Yak, saya kembali lagi ke laman ini. Setelah sekian lama saya abaikan, saya tinggalin begitu saja, menulispun seadanya, sekarang InsyaALlah saya kembali.
Kangen rasanya bisa nulis lagi, bisa mengungkapkan apa yang ada di pikiran saya, tanpa peduli orang lain akan berpikir seperti apa, tanpa takut akan dibaca oleh si anu si itu dan lainnya. Kangen merasakan bahwa menulis itu seperti refleksi diri, bahwa menulis itu seperti menemukan sanctuary... Iya kangen.
Setahun ini saya jungkir balik. Hahaha. Pernah denger gak ada mitos yang bilang "kalau kamu sampai di ulang tahun ke 29, bersiaplah karena hidup kamu akan dijungkirbalikkan"? Saya denger ini di film 3 Hari Untuk Selamanya kalo gak salah, si Nicholas Saputra yg main. Iya, jadi katanya kalau di usia 29 itu hidup kamu akan jungkir balik, ibaratnya kamu diangkat dengan posisi kaki diikat di atas, trus dikoclak-koclak sampe isi perut kamu keluar semua. Hahahaha.. Saya gak tau sih itu bener apa nggak. Mungkin mitos aja. Tapi saya belum sampe ke usia 29 aja rasanya sudah sampe ke fase jungkir balik ini deh. Gimana ntar pas umur 29 ya??
Jadi ceritanya setahun kemarin itu hidup saya kacau. Kacau berantakan kalo boleh dibilang. Dan ini dalam semua aspek. Dari urusan kerjaan, keluarga, keuangan, percintaan, pencapaian pribadi, semua lah! Saya balik lagi ke titik nol. Saya pernah nangis 3 hari 3 malem gak berhenti-berhenti. Saya bahkan sambil beberesan rumah, nyuci, ngepel sambil mewek dan mata sembab 7 hari. Saya pernah merasa useless, merasa bahwa saya tidak seharusnya berada di sini, sempat juga merasa bahwa saya gak punya arah dan tujuan hidup, gak tau mau jadi apa, gak menghasilkan apa-apa, dan gak tau mesti ngapain saat itu.
Saya sampai di titik saya pasrah ke manapun takdir membawa saya. Saya cuma bisa bertahan supaya gak tenggelam, bisa berdiri pun Alhamdulillah. Kalau sekarang saya ditanya apa yang terjadi sama saya saat itu, saya gak akan bisa cerita kondisinya in every detail, sama Allah pun saya ngadu cuma dengan tangis karena gak bisa bilang apa-apa. Tapi saya yakin lah Allah Maha Tau apa yang saya rasa. Dan setahun itu bukan waktu yang sebentar. Ada proses yang luar biasa yang telah terjadi di dalam diri saya selama itu.
But here I am, kembali ke titik normal, InsyaALlah. Dengan kondisi yang mudah-mudahan lebih kuat, lebih bisa membaca situasi, lebih terbuka pikirannya, dan lebih sabar, InsyaALah.
Ada gunanya juga semua yang saya lalui kemarin itu. Ya itu dia yah, kadang kita memang harus tarik diri dulu --entah secara terpakasa atau sengaja, dari segala hiruk pikuk kehidupan. Harus diam dulu sejenak mencari jeda, atau bahkan take a few step behind untuk tau ke depannya mau gimana.
Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun hidup saya, saya mulai tau apa yang ingin saya lakukan paling tidak sampai 5 tahun ke depan. Hahaha..iya, ini agak hebat, karena sekian lama saya hidup tanpa rencana dan tujuan riil, jangankan jangka panjang, jangka pendek pun belum tentu. Tapi kali ini saya mulai menata target hidup dan menyusun langkah untuk pencapaiannya. Semoga lancar. Aamiin.
And about this blog, saya nggak perduli ya siapapun mau mampir, mau baca, mau berpikir apa tentang saya. Saya hanya ingin kembali menulis, kembali membuka pikiran, kembali membahas hal-hal gak penting, menemukan kembali tempat pelarian saya. Hahaha.. 8 tahun konsiten ngeblog itu bukan perkara mudah lho. Saya cuma ingin bisa terus merekam sedikit moment dalam hidup saya di sini.
Dan iya, bagian jeda menulis selama setahun karena menata hidup yang jungkir balik itu juga terekam dengan baik dan sangat jelas di sini. Bagaimanapun, itu bagian dari hidup saya juga kan?
Thank's anyway :)
Semoga hidup saya, hidup kamu, dan hidup semua orang mejadi lebih baik
Friday, July 26, 2013
Tuesday, June 04, 2013
Repost: 10 Things About Writing I Wish I Knew 10 Years Ago
Ini ada tulisan yang saya ambil dari sini. Betul betul sebuah pencerahan, terutama buat saya yang karena sesuatu dan lain hal mulai tidak produktif menulis, entah di blog atau tulisan ilmiah lainnya, selama beberapa bulan belakangan ini. Read on, fellas! Mudah-mudahan merasa "ditampar" juga. hahaha
1) Be patient. When I was 23 I always felt this absurd need to draft
quickly, edit very little, and send out the piece immediately. Just
because you finished a 3,000 word story doesn’t mean you should submit
it to the New Yorker an hour later. The time away from a piece of
writing is time spent on the piece of writing.
2) It’s okay to not be writing. Guilt can be a motivator, sure, but when that guilt is clouding your story and ideas and generally fucking with you in a way that pushes you to write badly, it’s time to stop. I’m all for working hard and pushing through, but learn to forgive yourself and walk away sometimes. I once went an entire year without writing and it felt good.
3) Listen to editors who reject your work. Seems easy to just read a rejection and think, “fuck them.” You can say that, and you probably will, but maybe actually take to heart what they say. The advice on why your piece wasn’t accepted may not click with you, but if an editor is taking the time to say why it doesn’t work, listen. Staple it to your wall. You’re going to collect a mountain of form rejections and no responses. Editors who take the time to respond, to critique, are saints.
4) Don’t set a writing schedule. Put down words when you want to. If that’s all day, then do it. If it’s ten minutes, great. If you treat your writing like an office day job it’s going to start feeling that way.
5) You’re not Bukowski, or Hemingway, or David Foster Wallace. You won’t understand this now, but early on, you’ll go through a phase of imitation. It’s okay. That idolization will start to flake away and your personality/style will come through, eventually. I spent a good two years as a middle class white kid living in my parents basement thinking I was similar to Bukowski, which is disgusting.
6) No writer knows what they are doing. We are literally taking symbols and forming things called sentences into things called paragraphs into things called stories into things called novels. One day someone will give you a one star review on Amazon because of your poor character development and plot pacing.
7) Don’t isolate yourself. This one seems tricky because most likely you’ll spend a good chunk of your day reading and writing and thinking about writers and reading interviews and all that. It’s good to absorb everything, and if you really love writing, you’ll be obsessed. But please, get outside. And this doesn’t mean going to a reading. And it doesn’t mean jogging alone. Call your family. Go out for drinks and don’t say a word about your novels word count.
8) Take care of your body. I’m still a skinny fuck with a little belly and very little upper body strength, but I watch what I eat and exercise now. Just because you go to the gym doesn’t necessarily mean you’re a bro. Besides, people will find you less annoying if you don’t look like a stereotypical writer. Hey, I did twenty push-ups between this number and the last.
9) Stay humble. No matter what you write, who you publish with, what agent said they were interested in you, stay small and never stop being curious.
10) Write what you don’t know.
10 Things About Writing I Wish I Knew 10 Years Ago
By
Shane Jones
2) It’s okay to not be writing. Guilt can be a motivator, sure, but when that guilt is clouding your story and ideas and generally fucking with you in a way that pushes you to write badly, it’s time to stop. I’m all for working hard and pushing through, but learn to forgive yourself and walk away sometimes. I once went an entire year without writing and it felt good.
3) Listen to editors who reject your work. Seems easy to just read a rejection and think, “fuck them.” You can say that, and you probably will, but maybe actually take to heart what they say. The advice on why your piece wasn’t accepted may not click with you, but if an editor is taking the time to say why it doesn’t work, listen. Staple it to your wall. You’re going to collect a mountain of form rejections and no responses. Editors who take the time to respond, to critique, are saints.
4) Don’t set a writing schedule. Put down words when you want to. If that’s all day, then do it. If it’s ten minutes, great. If you treat your writing like an office day job it’s going to start feeling that way.
5) You’re not Bukowski, or Hemingway, or David Foster Wallace. You won’t understand this now, but early on, you’ll go through a phase of imitation. It’s okay. That idolization will start to flake away and your personality/style will come through, eventually. I spent a good two years as a middle class white kid living in my parents basement thinking I was similar to Bukowski, which is disgusting.
6) No writer knows what they are doing. We are literally taking symbols and forming things called sentences into things called paragraphs into things called stories into things called novels. One day someone will give you a one star review on Amazon because of your poor character development and plot pacing.
7) Don’t isolate yourself. This one seems tricky because most likely you’ll spend a good chunk of your day reading and writing and thinking about writers and reading interviews and all that. It’s good to absorb everything, and if you really love writing, you’ll be obsessed. But please, get outside. And this doesn’t mean going to a reading. And it doesn’t mean jogging alone. Call your family. Go out for drinks and don’t say a word about your novels word count.
8) Take care of your body. I’m still a skinny fuck with a little belly and very little upper body strength, but I watch what I eat and exercise now. Just because you go to the gym doesn’t necessarily mean you’re a bro. Besides, people will find you less annoying if you don’t look like a stereotypical writer. Hey, I did twenty push-ups between this number and the last.
9) Stay humble. No matter what you write, who you publish with, what agent said they were interested in you, stay small and never stop being curious.
10) Write what you don’t know.
Wednesday, March 27, 2013
Daddy's little girl
Kalo boleh jujur nih ya, saya itu sebenernya gak dekat sama bapak ibu saya.
Dekat dalam artian, saya gak terbiasa curhat masalah pribadi saya ke mereka.
Sakit pun saya jarang mengeluh atau ngadu ke mereka. Waktu saya harus tinggal
berjauhan dan merantau sendiri, hmm..jujurly, saya juga gak pernah homesick.
Tapi ada saat-saat tertentu
di mana saya menikmati secara diam-diam waktu-waktu yang saya habiskan sama
orang tua saya, entah kumplit dengan mereka berdua ataupun mereka secara
terpisah. Misalnya nganterin ibu saya ke pasar, creambath bareng, atau makan bebek
goreng berduaan sama bapak saya, nemenin dia mancing. Simple sih, tapi
menyenangkan.
Saya beberapa kali juga
pernah menghabiskan waktu yang agak lama hanya berduaan sama ibu saja atau
bapak saja. Agak lama di sini hitungannya biasanya berkisar antara beberapa
hari sampai beberapa minggu.
Dulu jamannya bapak saya
sering dinas ke luar kota dan kakak-kakak saya masih pada kuliah/kerja di kota
lain, ya di rumah saya cuma berduaan sama ibu saya. Atau seperti belakangan
ini, ibu saya lagi pergi umroh, ya di rumah saya cuma berduaan dengan
bapak. Bener-bener cuma sisa dua orang ini aja, karena di rumah memang
populasinya tinggal 3 orang inilah. hehehe.
Tapi kalo disuruh memilih,
saya terus terang lebih enjoy ngabisin waktu berduaan sama bapak saya. Hmm...
apa yaa. Kalo sama ibu saya itu, saya memposisikan diri jadi penjaga. Seperti
jadi anak laki yang harus melindungi. Urusan-urusannya ya gak jauh-jauh dari
masang tabung gas, ngunciin pagar dan pintu-pintu kalau malam, bersihin kandang
burung, ngangkat yang berat-berat, dan tentu saja jadi supir kemana-mana. Hehe.
*yang terakhir itu kodrat sih*. Tapi ibu saya ini cenderung bawel, dan apa-apa
sifatnya perintah, gitu. Ya biasa lah yaa..namanya juga emak-emak. hehehee.
Tapi kalo sama bapak saya,
terasa sekali posisinya adalah kami SALING menjaga. Partnership. Iya, bapak
saya orangnya egaliter. Saya ngurusin dapur, dia ngurusin kolam. Saya nyiramin
bunga, dia nyuciin mobil. Tapiii... nah ini ajaibnya. Perilaku dia yang seperti
ini baru muncul kalo kami lagi berdua aja. Biasanya mah, beeuuh.. patriarkis
abiss!!
Kalo diskusi atau sharing
hal-hal yang serius, saya juga lebih sreg sama bapak saya, soalnya lebih
rasional aja gitu. Sama beliau saya sering diskusi dengan lebih mengedepankan
logika, dan saya memang lebih suka dengan cara yang seperti itu. Kalo sama Ibu
saya? Ah, biasa lah, sebagaimana ibu-ibu korban sinetron pada umumnya, dramatis
sekali. hehee
Saya juga kadang (secara
diam-diam) lebih 'menye-menye' kalo lagi jalan berduaan sama bapak saya. Seperti
kemarin malam misalnya. Saya ceritanya lagi mau mengunjungi rumah saudara,
berduaan aja sama bapak saya, saya yang nyupir. Biasa lah, ngobrol-ngobrol
ringan. Trus dari CD player ada lagunya Warrant yang Heaven. Album classic
rock. Klasik, tapi liriknya keren. Nih penggalannya:
When I come home late at night, And you're in bed asleep. I wrap my arms around you, so I can feel you breathe. I don't need to be the king of the world As long as I'm the hero of this little girl
Mellow yaa.. Rocker yang sayang anak. Hehehe. Nah, abis lagu itu, ada
lagunya Mr Big pula! Iyaaa..kan tadi saya bilang CDnya classic rock. Hehe.
Ada lagu Wild Word. Tau dooong liriknya:
You know I’ve seen a lot of what the world can do, And it’s breaking my heart in two, ’cause I never want to see you sad, girl, Don’t be a bad girl. But if you want to leave, take good care, Hope you make a lot of nice friends out there, But just remember there’s a lot of bad and beware. Well, Oh baby, baby it’s a wild world, It’s hard to get by just upon a smile, Oh baby, baby it’s a wild world, And I always remember you like a child, girl.
Pas lagi ada jeda di
obrolan kami, saya sing along lagu ini. Hihihi.. jadi senyum sendiri. Trus
mellow… iya, saya berasa jadi bocah kecil yang lagi diajak main keliling ke
pasar malem sama bapaknya. Trus dibeliin boneka sambil dikasih wejangan gak
boleh nakal. Hehehe.
Saya juga kalo lagi jalan
berduaan sama bapak saya emang suka jadi kaya temenan. Gak jarang kami jalan
berdua di pertokoan sambil gandengan tangan atau rangkulan bahu. Saya pernah
dikira jadi simpenan om-om karena bapak saya nemenin saya yang lagi belanja
kosmetik. Bukan cuma nemenin trus bayarin, tapi juga ikut milihin dan teteuup..
sambil rangkulan. Mbak-mbak pegawainya sampe bisik-bisik (tapi ketahuan) ngomongin bapak saya bawa ayam kampus. Haahaha..
Gitu deh, secara non verbal, keliatan
sekali kalo kami itu saling menjaga. (Terms and condition apply, tapi ya.. kalo lagi akur doang. Hahaha) Atau istilah kerennya, egaliter. Tapi apa
pernah gitu secara verbal saling bilang sayang atau kangen? Hampir gak pernah
rasanya. Tapi kedekatan itu ada. Selalu ada. Mau sesebel apapun satu sama lain,
tetep yaa, namanya bapak sama anak.. ikatan itu akan selalu ada.
Dan memang, bagaimanapun dan umur berapapun, saya ngerasa di mata
bapak saya, saya memang akan selalu jadi gadis kecilnya
Hehe. Iya, saya anak bungsu
:)
Subscribe to:
Posts (Atom)