Sunday, July 27, 2008

Manhattan, KL, Japan

Kemaren jadi sabtu yg fun setelah gua nonton film Sex and The City. Oowwh.. entah ada sihir apa di film ini, tapi yang jelas gua selalu merasa ada kedekatan emosional dengan ceritanya. Film ini mengisahkan tentang 4 cewek (yang dulunya twenty something tapi sekarang udah makin dewasa aja) yang dinggal di Manhattan City, dan hidupnya perputar diantara dua L; love and label. okay, mungkin gak semua cewe tergila-gila dengan label, alias merk-merk terkenal, tapi cewek mana yang gak pernah desperate karena cinta? Bahkan Carrie Bradshaw sendiri yang notabene adalah penulis profesional tentang fashion, gaya hidup dan -yeah, whatelse- cinta, masih aja bisa patah hati, masih aja bisa jatuh cinta-kecewa-lalu kasmaran lagi. Siklus hidup baru bisa komplit katanya kalo kita pernah merasakan jatuh cinta dan patah hati. Begitu kah?

Hmm.. satu hal yang gua piki
rin tentang film ini, mengapa cewek bisa dengan mudahnya jatuh cinta, lalu sakit hati dengan dahsyatnya, tapi masih juga bisa kembali luluh dengan mudahnya? Hehehe... okay, you may say I am one of them. Iya gua ngaku!!! hahahha.. Dan dari di film ini juga gua dapetin jawabannya. Ternyata yang diperlukan hanya perpaduan antara laki-laki yang tepat, kata-kata yang tepat, dan waktu yang tepat. Then... voila! You'll get the girl back! Jadi buat para lelaki di luar sana, camkanlah rumus itu baik-baik! Hehehe..

Nonton film ini juga mengingatkan gua sama temen-temen cewek gua yang biasanya jadi temen seseruan dan sharing segala hal. Seneng rasanya ada seseorang diluar sana yang walopun ditelpon jam 3 subuh, masih mau ngangkat dan dengerin segala curhat. Yang bersedia menampung saat kita dateng dari manapun. Yang gak akan ngeluarin kata-kata "tuh kan gua bilang juga apa!" saat kita jatuh dan mengulangi kesalahan yang sama. Yah, kami mungkin gak hidup diantara 2 L itu sih.. tapi, mmm.. apa ya..ooohh 2 B mungkin; books and boys. hahaha.. Setuju mbak-mbak?

Sebenernya gua pengen nonton film ini bareng mereka, dan ngebahasnya habis-habisan begitu selesai dan keluar dari bioskop. Hahaha... girl's thing. I do miss them. Tapi kita semua terpisah jarak ribuan km jauhnya. Dan gua malah ada di sini, di jantung kota Kuala Lumpur, berdesak-desakan dengan semua orang yang juga menunggu komuter yang mengantarkan pulang. Dengan berbagai gaya, berbagai aroma, berbagai karakter, berbagai wajah, yang gak satupun gua kenal. Kenapa gak ada satupun yang gua kenaaaallll????? huhuhu... pathetic amat.

Lalu gua pulang, masuk kamar kosan,..and thank God I found my roommate there, waiting for me. Hehehe... Lalu kita makan nasi onigiri yang sempet gua beli di mall tadi sama-sama. Gak terlalu enak juga sih, tapi lumayan, membawa suasana seolah-olah lagi ada di Jepang. Walopun gak didampingin dengan sushi, sake, atau duduk di atas tatami, tapi cukup menyenangkan. Nasinya juga padet, gurih rumput lautnya, tapi sayang gak terlalu banyak lauknya. Hmm.. gak papa deh. Sudah alhamdulillah malem ini bisa makan. Sudah alhamdulillah malem ini bisa "ke Jepang". Hehehe...


Saturday, July 19, 2008

ketika gua nelpon dan ternyata di seberang sana adalah suara cewek
ketika gua melihat foto box nya dengan cewek dan dia tertawa riang
ketika status di friendsternya berubah menjadi in relationship


gua sadar bahwa yang gua perlukan sekarang bukan lagi ilmu ikhlas
tapi.....ilmu santet!


hehe.. nggak lah
gua cuma perlu brainwash
atau mungkin reinkarnasi
maybe

Thursday, July 17, 2008

Just a little me

Mungkin banyak yang nanya, apa rasanya ada di tanah suci. I tell u now.. it feels so amazing. Jangankan di depan Ka'bah, ketika bis baru sampe kota Madinah dan melewati depan masjid Nabawi, gak kerasa tiba-tiba seisi bis sudah pada nangis. Akhirnya bisa juga aku menginjakkan kaki di tanah ini, menziarahi sang Nabi, menghayati setiap kisahnya, melihat tanda-tanda kebesaran Allah. Kecil... sungguh kita merasa begitu kecil dihadapan-Nya.

Setiap sujud menjadi begitu mendalam, setiap ayat terasa lebih bermakna. Dan cucuran air mata rasanya takkan pernah cukup mencuci diri yang begitu kerdil dan penuh dosa. Kita hanya sosok lemah, yang bergabung dengan jutaan umat lainnya, dan bersujud penuh syukur dan menghamba. Hitam-putih-besar-kecil-Cina-Turki-India-Afrika toh semuanya sama. Hanya debu-debu kecil di padang pasir.

Lebih dari itu, rasanya tak ada yang dapat menandingi perasaan takjub dan haru ketika melihat kotak hitam segi empat itu: Ka'bah. Entah bagaimana harus menjelaskan perasaan itu, segalanya hanya membuat kita semakin merasa tidak ada apa-apanya di mata Sang Khalik. Dalam tiap-tiap langkah yang terucap hanya doa. Dalam tiap-tiap putaran tawaf yang di agung-agungkan hanyalah Dia. Tiap kali menatap pintunya, bahkan mengecupnya dari kejauhan, ada keharuan yang luar biasa. Segala dosa seolah berputar di depan mata. Akankah aku mendapatkan ampunan, akankah aku dapat merasakan nikmat surga-Nya.

Dan ketika semuanya harus ditinggalkan, perasaan rela itu tak kan pernah muncul. Tak kan pernah..Ya Allah kumohon.. panggil aku lagi. Izinkan aku lagi berkunjung ke rumah-Mu, menziarahi Nabi-Mu, dan mengirimkan segala doaku pada sejuta malaikat-Mu. Karna aku akan selalu rindu..