Menulis itu seperti olah raga, semakin sering dilakukan, semakin bagus kualitasnya. Tapi mempertahankan konsistensi berolah raga itu nggak gampang. Sekalinya ditinggalkan akan susah untuk memulainya lagi. Menulis juga gitu. Once you feel the comfort of writing, you’ll do it often. Tapi sekalinya jeda menulis, ngumpulin niat dan memulainya lagi itu susahnya bukan main.
Lihat beberapa postingan saya (sekitar 1-2 tahun) terakhir,
selalu ada jeda cukup lama dari tulisan sebelumnya, dan tiap kali memulai menulis biasanya diawali
dengan ocehan tentang betapa pemalasnya saya untuk menulis, kemudian diikuti
dengan niat harus mulai rajin nulis lagi. Iya, seperti halnya postingan kali
ini. Hahahaa. Dan selalu saja itu berakhir sama dengan niat saya jogging
selepas subuh.
Besok mau jogging ah, dan niat cuma tinggal niat. Sepatu
lari saya masih aja nyempil di pojokan.
Mulai sekarang mau rajin ngeblog lagi ah, dan kemudian
senyap hingga 6 bulan, blognya debuan. Haha..
Entah ini excuse atau bukan ya, tapi 6 bulan terakhir ini
saya emang sibuknya bukan main. Halah, macem Sri Mulyani ngurus Bank Dunia aja sibuknya. Hahahha. Nggak, beneran. Kemarin-kemarin itu ceritanya
saya sibuk ngurusin pernikahan. Yep, I am a married woman now ;)
Dimulai dari Maret itu otak rasanya udah bercabang lima
belas. Segala sesuatunya memang kami urus sendiri. Things like milih bahan
untuk seragam keluarga, format acara, undangan, souvenir, seserahan, sampe
masalah kesiapan fisik dan mental. Dan
oh, tentu saja drama menjelang pernikahan. Hahahaa.
(Dulu sih niatnya persiapan pernikahan ini mau dibikin
postingan sendiri-sendiri, seperti halnya para blogger papan atas itu, tapi
lagi-lagi gak sempet. Syudahlah yaa..)
Oh iya, sekitar 2 bulan menjelang nikah itu juga saya sempet
drop dan masuk rumah sakit. Lumayan serius diagnosanya. Infeksi di tenggorokan
, infeksi di paru-paru, ada sedikit cairan di paru-paru (pneumonia) dan
kebocoran ginjal. Iya, ini serius. Sempet kepikiran apa rencana nikahnya mau terus
dilanjutin atau nggak, soalnya takut fisiknya gak kuat.
Ini sakitnya sebenernya beruntun. Awalnya sih cuma radang
tenggorokan. Trus berobat, dikasihlah obat radang, yang ternyata kontraindikasi
dengan maag saya yang emang sudah akut. Menyusul seminggu kemudian typus. Sudah
mau sembuh, minggu kedua ambruk lagi. Typus lagi. Karena saya emang bandel sih,
susah bener disuruh istirahat. Kebetulan waktu itu masih bolak-balik
Jakarta-Lampung juga karena sibuk ngurus persiapan nikah, tapi kerjaan di
Jakarta juga gak bisa ditinggal begitu aja. Beberapa kali malah nyetir sendiri
Jakarta-Lampung PP. Jadilah typusnya sampe 2x.
Karena emang semangat banget pengen cepet sembuh demi
lancarnya rencana nikah, semua obat saya telan. Entah sudah berapa kantong plastik
obat yang saya abisin, dan efeknya? Yep, ginjal. Begitulah.
Untungnya setelah periksa ulang di dokter lain, ternyata ada
kesalahan diagnosa. Ginjalnya gak bocor, Cuma ada sedikit pembengkakan. Iya, pembengkakan
ginjal. Dan efeknya badan saya ikut bengkak semua-muanya. Dari pipi sampe ke
kaki. Berat badan saya sampai naik 6 kilo hanya karena bengkak itu. Persis sapi
gelonggongan.
Tapi Alhamdulillah saya bisa sembuh menjelang nikahan
walopun berat badan sempet susut 3 kg. Buat orang yang berat badannya selalu
stabil dari tahun ke tahun seperti saya gini, turun 3 kilo itu sesuatu banget.
Tapi ya bagus juga sih, jadi keliatan singset pas mau nikah. Hahaha
Jadi singkatnya, 2 Agustus 2014 akhirnya saya menikah.
Banyak yang penasaran “kok bisa?” “sama siapa?” “kok dadakan?”
Nggak juga sebenernya. This is the guy yang akhirnya bisa
bikin saya luluh dan mau berkomitmen, yang bisa meyakinkan saya bahwa ‘bersama
kita bisa’ (hahay..macem SBY aja), yang bikin penantian sepanjang usia ini
akhirnya menemukan persinggahan.
Laki-laki yang mau diajak ngobrol sampe ketiduran, yang bisa jadi teman
duduk di sofa nyaman sambil membaca, yang kadang juga rasanya mau dipites
karena jadi makhluk paling nyebelin di dunia. Hahaha.. Love him in the simplest way.
Oiya, mulai Agustus itu juga saya resign dari kerjaan saya
sebagai dosen di Jakarta and moving with him to our home in a small town.
Banyak yang bilang sayang, banyak juga yang ngira saya disuruh sama suami, padahal
nggak. Ini maunya saya kok, dan sama sekali gak ada rasa keterpaksaan.
In fact, saya sekarang lagi menikmati masa-masa ngurus suami
dan rumah kecil kami. Ada seorang teman yang bertanya kabar, dimana sekarang,
sedang S3 kah somewhere out there? Saya bilang nggak. I’m a happy busy wife
now.
Ini agak aneh ya, banyak orang yang ngira dengan menikah dan
ikut suami begini maka saya terpaksa mengubur dalam-dalam niat untuk sekolah
lagi. Padahal nggak juga sih. Buat saya sekolah lagi itu bukan perkara mengejar
title atau penyetaraan jabatan di dunia kerja. Sekolah itu soal belajar, soal
nyari ilmu. Dan itu gak ada masa expirednya. Sekarang saya lagi seneng aja
dengan kehidupan sebagai istri. Tapi itu kan gak berarti juga saya berhenti
belajar. Setidaknya belajar jadi istri (dan insyaallah Ibu) yang baik lah..
Trus sekarang kesibukannya ngapain? Beberesan melulu. You
know, for an anancastic* person like me, ‘beberesan’ could be a never ending story.
Rumahnya cuma seuprit tapi beberesannya ra uwis-uwis. Hahahha… Ah iya, saya
belum punya foto rumah ya. Ntar deh, kapan-kapan diupload.
Oh iya, ketika nikahan kemarin saya juga minta satu set
ensiklopedi Islam sebagai (sebagian dari) maharnya. Jadi, hohohoho… seneng
banget disuplai bahan buat belajar di rumah. At least 2 tahun gak beli buku
juga gak papa kayanya sih. Doain aja semangat baca saya nggak anget-angetan
seperti semangat menulis saya ya.
Yowes, itu dulu ceritanya. 00:08 am right now. So happy that
I finally can finish a post, after a long hibernation. Hahaha.
Buat yang penasaran karena gak sempet lihat nikahan saya, ini ada videonya highlight-nya. Enjoy!
* Kepribadian Anankastik
Ciri utama tipe kepribadian ini adalah perfeksionisme dan keteraturan, kaku, pemalu, disertai dengan pengawasan diri yang tinggi
Ciri utama tipe kepribadian ini adalah perfeksionisme dan keteraturan, kaku, pemalu, disertai dengan pengawasan diri yang tinggi


2 comments:
* Kepribadian Anankastik
Ciri utama tipe kepribadian ini adalah perfeksionisme dan keteraturan, kaku, PEMALU, disertai dengan pengawasan diri yang tinggi
Iya, pemalu..
*mesem-mesem di pojokan*
Post a Comment