Tuesday, June 04, 2013

Repost: 10 Things About Writing I Wish I Knew 10 Years Ago

Ini ada tulisan yang saya ambil dari sini. Betul betul sebuah pencerahan, terutama buat saya yang karena sesuatu dan lain hal mulai tidak produktif menulis, entah di blog atau tulisan ilmiah lainnya, selama beberapa bulan belakangan ini. Read on, fellas! Mudah-mudahan merasa "ditampar" juga. hahaha

10 Things About Writing I Wish I Knew 10 Years Ago 


1) Be patient. When I was 23 I always felt this absurd need to draft quickly, edit very little, and send out the piece immediately. Just because you finished a 3,000 word story doesn’t mean you should submit it to the New Yorker an hour later. The time away from a piece of writing is time spent on the piece of writing.

2) It’s okay to not be writing. Guilt can be a motivator, sure, but when that guilt is clouding your story and ideas and generally fucking with you in a way that pushes you to write badly, it’s time to stop. I’m all for working hard and pushing through, but learn to forgive yourself and walk away sometimes. I once went an entire year without writing and it felt good.

3) Listen to editors who reject your work. Seems easy to just read a rejection and think, “fuck them.” You can say that, and you probably will, but maybe actually take to heart what they say. The advice on why your piece wasn’t accepted may not click with you, but if an editor is taking the time to say why it doesn’t work, listen. Staple it to your wall. You’re going to collect a mountain of form rejections and no responses. Editors who take the time to respond, to critique, are saints.

4) Don’t set a writing schedule. Put down words when you want to. If that’s all day, then do it. If it’s ten minutes, great. If you treat your writing like an office day job it’s going to start feeling that way.

5) You’re not Bukowski, or Hemingway, or David Foster Wallace. You won’t understand this now, but early on, you’ll go through a phase of imitation. It’s okay. That idolization will start to flake away and your personality/style will come through, eventually. I spent a good two years as a middle class white kid living in my parents basement thinking I was similar to Bukowski, which is disgusting.

6) No writer knows what they are doing. We are literally taking symbols and forming things called sentences into things called paragraphs into things called stories into things called novels. One day someone will give you a one star review on Amazon because of your poor character development and plot pacing.

7) Don’t isolate yourself. This one seems tricky because most likely you’ll spend a good chunk of your day reading and writing and thinking about writers and reading interviews and all that. It’s good to absorb everything, and if you really love writing, you’ll be obsessed. But please, get outside. And this doesn’t mean going to a reading. And it doesn’t mean jogging alone. Call your family. Go out for drinks and don’t say a word about your novels word count.

8) Take care of your body. I’m still a skinny fuck with a little belly and very little upper body strength, but I watch what I eat and exercise now. Just because you go to the gym doesn’t necessarily mean you’re a bro. Besides, people will find you less annoying if you don’t look like a stereotypical writer. Hey, I did twenty push-ups between this number and the last.

9) Stay humble. No matter what you write, who you publish with, what agent said they were interested in you, stay small and never stop being curious.

10) Write what you don’t know. 

Wednesday, March 27, 2013

Daddy's little girl

Kalo boleh jujur nih ya, saya itu sebenernya gak dekat sama bapak ibu saya. Dekat dalam artian, saya gak terbiasa curhat masalah pribadi saya ke mereka. Sakit pun saya jarang mengeluh atau ngadu ke mereka. Waktu saya harus tinggal berjauhan dan merantau sendiri, hmm..jujurly, saya juga gak pernah homesick.

Tapi ada saat-saat tertentu di mana saya menikmati secara diam-diam waktu-waktu yang saya habiskan sama orang tua saya, entah kumplit dengan mereka berdua ataupun mereka secara terpisah. Misalnya nganterin ibu saya ke pasar, creambath bareng, atau makan bebek goreng berduaan sama bapak saya, nemenin dia mancing. Simple sih, tapi menyenangkan. 

Saya beberapa kali juga pernah menghabiskan waktu yang agak lama hanya berduaan sama ibu saja atau bapak saja. Agak lama di sini hitungannya biasanya berkisar antara beberapa hari sampai beberapa minggu. 
Dulu jamannya bapak saya sering dinas ke luar kota dan kakak-kakak saya masih pada kuliah/kerja di kota lain, ya di rumah saya cuma berduaan sama ibu saya. Atau seperti belakangan ini,  ibu saya lagi pergi umroh, ya di rumah saya cuma berduaan dengan bapak. Bener-bener cuma sisa dua orang ini aja, karena di rumah memang populasinya tinggal 3 orang inilah. hehehe.

Tapi kalo disuruh memilih, saya terus terang lebih enjoy ngabisin waktu berduaan sama bapak saya. Hmm... apa yaa. Kalo sama ibu saya itu, saya memposisikan diri jadi penjaga. Seperti jadi anak laki yang harus melindungi. Urusan-urusannya ya gak jauh-jauh dari masang tabung gas, ngunciin pagar dan pintu-pintu kalau malam, bersihin kandang burung, ngangkat yang berat-berat, dan tentu saja jadi supir kemana-mana. Hehe. *yang terakhir itu kodrat sih*. Tapi ibu saya ini cenderung bawel, dan apa-apa sifatnya perintah, gitu. Ya biasa lah yaa..namanya juga emak-emak. hehehee.

Tapi kalo sama bapak saya, terasa sekali posisinya adalah kami SALING menjaga. Partnership. Iya, bapak saya orangnya egaliter. Saya ngurusin dapur, dia ngurusin kolam. Saya nyiramin bunga, dia nyuciin mobil. Tapiii... nah ini ajaibnya. Perilaku dia yang seperti ini baru muncul kalo kami lagi berdua aja. Biasanya mah, beeuuh.. patriarkis abiss!!  

Kalo diskusi atau sharing hal-hal yang serius, saya juga lebih sreg sama bapak saya, soalnya lebih rasional aja gitu. Sama beliau saya sering diskusi dengan lebih mengedepankan logika, dan saya memang lebih suka dengan cara yang seperti itu. Kalo sama Ibu saya? Ah, biasa lah, sebagaimana ibu-ibu korban sinetron pada umumnya, dramatis sekali. hehee

Saya juga kadang (secara diam-diam) lebih 'menye-menye' kalo lagi jalan berduaan sama bapak saya. Seperti kemarin malam misalnya. Saya ceritanya lagi mau mengunjungi rumah saudara, berduaan aja sama bapak saya, saya yang nyupir. Biasa lah, ngobrol-ngobrol ringan. Trus dari CD player ada lagunya Warrant yang Heaven. Album classic rock. Klasik, tapi liriknya keren. Nih penggalannya: 
When I come home late at night,  And you're in bed asleep.  I wrap my arms around you,  so I can feel you breathe. I don't need to be the king of the world As long as I'm the hero of this little girl

Mellow yaa.. Rocker yang sayang anak. Hehehe. Nah, abis lagu itu, ada lagunya Mr Big pula! Iyaaa..kan tadi saya bilang CDnya classic rock. Hehe.  Ada lagu Wild Word. Tau dooong liriknya:  
You know I’ve seen a lot of what the world can do, And it’s breaking my heart in two, ’cause I never want to see you sad, girl, Don’t be a bad girl. But if you want to leave, take good care, Hope you make a lot of nice friends out there, But just remember there’s a lot of bad and beware. Well, Oh baby, baby it’s a wild world, It’s hard to get by just upon a smile, Oh baby, baby it’s a wild world, And I always remember you like a child, girl.

Pas lagi ada jeda di obrolan kami, saya sing along lagu ini. Hihihi.. jadi senyum sendiri. Trus mellow… iya, saya berasa jadi bocah kecil yang lagi diajak main keliling ke pasar malem sama bapaknya. Trus dibeliin boneka sambil dikasih wejangan gak boleh nakal. Hehehe.

Saya juga kalo lagi jalan berduaan sama bapak saya emang suka jadi kaya temenan. Gak jarang kami jalan berdua di pertokoan sambil gandengan tangan atau rangkulan bahu. Saya pernah dikira jadi simpenan om-om karena bapak saya nemenin saya yang lagi belanja kosmetik. Bukan cuma nemenin trus bayarin, tapi juga ikut milihin dan teteuup.. sambil rangkulan. Mbak-mbak pegawainya sampe bisik-bisik (tapi ketahuan) ngomongin bapak saya bawa ayam kampus. Haahaha..

Gitu deh, secara non verbal, keliatan sekali kalo kami itu saling menjaga. (Terms and condition apply, tapi ya.. kalo lagi akur doang. Hahaha) Atau istilah kerennya, egaliter. Tapi apa pernah gitu secara verbal saling bilang sayang atau kangen? Hampir gak pernah rasanya. Tapi kedekatan itu ada. Selalu ada. Mau sesebel apapun satu sama lain, tetep yaa, namanya bapak sama anak.. ikatan itu akan selalu ada.

Dan memang, bagaimanapun dan umur berapapun, saya ngerasa di mata bapak saya, saya memang akan selalu jadi gadis kecilnya

Hehe. Iya, saya anak bungsu :)



Tuesday, March 05, 2013

Kembali

Akhirnya saya kembali menulis. Setelah beberapa bulan blog ini  ditutup dan menganggur tanpa tulisan. Iya, saya nggak pernah jeda menulis se-lama ini sebelumnya. Kalau lihat tanggal terakhir post sebelumnya, berarti sekitar 3 bulan ya. Tapi sebenarnya saya dalam kondisi hiatus itu sekitar 6 bulan. Ada apakah?
Entah, selama 6 bulan terakhir ini saya seperti mati pikiran. Saya seperti jalan dengan jiwa yang mengambang. Saya nggak bisa benar-benar menangkap secara utuh apa yang saya alami selama 6 bulan terakhir. Rasanya seperti ada di area sub-consciousness terus menerus. Ini mimpi bukan sih? Mimpi bukan sih? Begitu aja terus.

Tapi sekarang saya duduk di depan laptop, meletakkan tangan saya di atas keyboardnya, dan mencoba fight back dengan kembali menulis. Fight for what? Fight for myself.
Nggak bagus ya ada di kondisi seperti itu terus menerus. Kondisi yang hanya terus-terusan menggerus hati dan pikiran dari dalam. Nggak sehat. Seriously.

Sebetulnya dari kemarin-kemarin itu saya kepingin menulis lagi. Tapi nggak bisa aja. Nggak tau, nggak bisa. Yaa..yaa.. you may say saya berhenti di titik sekali coba trus bilang gak bisa. Atau itu dianggap sugesti, sekalinya bilang gak bisa ke diri sendiri ya jadinya gak bisa. Whatever.

Tapi efek yang bagus banget dari fase gak bisa menulis ini adalah, saya jadi mencari medium lain yang memungkinkan saya 'buang energi'. Yes I had huge amount of energy, yang sayangnya itu adalah energi negatif, dan saya harus mencari cara untuk membuang energi negatif itu. Daripada saya sumpah serapah, daripada saya bikin drama di media sosial, daripada saya mukulin orang, daripada saya kebut-kebutan di jalan kan? mendingan saya bikin sesuatu yang bisa mengalihkan waktu dan pikiran saya. Jadi saya bikin film aja. Hihihi.. Film fiksi, pendek, dengan genre drama. Ntar deh, kapan-kapan kalau memungkinkan saya akan share.

Actually, this is a good thing for me, karena sebetulnya bikin film itu adalah satu hal yang saya impikan dari dulu. Saya percaya ya segala sesuatu hal terjadi pasti karena ada alasannya. Allah gak mungkin membuat suatu perkara terjadi di semesta ini dengan alasan iseng doang atau "ya biar seru aja gitu..". Gak mungkin.
Dan sampe akhirnya saya bisa bikin film itu, setelah dipikir-pikir, mungkin adalah salah satu dari sekian alasan atas apa yang terjadi sama saya belakangan ini. Biar saya punya karya. Biar saya bisa menengok kembali pada apa yang benar-benar ingin saya wujudkan. Yaa yaaa... kita ambil hikmahnya saja :)
Menjadi kuat bukan berarti kamu tahu segalanya. Bukan berarti kamu tidak bisa hancur. Kekuatanmu ada pada kemampuan bangkit lagi setelah berkali-kali jatuh. (Dee, Partikel)