Friday, October 26, 2007

bahagianya bocah-bocah

Saya baru aja selesai membaca Laskar Pelangi. Waktu pulang lebaran kemarin, kakak saya cerita dengan hebohnya ada novel tetralogi yang lagi booming di Indonesia. Mungkin dia melihat muka saya yang -antara gak up-date banget dan mupeng pengen baca. Gak lama, dateng deh kiriman dia dari Bandung, 3 novel Andrea Hirata, 'Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor'. Hmm.. tampak menggoda.

Dan buku pertamanya langsung menjadi teman saya selama hari-hari terakhir di Lampung, perjalanan di kereta, menunggu kawan selesai liputan, bahkan sampai Airport menjelang keberangkatan. Arrgghh..susahnya ngelepasin buku ini. Sekali baca gak mau lepas! Hahaha... It's amazingly enjoyable!

Saya begitu terbawa ketika si "ikal" menceritakan saat para Laskar Pelangi bermain hujan, main tarik-tarikan pake pelepah daun pinang, main lumpur dan kubangan becek, bahkan sampe nyemplung di got! Hahahaha... Asik banget.!!
Tapi ironisnya, selesai melewati halaman-halaman itu saya mendongak dan melihat anak-anak kecil di lampu merah, mengemis di pusat kota Palembang. Ah..dan saya yakin banyak anak-anak lain di luar sana yang juga bernasib sama dengan mereka. Terjebak dalam hiruk pikuk kota, dibawah bayangan gedung-gedung perkantoran dan kepulan asap mobil yang semakin pekat.

Saya jadi terpikir, anak-anak ini masih bisa gak ya menari di bawah hujan? Mereka main lumpur di mana ya? Gak mungkin ada lumpur becek dan got lebar ditengah-tengah lampu merah gini kan??

Dan saya terus menerawang lagi. Anak-anak saya nantinya, apa juga masih bisa menikmati hujan seperti itu ya? Hmm..jangan-jangan anak saya nanti hidup di tengah-tengah mesin-mesin yang berjalan. hujannya bahkan mungkin sudah jadi hujan asam. Lumpur becek, apa mungkin masih ada ya???

Lalu saya bahas masalah ini dengan seonggok kawan yang sedang duduk di sebelah saya, dalam bis yang sama. Sebut saja dia Ema. Dan kami berdua sama-sama menerawang jauh. Lalu dia bilang "Jangan sampe anak gua nanti terkurung di sebuah Apartemen tinggi dan gak bisa mendengar suara hujan". Dan sayapun mengamini..

Hmm.. saya masih bersyukur hidup di zaman ini. Bahkan pernah merasakan enaknya mandi di kali, bergelayut pada gedebong pisang dan berkubang di sawah waktu kecil dulu. Bukan..bukan karena saya tinggal di kampung. Tapi itu masa-masa ketika "liburan ke rumah nenek" masih benar-benar nikmat dan bukan hanya ada di tugas mengarang kelas 3 SD. Saya bahagia pernah mengalami itu semua. Dan anak saya juga harus merasakan kenikmatan semacam itu!

Biarin.. biar dia mandi hujan, biar dia ngejar-ngejar bebek, atau bahkan maen bola di tanah merah dan pulang dengan baju sekolah super dekil. Biar dia menjadi anak-anak yang semestinya. Itu akan melengkapi masa hidupnya.

Dan Laskar Pelangi berhasil membuat saya rindu akan masa-masa menakjubkan ini. Dan untuk itu saya membuat catatan kecil di halaman depan buku itu "Berbahagialah anak-anak kampung yang masih bisa menikmati kuyupnya hujan dan lumpur becek dengan tawa yang membahana.."

Bravo untuk Andrea Hirata!!
Huuh...jadi gak sabar nih pengen baca buku ke 2,3 dan 4 nya. Penasaran pengen tau kelanjutannya. Pengen bertualan lagi mewujudkan segala mimpi. Tapi minggu ini minggu ujian. Huhuhu...Dan saya harus menahan sekuat tenaga untuk gak membuka plastik yang masih membungkus buku itu rapat-rapat, paling gak sampai 2 minggu kedepan.
Maka, atas nama Ilmu pengetahuan dan perjuangan mencari ilmu, saya ungsikan ketiga buku itu ke rumah teman dengan maksud menjauhkan diri dari segala godaan.ya.. saya harus belajar! Sebagaimana wangsit dari Tuk Bayan Tula dalam buku itu:
KALAU MAU BERHASIL DALAM UJIAN,
BUKA BUKU, BELAJAR!!
Hahahaha....

3 comments:

Jana said...

Wahaha, lucu+miris baca buku itu. tapi tetep, Bagoeeees bgt! Kita yang sekarang sadar kualitas tayangan tipi, dunia hiburan yang gak sehat, berpikir, kalo anak gua nanti, mau nonton tv gimana ya. masa nonton begituan.

haha, bersyukurlah kita yang dijurusan komunikasi belajar ttg media, mengetahui pengaruh besarnya yang tersembunyi pada jutaan orang.

Bersyukurlah kita yang pernah merasakan segarnya air hujan deras+segar, deraaas banget yang menguyur waktu pulang sekolah atau waktu dirumah nenek...

ade suryani said...

Nah, itu juga tuh!! Bener jan, gak kebayang gimana acara TV ntar, pas anak-anak kita lagi jaman ABG. (Ca'ilah..jauh bener mikirnya)

Hmm..mungkin gua perlu bikin sekolah alam sendiri, tapi ada kurikulum media literacy di dalemnya (hwwoo..)

Eriek said...

mau idealis, tapi ngga mungkin kalau masuk dan diterima jadi kru stasiun televisi swasta.

meskipun sebagian besar masyarakat resah dengan mutu tayangan televisi, tetap saja dari stasiun televisi jalan terus karena iklan juga terus mengalir.

mau punya stasiun televisi yang bermutu dan bagus, tapi belum punya modal.

ternyata memang masih banyak (menurut kita,red) tayangan yang tidak layak ditonton khususnya bagi anak-anak kecil.

tantangan ke depan akan sangat berat dengan derasnya arus media massa. jika tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi dong? :-)