ke 21, ada yang berbeda dengan ritual saya.
Malam-malam sebelumnya saya selalu menyetel alarm pada jam 03.50 dan selalu memperpanjangnya hingga tepat 10 menit. Lalu baru benar-benar beranjak ke kamar mandi tepat pada pukul 04.00. Cuci muka, sikat gigi, turun dan makan sahur.

Tapi tidak malam tadi
Ketika baru membuka mata subuh itu, saya sengaja membuka hp terlebih dahulu lalu menghapus sebuah nama dari phonebook, baru kemudian melanjutkan ritual seperti biasa, beranjak ke kamar madi, cuci muka, sikat gigi, turun dan makan sahur.

Sebuah nama, dengan sederet nomor yang sengaja tidak saya ingat.
Tidak mau saya ingat.

Sengaja saya melakukannya ketika baru membuka mata, ketika kesadaran masih baru menyentuh ujung jari dan otak belum benar-benar berfungsi. Karena saya tidak mau mengingat nomor itu. Tidak mau melakukannya di saat kesadaran sedang terisi penuh, lalu mulai berfikir dan menimbang-nimbang, hapus-tidak-hapus-tidak-hapus tidak, dan pada akhirnya memutuskan menghapus namanya namun terlebih dulu mengingat-ingat sederet nomor yang tertera.

Saya tidak mau seperti itu.
Jadilah, saya menghapusnya saat mata masih separuh terbuka.

Nama siapa? Mengapa dihapus?
Marah? Benci?
Tidak.

Hanya saja, pemilik nama itu berpotensi untuk membuat saya sakit hati. Sangat berpotensi. Selama ini saya sudah menjadi umat paling sabar untuknya, meski tanpa memiliki alasan mengapa saya jadi sedemikian sabar. Saya bahkan heran, dari langit sebelah mana kesabaran seluas itu saya dapatkan?
Ah, kadang saya merasa itu bukan kesabaran. Itu cuma kamuflase yang saya gunakan untuk menenangkan hati sendiri. Seperti betadine dan perban yang saya pakai untuk membalut luka di kaki, sambil berbisik dalam hati, “besok pasti lukanya sembuh”.

Lalu kemarin saya membaca sebuah novel (“Subjek: Re” by Novita Estiti) dan menemukan kata-kata ini:

karena aku tahu
tak mungkin mencegah orang lain
menyakiti hatiku
maka
aku mencegah hatiku
dari merasakan sakit
dan
mencegah
hatiku dari merasakan
apa yang kurasakan saat ini


maka, sesederhana itu saya putuskan.
Menghapus sebuah nama, memilih untuk tidak mengingat nomornya, dan mencegah menyakiti hati sendiri.

Done.