Thursday, November 20, 2008
Saturday, November 15, 2008
(not) a stupid girl

........ ini gak sopan, kalo gua bilang ya.
Dan ni cowok juga nampak agak kurang ajar di mata gua.
Juga kasus-kasus lain yang –aduh, ampun deh- kalo menurut gua hanya akan memperkuat asumsi bahwa cewek adalah umat paling irasional aja. Misalnya nih, rela jadi selingkuhan dan berharap si cowok bakal mutusin pacarnya demi dia, atau TTM-an bertahun-tahun lamanya dan pasrah aja ketika ngeliat si cowok menggandeng cewek lain, atau rela dipukulin sama pasangan dengan alasan “begitulah cara dia melindungi dan menyayangi gua”, atau masih juga memaafkan dan percaya setelah berkali-kali dibohongin dan diselingkuhin sama sang pacar. Haduh..haduh...
Okay, bilang gua gak sensitif. Bilang gua cold heart. Terserah. Tapi gua gak akan mau membiarkan hidup gua dikalahkan sama perasaan-perasaan sesaat. Peraaan yang mungkin gua sendiri gak yakin-yakin amat apakah itu sayang, cinta, nafsu, atau apa.
Dan buat cewek-cewek diluar sana yang mungkin lagi mengalami hal seperti ini, c’mon girls.. cowok kan gak cuma satu. Dengarkan juga apa kata otak, dan cobalah sekali-sekali untuk gak menyangkal. Dan satu hal.. cobalah untuk (paling tidak- berpura pura) meninggalkan dia untuk melihat apakah tu cowok segitu cintanya sama kita. Apakah dia sadar ada yang hilang dari hidupnya ketika kita pergi. Let’s find the answer.. Tapi jangan kaget juga seandainya tiba-tiba kita mendapat jawaban dari pertanyaan “apakah cowok ini sebegitu layaknya untuk dicintai setengah mati?”
Kalo jawabannya membahagiakan, ya bagus.
Kalo jawabannya menyakitkan, well..I think you have no option but saying goodbye to him.
Dan catat ini: hak pilih kita gak hanya berlaku di saat pemilu yang cuma 5 tahun sekali itu kok. Ini SANGAT BISA dipake untuk memilih lelaki mana yang tepat untuk mendapatkan cinta kita.Cieeh...hehehehe...Jadi gunakanlah hak itu sebaik-baiknya, ya!
Wednesday, November 12, 2008
Me, myself and I
Gua percaya ya, dalam jiwa seorang penulis pasti ada sisi autisnya. Penulis apapun itu. Ya penulis novel, penulis buku anak-anak, penulis cerpen, bahkan ke penulis buku teks sekalipun. Pasti mereka punya dunia lain di dalam otaknya atau paling gak mereka sering kali merasa terlalu asik sama diri sendiri.
Marshal McLuhan misalnya ya. Doski nih pakar komunikasi yang menulis buku tentang Global Village. Bukunya ya buku teks, buku teori gitu. Dan di awal abad ke 20 dia udah bisa menulis di salah satu buku teorinya tentang kewujudan Global Village di dunia ini kelak. Buat yang gak ngerti teori ini, maksudnya tuh suatu hari nanti masyarakat dunia akan terhubung sedemikian rupa dan dunia akan terasa semakin kecil, gak beda dengan sebuah perkampungan. Dan sama halnya dengan kampung, masyarakatnya akan saling mengenal, share everything together, dan komunikiasi bisa terjalin dengan mudahnya. Bayangin, dunia jadi kampung! Gila kan, punya fikiran kaya gini di saat itu, sama aja kita bilang saat ini kalo mungkin aja manusia ngebangun mall di saturnus. Tapi nyatanya, it happen now. Oh.. thanks to the internet.
Nah, balik lagi ke masalah autis itu ya, gimana mungkin Marshal mcLuchan bisa ngebayangin dunia ini sebegitu jauhnya kalo dia gak punya imajinasi yang begitu luar biasa. Yang mungkin akan dipandang orang lain sebagai orang gila, atau nerd atau apalah..Dan pasti saat itu dia gak perduli apapun kata orang, apapun cemoohan orang tentang fikirannya, ide gilanya, atau justru kejeniusannya.
Contoh lain lagi, beberapa penulis novel top di Indonesia sekarang lebih memilih bercerai dan hidup sendiri (bagusnya dengan cara baik-baik) padahal rumah tangga mereka sebelumnya keliatan adem-ayem aja. Yaa..gua sih gak ngerti ya urusan domestik mereka. Cuma asumsi gua adalah, mereka menemukan kenyamanan yang lebih disaaat mereka sendiri (atau hanya berdua dengan imajinasinya) dibandingkan saat mereka berdua dengan pasangannya. Kenyamanan yang tidak tertandingi, kenyamanan yang membawa mereka pada ekstase luar biasa sehingga mampu menghasilkan karya-karya yang juga luar biasa.
Juga penulis-penulis lain seperti anak ini nih. Walaupun karya-karyanya belum di publish selain di personal blognya, tapi tulisan-tulisannya gua suka banget. Dan itu bagi gua termasuk luar biasa untuk anak seumuran dia. Dan dia juga termasuk salah satu orang yang masih saja berfikir apakah dia autis atau tidak. hahhaa..
Belum lagi penulis-penulis seperti Hans Christian Anderson, Agatha Christie, Paulo Coelho, dan semuanya. Gua yakin ada sisi autis dalam diri mereka semua.
Dan gua, sebagai penulis thesis (yang sumpah, gak penting dan gak sebanding banget dengan nama-nama di atas!) juga mulai merasa sisi autis gua semakin tumbuh dan berkembang. Gua sudah terlalu sering duduk di perpus sendirian, berkutat dengan keyboard dan loncat-loncatan antara neuron dan serabut otak gw berjam-jam lamanya. Yang paling menohok adalah.. ketika beberapa temen gua mulai complain dan mengatakan kalo gua menjadi semakin (berarti gejala ini udah dari dulu) antisosial. Juga ketika tadi malem, disaat yang gua lakukan hanyalah leyeh-leyeh dengan headset di kuping, mendengarkan lagu dari playlist yang diputer secara random, memejamkan mata dan meluruskan kaki, dilanjutkan dengan maen game tamiya dari laptop. Sumpah..moment itu terasa mahal banget!
Gua lupa kapan terakhir kali merasa senyaman itu.
Gua lupa kapan terakhir kali gua gak memikirkan kata thesis.
And now, here I am. Ngetik sendirian di koridor fakultas gua, kembali bercinta dengan windows, gak sadar dan gak peduli dengan semua orang yang lalu lalang. Gak sadar dengan siapa yg duduk di sebelah gua. Gak sadar sekarang udah jam berapa dan mengapa semua orang keliatan begitu sibuknya.
Yang gua sadar adalah, gua jadi makin autis aja