Friday, September 26, 2014

The New Me


Menulis itu seperti olah raga, semakin sering dilakukan, semakin bagus kualitasnya. Tapi mempertahankan konsistensi berolah raga itu nggak gampang. Sekalinya ditinggalkan akan susah untuk memulainya lagi. Menulis juga gitu. Once you feel the comfort of writing, you’ll do it often. Tapi sekalinya jeda menulis, ngumpulin niat dan memulainya lagi itu susahnya bukan main.
 
Lihat beberapa postingan saya (sekitar 1-2 tahun) terakhir, selalu ada jeda cukup lama dari tulisan sebelumnya,  dan tiap kali memulai menulis biasanya diawali dengan ocehan tentang betapa pemalasnya saya untuk menulis, kemudian diikuti dengan niat harus mulai rajin nulis lagi. Iya, seperti halnya postingan kali ini. Hahahaa. Dan selalu saja itu berakhir sama dengan niat saya jogging selepas subuh.
Besok mau jogging ah, dan niat cuma tinggal niat. Sepatu lari saya masih aja nyempil di pojokan. 
Mulai sekarang mau rajin ngeblog lagi ah, dan kemudian senyap hingga 6 bulan, blognya debuan. Haha..

Entah ini excuse atau bukan ya, tapi 6 bulan terakhir ini saya emang sibuknya bukan main. Halah, macem Sri Mulyani ngurus  Bank Dunia aja sibuknya. Hahahha.  Nggak, beneran. Kemarin-kemarin itu ceritanya saya sibuk ngurusin pernikahan. Yep, I am a married woman now ;)

Dimulai dari Maret itu otak rasanya udah bercabang lima belas. Segala sesuatunya memang kami urus sendiri. Things like milih bahan untuk seragam keluarga, format acara, undangan, souvenir, seserahan, sampe masalah kesiapan fisik dan mental.  Dan oh, tentu saja drama menjelang pernikahan. Hahahaa.
(Dulu sih niatnya persiapan pernikahan ini mau dibikin postingan sendiri-sendiri, seperti halnya para blogger papan atas itu, tapi lagi-lagi gak sempet. Syudahlah yaa..)

Oh iya, sekitar 2 bulan menjelang nikah itu juga saya sempet drop dan masuk rumah sakit. Lumayan serius diagnosanya. Infeksi di tenggorokan , infeksi di paru-paru, ada sedikit cairan di paru-paru (pneumonia) dan kebocoran ginjal. Iya, ini serius. Sempet kepikiran apa rencana nikahnya mau terus dilanjutin atau nggak, soalnya takut fisiknya gak kuat.
Ini sakitnya sebenernya beruntun. Awalnya sih cuma radang tenggorokan. Trus berobat, dikasihlah obat radang, yang ternyata kontraindikasi dengan maag saya yang emang sudah akut. Menyusul seminggu kemudian typus. Sudah mau sembuh, minggu kedua ambruk lagi. Typus lagi. Karena saya emang bandel sih, susah bener disuruh istirahat. Kebetulan waktu itu masih bolak-balik Jakarta-Lampung juga karena sibuk ngurus persiapan nikah, tapi kerjaan di Jakarta juga gak bisa ditinggal begitu aja. Beberapa kali malah nyetir sendiri Jakarta-Lampung PP. Jadilah typusnya sampe 2x.
Karena emang semangat banget pengen cepet sembuh demi lancarnya rencana nikah, semua obat saya telan. Entah sudah berapa kantong plastik obat yang saya abisin, dan efeknya? Yep, ginjal. Begitulah.

Untungnya setelah periksa ulang di dokter lain, ternyata ada kesalahan diagnosa. Ginjalnya gak bocor, Cuma ada sedikit pembengkakan. Iya, pembengkakan ginjal. Dan efeknya badan saya ikut bengkak semua-muanya. Dari pipi sampe ke kaki. Berat badan saya sampai naik 6 kilo hanya karena bengkak itu. Persis sapi gelonggongan.
 
Tapi Alhamdulillah saya bisa sembuh menjelang nikahan walopun berat badan sempet susut 3 kg. Buat orang yang berat badannya selalu stabil dari tahun ke tahun seperti saya gini, turun 3 kilo itu sesuatu banget. Tapi ya bagus juga sih, jadi keliatan singset pas mau nikah. Hahaha

Jadi singkatnya, 2 Agustus 2014 akhirnya saya menikah. Banyak yang penasaran “kok bisa?” “sama siapa?” “kok dadakan?”
Nggak juga sebenernya. This is the guy yang akhirnya bisa bikin saya luluh dan mau berkomitmen, yang bisa meyakinkan saya bahwa ‘bersama kita bisa’ (hahay..macem SBY aja), yang bikin penantian sepanjang usia ini akhirnya menemukan persinggahan.  Laki-laki yang mau diajak ngobrol sampe ketiduran, yang bisa jadi teman duduk di sofa nyaman sambil membaca, yang kadang juga rasanya mau dipites karena jadi makhluk paling nyebelin di dunia. Hahaha..  Love him in the simplest way. 


Oiya, mulai Agustus itu juga saya resign dari kerjaan saya sebagai dosen di Jakarta and moving with him to our home in a small town. Banyak yang bilang sayang, banyak juga yang ngira saya disuruh sama suami, padahal nggak. Ini maunya saya kok, dan sama sekali gak ada rasa keterpaksaan.

In fact, saya sekarang lagi menikmati masa-masa ngurus suami dan rumah kecil kami. Ada seorang teman yang bertanya kabar, dimana sekarang, sedang S3 kah somewhere out there? Saya bilang nggak. I’m a happy busy wife now. 

Ini agak aneh ya, banyak orang yang ngira dengan menikah dan ikut suami begini maka saya terpaksa mengubur dalam-dalam niat untuk sekolah lagi. Padahal nggak juga sih. Buat saya sekolah lagi itu bukan perkara mengejar title atau penyetaraan jabatan di dunia kerja. Sekolah itu soal belajar, soal nyari ilmu. Dan itu gak ada masa expirednya. Sekarang saya lagi seneng aja dengan kehidupan sebagai istri. Tapi itu kan gak berarti juga saya berhenti belajar. Setidaknya belajar jadi istri (dan insyaallah Ibu) yang baik lah..

Trus sekarang kesibukannya ngapain? Beberesan melulu. You know, for an anancastic* person like me, ‘beberesan’ could be a never ending story. Rumahnya cuma seuprit tapi beberesannya ra uwis-uwis. Hahahha… Ah iya, saya belum punya foto rumah ya. Ntar deh, kapan-kapan diupload.

Oh iya, ketika nikahan kemarin saya juga minta satu set ensiklopedi Islam sebagai (sebagian dari) maharnya. Jadi, hohohoho… seneng banget disuplai bahan buat belajar di rumah. At least 2 tahun gak beli buku juga gak papa kayanya sih. Doain aja semangat baca saya nggak anget-angetan seperti semangat menulis saya ya.

Yowes, itu dulu ceritanya. 00:08 am right now. So happy that I finally can finish a post, after a long hibernation. Hahaha.
Buat yang penasaran karena gak sempet lihat nikahan saya, ini ada videonya highlight-nya. Enjoy!





* Kepribadian Anankastik
Ciri utama tipe kepribadian ini adalah perfeksionisme dan keteraturan, kaku, pemalu, disertai dengan pengawasan diri yang tinggi

2 comments:

-Be said...

* Kepribadian Anankastik
Ciri utama tipe kepribadian ini adalah perfeksionisme dan keteraturan, kaku, PEMALU, disertai dengan pengawasan diri yang tinggi

ade suryani said...

Iya, pemalu..
*mesem-mesem di pojokan*