Thursday, February 17, 2011

halal or haram?

Belakangan saya lagi kepikiran satu hal, dan ini agak serius.
Gini,
Bayangin kalo kamu lagi makan ayam. Fried chicken gitu deh.


 
Okay?
Nah sekarang saya tanya: Tu ayam halal gak?
Pasti pada bilang halal deh. Ya kan?

Kok bisa yakin halal ? Hanya karena dia ayam dan bukan babi?
Tapi kriteria halal atau haram kan gak sesederhana babi atau bukan babi kan?
Ayam, sapi, kambing, kebo atau apalah itu yang disembelih dengan tidak menyebut nama Allah gak masuk kategori halal, bukan?
*Mohon koreksinya dong kalau saya salah.

Nah, sekarang pertanyaannya, gimana status si ayam yang terhidang di depan mata itu.
Yakin, dia disembelih dengan menyebut nama Allah?
Iya kalo itu disembelih sendiri, di rumah sendiri. Kalo beli di pasar, kalo beli di restoran, kalo belinya udah dalam keadaan dipotong-potong? Ya kalo makannya di Indonesia atau negara muslim. Kalo makannya di Cina, di Amerika, di Perancis? then how come you be so sure? 

Ada beberapa orang (termasuk saya juga dulu sempat) berpikiran kalo jalan-jalan ke Cina, misalnya, akan susah nyari makanan halal. Jadi amannya cari restoran siap saji dan pesan nasi  ayam saja. Simple dan "dijamin" halal. Tapi balik lagi pertanyaannya, tu ayam disembelihnya pake Bismillah gak? Siapa yang bisa jamin?

Nah pikiran inilah yang dulu sempat membuat saya gak mau makan daging (walopun masih suka kumat-kumatan juga). Saya lebih milih makan ikan atau seafood, pokoknya yang gak pake acara disembelih lah..  Tapi kalo ayam, daging dan sejenisnya..hmmm...katanya kalo ragu-ragu, lebih baik gak usah dimakan, kan??


*am I too much thinking about this?

Monday, January 31, 2011

Blues Night



Just watched Gugun and The Blues Shelter's gigs last friday.
And..fheww.. that was f*ckin awesome!!
*speechless

Walopun ada kesalahan teknis dari soundsystem di sana sini, tapi semuanya termaafkan!
Gak sia-sia lah dateng ke Bentara Budaya bareng Tito, 
menerobos hujan, becek, untung aja masih ada tukang ojek. Hehee

Itu si Jono bule yang setengah gila *tapi ganteng*, nongol dengan sayap-sayap cintanya
Trus si Bowie yang ngegebuk drum kaya orang kesurupan!
Dan, for sure... om Gugun yang maen gitarnya sumpah mati bisa bikin orgasme!! haha

And dunno why, I was so lucky that night.
Bisa berdiri di shaf depan panggung. Bisa dapet guitar pick yang dilempar Gugun. 
Daaan... diajakin Bowie "ke atas aja yuk" setelah mereka selesai manggung.

Hahahaha.... edaann!

And just like Tito said:  Siapa bilang blues itu sedih?!


*foto: koleksi pribadi, edited by Tito

Sunday, January 23, 2011

Sad stories, again

"When will you stop telling the same story over and over again?"


Plak! 
Kalimat yang saya dengar waktu nonton acara Oprah Winfrey Show itu kok terasa menampar pipi sekali ya? 
Sadarkah, kita mungkin selama ini mengulang-ngulang kisah hidup yang itu-itu juga ketika bercerita ke orang lain? Kisah yang bukannya membebaskan kita, tetapi justru membuat kita semakin terjerat dengan masa lalu.


Kalimat yang diucapkan oleh Rosie (saya lupa nama lengkapnya, konon seorang broadcaster-wati yang terkenal di Amerika sono) itu, membuat saya tiba-tiba melongok ke dalam diri sendiri. Did I? 


Rosie bilang, selama ini dia menceritakan kisah hidupnya kepada orang lain dengan menggarisbawahi pengalaman pahitnya. Ia ditinggal ibunya ketika dia masih kecil. Dia hanya tinggal dengan ayahnya yang acuh tak acuh, serta neneknya yang sudah tua, yang untuk memasak pun sudah tak bisa. Masa mudanya dihabiskan untuk bertahan hidup. 
Dia, kemudian, selalu menceritakan hal itu ke orang lain, over and over again, padahal semua itu sudah 40 tahun berlalu.


Sayangnya dia luput mengisahkan pencapaiannya selama 40 tahun itu. Padahal dia sudah berhasil dalam karir, mencapai kesuksesan sebagai seorang pembawa berita, bahkan menjadi produser di acaranya sendiri, telah menikah (dengan pasangan lesbiannya) dan mempunyai 4 orang anak yang lucu-lucu. 


Tapi balik lagi, ketika dia ditanyakan orang tentang hidupnya, dia selalu bercerita sebagai anak kecil yang ditinggal mati oleh ibunya. Padahal kini dia adalah ibu dari 4 anak! Dia masih belum bisa beranjak dari masa lalunya, sepertinya. Dan -masih menurutnya, hal ini agak terlambat untuk disadari.


Hmmm..mungkin kita juga pernah -atau bahkan sedang- dalam posisi itu. Sadar atau tidak sadar kita masih suka mengulang-ulang kisah yang itu-itu lagi seperti kaset rusak. Atau seperti dvd bajakan yang sering 'cekit-cekit' karena macet sehingga cerita tak bisa berlanjut ke chapter berikutnya. Banyak. Sepertinya banyak dari kita yang mengalami hal ini. 


Tetangga saya, masih saja menangisi kematian anak lelaki satu-satunya yang mungkin sudah hampir 10 tahun yang lalu. Padahal dia masih punya 3 orang anak perempuan yang sudah menikah dan memberinya cucu-cucu yang manis. Ada juga yang selalu mengisahkan dirinya sebagai anak "broken home", padahal sekarang kemandirian yang dilaluinya sudah membuahkan hasil yang gemilang.


Saya?? 
Yaa..yaa..saya ngaku. Saya masih mengulang-ulang kisah bersama si mantan yang padahal sudah berakhir sejak 4 tahun lebih itu. (hehee...*tutup muka). Kebayang deh, orang lain juga mungkin sudah eneg denger cerita saya yang pemeran utamanya masih dia lagi dia lagi.


Maka tak heran, ketika kalimat itu muncul di tayangan Oprah Winfrey Show, saya seperti "cring!" mendapatkan ilham dan langsung introspeksi dalam-dalam.
Banyak hal yang sesungguhnya sudah saya raih dalam kurun 4 tahun itu. Banyak kisah yang juga semestinya bisa saya bagi dengan aura yang lebih optimis. Tapi kenapa saya masih juga melihat kisah itu sebagai Bab I (Latar belakang) dari setiap hal yang saya jalani? 
Damn, I was trapped in my past!!


Kalo ditanya, kenapa gak move on? well.. I tried. I gave my best. 
Tapi ya gitu deh, mekanisme mengulang-ulang kisah ini sepertinya berasal dari alam bawah sadar kita. (hehe..entahlah, ini pledoi atau apa). 
Tapi mulai sekarang -ehm, mulai awal tahun ini sebetulnya-, saya sudah mencoba sebisa mungkin, dengan segala jurus yang saya punya, dan segala kekuatan bulan yang bisa saya himpun, saya harus beralih! Yap, banyak hal positif yang sudah saya capai selama ini, dan seharusnya itulah yang bisa saya bagi dengan orang-orang di sekitar saya. 


Tapi maksud saya di sini, bukannya kita lantas melupakan pengalaman pahit itu begitu saja, bukan. Kita tetap bisa mengenangnya, mengambil hikmah dan segala pelajaran dari semuanya. But, instead of telling the same sad stories over and over again, why can't we be proud of what he had and share the positive feeling to other people? 


Kalo semua orang begini kan, dunia rasanya lebih syahdu gitu...
Setuju?