Tuesday, February 09, 2010
Monday, February 08, 2010
and I start to love stiletto
Baiklah bapak ibu sodara sodari sebangsa dan setanah air… akhirnya saya menyentuh lagi laman blog ini. Setelah beberapa waktu.. ummm, nyampe sebulan gak sih? Saya nggak update. ada beberapa berita terakhir tentang saya yang belum sempat dipublish melalui infotainment manapun (CIH! Sok ngetop banget…) Jadi anda adalah orang beruntung yang mengetahuinya langsung dari saya! hahaha..
Okay, pertama. Saya akhirnya bekerja sebagai mbak-mbak dosen di salah satu kampus swasta di sebelah barat ibukota negara. Hehee…senangnya bisa menyebut sesuatu sebagai K.A.N.T.O.R, punya cubicle sendiri, punya jadwal weekdays 9 to 5, dan pake high heels tiap pagi (walopun sebenernya nggak bakat pake high heels, tapi berasa lagi shooting Sex and The City aja. Hihii..) Iyaaa..iyaa..saya tau ini cuma euphoria sesaat. Mungkin gak lama lagi saya sudah akan menulis disini segala keluh kesah dunia kerja. Beberapa bulan lagi mungkin saya sudah mulai mengeluarkan sumpah serapah sama segala rutinitas. Karena untuk orang-orang yang kenal saya dengan baik, pasti tau kalo saya amat sangat pembosan.
Yaah, gak usah tunggu lama-lama. Pagi ini aja, hari Senin di minggu ke-2 saya bekerja (catat: MINGGU KE-2) saya sudah merasa not in a good mood untuk mulai bekerja. Sebenernya sih bukan masalah rutinitas atau beban kerjanya. Saya sih belum ngapa-ngapain amat. Ngajar juga baru mulai 2 minggu lagi. Tapi mood saya sekarang sedang agak terganggu dengan urusan (ehm..) hati.
Aaaah…menyebalkan rasanya ketika harus berhadapan dengan dunia lain disaat hati kita sedang tidak stabil. Jadinya uring-uringan gini. Nggak sih, hati saya gak sampe luluh lantak dan retak seribu, tapi ada kekecewaan yang cukup dalam di dasar hati saya. Kekecewaan atas sesuatu yang saya pikir bisa dijalankan dengan baik tapi ternyata tidak. Kekecewaan atas seseorang yang saya pikir bisa membuat saya merasa dihargai dan diperlakukan dengan baik, tapi ternyata nggak segitunya.
Dan sedihnya, saya nggak bisa berbuat banyak karena saya berada di posisi yang sangat tidak memungkinkan. Tapi satu hal yang saya sadari betul, adalah bodoh untuk terus mengharapkan sesuatu yang sepertinya hanya akan menggiring ke kekecewaan-kekecewaan berikutnya. Jadi satu-satunya jalan yang bisa saya ambil adalah berusaha berlapang dada. Mengikhlaskan dengan cara yang dewasa. Saya nggak mau nangis-nangis, apalagi ngemis-ngemis. No, it’s totally not me. Jadi saya lebih memilih cara yang elegan untuk menghadapi hal ini.
So, I woke up this morning, humming while took a shower, walked happily with my stiletto and greet everyone….
I am happy!
I am happy!
Tuesday, January 19, 2010
I knew you
Tau gak salah satu kelebihan dunia digital a.k.a. internet? kita bisa leluasa menjadi sosok lain yang sama sekali berbeda dengan diri kita, bisa menjadi sosok imajiner kita, bisa menjadi diri kita dengan identitas yang disamarkan, atau bahkan menjadi sosok anonymous yang benar-benar tidak dikenali oleh orang lain. Dengan identitas yang sengaja disamarkan itu, kita juga bisa dengan leluasa menikmati dunia dan pikiran orang lain. Ketauan atau nggak, diizinkan atau nggak.
Seperti kamu contohnya. Iya... Kamu. Kamu yang lagi baca ini, pasti ngerti maksud saya.
Saya tau siapa kamu. Kamu yang tiba-tiba bikin blog sendiri lalu mulai rajin nongol di sini, melongok ke dunia saya tanpa kulonuwon. Membaca setiap catatan saya, menyelami apa yang ada di pikiran saya melalui blog ini. Tapi apa saya marah? Nggak kan? Saya sadar, semua orang di dunia digital ini bisa aja masuk ke dunia orang lain, diizinkan atau tidak.
Tapi kalo boleh jujur, saya merasa dunia saya lebih nyaman tanpa kamu. Bukannya saya mau musuhan. Bukannya saya benci kamu. Saya cuma merasa kehadiran kamu di dunia saya hanya akan membuat saya mengingat sakit hati saya yang dulu. Saya cuma nggak mau terus-terusan mengingat rasa sakit itu. Jadi lebih baik saya menjauh dari orang-orang yang mempunyai peluang membawa saya ke perasaan itu. Siapa yang ingin merasa sakit? Siapa yang ingin terus-terusan berkubang dalam trauma? Siapa yang ingin hatinya membusuk dalam dendam? Nggak ada kan. Kamu juga pasti nggak mau kan? Jadi saya rasa, kamu bisa mengerti, itulah alasan-alasan saya selama ini menghindar dari kamu.
Jadi mulai sekarang, gimana kalo kita hidup dengan dunia masing-masing aja? Okeh?
Jangan sampe kamu bikin saya emosi jiwa
Jangan sampe kamu bikin saya emosi jiwa
Subscribe to:
Posts (Atom)

