hummfff... gua mulai ngerasa gak nyaman dengan blog ini
bukaan...bukan bosen sama tampilannya, atau isinya yang suka gak penting itu..hehhee
tapi, gini masalahnya, gua cerita dikit dari awalnya ya..
dulu gua bikin blog ini karna pengen bisa menulis apapun yang gua rasa
yah walopun gua gak mau disebut ini sebagai diary, tapi sedikit banyak fungsinya ya begitu kan? katakanlah sebagai jurnal deh...
Gua gak peduli ada atau nggak orang yang baca tulisan gua. Gua bahkan sebenernya gak terlalu ambil pusing, yang penting gua bisa nulis apa yang ada di pikiran gua. Apapun itu. Mau orang lain suka atau gak suka, setuju atau gak setuju, I don't even care.. ya mau-mau gua lah, ini kan blog gua!! hahahaha.
Makin lama gua makin menikmati untuk menulis di sini. Tapi tanpa gua sadari juga, makin banyak aja orang yang baca blog ini. Entah ya...padahal gua gak segitu hebohnya minta di link sana sini, atau promosi ke orang-orang kalo gua punya blog dan silahkan dikunjungi. Tapi ternyata yang dateng berkunjung (baik yang meninggalkan jejak atau yang cuma jadi silent reader) makin banyak. Ok, di blog gua emang gak dipasang fitur untuk menghitung berapa orang yang udah berkunjung, tapi gua mulai jengah ketika ada orang yang bilang :
"Aduuh..ade lagi patah hati ya... "
"Hah, tau dari mana?"
"Kan gua suka baca blog elu"
*padahal gua gak akrab-akrab banget sama ni orang*
Atau ada juga yang diem-diem berkunjung tiap hari, megikuti perkembangan gua, mengikuti cerita hidup gua, termasuk curhatan-curhatan pribadi gua, tanpa gua tau siapa dia, atau apa yang difikirkannya tentang gua...gua jadi rada gimana gitu. Ada sebelnya juga sih, bukan sebel sama orangnya, tapi sama situasinya.
Sama juga halnya dengan facebook. Beberapa orang temen mungkin tau bahwa sebenernya gua gak terlalu berminat dengan situs pertemanan semacam ini. Gua masih menjadi penganut aliran, meet friend, say "hi" and shake hand. Gua bikin account di facebook itu juga gara2 gua mau download bbrapa video tapi kok ribet. Trus ternyata dengan facebook bisa jauh lebih cepet dan simple. Ya sudah. Tapi gua juga gak bikin pengumuman sana sini dan invite temen-temen. Isinya juga gak banyak-banyak amat.
Lalu gua mulai merasa bahwa..."kok gua jadi mau bikin account beginian sih? Kok jadi makin banyak aja hal-hal pribadi gua yang gua umbar-umbar. Mulai dari film favorit sampe hal-hal yang gak penting sekalipun." aaarrgghh.. It feels so not me.
Oke, mungkin ada yang bilang, ya resiko lah de, namanya juga Internet. Bener!! gua sepakat. Kalo posting sesuatu ke internet, berarti sudah ngasih izin ke warga dunia untuk bisa mengaksesnya. ya kan? Nah, bodohnya gua... dengan santainya gua buka lembaran-lembaran hidup gua dari masalah hati sampai ke kulit ari, kadang ditambah foto pula! ya jelas aja yang baca jadi tau gimana hidup gua!
Ini yang bikin gua gak nyaman.
...
...
Dan setelah gua fikir-fikir, rasanya gua belum cukup siap untuk menjadi warga sebuah kampung global (meminjam istilah Global village-nya Marshal McLuhan). Gua masih menikmati keadaan dimana gua berada di sebuah pojokan, memerhatikan orang-orang yang lalu lalang tanpa ada yang menyadari keberadaan gua. Gua bukan tipe orang yang suka berbagi rahasia diri, apalagi ke orang yang gua gak kenal-kenal banget..Ini yang bikin gua rada jengah belakangan ini, karna semakin banyak orang yang tau hal-hal pribadi gua dan mereka menikmati membacanya! ouh... And I don't even know who they really are!! Kalo temen-temen deket gua sih, yaaa gak apa-apa lah. tapi kalo yg gak gua kenal.... *jadi mikir-mikir*
Kaya'nya sekarang gua perlu memberikan batas sampai sejauh mana gua mengizinkan orang lain mengenal gua deh. Gua yang akan memutuskan selebar apa gua buka jendela diri gua. Apakah gua akan membukanya lebar-lebar dan membiarkan semua orang tau apa yang ada di dalam, atau hanya celah kecil yang bisa bikin orang lain bertanya-tanya, ada apa di dalam sana.
Atau, gua harus mulai memikirkan media lain yang bisa jadi wadah tulis-menulis tanpa banyak orang yang bisa mengakses. Diary mungkin??? hmm...
Wednesday, August 13, 2008
Tuesday, August 05, 2008
Sudah normal lagi
Healing process is 99% complete now.
(kalo liat postingan sebelumnya, gambar yang gua upload itu sebenernya loading indicator nya jalan loh. Tapi setelah postingannya di publish, kok gak jalan lagi ya? Kesannya kan prosesnya stuck di situ-situ aja. Padahal kan nggak...)
Nah, sekarang dengan bangga gua bisa dibilang udah dalam tahap 'sembuh'. Sembuh dari apa sih? Dari fase sakit hati! hehehe.. (jujur amat mbak..)
Iya, sekarang udah 99%. Gua rasa sih ini gak mungkin menginjak ke 100%. Karna pasti akan ada sisa-sisa atau bekasnya yang masih ketinggalan. Ya kan? Forgiven but not forgotten gitu lah istilahnya. Tapi toh yang 1% itu udah gak signifikan lagi, itu cuma akan menjadi titik kecil dimana gua bisa bilang bahwa, oh iya..gua pernah merasakan hal itu. Tanpa ekspresi, tanpa perasaan apapun, bahkan tanpa dendam kesumat lagi. hehehe..
Gua bisa bilang tahap penyembuhan ini termasuk cepet. Untuk orang-orang yang tau cerita di balik layarnya, mengikuti perjalanan atau bahkan tau sedikit banyak kisahnya sampai sejauh ini, pasti setuju sama gua. Iya ini termasuk cepet. Kurang dari 1 minggu! (lliat tanggal posting sebelumnya; 31 Juli) Gua juga gak nyangka akan secepat ini, walaupun gua bilang ini juga bukan proses yang mudah untuk dilalui.
Gua dulu berasumsi gini. Ada 2 faktor yang berpengaruh dalam proses penyembuhan ini,yang bisa gua formulasikan dalam sebuah rumus:
tR = dF + dP
dimana :tR = time for Recovery
dF = depth of Feeling
dP = depth of Pain
jadi, semakin dalam perasaan yang kita rasa, dan semakin dalam sakit yang kita rasa, maka proses penyembuhannya juga akan semakin lama. Valid gak sih ni rumusnya? hehehe..(cuma masalahnya gua belum berhasil menemukan satuannya masing-masing. Kalo untuk tR, mungin bisa diukur dalam satuan day atau week atau bahkan month. Nah, kalo untuk dF dan dP, gak mungkin kan gua pake satuan meter atau kilometer??)
Nah, balik lagi ke masalah masa penyembuhan gua yang -kaya'nya sih- termasuk cepet. Mungkin ada yang nanya, kok bisa sih? Buat gua ini semua adalah pilihan. Gua bisa aja nangis-nangis meratapi nasib sampe 7 bulan, bisa juga memilih untuk jadi jomblo aja seumur hidup, atau bersumpah serapah malem ini tapi besok pagi udah bangun dengan senyum manis. Pilihan kan?
Gitu juga tentang sakit hati ini. Gimana gua menyikapinya adalah masalah pilihan. Sakit hati lalu nangis-nangis, sakit hati lalu mutilasi, sakit hati lalu bunuh diri, atau sakit hati lalu sudah, titik. Pilihan kan?
Dan dari semua itu gua lebih milih yang terakhir. (yah, walopun opsi kedua kedengerannya lebih bombastis dan bisa memberikan peluang muka gua jadi hadline koran ibukota sih. Hehehe).
Toh, pada akhirnya gua berfikiran: Ya sudahlah, ngapain menyiksa diri sendiri. Apalagi untuk orang yang gak layak diperlakuan sebegitu pentingnya. Life must go on. Betul gak?
Subscribe to:
Posts (Atom)
