Sunday, June 17, 2012

Dieng, Negeri di awan (part 2)

Akhirnya, post ke-2 datang juga! hahaha.. Lanjut ya, kita kali ini akan ngebahas tempat-tempat yang saya kunjungi selama di Dieng. Jadi sore itu setelah makan dan mengistirahatkan badan sebentar, saya memutuskan jalan ke arah kompleks Candi Arjuna. Lokasinya dekat dari homestay tempat saya menginap. Kalo jalan kaki paling cuma 5 menit. Masuk ke area candi diminta bayar tiket 10.000. Ini berlaku untuk masuk ke kompleks Candi Arjuna dan Kawah Sikidang yang jaraknya gak terlalu jauh. 

Oh iya, kira-kira setahun yang lalu saya pernah posting soal candi-mencandi di blog ini juga, (baca di sini kalo merasa itu penting) yang intinya sebenarnya adalah soal keinginan saya mengunjungi candi-candi yang ada di Indonesia. Kasian, sampe umur segini saya belum pernah mengunjungi candi satupun. Hehehe. Nah, maka kesempatan mengunjungi kompleks Candi Arjuna ini bikin saya antusias karena inilah candi pertama yang akan saya kunjungi. Dan you know what? Entah kebetulan atau bukan, tapi Candi Arjuna adalah candi tertua di Indonesia! Yap, berdasarkan catatan sejarah, candi ini dibangun sekitar abad ke 7-8 M, bahkan lebih tua dari Borobudur. Di kompleks ini berdiri 8 candi, yaitu: Semar, Banowati, Puntadewa, Srikandi dan Sembadra. Agak jauhan dikit dari  candi ini ada Candi Bima, Candi Gatotkaca dan Candi Setyaki. 


Kompleks Candi Arjuna
Kalau kamu tertarik sama arkeologi dan ingin tau sejarah kawasan Dieng, di seberang Candi Gatot Kaca ini ada Museum Kailasan. Masuk ke sini bayar lagi 5.000. Koleksinya memang gak banyak, tapi lumayan banget nambah pengetahuan. Ada juga film dokumenter pendek yang menjelaskan soal asal mula terbentknya wilayah Dieng dan penjelasan soal candi-candian. Dari film ini saya baru tau lho kalo Dieng itu posisinya PAS! ditengah-tengah pulau Jawa-Bali. Jarak dari Dieng ke ujung barat pulau Jawa dan ke ujung timur pulau Bali, itu jaraknya sama: 500 Km. Gak percaya? Itung aja sendiri atau liat di peta. Hehehe.
Museum Kailasa Tampak Depan

pintu masuk Museum Dieng "Kailasa"
Inside the museum
Keluar dari museum, udara sore itu sudah mulai terasa dingin menggigit disertai hujan gerimis. Saya akhirnya balik lagi melalui pintu utama dan memilih untuk berteduh sejenak dan beli kentang goreng anget ditemani secangkir capuccino panas. Hmm... enak! Lumayan banget untuk teman berteduh sambil diselingi dengan ngobrol-ngobrol ringan dengan pemilik warung. Udara dingin gini emang bikin laper melulu yaa...*alesan. Hehehe. Oh iya, komoditi utama kawasan Dieng ini adalah kentang, selain ada juga wortel, kubis, bawang dan sayuran lainnya. Dieng sendiri adalah penghasil utama kentang di Indonesia. Makanya gak heran kalo kemana-mana gampang banget nemu jualan kentang goreng. Kalau keliling Dieng pun, kanan kiri dan pemandangan di sepanjang jalan adalah perkebunan kentang dan sayuran.
Kentang Goreng Anget.. nyam nyam...
Menjelang magrib saya balik ke homestay sambil menahan gigil. Dan udara dinginnya bener-bener terasa sampai malem. Menjelang subuh apalagi. Ampun! Malam itu aja saya tidur dengan kaos tangan panjang, celana panjang, kaos kaki, dililit phasmina, tambah lagi sarung bali dan terakhir dilapis selimut yang lumayan tebal. Tapi tetep aja dinginnya terasa sampai ke tulang. Soalnya gak ada yang bisa dipeluk pas tidur sih.  Hhehehee..
Alhasil pagi itu saya bangun dengan badan ngilu. Mungkin karena capek juga seharian sebelumnya menempuh perjalanan panjang, ditambah juga posisi tidur yang meringkuk sepanjang malam nahan dingin. Duh..males bangeeettt rasanya bangun dari kasuuurr... Tapi perjalanan hari ini masih panjang, masih banyak yang perlu dilihat di luar sana. Maka saya memesan secangkir kopi panas sama ibu pemilik homestay biar nyawa sedikit ngumpul. 

Pagi itu saya duduk di sofa, dengan mata masih sepet, sambil memegang cangkir kopi hangat, saya ngobrol-ngobrol sebentar sama Pak Yanto sang pemilik homestay. Tanya-tanya gimana enaknya mengunjungi semua objek wisata di sekitar Dieng. Pak Yanto nawarin sewa ojek. 150 ribu bisa mengelilingi semua objek yang ada seharian penuh, ditambah lagi mengejar sunrise subuh besoknya. Pokoknya tinggal duduk dan tau beres, katanya. Hmmm... saya mikir-mikir dulu, mahal gak ya??
Trus saya juga tanya-tanya gimana cara termudah untuk bisa sampai ke Pekalongan. Dan ternyata cukup ribet juga. Harus 4 kali ganti bis, atau kalau mau lebih mudah ya terpaksa balik dulu ke Wonosobo trus ke Purwokerto, baru cari bis ke arah Pekalongan. Halah..ribet banget bolak balik. Sudahlah, Pekalongan kayanya skip aja. Lagian saya juga belum tau ke Pekalongan itu mau ngapain dan ke mana. Cuma pengen ke Museum Batik doang sih, selebihnya...gak tau. hehe..

Lagi mikir-mikir gitu, ada penghuni kamar sebelah yang baru tiba subuh tadi. Pak Yanto bilang (sambil nengok ke arah saya) "ini mas-mas nya dari Jakarta juga mbak", trus bilang lagi (sambil nengok ke 3 orang mas-mas itu) "ini mbaknya sampai sini kemarin siang, dari Jakarta juga. Sendirian". Dengan penekanan dan sedikit nada iba di bagian "sendirian" itu, kesannya saya kok kaya' anak ilang ya. hehehhee.. Maka setelah ngobrol-ngobrol dan kenalan singkat (diketahui bahwa mereka bernama Urif, Tedy, dan Jamal --> bukan nama KTP sepertinya) maka secara resmi terbentuklah Gank Jakarta pada pagi itu. Dimulai dengan adegan sarapan bersama, sejak saat itu kami tidak terpisahkan kecuali di waktu mandi dan tidur. Aih..kompak bener! Hahahhaa..

Hayo tebak, mana yg Jamal, mana yg Urif, dan mana yg Tedy?
*kuis penting

Ada beberapa spot yang kami kunjungi hari itu. Kami keliling sewa ojek, 3 motor, masing-masing 150 ribu. Yang jadi guide kami gak lain adalah keluarganya Pak Yanto juga. Yang mboncengin saya cucunya, namanya Ibnu, baru lulus SMA. Kalo ngomong selalu ujungnya menggantung. Contoh:
Saya : "Nu, kok di sini makanan bisa murah banget ya?"
Ibnu  : "Iya..." (dengan nada re di bagian ujungnya).... *trus diem*
            ...
            
Hahahahha...
Okeh, kita tinggalkan dulu si Ibnu. Saya mau nyeritain objek-objek yang sempat kami singgahi selama di Dieng ini. Rangkumannya aja yaa...banyak soalnya. Here they are:

1. Telaga Warna
Tiket masuk: 6000 per gundul. Ini salah satu spot utama di Dieng. Disebut telaga warna karena telaga ini memantulkan beberapa warna mulai dari hijau, tosca, kebiru-biruan, biru terang, biru gelap, bahkan agak hitam. Keliatannya sih seger banget buat berenang, tapi jangan coba-coba, karena airnya mengandung belerang yang cukup pekat. Di samping Telaga Warna juga ada Telaga Pengilon, atau kadang disebut Telaga Cermin, soalnya airnya berkilauan seperti kaca cermin. 

indahnya gradasi warna di Telaga Warna
Telaga Warna dilihat dari atas bukit. Yang belakangnya adalah Telaga Pengilon


2. Gua Semar, Gua Jaran, Gua Sumur, Gua Pengantin


Gua Semar
Gua-gua ini masih berada satu lokasi dengan Telaga Warna dan Pengilon di atas. Konon gua-gua ini sering dipakai bertapa oleh Presiden Soeharto dulunya. Sampai sekarang juga masih banyak orang yang bertapa di sini pada waktu-waktu tertentu. Kalo lagi gak dipakai, guanya di tutup/ dipagari. Jadi gak sembarang orang boleh masuk. Di samping gua ada air kesucian yang disebut Tirta Prawitasari  (kaya nama orang ya..?)


3. Dieng Plateau Theatre (DPT)
Masuk ke teaternya bayar lagi 4000. Ini sebetulnya wahana edukasi audio visual tentang Dieng. Di sini akan diputar sebuah film dokumenter berjudul "Bumi Khayangan: Dieng Plateau". Filmnya cuma sekitar 20menitan sih, tapi (maap lho inimah) saya ngantuk nontonnya. Filmnya masih sisa-sisa peninggalan orde baru yang gaya narasinya itu sumpah mati ngebosenin. Hehehe

Gedung Dieng Plateu Theatre

Pepotoan dulu di depan sambil nunggu pintu teaternya dibuka

4.  Candi Bima
Saya lupa, masuk sini bayar lagi gak ya? Soalnya ini masih satu gank dengan Candi Arjuna itu sih.. 

Candi Bima
5. Kawah Sikidang
Tiket masuknya udah sekalian sama tiket masuk kompleks Candi Arjuna: 10 ribu. Kenapa namanya Sikidang? Soalnya kawah ini kaya anak kijang (kidang) yang suka jingkrak-jingkrak. Ha? Maksudnya?? Iya..jadi sumber air panasnya itu suka pindah-pindah, kadang di sini, kadang di sono. Loncat-loncat gak tentu gitu.
Kawah Sikidang. Kalo ke sini tutup idung deh. Aroma belerangnya pekat banget.

6. Telaga Merdada
Satu orang bayar 5000. This is my fave spot. Airnya tenaaaaannggg banget. Dikelilingi hamparan rumput hijau yang lembut dan perbukitan disekelilingnya. Enak banget buat rebahan. Pengennya sih bisa berlama-lama di sini. Tapi masih banyak objek lain yang mau dikunjungi. Lanjuuuttt...

 Heavenly Telaga Merdada
Click image for larger view

7. Pemandian Air panas
Masuk sini gak bayar. Ini cuma kaya' pemandian umum gitu kok. Tempat mandinya ada 2 tingkat, satu khusus laki-laki dan satunya khusus perempuan.


Saya gak mandi di sini, takut ntar dikira bidadari.. hehehee 
*plak!!

8. Sumur Jalatunda
Masuk sini bayar lagi 5000 per gundul. Ini sumur alami. Gak tau kedalamannya berapa meter. Katanya sih sampe 200-an, tapi saya gak ngukur. Hehehe. Di sini kita boleh coba peruntungan lempar batu kerikil. Kalo batunya mencapai ujung tebing sumur, konon yang jadi permohonan kita bisa terwujud. Saya mah gak nyoba. 

Ini ngambil fotonya sampe manjat-manjat,
biar permukaan sumurnya bisa keliatan
9. Kawah Sileri
Siapin lagi uang 5000an untuk masuk sini. Nama Sileri itu artinya airnya seperti air cucian beras (Leri -Bahasa Jawa). Kawahnya di tengah perbukitan gitu. Turunnya sih enak, melenggang. Tapi naiknya lagi lumayan jugaa.. bikin ngos-ngosan

Pintu masuknya, siapin gocengan jangan lupa
Uap panasnya ngebul


Kalau ada di antara pembaca yang budiman sekalian ingin mencoba sauna dengan uap belerang, bolehlah mencoba foto di tepi kawahnya seperti saya ini


Hati-hati tapi yaa..kepeleset dikit, wassalam.

Sebetulnya setelah dari Kawah Sileri, kami berniat mengunjungi Kawah Candradimuka. Whuiii...namanya gimanaa gitu ya. Tapi sayang banget, berhubung jalanan ke arah sana curam dan jelek, agak susah dilalui oleh motor, jadi kami gak mampir ke Kawah Candradimuka. Sayang sekalii...

Oh iya, berhubung tiga pemuda tampan itu belum sempat mengunjungi Candi Arjuna sebelumnya (bentar, saya nulis "tampan" di situ cuma buat nyeneng-nyenengin mereka aja lho yaa), maka perjalanan kami lanjutkan ke candi-candian itu. Saya sih gak masuk lagi, nungguin aja di warung pinggirnya. Sempet juga nyobain Carica (baca: Karika), buah khas Dieng yang hampir mirip sama pepaya.

pohon Carica. foto diambil dari sini
Waktu pertama kali sampai di Dieng, saya memang sempat merhatiin pohonnya. Saya pikir: ih lucu ya pohon pepaya di sini, buahnya kecil-kecil, gerombolan gitu, trus pohonnya pendek, dan bercabang pula. Ternyata saya salah!! hahaha...itu bukan pepaya, tapi carica. (baru tau dari Ibnu). Belakangan, dari TV saya tau, katanya pohon Carica itu cuma tumbuh di Dieng dan pegunungan Andes. Hanya tumbuh di dataran tinggi aja (antara 1500-3000 mdpl). Nah, penduduk Dieng mengolah buah ini jadi manisan yang jadi oleh-oleh ciri khasnya Dieng.
Saya sendiri sebetulnya gak suka sama pepaya. Tapi atas nama penasaran, saya cobain lah itu buah Carica yang versi aslinya, bukan yang sudah dibikin manisan yaa. Rasanya asem-asem kaya markisa gitu. Kalo dikunyah agak alot. Bijinya jangan sampai kegigit..ntar jadinya pahit. Makannya bisa apa adanya, atau bisa juga ditambah sama gula.

Carica yang sudah matang warnanya kuning, persis pepaya.
Tapi versi mini. Yang di botol itu manisan carica-nya

Nah pemirsa, itulah sebagian liputan jalan-jalan hari ke-2 di Dieng. Acara muter-muter hari itu kami tutup dengan sesi foto dan leyeh-leyeh di kompleks Candi Arjuna, sambil ngopi-ngopi lagi, dan ngemil kentang goreng lagi. Dingin boi....laper jadinya. hahahhaa.

leyeh-leyeh di pelataran candi
sambil foto lagi...
dan foto lagi... heehhe

Tapi besoknya masih ada cerita lagi lho, salah satunya adalah perjalanan kami di subuh-subuh nan dingin demi mengejar golden sunrise dari bukit Sikunir. Dan gak ketinggalan juga, ada cerita wisata kulinernya! Hohhoo.. Seperti apa ya kira-kira?

Nantikan Kelanjutannyaa!! 


2 comments:

URIF JAMAL TEDY said...

begitu dapet notifikasi di inbox kalo cerita dieng part 2 nya udah di publish, langsung nyalain netbook, buka link yg dikasih mba ade, baca ceritanya, dan kesan pertama yaitu "asikkkk nama dan foto kita ada di internet, siapa tau bisa terkenal" #gak mungkin yaa. hehe

terimakasih lo ceritanya mba ade

ade suryani said...

@urif jamal tedy: hahaha...ya lumayan lah, paling gak bisa nampang di sini :D