Sunday, June 12, 2011

Yeay, my own tote bag!

Happy weekend, fellas!  Apa yang kalian lakukan di akhir pekan ini? Kencan sama pacar? Piknik sama keluarga? Having me-time somewhere? Atau uji coba resep masakan baru? Atau malah...mati gaya dan menjamur di kasur? Hehehee.... 
Saya nyaris aja menghabiskan akhir minggu ini dengan opsi terakhir tadi. Tapi tiba-tiba saya teringat dengan artikel tentang cara mendaur ulang kaos bekas menjadi tas yang lucu yang saya baca beberapa hari yang lalu, dan tiba-tiba.. tring!! dapet ide untuk bikin tas sendiri juga. Kayanya bakalan asik nih!


Ceritanya kan saya punya kaos hasil beli waktu jalan-jalan ke Phuket dulu. Sejatinya..(tsa'ilah bahasanya!) kaos itu mau dikasih ke seseorang sebagai oleh oleh gitu. Berhubung ni orang badannya gede, jadi saya beli yang ukuran besar. Etapi karena saya gak kunjung ketemu sama orangnya dan kayanya basi banget kalo baru dikasih oleh-oleh setelah setahun berlalu, akhirnya kaos itu saya modif untuk bisa saya pake sendiri. Maunya sih dibikin stylish tee gitu, apadaya gagal total. Heuheu..Sempet beberapa kali dipake sih, tapi gak pede. Dan akhirnya kaos itu cuma diem di pojokan lemari. Mau dibuang, sayang. Belinya jauh dan saya juga suka sablonannya. Akhirnya terpikir, dibikin jadi tas kayanya lucu deh... So, here it goes, mulai deh saya oprek-oprek sana sini.


Dimulai dengan bikin pola, yang ngambil bagian tengah dan pinggiran kaosnya. Dipotong dengan ukuran sesuai selera. Kalo saya sih segini (err..lupa diukur berapa senti) :

ada pola depan, belakang, samping kanan dan kiri, dan bagian bawahnya
Jangan lupa ketika memotong pola, lebihkan 1 cm di masing-masing garis tepi pola. Jadi nggak terlalu mepet ketika dijahit. Lalu, masing-masing bagian itu disatukan. Mulai dengan bagian bawah yang menghubungkan pola depan dan belakang. Kemudian satukan dengan bagian kanan dan kirinya. Bingung gak?? Kira-kira gambarannya begini deh:


Pola ke dua bentuknya jadi seperti ini.
Atas, bawah, kiri dan kanan disambung

Jahitnya dari sisi dalam yaa. Dan usahakan ujung garis (ketika membuat pola) bagian satu ketemu dengan ujung garis bagian yang lain. Jadi bagian pojokan nantinya terlihat rapi. 
TIPS: kalo kamu menggunakan mesin jahit, jangan lupa kaosnya dilapis kertas ya, bisa koran atau apa gitu kek. Soalnya kalo kaos, bahannya kan strechy. Kalo nggak dilapis kertas bisa mengkerut ketika dijahit. 
Nah, setelah itu, siapkan kain lain, bisa diambil dari kaos lainnya yang sudah tidak terpakai juga atau bahan lainnya, untuk digunakan sebagai lapisan dalam tasnya. Kalo saya, kebetulan warnanya sama-sama putih. Lakukan step 1 dan 2 di atas tapi dengan ukuran pola yang lebih kecil sekitar 1-2 cm.

Satukan pola bagian luar dan bagian dalam dengan menjahit di  bagian  pojok-pojok bawah dan sampingnya.
Nah, kalau sudah disatukan, bentuknya akan seperti ini:


Tampak luarnya
Kalau bentuknya sudah seperti ini, jangan lupa bagian atasnya di sum atau istilah lainnya di-kelim. Biar keliatan rapi. Berhubung saya jahitnya gak pake mesin, yaa hasilnya cuma begini, gak terlalu rapi. Hehehe.. Oh iya, setelah semua bagian selesai dijahit,  bila perlu disetrika dulu, biar garis-garis tepinya jadi semakin rapi. Kalo sudah, step berikutnya adalah menyiapkan tali.

pilih tali yang sesuai warnanya, biar mecing! :D
Untuk talinya, saya sengaja memilih bahan yang agak tebal, biar kuat gitu. Saya membeli tali yang biasa digunakan sebagai bahan ikat pinggang denim, dengan warna pink yang lucu. Harganya cuma Rp 4.500/yard (1 yard = 0,91 meter), bisa dibeli di toko pernak-pernik menjahit. Saya beli 2 yard, sekalian jaga-jaga kalo terjadi salah potong. Tapi yang kepake cuma sekitar 1,5 yard kok. Dan untuk menjahit bagian ini saya nggak pake benang jahit biasa, saya pake senar ukuran 0,2 mm. Ini juga biasanya ada di toko sejenis, atau tempat jual manik-manik. Harganya cuma Rp 5.000 udah dapet segulungan yang cukup buat maen layangan :D. Saya pilih menggunakan senar karena pasti lebih kuat. Bagian ini kan sensitif, rawan putus, apalagi kalo tasnya sering diisi muatan berat. Selain itu, senar juga warnanya transparan, jadi gak masalah kalo jahitan di bagian depan ini kurang rapi. 
Pastikan  juga ketika memasang tali, bagian depan dan belakang panjangnya harus sama. Nggak lucu kan kalo yang satu lebih panjang, susah ntar makenya. hehehe.. Jahitnya juga harus berkali-kali ya! Kalo saya, jahit keliling dengan bentuk kotak dan bentuk silang di bagian tengahnya. Dijamin kuat deh!


Kalo bagian ini sudah beres, berarti tasnya sudah jadi deh! Horeee...Punya saya jadinya begini:
Horee..jadi tas!

Biar lebih seru lagi, boleh ditambahin beberapa aksesoris seperti pin atau yang lainnya. For safety reason, bisa juga ditambahin resleting atau kancing, atau strap di bagian atasnya. Yaah..sesuai selera masing-masing aja. Gimana? Not bad kan? Seru lhooo.. modalnya cuma kaos bekas dan uang 15ribu. Yaa..memang sih ada juga tas yang harganya cuma beda dikit dari ini, but the point is, you make it with your own hand, dear.. Rasanya kan lebih gimanaaa gitu. Hehehe..Waktu yang saya habiskan untuk bikin ini kalo diitung keseluruhan gak sampe 24 jam, itupun dengan jahit tangan. Kalo jahit mesin pasti lebih cepet lagi.

Tertarik untuk coba sendiri?? Hayooo..kita bongkar-bongkar lemari lagi! :D  
  

Wednesday, June 08, 2011

oh, world!

Petatwit menampilkan percakapan di Twitter di Indonesia yang terjaring oleh mesin salingsilang.com dan layanan tuitwit.com

Sekarang, dengan kecanggihan teknologi yang luar biasa ini
semua orang..
No, I mean, SEMUA ORANG
bisa baca, lihat, dengar, dan tau
tentang apa yang kita pikirkan, apa yang kita bicarakan, apa yang kita rasakan

Isn't it scary ??
Or is it just me??

Monday, June 06, 2011

Jekardah!

If you think that working at this grey, polluted, hectic city is something glamorous, or something..W-O-W..
Think again.



Iya, ini saya lagi nyinyir ceritanya
Bukan apa-apa. Cuma kadang suka sebel aja kalo ketemu orang yang bilang "Oh, lo kerja di Jakarta ya? waaw..kereeenn dong". 
Mmm...apa ya. Kadang sudut pandang begini suka annoying.
They can simply say it is cool because they think you got the high payroll, with those never sleep-shopping malls for you to spend all that you've earn. Yeah..


But don't forget about biaya kos dan makan dan ongkos dan parkir yang kalo di daerah bisa buat nyicil rumah seluas lapangan bola, belum lagi kerjaan yang "konon katanya KEREN" tapi kadang gak kasih kesempatan buat tidur bahkan untuk 5 menit doang. Dan jangan lupa bayangin harus berangkat kerja barengan sama bencong pulang, dan ngejer-ngejer bis, dan keringetan di kopaja, dan terpaksa melanjutkan tidur sambil berdiri, dan kadang kecopetan, belum lagi macetnya yang bikin semua orang sumpah serapah.. Glamour, huh??


Trus, belum lagi persaingan di dunia kerjanya yang ampun dah, kalo kata temen saya "semenjak kerja di Jakarta, gw jadi makhluk yang lebih tegaan". Sikut kanan-tendang kiri, gak sangup mah-resign aja!


See? Jakarta is a battle ground, dude!


Gini lho..Bukannya saya gak bersyukur atas pekerjaan dan rezeki yang saya dapatkan. Tapi hidup di Jakarta kadang gak segitu kerennya kok, gak segitu glamornya. Nggak se-WAH yang sering dibayangin orang. 
Saya sih bisa aja memilih untuk tinggal di kampung saya, menikmati fasilitas yang sudah ada, gak perlu sumpah serapah sama macet segala. But again, saya ngerasa ini adalah pertarungan yang harus bisa saya menangi, harus saya hadapi kalau mau jadi orang yang lebih berkualitas lagi.


Dan coba tengok lagi, berapa banyak orang yang harus banting tulang, melakukan apapun yang mungkin dilakukan demi bisa bertahan hidup di kota ini? Berapa banyak yang akhirnya terpaksa pulang karena gak mendapatkan apa yang mereka impikan? Berapa banyak yang akhirnya terlunta-lunta di tengah belantara kota  karena nggak tau lagi mesti gimana?


And please, kalo baca tulisan ini, don't you dare saying "siapa suruh datang Jakarta?!" with that kind of heartlessly tone.


Sekian.


gambar diunduh dari sini