Monday, July 13, 2009

Backpacking lagi

Seperti saya bilang di postingan kemaren-kemaren, saya sempat jalan-jalan ke negeri Singa, tepatnya sekitar seminggu yang lalu. Bukan jalan-jalan untuk shopping atau berobat ke Mount Elizabeth (yg konon isinya orang-orang kaya dari Indonesia itu). Tapi sejujurnya, ini penebusan dendam pribadi. Hehehe… Sejak awal menginjakkan kaki di Malaysia, saya sudah kepingin banget nyebrang ke Singapura. Kan deket tuh, masa sih gak bisa nyampe ke situ, batin saya. Tapi ternyata untuk sekedar loncat ke sebrang memang gak semudah itu. Rencana saya berkali-kali gagal. Sampai akhirnya saya bertekad dengan gaya mahapatih Gajah Mada, pokoknya sebelum lulus harus bisa ke Singapur!! Hahaha…

Alhasil, dengan ditemani oleh 2 orang teman dan 1 sepupu, kami berempat berangkat dengan motto: BIAR MISKIN ASAL PIKNIK. Hahhaa..Soalnya jujur aja, penghujung bulan Juni kemarin emang banyak banget pengeluaran yg nggak diduga. Mulai dari fotocopy tesis yg amit-amit mahalnya, beli kado buat temen-temen yg ultah, ekstra budget buat oleh-oleh, dll. Intinya, keadaan dompet waktu itu memang mengenaskan. Tapi dengan jiwa para petualang sejati (tssaah..) kami memutuskan berangkaaattt! Kalo saya sih niatnya: Harus! Kalo nggak sekarang, ntar-ntar gak bisa lagi. Yaah, hitung-hitung ini hadiah buat diri saya sendiri yang udah selesai kuliah. Gak ada salahnya toh??

Jadi berangkatlah kami berempat pada hari Jum’at (3-7-09) dengan naik bis jam 12 malam. Nyaris saja kami gak jadi berangkat, karena tiket yg kami pikir adalah tiket resmi, ternyata ILEGAL! Agen tempat kami beli tiket ternyata gak resmi, atau istilahnya calo. Padahal kami beli di counter! Aneh deh...Tapi setelah debat kusir, nego dan tarik urat dikit, jadi juga kami berangkat ke Johor malam itu.

Sampai di Johor jam 5 subuh, lalu kami melanjutkan perjalanan ke Singapura dengan naik bis juga. Jarak Johor-Singapur itu deket lho. Nyebrang naik bis lewat jembatan mungkin hanya 5 menit. Tapi harus melewati pemeriksaan imigrasi dulu yaaa... (Check point nya bagus deh. Katanya sih baru dibangun. Hampir sama kaya airport)

Sabtu pagi (4-7-09) kami udah sampe di Bugis Street, Singapura. Lalu janjian sama temen yang hari itu menjadi tuan rumah sekaligus seksi kerepotan (Thanks a lot for Yuli). Apartemennya Yuli ternyata gak jauh dari Bugis street, atau tepatnya di Waterloo Street. Diapit sama kuil hindu India dan vihara Cina. Di depannya juga ada gedung Stamford Art Center dan ramai sama pejalan kaki, penjual bunga, kios-kios pasar murah dan sekawanan burung dara. Asik ya? Tapi di situ emang sewanya muahaal..Untung kami cuma numpang singgah. Hehe...

Lalu setelah mandi dan gosok gigi, maka petualangan sehari di Singapur dimulai! Target pertama: Sentosa Island. Setelah beberapa kali nauk turun kereta bawah tanah (atau disana namanya MRT) dan bis, akhirnya kami sampe juga di daerah pantai Sentosa. Ada dua pantai yang jadi target utama; Siloso Beach dan Palawan Beach. Pantainya bagus deh.Meskipun siang bolong dan panasnya minta ampun, tapi tetep doong...foto-foto harus berjalan lancar. Hehee..

Setelah puas foto-foto di pantai, kami kembali jalan ke pusat kota yang dipenuhi sama mall-mall dan pemburu sale. Hahaa... Jalan kaki di Orchad Road rasanya seru. Selain emang kotanya bersih dan teratur, yang paling saya suka adalah fasilitas untuk pejalan kakinya. Di sini pejalan kaki emang ramai banget, jadi trotorarnya dibuat lebar, plus bangku-bangku taman dan pohon rindang membuat jalan kaki semakin nyaman.

Next target: foto sama singa! Hahaha... ini penting nih buat saya. Soalnya dari dulu gregetan pengen ke Singapur. Dan satu-satunya bukti yang meyakinkan kalo saya pernah menginjakkan kaki disini adalah foto bareng Merlion, maskot Singapura yang terkenal itu. Hehehe.. Makanya, walaupun kaki udah pegal seharian jalan kaki, pake nyasar dan bingung lewat mana, tetap harus bertahan demi bisa foto sama singa! Yeeah... (hahah..norak deh!)

Udah puas foto-fotonya, sore itu juga, selepas magrib kami udah harus balik lagi ke Malaysia. Jadi intinya, ini Cuma petualangan sehari di Singapura. Gak pake nginap karna besoknya saya udah harus pulang lagi ke Indonesia. (Boong, ini pledoi. Sebenernya sih gak ada uang untuk stay lebih lama. Kan judulnya backpaker gembel. Hihihi..)

Besok paginya, di Minggu subuh (5-7-09) nan dingin dan hujan kami udah sampe lagi di kampung Kajang tercinta (Malaysia). Walaupun badan remuk redam dan kaki rasanya mau copot, tapi seneng loooh... Thanks sooo much ya buat Mbak Denik ‘Mukiyo’, Beby dan Bang Rido, for a nice trip. Akhirnyaa.. Singapura berhasil ku jejaki. Yeay yeaay, akirnya punya foto sama singa....

Next time, kemana lagi ya??

Sunday, July 12, 2009

Secret key to the universe

Saya suka sama astronomi. Entah bagaimana awalnya saya bisa suka sama bidang ini, saya juga gak inget. Yang pasti, sejak SMP dulu saya suka nangkring di atas genteng rumah malam hari dan ngeliatin bintang sampai berjam-jam dan kedinginan. Tapi dulu cuma sebatas melihat, nggak sampai belajar lebih jauh.

Lalu seiring perkembangan waktu, semakin kesini saya makin suka sama langit dan semesta. Maka saya mulai sedikit demi sedikit mencoba memahami ada apa di atas sana. Mengapa, bagaimana, sejak kapan, menjadi pertanyaan yang terus berulang-ulang di kepala saya dan mendorong saya mencari jawabannya. Mencoba membaca semesta melalui imaji dan logika.

Pengetahuan saya di bidang ini masih dangkal banget. Makanya saya coba baca buku yang level basic-nya dulu sebagai bahan pemahaman awal. Untungnya sekarang banyak banget buku astronomi untuk anak-anak. Mulai dari yang tipis, buram, item putih, sampe yang hard cover, elegan dan penuh gambar-gambar berwarna. Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris. Menarik atau membuat ngantuk, pokoknya saya baca. Kadang saya masuk ke toko buku atau berkunjung ke pameran buku, sengaja untuk mencari buku astronomi for kids. Sekali lagi, FOR KIDS ya. Karna otak saya belum nyampe untuk belajar tentang fisika kuantum, teori relativitas atau supermasive black hole secara lebih mendalam. Dikhawatirkan kejang-kejang. Hehehee...

Nah, ini buku yang baru selesai saya baca. ‘George’s secret key to the universe’. 

Ini novel anak-anak. Ceritanya tentang anak kecil bernama George yang hidup dalam keluarga konservatif. Bapak ibunya adalah aktivis lingkungan, yang nggak mau punya kendaraan, alat elektronik atau benda-benda berbau teknologi. Semuanya ramah lingkungan, makan hasil tanaman kebun sendiri, bahkan makan malam dengan cahaya lilin. Padahal, George ingin sekali punya komputer. Baginya komputer adalah benda yang sangat pintar dan bisa membantunya menjawab segala rasa ingin tahunya tentang dunia dan semesta. 

Lalu suatu ketika, babi peliharaan George lari menerobos pagar belakang kebun dan masuk ke halaman rumah tetangganya yang tampak horor dan sudah terbengkalai. Tapi ternyata, di rumah itu tinggal seorang ilmuwan fisika bernama Eric dan anak perempuannya, Annie. Dan oh, Eric punya komputer supercerdas bernama Cosmos! Dan hebatnya lagi, Cosmos bisa membuka jalan rahasia menuju petualangan ke alam semesta. Maka kemudian, George sedikit demi sedikit mulai mendapatkan jawaban dari rasa ingin tahunya. Bukan hanya itu, George juga bisa mengalami sebuah petualangan seru, yang bahkan bisa membahayakan nyawnya sendiri dan nyawa orang lain! Hohoho... seru, bukan???


Buku ini ditulis oleh Stephen & Lucy Hawking. Stephen Hawking sendiri disebut-sebut sebagai fisikawan paling cerdas setelah Newton dan Einstein. Kalau saya bilang, dia supergenius, padahal badannya lumpuh total. (googling aja sendiri kalo mau tau lebih banyak. He’s so amazing!) Sedangkan Lucy, tak lain adalah anaknya Stephen Hawking yang merupakan seorang penulis cerita anak-anak. Maka perpaduan antara bapak dan anak jenius ini, melahirkan buku cerita petualangan yang seru dan benar-bernar cerdas! Banyak banget yang bisa saya pelajari dari buku ini. 

Ah, saya jadi kepikiran, buku ini akan saya wariskan untuk anak saya kelak. 
Supaya dia bisa lebih mengenal tentang langit dan semesta di atas kepalanya 
Supaya dia menyadari betapa besarnya kuasa Sang Maha Pencipta, dan
Supaya dia tau, ibunya dulu pernah memandang takjub dan penuh tanya ke angkasa sana. 

Hahaha, mulai deh melankolisnya. :D

Oh iya, buku ini ada web-nya juga lho...
Kalo mau tau lebih banyak, klik dari side bar blog ini yah! 

Thursday, July 02, 2009

Master and Mimisan

Dulu, waktu saya masih SMP-SMA gitu, saya pusing ngeliat bapak saya hobi banget ngumpulin gelar untuk memperpanjang namanya. Mulai dari sarjana muda, S1, dan S2. Yang terakhir malah sampe dua kali. Saya dulu pernah bertanya sama beliau, apa nggak capek sekolah terus? Bapak saya cuma jawab:
“Ini nanti akan jadi motivasi buat kamu. Kalo papa bisa S1, kamu harus bisa S2. Kalo papa bisa S2, kamu harus sampe S3”
Dulu dengar kata-kata itu rasanya wuiihh... S2 ?? Sounds impossible for me.

Waktu itu nyelesain kuliah S1 aja susah bener rasanya. Dan ketika lulus S1 trus langsung disuruh S2, saya jawab dengan malas-malasan. “Ntar dulu ah...capek kuliah terus”. Yang ada di bayangan saya waktu itu, sinonim dari S2 adalah belajar-belajar-dan belajar. Mungkin sampe kram otak dan hidung mimisan.

Well, ternyata gak segitunya juga. Ternyata tanpa harus sampe kram otak dan mimisan segala, sekarang saya sudah bisa menyelesaikan S2. Iya, saya sudah S2. Saya sekarang Master of Mass Media and Communication. Hihihi... nggak nyangka euy. Setelah dua tahun berlalu, saya sekarang sudah jadi mbak-mbak bergelar master. Hehehe..

Saya dinyatakan lulus secara resmi setelah melewati sidang tesis (viva) tanggal 24 Juni yang lalu. Ketika para dosen penguji –dengan suaranya yang syahdu itu- mengatakan bahwa; “Saudari Ade Suryani, dengan ini dinyatakan secara resmi bahwa tesis Anda diterima, dan Anda dinyatakan lulus”, rasanya sih biasa aja. Cuma ada sedikit rasa “serrr” di aliran darah, dan kupu-kupu kecil di rongga dada. Yah, saya gak bisa jelasinnya secara lebih deskriptif sih, tapi kurang lebih begitulah waktu itu. Alhasil, keluar ruangan saya senyam-senyum sendiri.

Nggak segitu girangnya juga, sampe loncat-loncat atau teriak membahana “AKU BERHASILLL..!!” Nggak. Yang ada, lebih ke perasaan lega. Lega sudah melewati saat-saat pertama susahnya jadi perantau di negeri orang. Saat pertama masuk kelas master dan merasa jadi umat paling bego sedunia. Saat pertama merasakan demam Rabu malam. Saat-saat stress, kurang tidur dan mata berkantung ngerjain tesis. Saat merasa khawatir apakah yang saya lakukan ini memang penting atau gak lebih dari sekedar sampah (sok) akademis. Huffhfh... lega, akhirnya semua itu bisa juga saya lewati.

Temen saya nanya, apa rasanya setelah lulus S2 ini? Hmm... saya jawab: Penuh. Saya merasa penuh sama pengalaman, bukan hanya pengalaman akademik, tapi juga pengalaman hidup. Penuh sama hal-hal baru. Penuh sama ilmu, sama perspektif baru, dan hal-hal yang membuat saya merasa kaya. Saya suka perasaan ‘penuh’ ini, tapi saya nggak mau terus-terusan merasa seperti ini dan berhenti di titik ini saja. Saya masih ingin menjadi orang yang selalu haus. Yang nggak pernah bosan mencari hal-hal baru.

Lalu teman saya menjawab lagi: Kalau begitu, harus buru-buru dibagi ke orang lain. Jadi bisa kembali kosong dan mencari pemenuhan yang baru lagi.

Hmm...iya ya. Bener. Saya suka jawaban itu.

Anyway, dalam beberapa hari ini saya sedang menunggu proses akhir, jilid tesis dan urusan daftar-daftar wisuda. Nilai tesis saya juga belum keluar, jadi belum ketauan nilai akhir IPK saya berapa. Minggu-minggu genting nih, soalnya bisa dibilang saya sidang pada saat injury time (Selalu begini sejak S1 dulu). Mepet banget dengan batas akhir pendaftaran wisuda untuk tahun ini. (FYI, di kampus saya wisudaan cuma setahun sekali. Kalo urusan wisuda ini meleset beberapa hari aja, saya terancam ikut wisuda yg tahun depan! Males kan?! ) Jadi dua minggu terakhir ini aktivitas saya memang gak terlalu beda sama berang-berang yang membuat bendungan, alias sibuk! Loncat sana loncat sini, bawa tas segede gaban, naik turun tangga, kucel keringetan, gendong buku dan tesis yang lumayan buat nimpuk anjing, aahh...capek banget.

Saya cuma menjanjikan diri saya sendiri: abis ini saya HARUS jalan-jalan! HARUS. Pokoknya liburan dan merestart ulang energi. Yah, di samping alasan lain, tidak puas hati karna rencana jalan-jalan ke Medan hingga titik 0 Sabang gagal total. Hiks. Tapi sudahlah. Kemanapun yang penting jalan-jalan. Melemaskan otot dan menyegarkan otak! Dan yang paling penting, menghapuskan nama TESIS yang sudah setahun ini menjadi nama tengah saya! Hahaha..

So besok, saya mau nyebrang ke Singapore. Jalan-jalan bentar satau atau dua hari. Abis itu, pulang kerumah deh. Ihiiyy... Senangnya bisa pulang dengan senyum mengembang.

Sekarang saya bisa bilang ke bapak saya, ternyata S2 bukan hal yang gak mungkin saya raih. 


PS: tunggu cerita dan foto dari Singapura yaa. Next post, maybe.