Monday, August 28, 2006

advokasi untuk lelaki buaya


Ini merupakan sedikit analisis terhadap beberapa lirik lagu. Bukannya sok pakar, gue sih Cuma sekedar seorang (dangkal) yang (sok) berparadigma kritis dan (sok) peka terhadap perkembangan dunia musik. Cieee..hehehehe

Tau lagunya Ratu yang Lelaki Buaya Darat itu kan? Tau lah… Sebuah lagu yang kalo didenger sekilas sih menggambarkan bego’nya si cewek yang mau ketipu sama si Lelaki Buaya Darat itu. Tapi sebentar, ada sedikit kejanggalan yang saya tangkap di lirik lagi tersebut (ehm, mulai deh sok pakarnya) Kaya’nya kok aneh ya denger ungkapan “Lelaki Buaya Darat’. Kalo saya gak salah tafsir, perumpamaan itu menggambarkan sesosok lelaki yang playboy, suka ngegombal, tebar pesona ke cewek-cewek, sudah dapet ceweknya trus ditinggalin dan cari cewek lain lagi. Bener gak penafsiran saya? Nah, saya tuh gak ngerti ya asal mulanya perumpamaan ini muncul dari mana. Tapi kalo secara ilmiah –dan ini valid--, BUAYA BUKANLAH TIPIKAL BINATANG YANG SEPERTI ITU. Buaya (jantan) tidak menebarkan pesonanya ke setiap buaya betina yang ditemuinya, gak berpoligami, apalagi sampe anak-istrinya bececeran dimana-mana. Buaya adalah salah satu makhluk hidup yang setia sama pasangannya. Karena seumur hidupnya buaya Cuma kawin 1x aja. Nah itu juga yang jadi alasan kenapa kalo orang betawi kawinan bawa roti buaya. Selain melambangkan kejantanan, buaya juga melambangkan kesetiaan. Gituuu... jadi ada pemaknaan terhadap kata “buaya” yang beda disini. Tapi kenapa ya istilah “lelaki buaya” itu udah terstereotipe dengan kata “playboy”? Kaya’ di lagunya Irwansyah (yang OST. My Heart itu loh..) Ada liriknya yang bilang “aku memang pencinta wanita, tapi ku bukan buaya”. Tuh kan, aneh jadinya kalo lagu ini di-kroscek dengan kehidupan asli buaya yang saya jabarin diatas tadi. Harusnya laki-laki tuh seneng dong kalo dibilang “Lelaki buaya”, dan cewek-cewek justru harusnya lebih seneng lagi kalo punya pacar “buaya”, ya nggak? Karena artinya si cowok itu tipe cowok setia, ya tho??

Lalu, sama juga halnya dengan sebuah lagu dangdut yang –maaf, jujur aja- saya gak tau judulnya apa, tapi liriknya kalo gak salah kira-kira gini “kumbang-kumbang di taman, jangan kau merayu..jangan kau menggoda..” Tau gak? Alaah... jangan pura-pura alergi dangdut gitu deh..!Nah, si kumbang ini setali tiga uang dengan nasibnya si buaya. Kumbang itu –yang sering diidentikkan dengan cowok-cowok penggoda- sesungguhnya juga merupakan satu spesies yang setia pada pasangannya. Malah lebih setia lagi dari buaya. Mau tau?? Kumbang atau lebah (eh, sama gak sih?) mendedikasikan kehidupannya untuk regenerasi. Yang jantan akan mati jika ia sudah memberikan spermanya kepada si betina. Lalu si betina ini akan hamil dan mati saat ia bertelur. (apa beranak ya? Maaf, lupa) Nah, jadi si jantan itu gak akan sempet tabur-tabur sperma kemana-mana. Dia Cuma punya satu betina itu aja, yang menjadi satu satunya tempat tambatan hati.Dan si betina juga akan mati sesaat setelah ia menghadirkan satu generasi lagi di dunia ini. Ouwwh.. so sweet..Lalu kenapa kumbang sering diartikan penggoda ya? Kan gak fair nih..

3 comments:

Anonymous said...

just learn more about semiotics;)

ea_12h34 said...

buaya itu pemakan segalanya.....
jadi analoginya tepat...

hmmm... lupa waktu diskusi gak di rekap...
tar ajah langsung.

-tiktok-

ade suryani said...

buaya pemakan segala? Gak salah tuh..?! Yang gue tau buaya gak makan lalapan