Monday, September 24, 2007

selayang pandang Malaysia

Ini adalah beberapa foto waktu gua ada di daerah Pasar seni. Beberapa hari yang lalu gua sempet muter-muter ke Petaling Street, tempat belanja oleh-oleh khas Malaysia yang foto gerbangnya suka ada di majalah-majalah itu lho. Tapi sayangnya gua gak ngambil foto gerbangnya. Abis rame banget...rawan deh kaya'nya ngeluari hp dan foto-foto disana. Hmm..next time deh kalo kesana lagi, mungkin akan gua fotoin.

Nah kalo yang ini adalah foto gua di depan Masjid India, yang juga ada di daerah Pasar Seni itu. Masjidnya gede..dan bagus.. Kalo diperhatiin, dibelakang gua itu ada tenda-tenda. Itu tempat orang buka puasa bersama. Gratis. Dan sudah tentu rame banget ! Disini, satu jam sebelum azan magrib semua orang udah duduk di depan meja dengan hidangan lengkap menggugah selera, dan mereka tampak seolah-olah siap menerkam semuanya. Padahal masih lama bedugnya! Hahahaa...

Nah, kalo yang ini adalah foto saat senja di kawasan deket Centra Market. Ini termasuk kawasan yang padet, banyak pertokoan, banyak kantor-kantor, dan banyak juga pedagang-pedagang di pinggir jalan. Uniknya, disini ada perbauran antara bangunan-bangunan gagah perkantoran, dengan bangunan-bangunan etnik dan antik. Bagus deh..


Dan foto yang satu ini ialah...Foto poster iklan Coca-Cola yang gua ambil dari depan sebuah mini
market deket gua tinggal. Ini adalah iklan edisi Ramadhan nya.Aneh ya, Iklannya pake bahasa arab (gua juga gak ngarti bacaannya apaan). dan gak ada logo coca cola dengan huruf C nya yang meliuk-liuk dan sudah sangat popular itu.. Tulisan di botolnya cuma "COKE" dengan bentuk yang biasa.
Di iklan ini seolah-olah Coca-Cola (dengan segala atribut Americanism di belakangnya) berusaha menghilangkan imejnya yang sangat "Barat" dan sangat "Amerika" itu. Dengan embel-embel melakukan kegiatan amal melalui hasil penjualannya dan mengajak kita semua melakukan kebajikan dengan membeli minuman soda itu.

Huh, padahal mah tetep aja ya, Coca-cola ya coca cola, walopun diubah pake bahasa Arab atau bahasa Urdu sekalipun, tetap saja itu Amerika dan segala "cultural imperialism" dibelakangnya.

No comments: