Tau doong maksudnya apa kalo saya nulis judul tentang Frequently Asked Question? Yes, pertanyaan "kapan nikah" itu maksud saya. Ada yang bosen ditanya gitu? Ada? Ada? wih...rame ternyata. haha...
Saya nulis post kali ini bukan bermaksud mengeluh tentang betapa nyinyirnya pertanyaan itu, atau betapa bosennya denger pertanyaan itu setiap kali kondangan atau arisan keluarga. No. It's clear enough, I guess. Saya justru di sini berniat untuk menjawab pertanyaan itu sendiri. Iya, saya mau menjawabnya. Secara logis dan lapang dada. Hehehe..
Oke, kita uraikan dulu satu persatu. Dimulai dari pertanyaan: Umur berapa target menikah?
Hmmm...Seperti yang pernah saya tulis di sini, saya dulu pasang target menikah di umur 25. Berarti udah lewat. Sudah hampir 2 tahun terlewati.
Lha trus, kenapa gak nikah?
Bukan gak mau. Tapi jodohnya belum sampe, trus mau gimana?
Gini ya, siapa sih yang gak kepingin nikah? Saya juga pingin lah pasti. Ada yang bilang, mungkin karena terlalu pemilih...terlalu fokus mengejar karir. Nggak juga.
Iya saya tau, umur segini di mata sebagian orang mungkin sudah umur "lampu kuning", apalagi buat perempuan ya. Banyak yang bilang, ntar umur berapa lagi mau punya anak. Ntar begini..ntar begitu lah..Tapi buat saya, ini bukan cuma perkara umur atau kondisi biologis perempuan lho ya. Oke, itu satu hal yang penting juga. Tapi gini, kalo soal umur berapa dan batasan usia produktif perempuan untuk melahirkan, saya percaya dan selalu berpegangan pada satu hal: Allah sudah mengatur semuanya terjadi tepat pada waktunya. Perempuan yang udah berusia 40 tahun, kalo Allah bilang bisa hamil mah hamil aja. Semua sudah ada ketentuannya, tinggal gimana kita yang berusaha, memang.
Nah, pertimbangan saya untuk pengen segera menikah itu bukan hanya perkara umur dan produktivitas biologis itu saja. Tapi ini juga soal tujuan hidup. Tujuan hidup. Sekali lagi, tujuan hidup! (biar terkesan serius gitu..hehhee)
Bisa dibilang, prioritas utama dalam hidup saya saat ini adalah menikah. Kenapa? Karena keputusan selanjutnya dalam hidup saya akan bergantung kepada pernikahan itu sendiri. Begini, saya jabarkan.
1. Saya punya niat untuk melanjutkan pendidikan ke S3. Dengan catatan, itu kalau saya mau meneruskan karir sebagai dosen. Ya, ini memang belum tentu akan saya jadikan karir jangka panjang
2. Karir saya sebagai dosen ini tergantung pada kota mana yang akan saya tinggali nantinya. Kalau masih di Jakarta atau Bandung, mungkin masih akan berlanjut ngajar. Tapi kalau ke Lampung..hmm.. kemungkinannya agak kecil sepertinya
3. Masalah kota mana yang akan menjadi perhentian saya selanjutnya itu, sudah pasti akan ditentukan oleh lelaki mana yang akan saya nikahi. Kalau dia orang Lampung, misalnya, maka kerjaan saya di Jakarta ya akan saya tinggalkan atas nama ikut suami dan hijrah ke Lampung. Tapi kalau ternyata jodoh saya orang Jakarta atau nantinya memilih untuk tinggal di Jakarta, ya soal pekerjaan itu mungkin tidak akan banyak perubahannya.
4. Balik lagi ke point 1 tadi, niat S3 atau tidak itu juga nantinya pasti akan ditentukan oleh pihak lain yang bernama suami itu. Kalau memang saya mendapat kesempatan sekaligus izin dari pihak yang berwenang itu, mungkin akan lanjut ambil program doktor. Entah di Indonesia, entah di mana. Tapi kalau ternyata nggak diizinkan, ya sudah..
5. Kalau saya misalnya nggak lanjut S3, gak melanjutkan pekerjaan sebagai dosen, maka saya harus mencari alternatif pekerjaan yang bisa saya lakukan setelah menikah. Pegawai negeri? Swasta? Usaha sendiri? Hmm...belum kepikiran detilnya sih.
6. Kalo gitu kenapa gak ngambil S3 dulu aja, sambil menunggu jodoh yang belum tau kapan akan mampir itu? Kalo soal yang ini ibu saya yang gak setuju. Sekolah terus ntar seret jodoh katanya. Laki-laki udah takut duluan kalo liat perempuannya udah kepinteran. Konon begitu.
Nah..nah.. 6 point itu aja sudah cukup membuat pusing kan? Dan jelas sekali dari uraian itu, bisa kita simpulkan bahwa keputusan untuk menikah akan menentukan tahapan-tahapan dan tujuan hidup saya yang lainnya. Keputusan untuk S3-career settlement dan kawan-kawannya terpaksa harus ditunggu sampai ada kejelasan kapan saya menikah. Begitu skala prioritasnya.
Sejauh ini, selama keputusan menikah itu belum jelas juntrungannya, bisa dibilang hidup saya juga gak jelas arahnya. Mau fokus di karir, rasanya kok masih setengah hati... Mau mulai daftar-daftar S3, pertimbangannya lebih banyak lagi. Haduh..gak enak sebenernya hidup dengan ketidakpastian semacam ini. Makanya saya kepingin nikah aja. Kalau sudah menikah, atau setidaknya, sudah mulai jelas kapan akan menikahnya, saya bisa lebih enak mengatur arah dan tujuan hidup selanjutnya. Begicyu..
Jadi, kalau besok besok saya menghadiri kondangan nikahan temen atau ketemu tante tente saya yang nyinyirnya luar biasa di arisan keluarga, dan pertanyaan "Kapan Nikah?" itu tadi diajukan lagi, mulai sekarang saya bisa menjawab dengan (sedikit) lebih tegas: LEBIH CEPAT LEBIH BAIK!
There.
Biar mereka puas.
*dan semoga saja tidak berlanjut ke pertanyaan berikutnya: "Calonnya mana?"

No comments:
Post a Comment