Monday, September 23, 2013

Perkara Pendidikan Perempuan

Saya hari ini mau bilang: ‘Berbahagialah para perempuan yang bisa sekolah setinggi-tingginya tanpa adanya hambatan dari pasangan ataupun lingkungan.’
Eh bentar, hari gini kok ngomongin hambatan sekolah buat perempuan? Bukannya udah jaman  emansipasi ya?

Nah itu dia. Yakin setiap perempuan udah bebas mengenyam pendidikan setinggi-tingginya? Sebagian besar mungkin iya. Ibu Kartini mungkin bolehlah berbahagia melihat kenyataan bahwa hari gini anak perempuan gak harus mandeg di dapur karena alasan-alasan patriarkis; anak perempuan gak perlu sekolah, anak perumpuan cuma akan berujung di dapur-kasur-sumur, dan cuma anak laki-laki yang berhak untuk pintar. Iya, syukurnya sih kondisi di negara kita sekarang udah gak banyak (saya gak bilang gak ada lho ya!) orang-orang yang masih berpikiran feodal begitu.
Ya walaupun ada hambatan lain seperti faktor ekonomi, sistem pendidikan dan sebagainya, saya di sini juga percaya bahwa di level pendidikan tinggi dan tingkat ekonomi yang cukup baik-pun masih ada aja hambatan bagi perempuan untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Seperti yang saya sebut di atas tadi itu salah duanya;  faktor pasangan dan faktor lingkungan.
Kita bahas satu-satu ya.

Faktor pasangan.
Well, saya nggak jarang lho denger omongan bahwa perempuan itu gak perlu sekolah tinggi-tinggi karena nanti jadi seret jodoh. Kenapa? Karena pada umumnya laki-laki akan minder kalau pasangannya punya tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Gak cuma buat pendidikan sih, karir dan penghasilan juga termasuk di antaranya. Saya nggak ngerti psikologi laki-laki ya, tapi beberapa teman yang saya kenal memang bilang bahwa pasangan yang pendidikannya lebih tinggi akan mengancam ego si laki-laki. Merasa kalah, merasa terintimidasi, bikin minder dan sebagainya.

Gak usah jauh-jauh, di keluarga saya pun begitu. Bapak saya sempat mengenyam pendidikan S-2, bahkan dua kali. Anak-anaknya juga sejak awal sudah diarahkan, kalau beliau bisa S-2 maka kami harus bisa S-3. Tapi ketika ibu saya yang hanya lulusan S-1 bilang ingin melanjutkan ke S-2, bapak saya bilang 
“buat apa, gak perlu lah.. toh kerjaan juga gak menuntut harus jenjang S-2”.
Saya nggak ngerti apakah pertimbangan bapak saya melarang itu karena faktor ego atau pertimbangan-pertimbangan lain, tapi yang jelas ibu saya sebagai istri yang baik, ya manut sama suami, walaupun saya tau beliau juga punya semangat belajar yang tinggi.  Itu tadi yang saya bilang, faktor pasangan.

Masalah ego lelaki ini memang gak bisa dibilang sepele sih ya. Eh saya nggak menyalahkan lelaki juga sih, tapi kok anu…  agak mengherankan ya bahwa perkara ego menjadi hambatan bagi orang lain untuk menjadi lebih baik. Urusan intimidasi-intimidasi itu juga kalau menurut saya, hmm… subjektif.   

Saya dulu pernah membahas ini sama (mantan) pacar. Dia lulusan S-1 dan saya S-2. Saya sih demi Allah gak pernah nyombong atau menganggap diri saya lebih dari dia, nggak! Saya pernah nanya ke dia, apakah memang saya (entah itu sengaja atau gak sengaja) mengintimidasi dirinya? Dan dia jawabnya gini:
“Nggak.. Bukan kamu yang mengintimidasi, tapi aku yang merasa terintimidasi”

Nah kan, jadi ini bukan perkara perempuan sekolah tinggi trus jadi belagu! Kalau memang kebetulan si perempuan punya kesempatan untuk seolah ke jenjang yang lebih tinggi, salah dia? Kalopun perempuannya diem aja tapi laki-lakinya yang memang merasa terancam, gimana? Susah kan…

Dulu  pernah ada kenalan saya, seorang ibu-ibu dosen senior. Si ibu ini pernah cerita ke saya bahwa dia sampai bikin perjanjian pra nikah dengan calon suaminya, HITAM DI ATAS PUTIH,  yang menyebutkan bahwa setelah menikah dia boleh tetep sekolah, kuliah lagi dan bekerja. Coba ya, bayangkan, tahun 70an dia sudah bisa sekolah ngambil S-3 di Amerika. Itu tahun 70an lho! Jangan bayangin perempuan bisa dengan mudahnya punya kesempatan untuk sekolah sampe S3, dengan sistem pendaftaran online dan segala kemudahan belajar di luar negeri seperti yang ada seperti sekarang ini ya.
Berbekal surat perjanjian itu dia berangkat sekolah lagi. Dia bilang ke saya; “hamil ya hamil, punya anak ya memang sudah ditakdirkan, tapi sekolah lagi itu pilihan dan semuanya tetap bisa berjalan beriringan kok!” Beliau ibu bekerja, sebagai PNS di salah satu Kementrian dan juga pengajar di beberapa universitas, usianya sekarang 70 tahun dan bergelar Professor.  Suaminya nggak masalah tuh.

Mencermati hal ini bikin saya jadi inget kalimat Margaret Tatcher di film Iron Lady, yang bilang bahwa “perempuan seperti saya gak bisa hanya tinggal di dapur dan membersihkan cangkir…” .  Nah, begitulah beliau,perempuan yang sadar akan potensi dirinya yang begitu besar.

Tapi balik lagi, kan gak semua  laki-laki bisa menerima keadaan seperti ini. Hari gini pun masih banyak yang bawa-bawa ego dan kalimat terintimidasi itu. Alhasil apa? Perempuan cenderung jadi enggan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi karena khawatir membahayakan ego pasangannya.  Dan ini juga berhubungan dengan faktor berikutnya, menurut saya:

Faktor Lingkungan. 
Selain stigma tentang “apa kata orang kalo suami kalah sama istrinya”, perkara perempuan (terutama yang belum menikah) bersekolah sampai jenjang yang cukup tinggi pun harus berurusan dengan anggapan dari masyarakat soal seret jodoh.  Iya, katanya kalo udah sekolah ketinggian, perempuan cenderung gak laku karena laki-laki jadi takut ngedeketin (seperti yang saya bahas sebelum ini).
Lalu ketika seorang perempuan belum menikah dan (kebetulan) pendidikannya cukup tinggi, maka anak panah kesalahan itu diarahkan di dia. “Pantesan aja gak kawin-kawin..”, begitu kira-kira. Tapi tanya dong sama si perempuannya, apa memang dia maunya gak kawin-kawin? Belum tentu kan..

Ini emang agak curhat colongan sebetulnya, karena sayapun ada di posisi itu sekarang. Dan stigmanya juga muncul gak jauh-jauh, tapi dari keluarga saya sendiri.
Dulu waktu lulus S-2, saya sebetulnya langsung ditawari lanjut S-3 di kampus itu juga, dan karena saya lulus dengan nilai yang Alhamdulillah bagus, pihak kampus bilang mereka  akan upayakan ada beasiswa untuk saya S-3. Tapi ibu saya melarang, katanya:  Nikah dulu deh.. ntar keenakan sekolah jadi gak kepikiran mau nikah. Ntar kalo sekolahnya ketinggian, cowok jadi minder buat ngedeketin”. Ya saya manut apa kata ibu saya.
(see.. faktor pertama dan kedua ini sebetulnya saling berkaitan)

Dan sekarang sudah 4 tahun berlalu dari masa itu, dan saya belum juga menikah. Dan peluang S-3 itu selalu saja seliweran di depan mata saya dan selalu saya lewatkan. Pimpinan di tempat saya bekerja juga  sebetulnya sudah sejak awal menekankan bahwa saya harus lanjut S-3. Beliau malah jadi supporter nomor satu untuk nyuruh saya sekolah lagi. Tapi ya itu tadi, kepentok sama mandat orang tua.

Saya kalo disuruh sekolah lagi mah mau! Mau banget! Sekarang juga kalo memungkinkan ya hayuk. Tapi karena ada term and conditions dari ibu saya itu, ya apa mau di kata, terpaksa menunggu sampai ada laki-laki yang mau melamar saya. Daann.. dengan PR tambahan pula, laki-laki itu tidak akan merasa terintimidasi atau apalah namanya jika sekiranya status saya, entah itu pendidikan atau karir, akan mungkin jadi lebih tinggi dari dia. Ini bukan perkara ambisi lho ya. Bukannya saya yang ngotot pengen sekolah lagi sampe level paling tinggi. Iya, memang saya juga punya kecintaan yang besar sama kegiatan belajar, tapi ini juga lebih karena faktor bidang pekerjaan saya yang memang menuntut untuk sekolah setinggi-tingginya.

Jadi, singkatnya saya kalo mau S-3 harus nunggu kawin dulu.  Kawinnya kapan? Ituman bukan saya yang menentukan. Jodoh Allah yang ngatur, saya nggak tau kapan jodoh saya sampe. Dan sampai nanti saatnya jodoh saya itu dateng, sepertinya saya masih akan berhadapan dengan stigma seret jodoh dan perkara memilih pasangan itu.
Nah itulah dia, peliknya hidup diantara pusaran pendidikan, perempuan dan pasangannya!

Gimana, habis baca tulisan ini masih mau orasi soal emansipasi?

Friday, September 20, 2013

Komunitas (Sosial?)

Belakangan ini saya lagi seneng-senengnya kenal dengan orang-orang baru dan lingkungan baru. Salah satunya saya mulai bergabung di beberapa komunitas. Selain saya sendiri juga bikin komunitas, saya juga gabung di komunitas lain, atau mengkolaborasikan komunitas saya dengan komunitas lain. Hahaha, mengulang kata komunitas.

Jadi saya di Lampung kemarin bikin komunitas Lampung Belajar. Ini semacam komunitas yang memfasilitasi orang-orang Lampung untuk belajar gratis tentang tema-tema tertentu. Konsep dasarnya adalah bahwa kita bisa belajar tentang apapun dari siapapun. Belajar kan gak harus di sekolah dan gak melulu tentang matematika. Justru banyak sekali hal-hal yang gak kita dapatkan dari sekolah, tapi bisa kita dapat dari luar dan orang-orang sekitar, ya kan? Jadi singkatnya, komunitas ini terbuka secara umum dan secara berkala (sebulan sekali) membuka kelas gratis dengan tema yang berganti-ganti.

Gak cuma di situ aja, Lampung belajar mulai melebarkan sayapnya dengan berkolaborasi sama komunitas-komunitas lain di Lampung. Ada Lampung Heritage (ini komunitas yg concern dengan bangunan tua, budaya, sejarah dan peninggalan Lampung tempo dulu), ada juga Klub Nonton (yang selalu muterin film-film pendek gratis tiap bulannya), ada Kaskus regional Lampung, Berbagi Nasi, Keliling Lampung, Fotografi Lampung, Akademi Berbagi Lampung, banyak lah...

Seneng juga ngeliat Lampung sudah mulai bergerak. Anak-anak mudanya sudah bergeliat membuat perubahan dan saling berkolaborasi untuk kemajuan.

Tapi berhubung sekarang saya sudah pindah lagi ke Jakarta, komunitas-komunitas ini dengan agak terpaksa harus ditinggalkan. Paling yah sesekali aja kumpul-kumpul kalo kebetulan saya lagi pulang ke Lampung.

Di Jakarta sendiri saya juga mulai gabung di komunitas Nebengers, seperti yg saya ceritain di postingan sebelum ini. Dan ini random banget. Saya gabung di situ tanpa kenal siapa-siapa padahal anggotanya udah ratusan orang dan tersebar dari Jabodetabek, Cibubur, Bandung, bahkan ada juga di daerah-daerah lain. Saya masuk situ berasa jadi anak baru yang masuk ke sekolah baru, gak kenal siapapun. Untung orang-orang di dalamnya asik-asik sih...

Kenapa saya gabung di sini? Selain karena perkara mudik yang sudah saya ceritain kemarin, sebenernya saya pengen cari temen-temen baru aja. Pengen punya kehidupan lain di luar kantor-kosan-kantor-kosan lagi. Dan emang iya, di sini langsung dapet banyak temen-temen baru. Networking makin luas. Obrolan makin beragam. Agenda kumpul-kumpul, makan-makan juga makin sering. Gebetan...ohohooho... iya itu juga sih. Hahahaha

Tapi perkara bergabung di komunitas-komunitas seperti ini, di samping seru-serunya itu, sebenernya ada gak enaknya juga. Ini kan komunitas (-komunitas) yang basisnya dari media sosial ya. Jadi emang kenalnya ya di medsos, banyak dan random dan gak kenal personally bahkan stranger. Sesekali ada lah kumpul-kumpul, kopi darat, tapi kebanyakan pas lagi pada kumpul ya sibuk dengan gadget masing-masing. Gitu deh.. Maklum, itu tadi, komunitas di media sosial.
Saya sebenernya gak terlalu nyaman dengan situasi di mana kita lagi kumpul rame-rame, makan satu meja, ngobrol dengan sedikit eye contact dan sisanya sibuk update status, ngetwit, chatting, buka kerjaan di laptop, foto-foto pake hape atau bahkan main pokopang. Ummm... gimanaa gitu.

Saya pribadi (karena emang bawaan orang komunikasi juga kali ya) sebisa mungkin berusaha kalo lagi ngobrol sama orang, gak mau bentar-bentar liat ke gadget. Karena kalo saya di posisi itu akan kerasa nggak nyaman, jadi saya gak mau bikin orang lain gak nyaman. Tapi setelah beberapa kali ketemuan, kumpul-kumpul, atau kopi darat entah itu rombongan kecil maupun rombongan besar, selalu aja saya kejebak di situasi begini. Tapi ya bisa apa juga, mau komplain, atau ngambek, ya gak bisa gitu juga sih..

Cuma jadi kepikiran aja, namanya komunitas kan ya, prinsipnya kebersamaan. Tapi kalo situasinya begitu, 'bersama'-nya sebelah mana? Hmmm...
Ini ada video bagus tentang gimana kita seringkali abai sama dunia sekitar karena terlalu sibuk sama gadget dan media sosial. Bagus. Semacam ngeplak kepala kalo kita juga kadang melakukan hal-hal itu. Liat deh dan semoga videonya jadi bikin mikir. Hehe..





Thursday, September 05, 2013

Cerita borongan

Menulis itu kadang emang harus dipaksakan ya! Seperti saya ini, dari kapan tau udah niat mau nulis cerita soal ini itu tapi ya gak jadi-jadi dengan alasan 'ah besok deh', atau 'lagi gak mood nulis'. Alhasil apa? cerita yang harusnya udah di-share sebulan lau baru bisa ditulis sekarang. ckckckc.. 

Iya, saya tadi bilangnya HARUS. Kenapa harus? Siapa yang mengharuskan? Ya, saya sendiri sih, pokoknya saya harus nulis, paling sedikiiiit setidaknya sebulan sekali bisa posting di blog ini. Terlepas dari ada yang baca atau nggak sih bodo amat, yang penting saya nulis, gitu. Membiasakan diri nulis yang panjang-panjang, story telling atau apalah yang gak hanya mentok di 140 karakter twitter. Iya, twitter itu kadang jadi bikin males nulis panjang, emang.

Okay, here we go. Ada cerita apa aja? Banyak! Tapi gak penting semua sih. Hahaha
Mulai dari serunya mudik, lebaran di Lampung, suasana haru birunya, cerita pikniknya, dan yaah..mungkin a lil bit update of mylife. See, gak ada yg penting kan? Hahaha

Kita awali dari cerita mudik saya di Idul Fitri 1434 kemarin ya. 
Jadi saya kan sekarang statusnya kembali merantau ke Jakarta nih. Jadi pas lebaran kemarin niat lah merasakan suasana hiruk pikuknya mudik di Indonesia ini. Kebetulan selama di Jakarta ini saya memang bawa kendaraan sendiri, dan waktu itu memang kondisinya harus pulang bawa mobil. Selain karena mau ngurus pajaknya, saya juga agak khawatir ninggalin mobil di kosan selama libur lebaran (sekitar 2 minggu-an) dan yang punya kosan saya pun mudik ke kampungnya. Daripada kenapa-kenapa kan..mending dibawa pulang aja deh.

Masalahnya adalah, saya sendirian! Gak asik banget ya mudik jalur darat, bawa kendaraan sendiri, menempuh perjalanan sekitar 7 jam lebih (kalo normal), pas bulan puasa, dan kena macet arus mudik pula pasti! Beuh.. kebayang deh bakalan manyun sepanjang perjalanan.

Di saat saya lagi mikirin hal itu, ada salah satu komunitas keren di socmed, @nebengers namanya, yang lagi bikin gerakan #NebengMudik. Ini keren banget! Jadi, orang-orang yang ada seat kosong di kendaraannya bisa menampung orang yang mungkin tujuannya searah atau yang dilewati. Tebeng-menebengnya bisa atur kesepakatan sendiri, misalnya share bensin dan tol, share makanan, gantian nyetir, atau share curhatan soal mantan juga boleh.. hahaha. Gerakan ini efektif banget nolongin orang-orang yg mau mudik, apalagi yang gak kebagian tiket, sekaligus juga sedikit-sedikit turut mengurangi volume kendaraan lah paling tidak.

Jadi singkatnya saya bergabung di komunitas itu, dan berhasil kenal dengan 3 orang yang akan nebeng mudik ke Lampung bareng saya.  Selain 3 orang yang saya baru kenal di twitter karena #NebengMudik itu (alhamdulillah orangnya baik-baik banget), ada juga penumpang lain yang emang sudah saya kenal baik, ada Tito dan Nana, adeknya Mbak Ula yang emang udah kenal banget juga. And you know what, the mudik was FUN!!

Macetnya sebetulnya parah banget! Perjalanan Jakarta-Lampung yang normalnya bisa ditempuh dalam waktu 6-7 jam aja itu jadi 15 JAAAMMM sodara sodara!! Tapi ya itu tadi, ketemu temen-temen yang seru dan ini juga pengalaman pertama saya mudik sendiri, rasanya asik-asik aja. Panas banget, iya. Macet 5 jam, ho-oh banget. Tapi selagi kita punya teman-teman seperjalanan yang menyenangkan, who cares? Iya kaan..

Suasana seru saat mudik

Tapi cerita lebaranan di Lampung ternyata gak melulu menyenangkan. Selain soal serunya mudik dan persiapan lebaran di rumah, ada juga bagian yg gak ngenakin. Nenek saya (dari pihak ayah) kritis sejak malam takbiran dan akhirnya meninggal dunia di lebaran ke-3. Jadi dari sejak almarhumah sedang kritis itu keluarga besar sudah berkumpul, baca doa dan segala macamnya dalam suasana khawatir. Lebaran pun tidak seperti lebaran tahun-tahun sebelumnya. Kakek saya pun kondisinya juga sama mengkhawatirkan. Kami bahkan jadi lebih khawatir lagi  dengan kondisi beliau ketika nenek meninggal, dan memang iya, kesehatannya sempat drop juga. Gak cuma kakek dan nenek, kakak tertua dari ayah saya, (semacam Uwak atau Bude gitu) juga sakit parah. Saya memanggilnya 'Mamaku', karena iya, beliau juga seperti ibu saya sendiri. Sakitnya memang sudah lama, sudah stroke 3x, dan semakin parah akhir-akhir ini. Tepat 2 minggu setelah nenek meninggal, beliau juga meninggal dunia. Ah, kehilangan ganda. Dan sedihnya, ketika beliau berpulang, saya baru aja beberapa hari kembali ke Jakarta. Sedih... :'(

 
yg kiri itu saya tidur sambil menggenggam tangannya kakek, yg kanan tangannya nenek :'(

Ya sudahlah ya, ikhlaskan dan doakan saja

Tapi gak semua cerita saya di Lampung sedih-sedihan melulu kok. Sempet juga sih jalan-jalan dan piknik-piknik asik sama temen-temen walaupun gak jauh-jauh banget. 


Kalo yang di atas ini adalah foto yg saya ambil di deket rumah nenek (dari pihak ibu) yang ada di daerah Way Lima - Kab.Pesawaran. Bagus ya? Aslinya sih lebih bagus lagi, gabungan antara langit biru, gunung yang teduh, sawah yang lagi kuning tinggal nunggu dipanen, dan anginnya yang sudah pasti gak bisa dicapture dalam foto. Saya selalu suka lewat sini, entah itu pas lagi musim panen ataupun nggak. Masuk ke wilayah sini biasanya AC mobil saya matikan dan saya buka jendela lebar-lebar, jalan dengan kecepatan rendah sambil celingak-celinguk lihat pemandangan. Iya, ini nih kampung (ibu) saya. Dulu waktu SD saya masih bisa merasakan liburan ke rumah nenek dengan suasana yang benar-benar seperti digambarkan dalam buku Bahasa Indonesia. Mandi di sungai yang jernih, main ke sawah.. Sekarang sih sungainya udah jadi kubangan tempat mandi bebek doang, tapi suasana gunung dan sawahnya masih indah kok. Ya seperti yang ada di foto itu

Gak cuma main ke kampung, saya juga sempet iseng ke pantai Mutun bareng temen-temen. Yeaah Mutun.. Kalo anak kota gaulnya ke mall-mall gede, anak pesisir Lampung gaulnya ke Pantai Mutun itu. Hahahaha. Saya sendiri udah lama banget gak ke sana, entah kapan saya lupa. Saya biasanya lebih sering ke pantai Kelapa Rapet, ke Pulau Pahawang atau Pulau Kelagian yang justru jarak tempuhnya sedikit lebih jauh dari Mutun. Tapi mutun juga ternyata bagus kok! lihat nih foto-fotonya: 

Nyantai di dermaga Mutun. Lihat deh, langitnya udah gelep banget!
Yang di belakang saya itu namanya Pulau Tangkil.









Tapi sayangnya saya gak lama di situ. Soalnya udah sore, cuaca mendung banget, langit gelap dan bener aja...baru juga 5 menit sampe dan foto-foto sedikit, tiba-tiba hujan badai. Seriously, badai! Untung waktu itu memutuskan gak jadi nyeberang ke Pulau Tangkil. Nyeberang ke situ kayanya sih gak lama, paling cuma 15 menitan deh.. Tapi karena udah sore, kami waktu itu memutuskan gak nyeberang. Coba kalo jadi, beuh..bisa  ilang ditelan badai tuh!

Alhasil, kami pindah tempat. Masih suasana pantai memantai gitu juga, tapi kali ini pilihannya dinner seafood pinggir pantai. Ada restoran seafood yang nyempil di ujung pantai Duta Wisata, namanya Seafood Cun Fei. Wuaah yang gila seafood pasti kalap deh di sini. Enak banget lah pokoknya. Udang saos padangnya apalagi. Beuugh... *lap iler* Buat yang mau wisata kuliner sambil wisata alam, makan di sini bener-bener recommended deh!


Seafood Cun Fei, maknyusss!
Nah ya, itulah kira-kira gambaran suasana saya selama 2 minggu pulang kampung kemaren. Ada sedihnya ada serunya juga. Oh iya, satu lagi. kalo pas mudik kemarin saya nyetir mobil sendiri Jakarta-Lampung tapi masih ada temen-temennya, pas balik lagi ke Jakarta saya beneran nyetir SENDIRIAN!

Hahaha.. agak cemen sih awalnya. Emak babe saya apalagi, wejangannya panjang bangettt... maklumlah ya, namanya juga anak cewek, dan ini baru pertama kalinya juga saya perjalanan jauh nyetir sendirian. But I nailed it! Alhamdulillah perjalanannya lancar, gak kena macet, gak pake ngantuk, dan on time sampe di kosan lagi. Seru tuh, my very first solo road trip! Pada dasarnya saya memang seneng nyetir sih, so I enjoyed it a lot. Ditambah lagi ada lagu-lagu asik yang nemenin sepanjang perjalanan, jadi gak bosen walaupun sendirian. Kapan-kapan mau ah road trip lagi kemana gitu... ada yang mau nemenin gak? (hahaha.. #kode banget)

So, that's a wrap, utang nulisnya sudah dituntaskan yaa.. walopun nulisnya borongan, yang penting nulis pokoknya!! Hahahha. Dan bener kan seperti yang saya bilang di awal tadi, ceritanya gak ada yang penting. Hahhaa. Gak papa, yang penting saya sudah nulis dan cerita panjang lagi. Yang beginian ini nih yang gak akan cukup kalo cuma posting di fb atau twitter. Dan nulis itu emang kadang ngangenin, walaupun pelaksanaannya harus dengan memaksa diri!! Hahahaa

Sudah ya.. thank you for reading, anyway :)