Friday, February 29, 2008

Belajar Ilmu Ikhlas

Waktu saya bikin postingan "himsick" itu, ada temen yang nanya; "Masih de? Gak tercapai dong resolusi 2008 nya?"
Hahaha... okeh saya ngaku deh. Itu satu-satunya resolusi yang saya buat waktu tahun baru 2008. Mencoba mengikhlaskan sesuatu yang ternyata gak bisa saya raih, that's him. Maaf yah, gak boleh sebut merk disini. hekhehehe...

Setelah beberapa tahun mencoba bertahan, mencoba tetap menjalani, toh pada akhirnya saya sadar bahwa dia mungkin gak pernah bisa diraih lagi. Jadi yang bisa saya lakukan hanya mencoba mengikhlaskannya.
Tapi ternyata, belajar ilmu ikhlas itu susah yaa.. Hal-hal kecil pun masih bisa membuat saya himsick lagi. Hehehhe.. Yaah..pak Haji aja belun tentu menguasai ilmu ikhlas, apalagi saya. Lagian, ini bukan sinetron Kiamat Sudah Dekat. Halaaah...apa sih! Hehehe.. Intinya, mencoba mengikhlaskan dia gak semudah yang saya pikir. Masih saja ada yang mengganjal, karena saya sadar ada yang belum terselesaikan antara kami. It's not a full stop, yet. Dan saya masih terus mencari dimana ujung ceritanya.
Tapi sekarang, saya mulai sadar. Mencoba mengikhlaskan bukan berarti melupakan semua. Tapi lebih kepada kemampuan saya untuk mengingat hal itu tanpa dijejali emosi. Entah itu perasaan marah atau rindu yang menggila. Ikhlas berarti saya bisa mengingatnya dengan perasaan lega dengan senyum yang ringan. Tanpa segala harapan yang dulu selalu ada.

Lalu, setelah segalanya tumpah, saya sekarang bisa tersenyum lega. Lebih ringan, dan mudah-mudahan kali ini saya bisa bertahan lebih lama dengan keikhlasan ini. Doakan saja..Tapi kalo ternyata suatu hari masih muncul lagi postingan berisi kata-kata "himsick', artinya saya masih belum juga sembuh. Hehehe.. Yah, kita lihat saja nanti.

Tuesday, February 26, 2008

the sun is wet
and so do my eyes
not because of rain
but something melt it down
something inside
cannot be seen


*setelah percakapan yang tidak seberapa itu*

Saturday, February 23, 2008

Bioskop Klasik dan Film Melayu

Hari ini saya nonton film di bioskop. Bukan sekedar nonton film biasa yang agendanya seneng-seneng, bukan juga di bioskop biasa yang adanya di mall-mall. Kali ini saya nonton barengan sama satu jurusan Komunikasi, nonton film berjudul Hati Malaya 1957, dan nontonnya di sebuah bioskop klasik bernama Coliseum yang dibangun sejak tahun 1920. Hmm.. unik! Mo tau ceritanya? Oke, kita bahas satu-satu.

Mulai dari bioskopnya dulu. Ketika pertama ngeliat gedungnya.. Ya ampun, ini bioskop ya?? Hehehe.. bangunan tua sih. Cuma 2 tingkat. Kayak ruko biasa gitu.Tapi ketika itu saya belum ngeliat angka 1920 tertulis di atas gedung ini. Setelah saya masuk ke dalemnya, hohoho... klasik banget! Berhubung kami adalah undangan, maka duduknya di tribun. Bayangin -TRIBUN!-- Yak, kalo kamu pernah nonton film yang ada adegan pementasan opera klasik didalemnya, kebayang kan bentuk ruangannya, ada balkon-balkon, ada tribun segala. And that's the way it is.. Unik yah.. Masih asli bangunannya. Tangganya, dan screen-nya ada di atas panggung! Hahaha.. Sayangnya karna hari ini adalah hari menonton gratis- alias para penontonnya adalah undangan dari beberapa kampus dan sekolah- jadi rame buanget!! Berisik, bahkan ada anak anak SD yang sibuk rebutan kursi dan cekakak-cekikik. Belum lagi, panitianya jeprat-jepret sana sini dengan pake blitz! Duuuh..sebel! Jadi gak khusyu’ nontonnya.

Nah, sekarang bahas filmnya. Hati Malaya 1957 adalah film semi dokumenter yang bercerita tentang perjuangan rakyat Malaysia mendapatkan kemerdekaan dari British. Ini film propaganda banget –perlu diingat, propaganda tidak selalu negatif loh ya..!—dan dibuat dalam rangka kemerdekaan Malaysia ke 50 yang jatuh pada tahun 2007 kemaren. Kalo mau dianalisis –hehe..anak komunikasi banget—sayangnya film ini masih berantakan, KALO MENURUT SAYA YAA... Editingnya masih kasar banget, tekhnik superimpose-nya gak rapih, setting jaman dulunya gak detil, alurnya terasa banget loncat-loncat, tekhnik multiple screen-nya malah terasa membingungkan, dan perpindahan waktunya terasa gak enak. Juga penyisipan video-video dokumenternya itu loh, aduh aduh.. kaya’ bikin klipping doang. Belum lagi ada beberapa adegan yang gak continu. Well, padahal saya pikir untuk film nasional gini semuanya akan lebih baik, dibuat lebih detil, apalagi yang buatnya adalah lembaga Film Nasional (FINAS) Malaysia. Ternyata saya kecewa... tapi ada juga beberapa hal yang bagus menurut saya, ada adegan-adegan yang terasa menyentuh and it looks so natural. Soundtracknya juga lumayan kena, yang nyanyi KD. Trus pemeran utama ceweknya cantik! Suka deh ngeliatnya.. Tapi ada suatu yang mengganjal –dan ini cukup fatal buat saya- di film itu dia, dan juga beberapa pemeran cewek lainnya, pake lipstik warna merah mawar menyala!! Oowh..c’mon! Itu kan settingnya tahun 40-50’an, dimana perempuan-perempuannya masih melayu banget, masih belum berpendidikan, boro-boro mau tau tentang fashion dan make up. Wardrobe-nya sih pas, tapi make up nya itu loh... ck..ck..ck. Dan itu mengganggu pemandangan saya banget! Hahaha.. You may say I’m perfectionist. Yes I am! Hehehe...

Oke lah, walopun filmnya hari ini agak mengecewakan, tapi lumayan ada pengalaman untuk melihat sedikit banyak –seperti apa film Malaysia. Ini adalah film Melayu pertama yang saya tonton semenjak disini. Kapok?? Mm..entahlah. Dan yang paling penting, hari ini saya bisa dapet pengalaman ngerasain nonton di bioskop klasik, gratis pula. Hehehe..gak tiap hari dapet kesempatan begini. Ya kan??