If you think that working at this grey, polluted, hectic city is something glamorous, or something..W-O-W..
Think again.
Iya, ini saya lagi nyinyir ceritanya
Bukan apa-apa. Cuma kadang suka sebel aja kalo ketemu orang yang bilang "Oh, lo kerja di Jakarta ya? waaw..kereeenn dong".
Mmm...apa ya. Kadang sudut pandang begini suka annoying.
They can simply say it is cool because they think you got the high payroll, with those never sleep-shopping malls for you to spend all that you've earn. Yeah..
But don't forget about biaya kos dan makan dan ongkos dan parkir yang kalo di daerah bisa buat nyicil rumah seluas lapangan bola, belum lagi kerjaan yang "konon katanya KEREN" tapi kadang gak kasih kesempatan buat tidur bahkan untuk 5 menit doang. Dan jangan lupa bayangin harus berangkat kerja barengan sama bencong pulang, dan ngejer-ngejer bis, dan keringetan di kopaja, dan terpaksa melanjutkan tidur sambil berdiri, dan kadang kecopetan, belum lagi macetnya yang bikin semua orang sumpah serapah.. Glamour, huh??
Trus, belum lagi persaingan di dunia kerjanya yang ampun dah, kalo kata temen saya "semenjak kerja di Jakarta, gw jadi makhluk yang lebih tegaan". Sikut kanan-tendang kiri, gak sangup mah-resign aja!
See? Jakarta is a battle ground, dude!
Gini lho..Bukannya saya gak bersyukur atas pekerjaan dan rezeki yang saya dapatkan. Tapi hidup di Jakarta kadang gak segitu kerennya kok, gak segitu glamornya. Nggak se-WAH yang sering dibayangin orang.
Saya sih bisa aja memilih untuk tinggal di kampung saya, menikmati fasilitas yang sudah ada, gak perlu sumpah serapah sama macet segala. But again, saya ngerasa ini adalah pertarungan yang harus bisa saya menangi, harus saya hadapi kalau mau jadi orang yang lebih berkualitas lagi.
Dan coba tengok lagi, berapa banyak orang yang harus banting tulang, melakukan apapun yang mungkin dilakukan demi bisa bertahan hidup di kota ini? Berapa banyak yang akhirnya terpaksa pulang karena gak mendapatkan apa yang mereka impikan? Berapa banyak yang akhirnya terlunta-lunta di tengah belantara kota karena nggak tau lagi mesti gimana?
And please, kalo baca tulisan ini, don't you dare saying "siapa suruh datang Jakarta?!" with that kind of heartlessly tone.
Sekian.
gambar diunduh dari sini

2 comments:
hai mis nyinyir, siapa suruh datang Jakarta? *plak*
maneeeehhhh!!!! *PLAK!
Post a Comment