Aneh.
Tiba-tiba aja kamu ber ‘aku-kamu’. Kemana ‘elu-gue’nya?
Kok berubah?
Lalu tiba-tiba, panggilan ‘cuy’ itu muncul.
Just a simple cut, but you know what, I like it a lot.
Tiba-tiba juga semua perangai itu berganti.
Bukan, kamu bukan lagi sosok angkuh yang membekukan hati kamu sendiri.
Bukan lagi sosok yang selalu menampar pipi saat perasaan mulai berfungsi.
Kamu jadi kamu
Yang tiba-tiba menjadi dewasa
Yang tiba-tiba merasa khawatir dengan aku
Yang tiba-tiba menjadi sabar dan....
Sebentar, ...... ini kamu bukan sih?
Tiba-tiba juga kamu mulai perhatian.
Ngingetin makan...ngingetin sholat...ngingetin istirahat..
Tapi tetep dengan kata-kata kamu yang gak pernah biasa.
“Tidur gih,cuy..” Hehehe..
Nggak, aku sih gak pernah berharap akan terlintas di otak kamu kata-kata seperti “met bobo yaa.” Nggak...
Aku tau kok itu cuma keajaiban dunia ke sembilan.
Aku juga kaget kok kamu jadi mulai rajin SMS.
Padahal dulu kalo di telefon, kamu cuma bikin pulsaku abis sia-sia.
Kalo bales SMS juga gak pernah sampe 160 karakter.
Tapi tetep aja SMS kamu yang suka gak penting itu memenuhi inboxku
Gak penting buat kamu tapi kadang penting buat ku
Aku gak ngerti apakah ini hanya gejala sesaat
Apakah ini pertanda baik
Apakah ini hanya pengaruh ketidakseimbangan hormon
Apakah mulai terjadi kerusakan permanen pada otak kamu
Atau ini efek samping dari stress ngelewatin sidang skripsi
Entahlah
Yang aku tau, kesimpulannya cuma satu:
Ilmu ikhlas yang sedang berusaha aku kuasai tiba-tiba aja buyar..
Sial!
Sunday, April 06, 2008
Saturday, April 05, 2008
Cita-citaku
Belakangan ini saya mulai tepikir akan satu cita-cita yang ingin saya jalani di masa depan saya. Dulu-dulu kan saya selalu bingung menjawab pertanyaan tentang cita-cita. Nah sekarang saya sudah bisa menjawanya.
Bukan...saya bukan pengen jadi dokter, jadi insinyur, jadi tukang pos atau bahkan jadi pakar komunikasi. Nggak seribet itu kok. Cita-cita saya sederhana aja:
Pengen masangin dasi ke suami saya kelak, setiap hari, setiap pagi sebelum dia berangkat ke kantor.
Hehehe... simple kan?? Tapi saya serius!
Kalo cewek-cewek lain mungkin banyak yang belajar masak untuk suami atau keluarganya nanti. Bela-belain uji coba berbagai resep atau bahkan ikut kursus masak segala. Ya ini juga saya anggep sebagai satu hal yang sakral sih. Tapi masangin dasi, itu lebih sakral (setidaknya bagi saya).
Saya yang dulunya gak bisa masang dasi, jadi belajar. Belajar sendiri. Ngelilit di leher sendiri. Atau di benda-benda lain yang bisa dililit. Hehehehe... Abis kan gak ada kursus memasang dasi!
Dulu sih saya suka bantun ngerapihin dasi bokap. Tapi ngerapihin doang, bukan masangin. Nah saya pengennya bisa masangin.
Dan sekarang, saya udah bisa!! Hahaha...
Hasil belajar sendiri beberapa hari yang lalu tuh.
Nah sekarang masalahnya adalah, siapakah lelaki beruntung yang tiap pagi akan saya pasangin dari di balik kerah kemejanya itu?
Wah kalo ini sih, hanya Tuhan yang tau jawabnya...
Bukan...saya bukan pengen jadi dokter, jadi insinyur, jadi tukang pos atau bahkan jadi pakar komunikasi. Nggak seribet itu kok. Cita-cita saya sederhana aja:
Pengen masangin dasi ke suami saya kelak, setiap hari, setiap pagi sebelum dia berangkat ke kantor.
Hehehe... simple kan?? Tapi saya serius!
Kalo cewek-cewek lain mungkin banyak yang belajar masak untuk suami atau keluarganya nanti. Bela-belain uji coba berbagai resep atau bahkan ikut kursus masak segala. Ya ini juga saya anggep sebagai satu hal yang sakral sih. Tapi masangin dasi, itu lebih sakral (setidaknya bagi saya).
Saya yang dulunya gak bisa masang dasi, jadi belajar. Belajar sendiri. Ngelilit di leher sendiri. Atau di benda-benda lain yang bisa dililit. Hehehehe... Abis kan gak ada kursus memasang dasi!
Dulu sih saya suka bantun ngerapihin dasi bokap. Tapi ngerapihin doang, bukan masangin. Nah saya pengennya bisa masangin.
Dan sekarang, saya udah bisa!! Hahaha...
Hasil belajar sendiri beberapa hari yang lalu tuh.
Nah sekarang masalahnya adalah, siapakah lelaki beruntung yang tiap pagi akan saya pasangin dari di balik kerah kemejanya itu?
Wah kalo ini sih, hanya Tuhan yang tau jawabnya...
Friday, April 04, 2008
Hanya dalam satu hembusan
Ada apa dengan menghela nafas panjang? Mendengarnya dihembuskan seolah-olah segala penat juga ikut terlepaskan. Seolah-olah segala beban yang menghimpit ikut larut dalam karbondioksida yang melayang. Dan mengapa yang ada perasaan lega setelahnya? Mengapa ini memberi rongga yang lebih lapang untuk menghirup udara?
Bukan... itu bukan sekedar nafas panjang. Itu adalah beban yang terhembuskan.
Saya kenal seseorang, yang mencoba untuk merokok demi bisa lebih sering menghela nafas panjang. Kalau dia terus-terusan menghela nafas panjang, orang-orang di sekitarnya selalu bertanya, "kenapa?", "ada apa?". Seolah-olah sebentar lagi dunianya akan ambruk.
Dengan merokok, ia bisa lebih sering menghela nafas panjang, dan mungkin orang akan menganggapnya itu hal yang biasa. Gak perlu banyak tanya.
Tapi toh merokok ternyata hanya membuatnya bertambah sesak, bukannya lega. Asap-asap tidak melarutkan penat, katanya..Dan ia jadi tidak cukup percaya pada rokok.
Lalu tiap kali dia merasakan sakit pada tubuhnya, selalu terfikir untuk melakukan hal gila. Tiap kali pelipisnya terasa nyeri, ia berharap ada sebuah pistol yang ditempelkan ke pelipisnya itu. Tiap kali perutnya sakit, ia berandai-andai sedang merobek perutnya dengan sebilah belati dan mengangkat sumber sakitnya itu.
Dia tau itu akan lebih terasa sakit. Tapi membayangkan rasa sakitnya yang dahsyat, membuatnya melupakan rasa sakit yang kecil itu.
Entahlah,
Fikirannya memang absurd.
Sebegitu inginnya dia menghilangkan penat.. Sebegitu inginnya dia menghembuskan nafas panjang..
Bukan... itu bukan sekedar nafas panjang. Itu adalah beban yang terhembuskan.
Saya kenal seseorang, yang mencoba untuk merokok demi bisa lebih sering menghela nafas panjang. Kalau dia terus-terusan menghela nafas panjang, orang-orang di sekitarnya selalu bertanya, "kenapa?", "ada apa?". Seolah-olah sebentar lagi dunianya akan ambruk.
Dengan merokok, ia bisa lebih sering menghela nafas panjang, dan mungkin orang akan menganggapnya itu hal yang biasa. Gak perlu banyak tanya.
Tapi toh merokok ternyata hanya membuatnya bertambah sesak, bukannya lega. Asap-asap tidak melarutkan penat, katanya..Dan ia jadi tidak cukup percaya pada rokok.
Lalu tiap kali dia merasakan sakit pada tubuhnya, selalu terfikir untuk melakukan hal gila. Tiap kali pelipisnya terasa nyeri, ia berharap ada sebuah pistol yang ditempelkan ke pelipisnya itu. Tiap kali perutnya sakit, ia berandai-andai sedang merobek perutnya dengan sebilah belati dan mengangkat sumber sakitnya itu.
Dia tau itu akan lebih terasa sakit. Tapi membayangkan rasa sakitnya yang dahsyat, membuatnya melupakan rasa sakit yang kecil itu.
Entahlah,
Fikirannya memang absurd.
Sebegitu inginnya dia menghilangkan penat.. Sebegitu inginnya dia menghembuskan nafas panjang..
Subscribe to:
Posts (Atom)